
Setelah banyak informasi dikumpulkan, lalu dihubungkan ke sana-sini untuk mendapatkan kesimpulan yang paling mendekati kemungkinan dan masuk akal, akhirnya kepala sekolah mulai merasakan adanya titik terang. Namun, ada juga bagian yang sangat sulit disinkronkan. Misalnya tentang bekas luka yang ada di kaki Irene.
Bila bekas luka itu karena perbuatan Pak Muksin, lantas kenapa Irene masih sangat menyayanginya? Alih-alih benci dan tidak ingin melihat wajahnya lagi, tetapi malah selalu memandangi fotonya.
"Anak kecil yang kamu maksud, waktu itu juga ikut mengantar. Dia tidak menangis sama sekali, tatapannya justru menakutkan. Tajam dan seperti mengandung kebencian."
Kata-kata Bu Rohma kembali terngiang, suster kepala sekolah pun mengerling jam dinding. Baru pukul delapan, belum terlalu malam untuk bicara dengan Yudith, pikirnya. Dia yang sudah berada di kamar di lantai tiga, segera menghubungi Bu Yuliana.
Selesai bicara di telepon, Bu Yuliana mendatangi Yudith di ruang belajar, lalu mereka pergi ke kantor bersama. Itu pun harus merayu Irene terlebih dahulu. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di kantor sekolah.
Secara singkat, Bu Yuliana menceritakan perkembangan hasil penelusuran Pak Heru, ditambah beberapa fakta yang didapat dari Bu Rohma kepada Yudith. Dia baru menceritakannya sekarang karena suster kepala sekolah melarangnya bicara tentang masalah itu di asrama.
Setelah Bu Yuliana selesai bercerita, suster kepala sekolah berkata, "Aku jadi kepikiran, jangan-jangan yang dikatakan Bu Magda selama ini benar. Irene suka bicara yang tidak-tidak yang jatuhnya fitnah. Gimana, Dith? Bagaimana menurutmu?"
Yudith tidak langsung menjawab, malah diam termenung, berusaha mengingatkan apa saja yang terjadi selama bersama Irene. Satu peristiwa yang sempat melekat di hati, tetapi kemudian pun sempat terlupakan karena perubahan sikap Irene yang menjurus ke hal positif.
Namun, sekarang dia kembali teringat dan setelah dikait-kaitkan rasanya cocok alami tanpa perlu dipaksakan cocok.
"Manipulatif," ujar Yudith tiba-tiba. Meski suaranya lirih, tetapi Bu Yuliana dan tampak kaget, sedangkan suster kepala sekolah tampak mengangguk singkat.
"Ini kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?" Pertanyaan ini sepertinya hanya untuk mengonfirmasi saja, karena suster kepala sekolah tidak menunjukkan tanda-tanda kaget atau sangsi atas perkataan Yudith barusan.
"Waktu aku baru datang ke Wisma Awan, pas lagi rapi-rapi baju di almari, Irene diam-diam ngambil roti yang aku taruh di atas meja. Pas ketahuan Vivi dan dilaporkan ke Bu Laili, lalu dimarahi karena makan di kamar, Irene malah nunjuk ke aku seolah bilang kalau aku yang ngasih roti itu ke dia."
__ADS_1
Yudith juga belum lupa bagaimana tatapan Irene waktu mereka pertama kali beradu pandang di pelataran TK. Tatapan tajam penuh kebencian seolah semua orang adalah musuhnya. Namun Yudith tidak mengutarakan pemikirannya tentang yang satu itu.
Setelah mendengar penuturan Yudith, suster kepala sekolah berkata, "Manipulatif. Bisa jadi."
Suster kepala sekolah berpikir demikian karens perubahan dalam diri Irene terkesan ada yang janggal. Teruma perubahan sikapnya terhadap Bu Duwina. Aneh saja dia yang awalnya sangat dekat dengan Bu Duwina, sekarang tiba-tiba juga menolaknya.
Bila awalnya suster kepala sekolah mengira perubahan itu karena Irene sudah terlanjur nyaman dengan Yudith, tetapi sekarang dia merasa gadis itu menolak pulang karena ada sesuatu hal yang lain. Entah apa itu.
"Suster," Bu Yuliana menyapa suster kepala sekolah yang tampak termenung, lalu melanjutkan saat yang bersangkutan menatapnya, "kalau ingin bicara dengan Bu Duwina, sebaiknya suruh dia datang sendiri. Jangan sama Bu Magda, berisik minta ampun."
Suster kepala sekolah langsung terkekeh, lalu berkata, "Capek, ya, ngomong sama orang yang enggak mau ngalah. Ya sudah, kalian pulang saja dulu. Bersikap seperti biasa saja, Dith. Sepertinya, Irene itu nalurinya sangat peka."
"Baik, Suster."
Setelah berbasa-basi, Bu Yuliana dan Yudith pun meninggalkan kantor. Sementara itu, suster kepala sekolah menghubungi Bu Duwina.
"Sudah selesai belajarnya?" Yudith bertanya dengan nada seperti biasa dan Irene mengangguk penuh semangat. Setelahnya, tidak ada yang bicara sampai akhirnya mereka tiba di asrama.
Yudith masuk ke kamar, sedangkan Irene dan Eva bergabung dengan yang lain di ruang belajar. Bukan untuk belajar, melainkan hanya mengobrol sambil menunggu jam tidur.
Di kamar, Yudith termenung menatap pintu almari pakaian Irene dan Eva. Pakaian mereka disimpan dalam satu almari yang sama. Sejak datang, dia belum pernah melihat isi almari itu tanpa kehadiran Irene dan Eva.
Mereka anak-anak normal yang bisa bantu diri dan diajarkan mandiri sedini mungkin. Mereka harus merapikan barang-barang sendiri dan pengasuh hanya mengawasi. Karena hal itulah Yudith merasa tidak enak kalau harus membuka almari saat sedang sendirian. Niat untuk membuka almari itu pun dia urungkan, dan akhirnya dia membuka almari sendiri untuk mengambil pakaian ganti.
__ADS_1
Saat sedang berganti pakaian itulah matanya tanpa sengaja melihat ke atas almari dan tampak sesuatu seperti kertas ujungnya menjorok keluar. Yudith tidak pernah memeriksa atas almari, toh, tidak ada apa-apa di sana. Paling-paling hanya debu. Seingatnya, di situ juga tidak pernah tampak ada sesuatu ditaruh. Entahlah, mungkin saja sebenarnya benda itu selama ini sudah ada di situ. Dianya saja yang kurang perhatian.
Yudith mengabaikannya dan begitu selesai berganti pakaian langsung keluar untuk menaruh pakaian kotoranya di keranjang yang ditaruh di bagian belakang asrama.
Sekembalinya dari belakang, Yudith tidak melihat Irene di ruang belajar. Dia menghampiri Eva dan bertanya, "Irene ke mana, Va?"
"Kayaknya ke kamar."
"Sudah mau tidur?"
"Enggak tau, Bu."
Yudith tidak bertanya lagi dan langsung melangkah pergi. Dia memang menduga kemungkinan besar Irene ada di kamar, tetapi tidak menyangka begitu sampai di pintu akan melihat gadis itu sedang ada di tempat tidur Eva, menjulurkan badan ke atas alamri seperti ingin mengambil sesuatu, dan nyaris jatuh karena terkejut saat dia datang.
"Irene!" Yudith memekik sambil berlari menghampiri dan siap menangkap bila Irene jatuh, tetapi untung saja gadis itu sempat berpegangan pada pembatas tempat tidur. "Ya Tuhan, Irene. Kamu ngapain di situ?"
Wajah Irene pucat dan matanya melebar menatap Yudith seperti melihat hantu. Namun hanya sebentar saja, setelahnya dia buru-buru turun dan berdiri di depan Yudith. Sambil tersenyum lebar dia menjulurkan tangan yang telapaknya dalam keadaan terkepal, lalu perlahan membukanya. Ternyata ada foto ayahnya yang dipotong dari foto keluarga yang sudah dibuang.
"Eva menyembunyikan fotomu?" tanya Yudith lembut.
Irene menggeleng, lalu mengambil pena dan kertas untuk menulis.
Aku tadi main-main di situ dan foto ini jatuh, lalu aku mencarinya. Ketemu.
__ADS_1
Irene memberikan kertas itu kepada Yudith, lalu bergegas pergi. Namun, dia tidak pergi jauh dari kamar, berdiri di dekat pintu dan mengintip Yudith.
Tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan, Yudith bersikap seperti biasa. Duduk menghadap meja, mengeluarkan buku pelajaran, lalu mengerjakan tugas sekolah. Melihat hal itu Irene tampak mengembuskan napas lega.