YUDITH

YUDITH
BISU ATAU ....


__ADS_3

"Kalau begitu bawa Irene ke sini! Kami mau ajak dia pulang sekarang juga!" Bu Magda pun membentak lebih garang.


Dia tidak sadar kalau suster kepala sekolah sebenarnya sangat menunggu-nunggu saat di mana salah satu dari mereka bertanya seperti itu. Suster kepala sekolah pun segera berkata dengan suara lembut untuk menenangkan,


"Maaf, Bu Magda. Bukannya kami melarang, tapi dengan kondisi Irene yang seperti itu lebih baik menunggu sampai tenang dulu. Nanti, kalau sudah tenang kami sendiri yang akan mengantarkannya. Kami harap Bu Duwina tidak keberatan."


Bu Magda yang sudah siap untuk adu mulut seketika membeku dengan wajah tampak lebuh pucat dari sebeluknya. Hal yang sama terjadi pada Bu Duwina dan setelah cukup lama terdiam, keduanya pun saling bertukar pandang.


Sebelum mereka sempat bicara, suster kepala sekolah sudah bicara lagi, "Kita di sini sedang mengusahakan yang terbaik untuk Irene. Jadi, mohon kerja samanya."


"Saya minta maaf karena sudah terbawa emosi," ujar Bu Yuliana dengan suara serak. "Saya mohon kerja samanya. Nanti kalau Irene suasana hatinya sudah lebih baik, saya sendiru yang akan mengantarkannya."


Merasakan kesungguhan Bu Yuliana, Bu Duwina buru-buru berkata, "Enggak papa, Sus, kami bisa mengerti. Kami tidak ingin merepotkan, jadi biar lain kali saja kami datang lagi. Dan kami benar-benar minta maaf karena sudah datang tanpa memberi tahu dulu."


"Kalau begitu, masalah ini kita anggap selesai, ya, Bu?" Suster kepala sekelah berbicara sangat tenang karena tahu kedua orang itu tidak berkutik.


"Iya, Suster. Sekali lagi maafkan kami." Setelah itu Bu Duwina berbicara pada Bu Magda, "Kamu juga harus minta maaf."


"Tapi, Bu---"


Bu Duwina berkata tegas, " Minta maaf juga untuk kejadian dulu waktu kamu marah-marah bicara sembarangan dengan menagancam akan memindahkan Irene ke yayasan lain. Ayo minta maaf."


Dengan wajah masam, Bu Magda pun terpaksa melalukan perintah ibunya. "Ma-maafkan saya, Sus."


Bu Yuliana hanya menatap acuh tak acuh, sedangkan suster kepala sekolah mengangguk kecil tanpa mengatakan apa-apa. Setelahnya mereka masih mengobrol sampai sekitar lima menit ke depan. Begitu mereka pergi, Bu Yuliana dan suster kepala sekolah pun kembali berdiskusi.


"Oh iya, Sus, aku lupa ngomong. Tadi malam Irine mencoret-coret wajah Bu Duwina dan Bu Magda, maksudnya wajah di foto."


"Kok bisa? Bukannya dia sayang banget---"

__ADS_1


"Yang dia sayang hanya ayahnya. Irene menggunting foto ayahnya dulu sebelum dicoret-coret. Di belakang foto dia tulisi bukan ibu bukan kakak, sampai penuh."


Suster kepala sekolah mengernyitkan dahi dan menatap Bu Yuliana dengan mata menyipit. "Sejak datang Irine sudah pernah tes medikal apa belum?"


"Belum, Sus. Anaknya juga sehat-sehat saja itu."


"Kalau begitu besok bawa dia periksa THT ke Panti Waluyo. Aku curiga anak itu punya masalah di bagian itu."


"Baik, Suster. Kalau begitu aku pamit dulu. Cuci sprei anak-anak belum selesai."


Suster kepala sekolah terkekeh geli. "Pantes saja kayal gembel."


Bu Yuliana tertabahak sambil berjalan ke pintu. Setelah sosoknya menghilang, suster kepala sekolah menelepon seseorang.


"Kamu di mana?"


"Di trotoar depan kompleks, Sus."


"Iya. Mereka baru saja belok di perempatan. Saya pergi sekarang, Sus. Takut kehilangan jejak."


"Ya, sudah. Hati-hati."


Setelah memutus sambungan, suster kepala sekola mengambil map dari rak, lalu sibuk membalik-balik tumpukan kertas yang tersimpan di dalamnya.


Sementara itu di Wisma Awan, Yudith sedang memenenangkan Irene yang masih belum berhenti menangis.


"Irene harus percaya sama Bu Yudith dan Bu Yuli. Juga enggak usah takut sama Suster Davince." Sambil bicara jemarinya terus mengelus lengan Irene yang tengah berbaring miring membelakanginya.


"Bu Yudith penasaran kenapa Irene enggak mau bicara? Padahal Bu Yudith kan pengen banget dengar suara Irene dan mengobrol."

__ADS_1


Irene masih saja menangis dan tetap menghadap tembok, Yudith nyaris kehabisan akal untuk membujunya. Namun tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Dia ingin memberi efek kejut pada Irene.


"Irene sayang Bu Yudith apa enggak? Sedih enggak kalau Bu Yudith dipindah asrama karena dianggap gagal---"


Irene tiba-tiba meraung sambil bangun dari baring dan langsung menubruk Yudith, menangis sejadi-jadinya.


"Sudah, sudah, jangan nangis lagi." Yudith menjauhkan wajah Irene dari dadanya, lalu membantunya menghapus air mata, sambil mengajaknya bicara, "Coba cerita, kenapa Irene enggak mau ketemu mereka? Padahal dulu masih mau ketemu ibu, kan?"


Mata basah nan sembab menatap Yudith penuh rasa putus asa. Sepertinya dia pun ingin mengatakan sesuatu, tetapi entah apa yang membuatnya tetap bungkam.


"Irene bisa bicara, kan? Tuhan begitu baik memberi Irene suara, kenapa enggak dipergunakan?"


Tangis Irene perlahan mereda hingga akhirnya hanya tinggal terisak-isak. Yudith jadi tidak tega terus mendesaknya untuk bicara. Akhirnya dia tersenyum teduh sambil menangkup wajah Irene.


"Ya, sudah untuk sekarang belum mau bicara enggak papa. Tapi lain kali Bu Yudith pengen banget mendengar Irene bicara. Bercerita sama Bu Yudith tentang apa saja. Oke?"


Irene menatap Yudith lekat-lekat, tidak menganguk ataupun menggeleng. Saking seringnya Irene bersikap seperti itu, Yudith pun lama-lama mulai menerka bahwa Irene bukannya tidak mau memberi tanggapan, tetapi lebih ke lebih baik tidak menjawab dari pada berbohong. Sikap ambiguitasnya itu benar-benar membingungkan, sampai ada kalanya Yudith berpikir jangan-jangan sebenarnya Irene bisu.


"Irene masih nangis?" Bu Yuliana datang dan menggoda Irene dengan pertanyaan bernada jenaka.


Gadis itu langsung mengusap air matanya menggunakan tangan, tetapi Bu Yuliana memberinya tisu yang diambil dari meja.


"Sudah jangan nangis lagi. Kalau Irene enggak mau ketemu mereka, enggak akan ada yang maksa." Bu Yuliana duduk di tepi tempat tidur. "Mungkin sekarang belum mau bicara karena masih malu, tapi nanti kalau sudah enggak malu Irene pasti mau bicara, kan?"


Lagi-lagi Irene hanya menatap terpaku. Membuat kecurigaan Yudith semakin menggelitik hati. Dengan niat untuk membuktikan sesuatu, Yudith pun berkata, "Kalau enggak mau bicara, ditulis juga enggak papa, kok."


Irene tiba-tiba berkedip, lalu mengangguk kecil. Hati Yudith seketika itu rasanya seperti disiaram air es. Dingin, tetapi tidak membuatnya kedingan malah terasa menyegarkan.


Sekarang dia sepertinya mengerti kenapa Irene tidak pernah mengiyakan atau menolak jika disuruh bicara lain kali. Itu bukan karena dia tidak mau, melainkan karena tidak bisa. Irene sepertinya benar-benar bermasalah dengan bicara. Bisu atau karena hal lain?

__ADS_1


Sementara itu di jalan raya yang menuju keluar dari wilayah Malang menuju Pasuruan, Pak Heru yang melaju dengan sepeda motornya terus membuntuti mobil Bu Duwina.


Dia benar-benar tidak menyangka akan seperti ini perkembangannya. Semakin penasaran, meskipun harus melaju jauh keluar dari Malang, bakal dia jabani.


__ADS_2