YUDITH

YUDITH
BONEKA IRENE


__ADS_3

Selalu menunjukkan sikap permusuhan. Menatap penuh kebencian. Tidak suka ditegur atau dinasehati. Jika dilarang melakukan sesuatu dia justru dengan sengaja melakukannya. Tidak suka bergaul. Suka menyendiri dan membaca buku. Tidak bicara, tapi suka tiba-tiba menceletuk mengatakan sesuatu yang sepertinya ditujukan untuk seseorang yang sangat tidak disukainya.


Setelah membaca catatan observasi yang dilakukan selama dua minggu, dan ternyata hasilnya nihil, belum ada perubahan atau perkembangan sama sekali pada klien yang Yudith tangani, Bu Lenni pun mengembuskan napas lelah.


"Aku tau ini tidak akan mudah, tapi kamu tidak boleh menyerah begitu saja. Cobalah untuk bersabar dan bertahan sampai setidaknya tiga bulan. Bagaimana?" Ada keprihatinan dalam suara dan tatapan Bu Lenni, seolah Yudith sedang berada dalam situasi rumit, terpuruk dan tidak ada jalan keluar lagi.


"Tidak ada niat menyerah, Bu," ujar Yudith tegas sambil menatap buku observasi yang masih dipegang Bu Lenni.


Aneh saja. Kenapa guru pembimbingnya seperti menganggap catatan laporan selama dua minggu itu sebagai keluhan sekaligus pengumuman pengunduran diri? Padahal Yudith kan hanya melakukan ketentuan sesuai prosedurnya. Kalau boleh memilih, dia lebih suka tidak menjadikan kasus Irene sebagai objek pembahasan untuk mendapat nilai.


"Bagus. Ada kesulitan apa pun harus bicarakan sama ibu."


"Baik, Bu."


"Oh, iya. Apa ada tanda-tanda dia suka menindas anak lain?"


Yudith menggeleng walaupun sebenarnya beberapa kali pernah mendapati Irene memojokan Vivi ke sudut kamar. Namun, tidak terjadi apa-apa. Setelah puas melotot dan Vivi ketakutan, Irene akan pergi begitu saja.


Untuk sikap Irene yang seperti itu Yudith bisa memaklumi karena Vivi, anak yang tidur di satu kamar yang sama, sangat besar mulut. Suka sekali ikut campur, mengadu dan membesar-besarkan masalah.


"Ya, sudah. Sana kembali ke kelas."


"Baik, Bu. Terima kasih."


Masih jam istirahat tengah hari. Jadi, dari ruang guru Yudith langsung pergi ke kantin untuk bergabung dengan sahabat-sahabatnya. Hanya Andreas yang menyambut ketika dia sampai, sedangkan yang lain tetap menunduk, sibuk mencatat.


"Gimana? Bu Lenni bilang apa? Sini, duduk sini." Andreas sedikit bergeser ke arah Fitus sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya.


Sudah terbiasa dengan perlakuan istimewa dari Andreas, Yudith pun sudah tidak canggung lagi. Toh hanya duduk bersisian, tidak hanya berduaan pula. Apanya yang perlu dikhawatirkan?


"Jangan menyerah," ujar Yudith sambil menyamankan diri di samping Andreas.


Jawabannya yang singkat otomatis menarik perhatian ketiga sahabat lainnya. Mereka meninggalkan aktivitas menulis dan menatap penuh tanya.


"Emang lo bilang mau nyerah?" Di balik kacamata, mata Ririsma menyipit dan Yudith hanya menggeleng untuk menanggapi pertanyaannya.


"Bimbingan sama Bu Lenni sendiri apa ada Suster Davince juga?" Suster Vero bertanya sembari meletakkan sekotak kue brownies di depan Yudith. "Makan dulu buat ganjel perut. Bikinan si An tuh."

__ADS_1


"Hanya Bu Lenni." Yudith mengambil sepotong kue dan langsung memakannya.


Dia memang sangat lapar soalnya tadi pagi tidak sarapan. Bukan tidak sempat, tetapi gara-gara ada kecoak di atas nasi gorengnya. Padahal hanya ditinggal ke dapur sebentar untuk mengambil saus sambal.


Tidak bermaksud menuduh, tetapi Yudith curiga itu ulah Irene. Karena waktu Yudith masuk ke kamar untuk berganti pakaian, Irene keluar dari kamar sambil menyeletuk rasain.


"Enak nggak, Dith?" tanya Andreas dan Fitus tiba-tiba memukul bukunya, membuat Andreas terlonjak kaget. "Apaan seh, Fit?"


Sahabat berambut keriting halus itu menatap Andreas dengan mata menyipit penuh cemooh. Bibir pun tersenyum miring. "Harus kali dapat pujian dari Yudith ko? Dari kami batiga belum cukup, huh?" Dengan logat Indonesia timur yang sangat kental dia berujar sarkas.


"Enak." Jawaban singkat Yudith menghentikan Andreas dan Fitus yang sudah siap berdebat.


Setelahnya, mereka kembali tekun mencatat dan Yudith adalah satu-satunya yang tidak melakukan apa-apa. Gadis itu memandang sahabatnya bergantian. Dulu waktu masih kelas satu, mereka memiliki banyak waktu untuk bermain-main. Saat berkumpul ngoceh ngalor-ngidul tidak jelas, ya, meskipun Yudith tidak ikut-ikutan karena lebih fokus membaca.


Namun, di kelas dua ini mereka tidak bisa lagi seperti itu. Selain harus berjibaku dengan tugas praktik penanganan kasus, mereka juga dituntut untuk tetap bisa fokus ke pelajaran di sekolah.


Yudith melirik Andreas dan mendapatinya sedang menulis langkah-langkah terperinci tentang metode penanganan kasus. Setelah itu, dia melirik ke buku Suster Vero dan ternyata juga sedang menulis hal yang sama.


"Kalian diharuskan nulis itu?"


Yudith hanya menggeleng dan baru sekarang terpikirkan kenapa dirinya seperti dibebaskan untuk berkreasi? Yang dituntut Bu Lenni adalah laporan tentang hasil observasi, sedangkan format tertulis untuk laporan penanganan kasus sendiri, Bu Lenni tidak mengatakan apa-apa.


Obrolan pun tidak berlanjut karena mereka kembali fokus mencatat. Bahkan Andreas yang biasanya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda Yudith, sekarang pun lebih memilih berkencan dengan pena dan buku.


Yudith yang tidak mempunyai kegiatan, akhirnya hanya duduk menemani sambil makan kue. Ini baru pertama kali terjadi, di mana Yudith yang biasanya menjadi satu-satunya yang selalu menunduk saat berkumpul, sekarang justru menjadi satu-satunya yang tidak menunduk juga tidak melakukan apa-apa.


Tiba-tiba terjadi keributan di pelataran SD. Tadinya Yudith hanya menatap tak acuh. Pikirnya paling anak-anak sedang bertengkar masalah sepele. Namun, ketika nama Irene diserukan, jangankan Yudith, keempat sahabatnya pun langsung menghentikan kegiatan dan menatap ke arah keributan sedang terjadi.


"Dith, Irene," ujar Suster Vero.


"Lo samperin sana gih."


Tanpa kata, Yudith pun berdiri. Andreas juga ikut berdiri, tetapi Fitus menahan tangannya. "Kau jangan cari masalah."


Andreas tidak protes. Dia sadar diri, segala sesuatu tentang Yudith bisa membuatnya bertindak impulsif. Jadi, memang perlu ada seseorang yang harus selalu mengingatkan. Beruntunglah dia memiliki Fitus sebagai teman baik. Akhirnya dia tetap berdiri dan menatap ke arah Yudith pergi.


Sesampai di tempat anak-anak yang sedang ribut, Yudith terkejut setengah mati melihat Irene sedang memukul bertubi-tubi anak laki-laki yang sudah meringkuk di tanah sambil menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Yudith segera menyeruak di antara kerumunan hendak menghentikan Irene, tetapi seorang guru perempuan sudah mendahuluinya.


"Irene, hentikan!" Guru itu menarik tangan Irene sangat kasar, sampai-sampai gadis kecil itu terpelanting ke tanah dan jatuh terduduk.


Bu guru segera membantu anak laki-laki itu berdiri, lalu mengebas bajunya yang kotor, mengusap wajah yang basah sambil berbicara lembut untuk menenangkan. Yang satu disayang dan yang satunya ditarik kasar sampai jatuh, Yudith merasa itu sangat tidak adil.


Tiba-tiba Irene bangun dan kembali menyerang anak laki-laki yang masih menangis ditenangkan guru.


"Kembalikan!" Irene menjerit, suaranya melengking, sambil merampas boneka beruang kecil yang ada di tangan anak laki-laki itu.


Tangis anak laki-laki itu semakin menjadi-jadi. Lagi-lagi Yudith terlambat menarik Irene dan akhirnya gadis kecil itu kembali didorong oleh sang guru.


"Irene masuk kelas sekarang." Guru itu memerintah, tetapi Irene bergeming dengan tatapan tertuju pada boneka beruang yang digenggam erat-erat oleh anak laki-laki itu.


Yudith mengenali boneka itu memang milik Irene. Bonekanya gepang tipis biasa dijadikan pembatas buku oleh Irene. Yudith perlahan mendekati Irene, lalu menyentuh bahunya. Spontan saja gadis itu mendongak menatap penuh permusuhan seperti biasa.


"Kamu masuk kelas dulu, ya," pinta Yudith dengan nada lembut, tetapi Irene malah menatapnya semakin tajam, seolah ingin mengatakan dengan sinis: Kamu juga menyalahkan aku, kan? Kamu juga tidak percaya padaku, kan?


Sebelum Yudith mengatakan sesuatu untuk menenangkan hati gadis itu, yang bersangkutan sudah pergi dengan langkah-langkah lebar dan sesekali tampak mengusap wajah. Yudith yakin Irene menangis. Sepertinya boneka itu sangat berharga buat Irene.


Bu guru pun hendak membawa anak laki-laki itu pergi, tetapi Yudith buru-buru berkata, "Maaf, Bu. Bonekanya."


"Nggak boleh! Ini punyaku!" Anak laki-laki itu menjerit dan menyembunyikan diri di belakang gurunya.


Yudith tidak hirau padanya. Dengan tenang dan datar berbicara pada bu guru, "Saya pengasuh Irene. Jadi saya tau betul boneka itu milik Irene, Bu."


Sesaat guru itu seperti tidak peduli, tetapi kemudian setelah melihat papan nama di dada kanan Yudith, tiba-tiba saja langsung merebut boneka itu dari tangan si anak laki-laki. Tidak peduli meski anak itu semakin kencang menangis, lalu menyerahkan kepada Yudith.


"Namanya anak-anak, ya, wajar saja bertengkar untuk hal-hal sepele, Dek," ujar guru itu dengan raut wajah tidak enak dipandang. Sepertinya, hati memandang remeh Yudith, tetapi tidak berani menunjukkan karena dia tahu betul Yudith bukan lawan yang bisa diremehkan.


Yudith sendiri hanya menatap datar. Dia tidak setuju dengan alasan yang diutarakan guru. Bukankah lebih baik memberi pemahaman sejak dini daripada terus memaklumi dan membiarkan kejadian yang sama terus berulang. Apalag terlihat jelas bahwa guru itu sangat berat sebelah.


Setelah semua pergi, Yudith pun berjalan kembali pada sahabat-sahabatnya sambil memandangi boneka tipis pembatas buku yang sekarang cacat, karena jahitan pada pangkal kaki dan pangkal lengan telah robek.


Yudith jadi teringat wajah sedih dan suara jeritan Irene. Emosi yang baru saja ditunjukkan gadis itu, bagi Yudith sudah cukup untuk dijadikan bahan pertimbangan penting dalam menentukan metode pendekatan.


Gadis manis itu tersenyum tipis. Mudah-mudahan berhasil, harapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2