YUDITH

YUDITH
SEMAKIN RUMIT


__ADS_3

Suster kepala sekolah tidak melarang Irene dibawa pulang, tetapi meminta dengan tegas untuk tidak terburu-buru. Suster kepala sekolah pun dengan tegas mengatakan bahwa Irene baru bisa dibawa pulang satu bulan lagi, dengan alasan ada beberapa hal yang harus Yudith selesaikan berkaitan penanganan kasus. Bu Duwina sempat protes, tetapi akhirnya mengalah setelah suster kepala sekolah mengancam akan melibatkan Dinas Sosial.


Waktu satu bulan sudah cukup untuk menyelesaikan penyelidikan. Bahkan, bisa jadi semuanya sudah beres sebelum waktu satu bulan itu habis. Perempuan berbadan tambun itu duduk termenung di ruang pribadinya, sedang memikirkan banyak hal. Sudah hampir tiga jam dia mengurung diri di situ.


Dia ingat betul ketika awal-awal datang, Irene terlihat sangat dekat dengan Bu Duwina. Bahkan gadis itu seperti menjadikan Bu Duwina sebagai sosok pelindung ketika merasa tidak nyaman dengan laki-laki yang diklaim sebagai ayahnya.


Apakah itu berarti Bu Duwina adalah satu-satunya orang yang bersikap baik pada Irene? Dan setelah mengenal Yudith yang penuh kasih sayang, Irene menjadi lebih betah di sini karena merasa sungguh-sungguh dicintai.


Selagi sang kepala sekolah masih terus termenung di dalam ruangannya untuk menunggu Pak Heru menghubungi, Pak Heru sendiri tengah asyik berbincang dengan seorang pria paruh baya, di teras rumah. Pria itu adalah Pak RT.


Dengan alasan tertarik ingin membeli rumah kosong, Pak Heru bertanya kepada beberapa warga di mana Pak RT tinggal. Dengan begitu mungkin akan banyak informasi yang bisa didapatnya, dan perkiraan itu tidak salah.


Kurang lebih dua puluh menit sudah dia bertamu, tidak terkira banyaknya informasi penting yang sudah berhasil dikoreknya.


"Pemilik rumah itu namanya Pak Muksin. Usahanya bangkrut karena ditipu rekan bisnisnya, hartanya nyaris tidak tersisa dijual untuk membayar utang. Yang tersisa hanya rumah itu. Karena stres berat, istrinya jadi sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal. Tidak lama setelah itu Pak Muksin jadi suka marah-marah tidak jelas. Putrinya yang masih kecil sering dipukuli, bahkan juga sering diikat."


"Lalu, sekarang Pak Muksin dan putrinya tinggal di mana, Pak?"


"Saudara kembar Bu Duwina dan keluarganya datang menjemput anak itu dan memasukkan Pak Muksin ke rumah sakit jiwa. Mereka sempat tinggal beberapa hari di rumah itu. Setelahnya, entah dibawa ke mana si Iren itu."


Bu Duwina? Jadi, saudara kembarnya juga menggunakan nama ibunya Irene. Pak Heru membatin. Setelah itu, dengan memasang wajah letih berkata, "Sayang sekali rumah sebagus itu dibiarkan kosong dan tidak terawat, ya, Pak?"

__ADS_1


"Dari desas-desus yang saya dengar, katanya surat-surat rumahnya hilang. Dicari di seluruh rumah tidak ditemukan. Makanya tidak bisa dijual. Berita ini bisa jadi benar karena yang menyebarkan adalah embak-embak yang kerja di sana."


Pak Heru tertegun sebentar, kemudian segera berpamitan karena harus segera melaporkan hasil penyelidikannya. Sementara itu, di kediaman keluarga Irene, Bu Magda sedang adu mulut dengan ibunya.


"Gara-gara kamu tidak bisa menahan diri, Irene semakin takut pulang! Bersabar sedikit kenapa sih?!"


"Namanya juga orang emosi! Aku dah capek begini terus, Bu! Biaya Om Muksin, Biaya Irene, itu harus dibayar pake uang, Buk! Bukan koran!"


Setelahnya, Bu Magda memukul meja sangat kasar sambil melotot pada ibunya. "Kalau anak itu bicara, hancur semuanya! Hancur! Lagian kenapa sih gaya-gayaan dimasukkan ke sana?! Mereka yang enngak tau apa-apa pasti akan termakan ocehan bocah sakit jiwa itu!"


"Magda!" Bu Duwina membentak. "Walaupun bagaimana, Irene keponakan ibu satu-satunya yang berarti dia itu saudari sepupumu! Dia enggak punya siapa-siapa lagi selain kita!"


"Aaarrrhhhggg!" Bu Magda mengerang marah sambil menjambak rambut. "Terserah, lah! Aku enggak mau tau!"


Pak Heru menyampaikan informasi temuannya kepada suster kepala sekolah sembari melaju dengan sepeda motornya di jalan raya yang tidak terlalu ramai. Setelah mendengar semuanya, suster kepala sekolah pun langsung menghubungi Bu Yuliana.


Ketika mereka bertemu di kantor sepuluh menit kemudian, suster kepala sekolah langsung mengajak Bu Yuliana keluar mengendarai mobil. Kisaran setengah jam kemudian mobil mereka memasuki pelataran parkir sebuah bangunan tempat rehabilitasi mental.


Mereka disambut dan dipersilakan duduk di sebuah ruangan bersama seorang perempuan paruh baya. Dan rupanya, perempuan tersebut dan suster kepala sekolah sudah saling mengenal. Suasana pun jadi tidak canggung.


"Ada masalah di yayasan?"

__ADS_1


"Aku enggak mau basa-basi, langsung saja. Di sini ada seorang bapak bernama Muksin apa enggak?" Cara bicara suster kepala sekolah sangat terburu-buru seperti orang takut ketinggalan.


Bu Rohma, sang pimpinan tempat rehabilitasi, mengernyitkan dahi, lalu balik bertanya, "Muksin yang mana ini? Ada beberapa orang yang bernama Muksin soalnya?"


"Ini fotonya, Bu." Bu Yuliana memberikan foto close up ayah Irene kepada perempuan paruh baya tersebut.


Setelah memandangnya beberapa lama, perempuan paruh baya itu menaikan pandangan dan menatap suster kepala sekolah dan Bu Yuliana bergantian, sambil berkata, "Ini foto lama. Waktu datang ke sini tiga tahun yang lalu, badannya masih padat berisi."


"Jadi benar dia ada di sini?" Suster kepala sekolah sangat antusias.


"Kamu datang ke sini penuh keyakinan. Jadi, enggak usah pura-pura enggak tahu," ujar Bu Rohma sarkastik.


Suster kepala sekolah membuang napas kasar, lalu berkata, "Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Ini demi seorang anak."


Sudah terbiasa berinteraksi dengan cara urakan seperti itu. Bu Rohma pun menanggapi dengan santai dan sepertinya sudah sangat memahami karakter suster kepala sekolah.


"Dia salah satu pasien yang tingkat gangguan emosionalnya sangat tinggi," ujarnya kemudian. "Dia juga punya kebiasaan menyakiti diri sendiri dan jika kebetulan dikeluarkan dari ruangan untuk berjemur atau sekadar jalan-jalan, dia langsung hiperaktif lari sana lari sini. Bahkan juga menyerang dan melukai orang lain. Dia seorang, butuh tiga sampai empat petugas untuk mendampingi. Tapi pihak keluarganya berani membayar mahal hanya supaya pihak kami tidak berubah pikiran."


Suster kepala sekolah menceletuk, "Siapa yang membawanya kemari?"


"Bu Duwina dan putri sulungnya."

__ADS_1


Suster kepala sekolah dan Bu Yuliana saling bertukar pandang. Yang terlintas di pikiran mereka adalah hal yang sama: Saudari kembar Bu Duwina menyamar dan membuat orang yang tidak tahu kebenarannya bakal mengira dialah Bu Duwina yang asli.


Dalam sekejap perkembangan kasus keluarga Irene ini sungguh-sungguh di luar dugaan. Suster kepala sekolah mulai mencium adanya kesalahpahaman. Dan bisa jadi apa yang dikatakan Bu Magda tentang Irene adalah benar adanya.


__ADS_2