YUDITH

YUDITH
MAHASISWI EKSLUSIF


__ADS_3

Mahasiswi Ekslusif


🕳️


"Aku sudah bosan terus dikurung di sini. Pokoknya hari ini aku mau keluar jalan-jalan!" Lisa membanting ponselnya ke kasur. Sudah hampir tiga bulan sejak masuk asrama, dia belum diizinkan keluar sama sekali, kecuali keluar untuk kuliah.


Tadi dia mencoba komplain pada ibunya, tetapi ternyata tanggapannya sungguh di luar dugaan. Sang ibu yang selama ini menjadi pelindung, memanjakan dan selalu menuruti semua permintaannya, kini telah bersekongkol dengan sang ayah untuk menentangnya.


Sebenarnya, semua itu gara-gara Lisa sendiri yang telah menyalahgunakan kepercayaan. Dia dulu dibiarkan bergaul bebas dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Maksud orang tuanya baik supaya Lisa tidak pilih-pilih teman dalam bergaul, tetapi rupanya Lisa salah mengartikan kebaikan mereka. Dia bergaul bebas sebebas-bebasnya hingga jatuh dalam pergaulan penuh maksiat, salah satunya adalah terjerumus ke dalam lembah penuh candu---narkoba.


Untung belum terlalu parah sehingga setelah direhabilitasi beberapa bulan saja kondisinya segera membaik. Setelah itu, oleh orang tuanya dikirim ke Yayasan Harapan Mulia dengan harapan Lisa akan menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.


Hari ini adalah Minggu. Setiap Minggu sebagian Mahasiswa/i Harapan Mulia diizinkan keluar untuk menikmati hari libur, sedangkan sebagian lagi, tetap menjalankan piket ke asrama-asrama panti untuk membantu para biarawati dan ibu-ibu perawat melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Jadwal sudah ditentukan, setiap Minggu bergantian. Jadi, tidak ada lagi kesimpangsiuran di antara mereka, siapa yang boleh pergi dan siapa yang harus piket.


Kecuali untuk si mahasiswi ekslusif, Lisa. Sampai saat ini belum ada jadwal bebas, setiap Minggu tugasnya adalah membersihkan kapel dan membantu para biarawati menata perlengkapan Ekaristi, kemudian melayani anak-anak di panti.


Salah satu teman sekamar Lisa masuk. Melihat gadis itu duduk di tepi pembaringan dengan wajah cemberut, dia bertanya, "Kamu kok belum berangkat ke kapel, Sa?"


"Bukan urusanmu!" Seperti anjing galak, Lisa menyalak dan teman sekamar yang sudah hafal perangainya hanya mengangkat bahu tak acuh.


Sementara itu di kamar Yudith, selagi Ririsma tengah bersiap-siap untuk keluar, Yudith malah mengeluarkan buku dan mulai menulis. Rambut yang kini sudah panjang sepunggung diikat asal-asalan dan membiarkan beberapa helai menjuntai membingkai wajahnya.


"Buruan siap-siap, Dith. Andreas udah nungguin di bawah." Ririsma menunjukkan ponselnya, di sana ada pesan dari Andreas. "Ah, lo mah gitu." Gadis itu menarik buku jurnal yang sedang dikerjakan oleh Yudith.


"Ris, balikin. Itu harus segera dikelarin."


"Nggak sekarang. Sekarang adalah jadwal kita bersantai. Paham?" Ririsma mengangkat buku itu tinggi-tinggi supaya Yudith tidak bisa meraihnya.


Menatap tidak berdaya, Yudith berkata, "Tapi Suster Rosa---"


"Nggak ada alasan. Suster Rosa nggak akan nyuruh lo kerja sampai lupa bersantai." Ririsma terus berkeras.


Itu benar. Laporan hasil audit bisa dikerjakan lebih santai karena sebenarnya tinggal memindahkan saja. Yudith yang sejatinya hanya merasa enggan untuk keluar asrama, tidak bisa menggunakan menulis laporan sebagai alasan penolakan.


Sepuluh menit kemudian, dia dan Ririsma keluar dari kamar. Saat berjalan menyusuri koridor lantai dua, mereka mendengar suara perdebatan.


"Kamu kan sering bilang kalau kamu itu mahasiswi ekslusif. Ya sudah tentu harus diperlakukan berbeda." Itu suara suster kepala asrama. Sangat tenang, tetapi terkesan sarkas.


Yudith dan Ririsma saling bertukar pandang. Hanya dengan sebutan Mahasiswi Ekslusif saja mereka bisa langsung tahu siapa yang sedang berada di ruangan kepala asrama.


"Bukan itu yang aku mau! Aku nggak peduli, pokoknya aku ingin keluar seperti mereka!" Lisa berteriak dan disertai suara gebrakan.


Ririsma yang penasaran sebenarnya ingin berhenti untuk menguping, tetapi Yudith menarik tangannya.


"Suatu saat mungkin, tapi nggak sekarang," ujar suster kepala asrama.

__ADS_1


Saat menuruni anak tangga, Yudith dan Ririsma masih sempat mendengar teriakan Lisa yang berisi umpatan, lalu suster kepala asrama dengan tegas menyuruhnya merefleksikan diri di kapel sambil membaca Kitab Suci, kemudian menuliskan renungan yang dia peroleh dari bacaan sebanyak dua lembar bolak-balik.


"Mampus." Ririsma tergelak-gelak dan Yudith hanya diam saja.


Meskipun terlihat cuek pada sekitar, tetapi Yudith sebenarnya memiliki empati yang sangat tinggi. Dia bisa merasakan bagaimana menjadi Lisa.


Pasti sangat tidak enak jadi satu-satunya orang yang tidak mempunyai hari bebas, harus melakukan kerja sosial, dan sekarang malah ditambahi hukuman. Namun begitu, Yudith tidak lantas berpikir kalau peraturan itu kejam. Dia bisa memahami kenapa Lisa diperlakukan istimewa. Semua pasti demi kebaikan gadis itu sendiri.


"Akhirnya keluar juga." Andreas yang tadinya tengah mengobrol dengan pak satpam segera berpaling saat Yudith dan Ririsma muncul. Sekilas dia melirik jam tangannya. Baru pukul setengah sembilan, masih cukup pagi untuk mulai bepergian.


"Kalau nggak gue paksa, Yudith mana mau keluar. Nih, ambil." Ririsma meraih tangan Andreas lalu menumpangkan tangan Yudith di atasnya. Andreas langsung menggenggam erat sehingga Yudith tidak bisa melepaskan diri. "Gue serahin Yudith ke lo. Jaga baik-baik."


"Ris, kamu ...." Yudith menatap bingung karena setelah membuat Andreas menggenggamnya erat-erat, Ririsma lantas melangkah keluar gerbang sendirian.


"Gue nggak mau jadi obat nyamuk." Ririsma terkekeh dan buru-buru bergabung dengan beberapa teman yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu angkot.


"Thanks, Ris!" Andreas melambaikan tangan pada Ririsma yang sudah dapat giliran masuk ke dalam angkot.


Begitu angkot biru itu meluncur pergi, Andreas menatap Yudith yang meski cuek, tetapi tetap saja tampak tersipu. Gadis itu tampak salah tingkah sampai-sampai melakukan tindakan tidak perlu---menyelipkan rambut di atas telinga---padahal rambutnya sudah diikat rapi seperti ekor kuda.


"Jalan, yuk ...," ajak Andreas.


"Ke mana?"


"Ke Pasar Besar. Ada yang mau aku beli."


Gadis berkulit eksotis itu tampak manis dengan kaos warna kuning gading yang proporsional di tubuh mungilnya, dipadukan dengan celana jins sebetis dan sepatu kets warna abu-abu. Tas ransel kecil khusus bepergian warna hitam yang tadinya ada di punggung, kini berpindah ke pangkuan Andreas.


Pemuda itu seperti ingin membalas dendam pada masa-masa yang terlewatkan tanpa bisa leluasa memanjakan atau menunjukkan perhatiannya kepada Yudith. Menjadi bahan perhatian penumpang angkot yang lain, Andreas sama sekali tidak peduli. Beda dengan Yudith yang terlihat kikuk, terus memandang ke depan lewat kaca depan sopir.


Sesampainya di alun-alun mereka turun. Setelah mengembalikan tas Yudith, Andreas menggandengnya kembali dan mengajaknya berjalan menuju Pasar Besar. Selama perjalanan hingga sampai di tujuan, mata Yudith tidak melirik ke mana pun, seperti tidak ada hal yang bisa menarik perhatiannya. Mereka tidak berlama-lama di sana. Setelah Andreas mendapatkan ponsel yang diinginkan, mereka pun pergi ke tempat lain.


Saat tadi Andreas sedang memilih ponsel di toko, Yudith sempat bertanya-tanya dalam hati. Kenapa beli lagi? Padahal ponsel yang Andreas punya masih termasuk baru, belum ada setahun pun. Pertanyaan itu pun terjawab saat Andreas mengajaknya masuk ke food court S Mall.


"Dith, aku beli ini buat kamu." Andreas menyodorkan ponsel baru yang masih ada dalam kotaknya pada Yudith.


Dahi Yudith langsung mengernyit, menatap datar pada benda yang kini tergeletak di hadapannya. Sedikit pun tidak terpikirkan kalau Andreas membeli ponsel itu untuknya.


Yudith memang tidak mempunyai ponsel. Bukan tidak mampu membeli, melainkan karena sayang uangnya. Uang yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil menjadi asisten Suster Rosa, sebenarnya lebih dari cukup untuk membeli sebuah ponsel. Namun, Yudith berpikir, buat apa membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan? Untuk menghubungi ibunya dia bisa telepon lewat wartel, seminggu sekali sudah cukup.


Yudith tidak keberatan menerima hadiah berupa makanan atau yang lain, yang harganya tidak mahal, tetapi ponsel yang harganya hampir satu juta, dia tidak mungkin menerimanya. Lagi pula, Andreas dapat uang dari mana? Pasti uang orang tuanya. Tidak, bahkan kedua orang tua Andreas dan Bruder Lius, kakaknya Andreas, sudah terlalu baik pada Yudith. Setiap kali habis mudik, pasti ada saja oleh-oleh yang khusus dibuat untuknya.


Yudith menggeleng sambil mendorong kotak itu ke arah Andreas. "Nggak usah, An."


Andreas menangkap tangan Yudith sebelum gadis itu sempat melepaskan kotak ponsel dari genggaman. "Aku menabung uang jajanku juga uang dari hasil membantu Pak Dimas mengerjakan laporan keuangan yayasan setiap bulan. Seriusan, aku nggak minta uang sama bapak ibu."

__ADS_1


Seperti bisa membaca pikiran Yudith, Andreas menjelaskan dari mana asal uang yang dia gunakan untuk membeli ponsel itu.


"Tapi, An."


Andreas meremas lembut jemari Yudith. Mata mereka bertemu. "Aku ingin bisa tetap berkomunikasi walaupun jauh. Kamu juga bisa telepon ibuk tanpa susah-susah pergi ke wartel. Tolong diterima, ya."


Mata Andreas yang berujung runcing sehingga terkesan sipit meski aslinya tidak sipit, menatap memelas. Namun, Yudith tetap bergeming.


"Dith, kamu tau perasaanku, kan?"


Yudith perlahan menurunkan pandangan dan akhirnya menatap tangan Andreas yang masih menggenggam tangannya. Perlahan dia mengangguk.


"Kalau begitu anggap ini sebagai bukti cin---"


"Terlalu mahal." Suara lirih Yudith memotong perkataan Andreas.


Andreas tersenyum. "Kalau begitu, balas perasaanku dan jaga sampai selama-lamanya. Impas."


Yudith menatap Andreas. "An, aku mohon jangan terlalu erat menggenggam sesuatu yang belum tentu akan selamanya menjadi milikmu."


Seingat Andreas, itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucap Yudith. Pemuda itu tersenyum lembut.


"Jodoh memang hanya Tuhan yang tau. Tapi, nggak ada salahnya kan kita menikmati apa yang kita rasakan sekarang. Jatuh cinta nggak melanggar hukum kan, Dith? Apa pun adil dalam cinta. Memberi diri kita kesempatan untuk menjalani dan menikmati cinta, itu namanya juga adil pada diri sendiri."


Yudith tidak tahu harus berkata apa. Dia paham kalau sebenarnya Andreas hanya ingin memastikan bahwa mereka benar-benar memiliki hubungan spesial, dan berhak mengklaim dia adalah miliknya.


"Kita jalani dan biarkan mengalir saja. Nggak usah khawatir sama hal-hal yang belum terjadi. Atau ... jangan-jangan sebenarnya kamu nggak suka sama aku."


Mata Yudith tiba-tiba melebar dan buru-buru menarik tangannya. Andreas yang terkesiap dengan gerakan Yudith yang tiba-tiba, hanya bisa menatap bingung saat gadis itu membuka tasnya lalu sibuk mencari-cari. Sebelum Andreas sempat bertanya, Yudith sudah mengeluarkan sebuah kotak pipih lalu menyerahkannya pada Andreas.


Tanpa bertanya, Andreas menerima dan langsung membukanya. Seketika itu juga matanya membola. Di dalam kotak itu ada dompet berwarna cokelat dan sapu tangan biru muda, terlipat rapi, di salah satu sudut disulam nama Andreas P.


Hadiah itu sudah sejak lama Yudith persiapkan, tetapi belum sempat dia berikan. Tidak mahal karena dia membuat dompet itu sendiri di ruang prakarya anak-anak yayasan, begitu pun sulaman pada sapu tangan murah itu, dia menyulamnya sendiri.


Andreas menatap Yudith dengan mata berbinar. "Buat aku?"


Yudith mengangguk cepat lalu menunduk malu-malu. "Maaf, aku membuat---"


"Makasih." Andreas meraih tangan Yudith dan menggenggamnya erat-erat. "Berarti kita impas, kan? Terima ini."


Dengan tangan yang lain Andreas menyodorkan ponsel yang masih dalam kotaknya ke arah Yudith. "Sekarang kita resmi pacaran, kan?" Senyum terkembang lebar menghiasi wajah pemuda itu.


Yudith menatap Andreas intens cukup lama, seperti ingin menyelami hati pemuda itu, kemudian perlahan mengangguk kecil.


Senyum Andreas semakin lebar hingga matanya tertimbun dalam kerutan. "Tersenyumlah, Dith. Agar aku yakin."

__ADS_1


Perlahan bibir Yudith melengkung ke atas, senyum tipis tersungging manis di sana. Kemudian dengan cepat dia menunduk dan setengah mati berusaha menenangkan debaran jantungnya.


__ADS_2