
Rencana tinggallah rencana. Padatnya jadwal kegiatan membuat Yudith selalu gagal mengeksekusi rencana yang sudah dibuatnya, hingga sekarang satu bulan lebih telah berlalu. Apalagi, sangat sulit sekarang untuk Yudith bisa bebas bepergian setelah Irene sangat bergantung padanya.
Praktik penanganan kasus pun sudah memasuki bulan ketiga dan sudah waktunya untuk diadakan evaluasi tahap awal. Pada hari Sabtu, seluruh siswa-siswi kelas dua dikumpulkan dan dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menempati aula Institut Mulia Harapan dan kelompok lain, yang lebih banyak jumlah anggotanya, menempati aula yayasan yang jauh lebih luas.
Duplikat laporan telah dikumpulkan di guru pembimbing masing-masing dua hari sebelumnya. Jadi, saat ini mereka pun telah siap dengan materi-materi yang perlu ditanyakan atau hal-hal yang perlu diubah.
Yudith dan sahabat-sahabatnya menjadi satu kelompok di aula Institut Mulia Harapan. Ratna dan Lodi pun ada di situ.
Sekarang Lodi sedang dicecar oleh para pembimbing. Gadis itu berdiri di depan membelakangi hadirin dan menghadap para guru pembimbing.
"Kamu tau kan kalau anak autis itu memiliki kecenderungan tetap pada suatu objek? Kamu harus lebih bijak melihat, kecenderungan itu berdampak buruk atau tidak? Kalau tidak berdampak buruk, tujuan yang ingin kamu capai ini sama sekali tidak ada gunanya. Bahkan bisa membuat sesuatu yang sudah berjalan baik menjadi buruk. Bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkannya?"
"Tapi waktu konsultasi di awal tentang penentuan tujuan, ibu setuju dengan tujuan itu."
Walaupun jawabannya mungkin tidak salah, tetapi menjawab seperti itu di saat seperti ini rasanya terdengar sangat tidak bijaksana.
"Bodo kali jawab seperti itu. Macam tak punya otak buat berpikir, ko." Fitus berbisik pada Andreas dan Andreas hanya mendesis menyuruhnya diam.
"Kamu yakin waktu itu aku bilang setuju?" Nada bicara guru pembimbing Lodi lembut, tetapi terasa sangat mengintimidasi. Bahkan di matanya yang menatap lembut itu seperti terkandung banyak jebakan.
Lodi terlihat semakin gugup."Ibu menyuruh saya untuk mencari potensi yang paling potensial---"
"Dan ini yang kamu temukan?" Guru itu mengetuk-ngetuk lembar laporan Lodi. "Jadi menurutmu ini sangat potensial? Ini berarti kamu tidak mencari loh, tapi hanya mencomot apa yang ada. Kenapa tidak datang konsultasi lagi setelah itu?"
Lodi tidak bersuara. Hanya menunduk sampai akhirnya disuruh duduk.
Lain Lodi, lain pula Fitus. Kasus yang Fitus tangani adalah tentang anak malas belajar. Tujuannya, ya, sudah pasti untuk membuat anak itu jadi rajin belajar. Anak itu pun sedikit memiliki autisme, jadi juga memiliki kecenderungan tetap pada suatu objek.
"Oke, metode pendekatan sudah bagus. Menurutmu kebiasaan dia yang suka mencium aroma balsem itu mengganggu enggak?" Guru pembimbing laki-laki bertanya dengan santai.
"Enggak mengganggu," jawab Fitus lugas dan tegas.
"Kamu yakin?"
"Yakin, Pak."
"Bagaimana kamu bisa tau?"
__ADS_1
Sejenak Fitus terdiam karena bingung, lalu dengan konyol menjawab, "Lah, Bapak kan bertanya menurut saya, ya sudah jelas saya taulah, Pak. Bagaimana pula Bapak ini?"
Seisi ruangan dibuat terbahak-bahak oleh kejenakaan Fitus. Bahkan Yudith yang mahal senyum pun sudut bibirnya berkedut tipis. Begitu pula para guru pembimbing. Sejenak suasana menjadi lebih santai.
Sepertinya guru pembimbing itu kurang tepat dalam menyusun kalimat. Pertanyaan yang seharusnya merujuk pada orang-orang di sekitar, malah terkesan untuk Fitus personal.
Setelah kelucuan yang barusan, datang lagi kelucuan-kelucuan lain. "Oke, lanjut," ujar sang guru. "Ini tentang tujuan penanganan kasus. Membuat anak yang malas belajar menjadi rajin belajar. Tujuan yang sangat mulia."
Yang diucapkan tidak lucu, tetapi cara guru itu mengatakannya sambil mengerling jahil pada Fitus berhasil membuat seisi aula kembali terbawa.
"Tapi masalahnya, apakah tujuan ini efektik?"
"Bah! Bapak ini bagaimana? Ya sudah jelas efektik, lah."
"Benar begitu?"
"Memang salahnya di mana, Pak?"
Cara mereka berinteraksi sangat santai dan cenderung lucu, seperti sedang mengobrol biasa atau bimbingan pribadi.
"Ini di sini. Perhatikan. Bapak tau anak ini sangat pintar. Malas belajar, tapi selalu masuk sepuluh besar. Iya, enggak?"
"Nah, dengan potensinya yang seperti itu, apa tujuan penanganan kasusmu sudah tepat sasaran?"
"Tapi masalahnya kalau tidak dipaksa duduk belajar anak itu bakal bikin ulah, Bapak. Mengganggu anak-anak yang lain. Mereka jadi tidak bisa belajar dengan tenang."
"Nah, di situ masalahnya. Tau enggak apa masalahnya?"
Fitus garuk-garuk kepala karena tidak mengerti apa yang dimaksud guru pembimbingnya. "Ya, apa masalahnya kalau begitu, Pak?"
Tawa pun kembali menggelegar, tetapi hanya sesaat karena seorang guru mengetuk-ngetuk meja menyuruh mereka diam.
"Kamu merasa enggak kalau tujuan yang ingin kamu capai itu sebenarnya bukan untuk kebaikan klienmu? Tujuan dan cara penangananmu lebih condong bermanfaat untuk anak-anak lain. Supaya mereka tidak terganggu oleh klien kamu yang suka berulah saat jam belajar. Betul enggak?"
Fitus kembali garuk-garuk kepala. "Ya, betul juga sih, Pak? Bah! Pusing aku, Pak, kalau harus mengubahnya lagi." Dia menepuk jidat cukup keras sampai bunyinya bisa didengar oleh seisi aula, dan tawa pun kembali menggelegar.
"Tapi harus diubah. Oke, nanti habis ini temui bapak di kantor."
__ADS_1
"Baik, Pak. Terima kasih."
Evaluasi tahap awal hampir memakan waktu seharian. Pukul lima sore kelompok aula Institut sudah selesai, kelompok lainnya selesai sekitar satu jam kemudian. Setelah itu, mereka masih harus konsultasi dan bimbingan pribadi.
Dari agenda hari ini, akhirnya Yudith tahu bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang rutin melakukan konsultasi dan bimbingan pribadi dengan guru pembimbing. Dia tidak ingin terlihat rajin atau mencari muka, tetapi hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Mendapat pujian karena telah mendapat pencapaian paling bagus hanyalah bonus dari bekerja sesuai prosedur.
Setelah semua benar-benar selesai, Yudith sampai di asrama ketika jari sang waktu sudah menunjuk angka sembilan malam. Irene menyambutnya di teras bersama Eva. Bu Yuliana bilang, mereka sudah menunggu di situ dari pukul delapan.
Seperti Yudith memperlakukannya istimewa, Irene pun berinisiatif membalasnya dengan cara yang sama. Ketika Yudith mandi, dia dengan cekatan memanasi makan malam untuknya, ditemani Eva juga.
Ketika makan pun, Irene dan Eva duduk menemani Yudith sambil membaca buku. Sambil makan Yudith berpikir, Eva apa tidak bosan terus-terusan menemani Irene yang tidak mau bicara?
Namun kenyataannya seperti yang ada di depan mata, Eva adalah satu-satunya anak yang mau terlibat dengan Irene dalam segala hal.
Selesai makan, Irene pun tidak membiarkan Yudith membereskan meja atau mencuci piring. Semua Irene yang melakukan bersama Eva.
Bu Yuliana yang hendak ke kamar mandi menggodanya, "Sekarang kamu punya dua dayang, Dith."
Yudith hanya tersenyum. Bu Yuliana adalah salah satu orang yang bisa menerima Yudith apa adanya. Sebagai ibu asrama pun sangat kompenten dan bertanggung jawab.
Selagi Irene dan Eva masih sibuk di dapur, Yudith masuk ke kamar lebih dulu. Perhatiannya langsung tertuju ke atas meja di mana foto keluarga Irene tergeletak di sana dalam keadaan rusak.
Foto laki-laki dan Irene telah digunting, sedangkan foto ibu dan sang kakak dicoret-coret wajahnya. Yudith mengambil foto tersebut dan naluriah melihat bagian belakangnya. Mata Yudith seketika melebar melihat tulisan,
Bukan ibu bukan kakak bukan ibu bukan kakak penjahat penjahat penjahat penjahat
Tulisan dengan kata yang sama berulang memenuhi bagian belakang foto itu.
Apa maksudnya?
"Bu Yudith, sudah selesai." Eva melapor.
Dia dan Irene datang tiba-tiba membuat Yudith tidak sempat menyembunyikan foto itu. Namun, tidak disangka-sangka, Irene langsung merampas, kemudian dibuang ke sampah. Setelah itu menatap Yudith dengan mata penuh senyum. Mata itu tampak jauh lebih semringah dibanding senyum di bibirnya.
Yudith pun balas tersenyum sambil menyentuh bahu Irene. "Tidur, yuk. Dah, malam."
Tidak perlu disuruh dua kali, setelah mengangguk Irene dan Eva bergegas naik ke tempat tidur masing-masing. Yudith tidak langsung tidur karena masih kenyang. Jadi, dia mengeluarkan novel untuk dibaca sambil duduk di kursi belajar.
__ADS_1
Sembari membaca, pikiran Yudith terus saja memikirkan kejadian barusan. Irene sekarang jauh lebih ceria meskipun masih belum mau bicara. Keluarganya belum datang berkunjung lagi, tetapi dia tampak biasa saja. Secara tidak langsung Irene seperti ingin mengatakan aku lebih bahagia tanpa mereka.