YUDITH

YUDITH
FOTO


__ADS_3

Bahkan saat hatinya marah pun, Yudith tidak pernah punya niat untuk mengadukan Bu Laili. Daripada banyak omong yang berpotensi memperkeruh keadaan, dia lebih suka menekankan batas teritorialitasnya. Irene adalah miliknya, tanggung jawabnya dan hanya dia yang berhak bertindak atas semua tingkah atau sikap Irene.


Namun, si kecil Vivi yang tidak bisa menjaga mulut, tiba-tiba masuk ke ruang makan dan membeberkan semuanya. Saat itu juga Bu Yuliana meninggalkan ruang makan dan bergegas pergi ke kamar Yudith. Yudith pun segera mengikuti tanpa sempat mengambil makanan.


"Bu Yuli." Kedatangan Bu Yuliana mengejutkan Eva yang sedang duduk menjagai Irene. Gadis remaja tanggung itu segera berdiri dan berkata lirih, "Irene tidur."


Irene tidur pulas dengan posisi telentang, kedua tangannya ada di atas perut menggenggam boneka beruang tipis erat-erat. Bilur-bilur bekas sabetan sudah menipis, yang terlihat sekarang hanya garis-garis merah tipis seperti  tergores sesuatu.


Bu Yuliana duduk di tepi pembaringan, lalu perlahan meraih tangan Irene untuk melihatnya lebih teliti. Tidak lama kemudian Bu Yuliana berkata, "Kenapa Laili memukul Irene? Sampek kayak gini loh. Ngawur saja orang itu."


Yudith hanya menceritakan garis besarnya saja karena tidak ingin terkesan mendramatisir keadaan demi keuntungan pribadi dan memposisikan Bu Laili sebagai yang paling bersalah. Namun, Eva yang melihat langsung kejadiannya memberi tahu Bu Yuliana bahwa tangan Yudith juga sempat terkena pukulan, karena ingin melindungi Irene.


"Tanganmu nggak papa?" tanya Bu Yuliana kemudian.


"Nggak papa, Bu."


"Eva, panggil Bu Laili, suruh datang ke kamar Bu Yuli. Kamu juga, Dith. Nanti kamu temani Irene lagi ya, Va."


"Baik, Bu Yuli." Setelah itu, Eva segera berlari ke luar.


Tidak sampai tiga menit kemudian Yudith dan Bu Laili sudah berada di kamar Bu Yuliana, duduk di tepi tempat tidur. Sementara Bu Yuliana sendiri duduk di kursi berhadapan dengan mereka.


"Aku nggak akan ngomong banyak. Karena ini baru pertama kali terjadi, aku masih bisa memaklumi. Tapi kalau nanti terulang lagi, aku akan langsung lapor pada Suster Davince. Paham, Bu Laili?"


"Aku benar-benar minta maaf, Dek Yuli. Aku khilaf. Soalnya Irene---"


"Nggak ada alasan. Melakukan kekerasan adalah mutlak salah. Aku memaklumi karena masih memandang Bu Laili sebagai pegawai paling tua juga pegawai yang selama ini bertindak sebagai ibu untuk kami semua. Setelah ini kalau masih terjadi lagi, nggak akan ada kesempatan lagi."

__ADS_1


Meski matanya menatap tajam, tetapi Bu Yuliana mampu menguasai suaranya untuk tetap tenang, tidak meledak-ledak lepas kendali. Usianya boleh saja lebih muda dari Bu Laili, tetapi pembawaannya jauh lebih dewasa dan berwibawa.


"Dan kamu Yudith." Bu Yuliana mengalihkan pandangan pada Yudith dan sorot matanya menjadi lembut.


"Iya, Bu Yuli."


"Irene mutlak tanggung jawabmu. Siapa pun tidak punya hak berurusan dengan anak itu selain kamu dan aku. Dan aku tegaskan, kalau terjadi apa-apa  dan kamu melihatnya, ngomong langsung sama aku jangan hanya menyimpannya sendiri. Paham, Dith?"


"Baik, Bu."


"Oke. Masalah ini untuk sementara aku anggap selesai. Sudah ada Yudith, jadi aku minta Bu Laili untuk tidak ikut campur soal Irene lagi. Tahan diri dan lebih sabar lagi, ya, Bu, ya."


"Baik, Dek Yuli." Dilihat dari raut wajah dan tahapan sendunya, Bu Laili tampak sangat menyesal. Yudith jadi tidak tega.


Dengan begitu masalah dianggap selesai dan Irene tidak perlu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Yudith kembali ke kamar dan mendapati Eva tertidur dalam posisi duduk. Yudith membangunkan dan menyuruh pindah ke tempat tidurnya alih-alih menyuruh kembali ke kamar Eva sendiri.


Setelah berganti pakaian, Yudith duduk di samping Irene dan memperhatikan wajah tidurnya yang begitu damai. Ternyata gadis kecil itu memiliki tahi lalat di sudut mata kanan bagian bawah. Sangat kecil, hanya terlihat seperti titik.


Dari wajah, pandangan Yudith turun ke bantal, lalu tanpa sengaja melihat ujung buku menyembul dari bawah bantal tersebut. Yudith mengambilnya perlahan dan hati-hati dengan niat hanya akan melihat sampulnya saja. Namun, begitu mendapati bahwa buku itu ternyata sudah dalam keadaan terbuka, Yudith pun sedikit terkejut saat melihat isinya.


Di buku itu ada dua lembar foto. Satu lembar adalah foto close up setengah badan seorang pria kisaran usia empat puluh lima tahun, sedangkan yang satu lagi adalah foto keluarga. Yudith memperhatikan foto keluarga dengan teliti. Pria di foto close up juga ada di foto keluarga sedang memeluk Irene dari belakang, diapit dua perempuan yang Yudith ketahui adalah ibu dan kakak Irene.


Yudith mengernyitkan dahi, merasa aneh karena foto keluarga yang disertakan untuk kelengkapan data Irene tidak sama dengan yang ini. Lebih tepatnya perbedaan hanya ada pada si pria. Pria di foto biodata, yang diklaim sebagai ayah Irene masih lebih muda dari yang ini dan wajahnya tidak mirip sama sekali.


Jangan-jangan, selama ini Irene menekuni bukunya bukan karena membaca, melainkan hanya untuk melihat-lihat kedu foto tersebut. Selagi Yudith termenung, tenggelam dalam banyak asumsi, tanpa disadarinya Irene perlahan membuka mata.


Begitu melihat Yudith, wajah Irene langsung tampak syok dan ketika pandangannya jatuh pada buku yang sedang dipegang Yudith, dia bergegas bangun dan merampasnya. Setelah itu, beringsut mundur dan duduk di sudut sambil memeluk buku itu erat-erat. Lagi-lagi tatapannya tajam penuh permusuhan.

__ADS_1


"Irene ...." Yudith sampai terlonjak saking kagetnya.


"Bu Yudith hanya melihat, kok, Ir." Eva tiba-tiba sudah berdiri di samping Yudith, sukses membuat Yudith terlonjak untuk yang kedua kalinya.


Setelah Eva bicara, Irene perlahan menurunkan pandangan dan tanpa sengaja melihat bilur memar di punggung tangannya Yudith. Tatapannya terpaku di situ cukup lama sehingga Yudith akhirnya menyadari ke mana arah tatapan Irene.


Yudith buru-buru menengadahkan telapak tangan supaya bilur bekas pukulan tidak terlihat, lalu berkata, "Irene makan dulu, ya? Bu Yudith ambilkan?"


"Iya, kamu harus makan. Makan di kamar nggak papa kalau sakit." Eva pun ikut membujuk.


Dari antara anak-anak yang tinggal di sini, Eva memang yang paling pandai bergaul juga ringan tangan untuk membantu. Dan sepertinya hanya dengan Eva juga Irene sedikit mau membuka diri walaupun tetap tidak mau bicara.


Yudith dan Eva menatap Irene yang hanya diam dengan kepala menunduk, kemudian Yudith kembali berkata, "Bu Yudith juga belum makan. Yuk, makan bareng."


Irene tetap bergeming hingga suasana sepi dipecahkan oleh suara suster kepala sekolah yang menggelegar seperti guntur. Sepertinya dari ruang tengah.


"Mana Yuliana, Yudith, sama Laili! Ke sini semua!"


"Va, tolong temani Irene, ya."


Setelah itu, Yudith segera keluar dari kamar dan muncul di ruang tengah bersamaan dengan Bu Yuliana. Beberapa detik kemudian Bu Laili pun datang.


Ketiganya berdiri berhadapan dengan suster kepala sekolah yang wajahnya sudah merah padam, tatapannya pun tajam seperti ingin mencabik-cabik ketiga perawat yang ada di depannya.


"Ada anak yang dianiaya, kenapa tidak ada yang melapor, huh?! Mana Irene?"


Di kamar, Irene bisa mendengar teriakan suster kepala sekolah. Wajahnya langsung pucat dan semakin beringsut mundur ke sudut seolah berharap bisa keluar dari kamar dengan cara menembus dinding.

__ADS_1


"Jangan takut. Suster Davince suaranya memang keras, tapi orangnya baik. Suster paling cuma pengen lihat tanganmu. Yang pantas kena marah itu Bu Laili. Aku bahkan yakin Bu Yuliana sama Bu Yudith juga bakal kena marah."


Entah kenapa tiba-tiba saja Irene mematung saat Eva berkata begitu. Irene menaikan pandangan dan menatap ke pintu di mana suster kepala sekolah muncul diikuti Bu Yuliana, Bu Laili dan Yudith.


__ADS_2