
Suara pesan itu terdengar saat Dewangga sedang melangkah di koridor rumah sakit. Dia memindahkan keranjang buah ke tangan kiri lalu merogoh saku, mengambil ponsel dengan tangan kanannya.
Masih ingat ancamanku waktu itu, kan? Jangan remehkan aku karena aku bakal benar-benar buat onar.
"Tsk ... persetan. Buat onar aja sana. Yang bakal susah juga kamu sendiri." Alih-alih membalas pesan Lisa, setelah membaca, Dewangga malah memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Dewangga memang sempat khawatir Lisa akan membuat onar sungguhan, tetapi setelah dipikir-pikir, dia memutuskan untuk mengabaikan adik sepupunya itu. Dia tidak mau membuat Lisa semakin besar kepala karena merasa sudah berhasil mengintimidasinya. Sekali dituruti, sepupunya itu pasti akan berulah lagi, lagi, dan lagi, seperti yang pernah terjadi dulu.
Dewangga berusaha mengisi benaknya dengan hal positif. Misalnya, berpikir kalau kehidupan di asrama yang serba disiplin tidak akan memberi Lisa peluang untuk berbuat macam-macam. Menanamkan dalam benaknya bahwa sebandel-bandelnya Lisa pasti masih punya rasa peduli terhadap nama baik orang tuanya yang merupakan salah satu pengusaha ternama di Malang.
Ponselnya kembali bersuara, Dewangga mengeluarkannya dari saku dengan niat, kalau itu dari Lisa lagi dia hanya akan membaca tanpa membalasnya. Namun, setelah membaca isi pesan itu, dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Aku sudah mencelakai Yudith ....
Dewangga berhenti dan menepi. Mendadak bulu tengkuknya meremang. Satu baris kalimat yang dikirim Lisa rasanya terlalu mengerikan, karena kenyataannya sekarang Yudith benar-benar ada di rumah sakit. Mengalami gegar otak ringan gara-gara jatuh dari tangga.
Benarkah Lisa setega dan senekat itu? Atau dia hanya memanfaatkan keadaan Yudith untuk menakut-nakutinya? Walaupun masih tidak yakin Lisa berani senekat itu, tetapi dia juga tidak berani berpikir itu mustahil.
Runtuhlah sudah segala pemikiran positif yang dengan susah payah dia bangun. Untuk mengkonfirmasi pernyataan Lisa barusan, Dewangga segera meneleponnya. Nada panggilan panjang tidak juga mendapat respon dan pada akhirnya mati. Dia mengulangi dan tidak diangkat lagi. Mengulang lagi dan masih tidak diangkat juga.
"Sialan!" Dewangga mengibaskan tangan gusar lalu buru-buru mengetik pesan.
Hubungi aku kalau ada waktu.
Tidak sampai satu menit, pesannya sudah dibalas, yang artinya Lisa selalu standby, tetapi sengaja tidak mau menerima panggilannya.
Kalau ingat.
"Uurrgh! Dasar anak itu ...." Sambil menggeram, Dewangga memukul tiang koridor lalu berjalan bergegas seperti orang sedang terlambat masuk kantor.
Pintu ruangan tempat Yudith dirawat tidak ditutup, Dewangga melongok ke dalam sejenak untuk memastikan. Pemandangan yang bikin iri langsung menyambutnya---Andreas sedang menyuapi Yudith.
Tok tok tok
Dewangga sengaja mengetuk pintu untuk memberitahukan kehadirannya. Andreas menoleh dan berseru ringan, "Eh, Mas Dewa! Masuk Mas."
Senyum lebar menghiasi wajah Dewangga, sambil melangkah dia menyugar rambutnya ke belakang. "Nih, ada sedikit buah." Dia menyodorkan keranjang buah pada Andreas lalu menyapa Yudith, "Hai, Dith." Dan gadis itu hanya membalas dengan senyum tipis.
"Makasih, Mas," ujar Andreas
"Sama-sama. Gimana bisa jatuh sih? Lantainya licin apa gimana?"
Setelah menggeleng Yudith berkata lirih, "Akunya kurang hati-hati."
__ADS_1
Dewangga termenung, tatapannya lekat ke Yudith. Dia tidak bisa menebak, Yudith sedang berbohong untuk menutupi kejadian yang sebenarnya, atau mungkin dia tidak melihat si pelaku sehingga tidak berani asal bicara, atau memang karena benar-benar kurang hati-hati. Dalam hati, Dewangga hanya berharap kalau pengakuan Lisa tadi hanyalah omong kosong, hanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk mengancamnya belaka.
"Mas Dewa, bisa titip Yudith sebentar?" Andreas yang baru saja selesai merapikan peralatan makan Yudith bertanya.
"Bisa. Memang mau ke mana?" Perhatian Dewangga beralih ke Andreas dan dahinya mengernyit.
"Mau ke kantin beli air minun. Cuma sebentar kok. Gak pa-pa kan, Dith?"
Gadis itu lagi-lagi hanya mengangguk tanpa bersuara lalu kembali menyandar, karena dengan posisi duduk normal kepalanya pusing sampai perut pun terasa mual. Kalau masih bisa ditahan, dia tidak mau muntah. Malu dan tidak enak hati selalu merepotkan Andreas yang sudah sangat telaten mengurusnya.
Saat Andreas melangkah keluar, Dewangga berujar dalam hati, kesempatan. Namun, ketika matanya beradu tatap dengan Yudith, mendadak hatinya ragu. Bertanya atau tidak?
Dalam diam Yudith memperhatikan gestur Dewangga. Dari sorot mata dan raut wajah pemuda itu, dia bisa menduga kalau ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
Sebenarnya Yudith merasa pusing. Dia ingin memejamkan mata karena dengan begitu rasa pusing dan rasa mualnya bisa sedikit berkurang. Namun, yang ada di dekatnya saat ini bukan Andreas, melainkan tamu. Tidak sopan rasanya kalau dia merem.
"Benar kamu jatuh sendiri?"
Tiba-tiba ditanyai seperti itu, dada Yudith rasanya berdesir. Dia menatap Dewangga intens tanpa berkedip lalu mengangguk pelan.
Sementara itu, Dewangga yang tadi bertanya tiba-tiba dengan harapan bisa melihat wajah kaget Yudith, terpaksa harus menelan kecewa. Wajah mungil terkesan imut itu tampak tenang tanpa ekspresi. Justru tatapannya membuat Dewangga sedikit merasa tidak nyaman.
"Kalau begitu, berarti Lisa bohong ...." Meski ada rasa tidak nyaman bertatapan dengan Yudith, Dewangga berpura-pura biasa saja karena sudah bertekad ingin mencari tahu kebenaran ucapan Lisa.
Yudith menyipitkan mata, lalu sesaat kemudian berpaling menatap ke arah jendela terbuka yang menghadap ke taman. Dia merasa, bisa-bisa Dewangga akan mengetahui kebohongannya kalau terus saling menatap.
Seperti yang diharapkan, Yudith langsung bereaksi. Gadis itu menoleh, mata belo-nya terbuka lebih lebar dan wajahnya tampak sedikit tegang. Kenapa Lisa memberi tahu Dewangga? Apa maksudnya?
Yudith tidak tahu alasan Lisa memberi tahu Dewangga, tetapi setelah dipikir-pikir, entah kenapa dia jadi yakin kalau gadis itu sedang merencanakan sesuatu.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Yudith berkata, "Tolong jangan bilang siapa-siapa."
Kini gantian mata Dewangga yang melebar. "Jadi beneran dia yang mendorongmu?"
Yudith mengangguk samar. "Tolong jangan---"
"Kamu juga nggak ingin Andreas tau? Kenapa? Memangnya kamu nggak ingin Lisa dihukum?" Dewangga mengembuskan napas kasar, tidak habis pikir kenapa Yudith malah ingin menutupi kejahatan Lisa.
"Tolong, Mas. Biar aku atasi sendiri."
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?"
Yudith terdiam menatap tidak berkedip. Bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan karena merasa tidak perlu memberi penjelasan.
__ADS_1
Semakin lama menatap, Dewangga semakin merasakan aura keras kepala yang sangat kental dari Yudith. Gadis yang secara fisik tampak lemah itu sudah berhasil membuat Dewangga merasa, seperti tikus kecil yang menyusut ke pojokan karena sedang diincar kucing besar.
Ada rasa segan sangat kuat mencengkeram hatinya, tetapi sangat sukar dijelaskan bagaimana tepatnya rasa itu.
Terdengar suara langkah di luar, Yudith segera memejamkan mata dan merilekskan tubuh, berpura-pura tidur.
"Jangan bilang apa-apa pada Andreas," ujarnya sangat lirih dengan mata tertutup dan sebelum Dewangga menanggapi, Andreas sudah muncul.
"Lho, Mas Dewa kok nggak duduk?"
Dewangga yang terlalu serius dan fokus pada Yudith, tidak mendengar suara langkah Andreas. Bahunya menjengit dan buru-buru menoleh. Pemuda itu terkekeh ringan sambil mengibaskan rambut ke samping dan berkata, "Tadi sempat ngobrol sedikit sama Yudith. Tapi dia ketiduran."
"Oh iya, mungkin pengaruh obat." Andreas meletakkan dua botol air ke atas nakas dan menyerahkan satu minuman kaleng bersoda pada Dewangga. "Minum, Mas."
"Makasih." Setelah menerima minuman, Dewangga pun menyamankan diri duduk di salah satu kursi yang ada.
Dia menatap Yudith yang kini benar-benar tampak seperti sedang tidur pulas. Dalam hati dia berujar, isi buku memang tidak bisa hanya dilihat dari sampulnya.
Entah apa yang sedang direncanakan oleh gadis itu, tetapi untuk seseorang yang dari luar citranya begitu sederhana dan rapuh, ternyata cara berpikir Yudith tidak sesederhana itu, dan sebenarnya dia juga jauh dari kata rapuh.
Apakah itu alasan Andreas jatuh cinta padanya? Karena Andreas dapat melihat keistimewaan dalam diri gadis itu yang tidak bisa dilihat orang lain, dan dia mampu memahaminya. Dewangga yang awalnya enggan berurusan dengan Yudith, mendadak ingin mengenal gadis itu lebih jauh.
"Ririsma bilang nanti sore dia ke sini."
Tidak tahu kalau Yudith hanya pura-pura tidur, Andreas menurunkan kasur supaya gadis itu bisa berbaring nyaman. Setelah itu, dia pun duduk di dekat Dewangga.
Dewangga yang sudah mendongak hendak menenggak minumannya seketika urung lalu menatap Andreas dengan wajah berbinar. "Serius?"
"Serius. Memangnya, Mas Dewa mau nunggu sampai sore?"
Menenggak minuman seteguk, wajah Dewangga mengkerut efek dari soda yang serasa menusuk hidung. "Mau ke kampus dulu aku. Ntar balik sini lagi." Pemuda itu bersendawa pelan lalu berkata, "An ... tau kan kalau Lisa naksir kamu?"
Nama Lisa disebut, Andreas refleks melirik ke arah Yudith. "Sayangnya aku cuma punya satu hati dan sudah aku kasihkan ke Yudith," ujarnya lirih masih sambil terus memandang kekasihnya.
Mendengar itu Yudith merasa seperti ada laba-laba merayap di perutnya. Dadanya menghangat dan perlahan seperti membengkak. Bahkan gadis yang oleh Lisa dijuluki patung arca itu pun bisa merasa tersanjung oleh kata-kata manis Andreas barusan.
Sementara itu, Dewangga menatap lekat Andreas yang masih betah memandangi Yudith. Ujaran Andreas barusan seakan mencubit hatinya. Dia bukan play bloy, tetapi sudah cukup sering gonta-ganti pacar karena selalu saja ada ketidakcocokan, dan itu dianggapnya sangat wajar. Masih muda, belum waktunya berkomitmen, begitulah pikirnya.
Diam-diam Dewangga mengagumi Andreas yang menjalin hubungan disertai komitmen, tidak hanya sekadar untuk bersenang-senang atau mengisi waktu luang. Cara berpikirnya matang, padahal masih sangat muda. Berjodoh atau tidak kelak, paling tidak Andreas sudah membuktikan kalau niatnya tulus dan serius.
Seperti itukah gambaran laki-laki sejati dan berkualitas? Seperti itu pulalah makna adil dalam cinta, sudah memutuskan untuk menjalin hubungan, ya, harus disertai tanggung jawab. Berdua saling mengasihi, bekerja sama membangun dan saling mendukung, saling menggenggam erat hingga akhir. Seandainya saja Lisa memahami makna adil dalam cinta yang sesungguhnya. Dewangga tersenyum kecut, merasa tidak sebanding dengan laki-laki muda yang baru beranjak dewasa itu.
"Mas Dewa, ingin mendekati Ririsma untuk serius atau---"
__ADS_1
"Yang jelas aku ingin lebih mengenalnya." Dewangga menyela dengan cepat. "Emh, maksudku, berteman dulu, gitu."
Dewangga memang tertarik pada Ririsma, tetapi tidak ingin gegabah menilai perasaannya itu sebagai sesuatu yang menjurus ke cinta atau asmara. Dia memang bukan play boy, tetapi juga bukan orang yang begitu gampang berkomitmen. Dia masih ingin berpetualang mencari yang benar-benar cocok.