YUDITH

YUDITH
SEBENARNYA AKU SUDAH MENGANCAM


__ADS_3

Ikatan batin antara ibu dan anak memang diyakini sangatlah kuat. Terbukti, di saat putrinya sedang mengalami pergolakan batin dan putus asa hingga berniat mengakhiri hidupnya, Nyonya Wijayanto pun merasakan kegelisahan yang sangat mendalam.


Perempuan tinggi langsing itu terlihat mondar-mandir di dalam kamar sambil terus menggenggam gagang telepon. Hatinya sangat risau karena sejak memutuskan untuk tidak menghubungi Lisa, dia selalu dihantui mimpi buruk. Setiap saat merasa waswas, takut kalau tiba-tiba pihak yayasan menghubungi untuk mengabarkan sesuatu yang buruk telah terjadi pada putrinya.


"Ya Tuhan, mudah-mudahan anak itu nggak sembrono dan nekat," gumamnya sambil mendaratkan diri di tepi pembaringan, kemudian termenung sambil memandangi gagang telepon.


Semakin menahan diri untuk tidak menelepon, dadanya semakin berdebar tidak karuan, dan kegelisahannya pun rasanya semakin mencabik-cabik batin.


"Ah, masa bodoh. Aku kan hanya pengen tau kabar Lisa. Memastikan kalau dia baik-baik saja."


Setelah meyakinkan diri, akhirnya Nyonya Wijayanto pun menekan nomor telepon putrinya dan ketika yang terdengar hanya suara nada bahwa ponsel tidak bisa dihubungi, wajahnya langsung pucat. Berulang kali dia mencoba, tetapi hasilnya tetap sama.


"Ya Tuhan, anak itu masih marah dan mematikan handphone-nya. Apa aku hubungi lewat telepon asrama aja, ya?"


Setelah termenung sejenak untuk mempertimbangkan, akhirnya Nyonya Wijayanto pun nekat menekan nomor telepon asrama.


Di saat yang sama, Dewangga sedang berbalas pesan dengan Ririsma. Namun, yang mereka bahas bukanlah Lisa.


Merasa sudah melakukan bagiannya---berhasil membujuk orang tua Lisa---Dewangga pun berpikir tugasnya sudah selesai. Dia sama sekali tidak berpikir akan efek samping dari perbuatannya dan melanjutkan rencana untuk mendapatkan perhatian Ririsma.


Di pertemuan hari Minggu lalu, dia sudah menceritakan semua rencana Lisa. Dia juga menjelaskan kenapa sebelumnya sempat mengatakan akan mengejar Yudith. Hanya saja tidak menceritakan bahwa Yudith jatuh dari tangga karena didorong oleh Lisa.


Entah kenapa dia merasa lebih baik membiarkan Ririsma mengetahui hal itu dengan sendirinya, seperti yang gadis itu sendiri inginkan dan sedang rencanakan sekarang. Main detektif-detektifan untuk membuktikan dugaannya.


Ngapain sih lo maksa banget? Di luar sana nggak ada cewek yang lebih cakep apa?


Yang lebih cantik banyak, tapi yang berhasil menawan hatiku ya cuma kamu.


Lo pikir gue gampangan. Rayuan gombal lo nggak bakal mempan.


Membaca balasan Ririsma, senyum mencemooh tersungging di sudut bibir Dewangga. "Makin penasaran kan aku jadinya." Setelah bergumam dia pun cengengesan sebentar, kemudian termenung, membayangkan sosok gadis yang akhir-akhir ini selalu bermain di angannya.


Ririsma, parasnya menarik walau bisa dibilang tidak terlalu cantik. Postur badan bagus, tinggi, tidak gemuk juga tidak kurus---terlihat padat berisi. Namun, yang paling menarik dan menantang itu kepribadiannya. Ya, walaupun bicaranya kasar, tetapi sepertinya berhati tulus. Tidak suka basa-basi pula.


Bagi Dewangga yang sebelumnya selalu bisa mendapatkan hati para gadis yang pernah dipacarinya dengan cukup mudah, sekali berhadapan dengan yang sulit ditaklukkan jiwanya malah merasa tertantang. Di mata Dewangga, Ririsma dan Yudith adalah dua gadis sederhana berkepribadian kuat yang sulit dijumpai lagi di zaman modern seperti sekarang ini. Dan Andreas, mengajarkannya bagaimana menjalani hidup dengan lebih teratur dan berkomitmen. Setelah cukup lama termenung, Dewangga pun mengetik balasan.


Sekarang, setiap hari bebas aku jemput. Masa iya kamu mau jadi obat nyamuk Andreas sama Yudith terus.


Membaca pesan itu dahi  Ririsma langsung mengernyit. "Idih, alesan aja," gerutunya sambil menaruh ponselnya di dekat bantal tanpa membalas pesan Dewangga.


Yudith yang sedari tadi masih termenung memikirkan Lisa, menoleh pada sahabatnya itu. Namun, tidak berkata apa-apa.


"Astaga!" Tiba-tiba Ririsma menepuk jidatnya. "Aku lupa ngeluarin tanaman yang di kapel, Dith."


Di kapel ada beberapa tanaman hias ditanam dalam pot-pot kecil, harus dikeluarkan setiap malam dan dimasukkan lagi keesokan paginya. Biasanya mereka yang kebagian jatah membersihkan kapel yang harus melakukannya.

__ADS_1


"Ya dikeluarkan sekarang sebelum ditegur Suster Asti. Aku temeni."


"Yuk ah."


Keduanya beranjak dari tempat masing-masing dan bersamaan keluar dari kamar. Melintasi koridor depan ruang makan, mereka mendengar ada yang mencari-cari Lisa.


"Ada yang lihat Lisa nggak?"


"Jangan cari Lisa di sini. Di kamarnya sonoh." Seseorang menyahuti sangat ketus.


"Sudah, tapi nggak ada." Yang ini pun sepertinya kesal karena tidak juga menemukan yang dicari.


"Ada apaan sih? Tumben nyariin Mahasiswi Ekslusif?" tanya yang lainnya.


"Dipanggil Suster Eva. Ish, anak itu ke mana sih? Sudah nyari muter-muter aku, nggak ketemu juga."


Ririsma dan Yudith berlalu begitu saja, tampak masa bodoh. Namun, sebenarnya di dalam benak masing-masing terbersit pertanyaan, ada apa lagi? Kenapa Lisa dipanggil menghadap? Dan di mana dia sekarang?


"Selalu saja bertingkah," ujar Ririsma sebal dan Yudith hanya diam saja.


Gadis itu tengah sibuk berpikir kira-kira Lisa ke mana? Masa iya hanya di dalam kompleks kecil ini dicari-cari tidak ketemu juga? Kecuali kalau dia memang tidak ada di sini lagi alias kabur. Tersentak dengan pemikirannya sendiri, Yudith sampai spontan menghentikan langkah.


"Lo kenapa?" Ririsma terpaksa ikut berhenti lalu menatap Yudith heran.


"Nggak pa-pa. Yuk cepetan." Yudith yang kondisinya sudah jauh lebih baik, melangkah lebar-lebar sambil menarik tangan sahabatnya. Dia ingin segera menyelesaikan tugas lalu membantu mencari Lisa. Perasaannya mendadak tidak enak.


Ceklek


Bersamaan dengan pintu kapel yang terbuka karena didorong oleh Yudith, Ririsma pun seketika itu berhenti bicara. Mulutnya melongo dan mata melebar. Begitu pun Yudith.


Keduanya berdiri terpaku syok menatap tubuh Lisa yang tergeletak lemas di atas karpet, bagian mulut dan dada tampak basah, di dekatnya ada botol air dalam kondisi terbuka dan terguling.


"Ya Tuhan ...." Yudith bergegas masuk dan berjongkok di samping Lisa yang matanya masih terbuka sedikit. "Ris panggil suster---" Yudith belum selesai bicara, tetapi Ririsma sudah berlari menjauh.


"Sa, buka matanya." Yudith terlalu fokus memperhatikan wajah Lisa yang terlihat pucat dengan mata layu seperti orang mengantuk berat atau teler, sampai tidak melihat bungkus obat yang tergeletak di dekat tangan Lisa.


Pandangan Lisa memang kabur, tetapi di antara sadar dan tidak masih bisa melihat siluet seseorang yang tampak bias, ada banyak. Tangannya terangkat seperti hendak menyentuh Yudith, tetapi terlalu lemah akhirnya terkulai lagi.


Drap drap drap


Derap langkah dari arah koridor terdengar semakin mendekat. Yudith menoleh dan mendapati Ririsma datang bersama Suster Eva dan Suster Asti serta beberapa penghuni asrama mengikuti di belakangnya.


"Lisa kenapa, Dith?" Melihat keadaan Lisa yang lemas, masih sadar, tetapi terlihat linglung, wajah Suster Eva langsung terlihat khawatir. Buru-buru dia bersimpuh untuk melihat keadaan Lisa.


Sebelum Yudith sempat menjawab pertanyaan Suster Eva, Ririsma sudah menyeletuk, "Suster lihat ini." Gadis berkacamata itu memungut bungkus obat sakit kepala dari karpet lalu memberikannya pada Suster Asti yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Suster Eva lihat. Habis satu pack." Karton pipih persegi panjang yang biasanya berisi 24 tablet itu sudah kosong.


"Ya Tuhan apa-apaan ini!" Suster Eva berseru syok. "Cepat bawa ke UGD!" Suster Eva memberi perintah, tetapi dia sendiri juga yang mengangkat tubuh Lisa. Sementara itu, Suster Asti berlari tunggang langgang menuju ruangan kepala asrama untuk menelpon taksi.


Semua terjadi begitu cepat dan seolah apa pun yang dibutuhkan untuk kelancaran penyelamatan Lisa sudah tersedia. Taksi yang dipesan ternyata ada yang mangkal tidak jauh dari mulut gang kompleks, dan UGD 24 jam pun lokasinya tidak jauh---naik taksi hanya sekitar lima menit. Dalam situasi biasa jalan kaki pun tidak sampai sepuluh menit.


Setelah mereka pergi, Ririsma diberondong banyak pertanyaan oleh teman-temannya---tidak ada yang bertanya pada Yudith karena mereka sudah hafal tabiat gadis pendiam itu. Namun, mereka tidak mendapatkan jawaban apa pun karena Ririsma pun bungkam.


Di lingkup bangunan tiga lantai ini, kabar tentang Lisa yang mencoba bunuh diri ibarat satu embusan angin yang berhasil menyapu segalanya, begitu cepat menyebar, membuat mereka tidak bisa menahan mulut untuk membicarakannya.


Kejadian yang sebenarnya masih belum jelas, tetapi sudah banyak yang berasumsi dan menarik kesimpulan, saling berkasak-kusuk memberi informasi seolah mereka saksi peristiwa.


Malam sudah larut dan semua penghuni asrama pun sudah masuk ke kamar masing-masing, tetapi Yudith dan Ririsma malah duduk di ruang makan. Tadinya ada suster-suster pendamping bersama keduanya, tetapi mereka sudah masuk ke kamar juga, beberapa menit yang lalu.


Hati Yudith gelisah karena merasa sudah menjadi penyebab Lisa nekat, tetapi sikap diamnya bisa menyamarkan kegelisahan itu dengan baik, sedangkan Ririsma tidak begitu halnya.


Duduk saling berhadapan, gadis berkacamata itu tampak tidak tenang, kerap kali menoleh ke pintu, wajahnya sedikit pucat dan kuyu, berkali-kali menghela napas dalam lalu mengembuskan kasar, morong yang tadi penuh air, kini tinggal sedikit isinya karena dia terus-terusan minum.


Yudith tahu sahabatnya itu tidak haus, tetapi hanya sedang berusaha menenangkan diri atau mengalihkan pikiran. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Lisa, semua itu adalah salahnya dan Ririsma. Yudith hanya berpikir tentang hasil positif dari rencananya, dan lupa kalau orang seperti Lisa yang hanya kelihatannya saja tangguh, tetapi sebenarnya rapuh dan berpikiran sempit, bisa saja melakukan hal-hal gila demi ego dan gengsi.


Lisa pasti berpikir, lebih baik mati daripada harus mengakui perbuatannya lalu meminta maaf pada Yudith yang dibencinya. Hanya mengingat tindakan bodoh Lisa saja kepala Yudith rasanya seperti dipaksa untuk berpikir keras, akhirnya sakit dan berdenyut-denyut. Gadis itu menekan-nekan pelipis untuk meredakan pusing.


"Sakit?" Akhirnya Ririsma bersuara untuk pertama kali sejak kepergian para suster pendamping.


"Dikit, tapi nggak pa-pa kok."


Sambil menatap intens pada Yudith yang masih menekan-nekan pelipis, Ririsma berpikir untuk menceritakan apa yang sebenarnya sudah dia lakukan.


"Ris---"


"Eh, Dith---"


Setelah tanpa sengaja berucap bersamaan, keduanya pun langsung terdiam dan hanya saling menatap.


"Ngomong aja dulu," ujar Yudith kemudian.


Wajah Ririsma menegang. Kerongkongannya mendadak terasa kering lagi, buru-buru dia menuang air ke gelas lalu menenggaknya sampai tandas. Setelah itu, sempat terdiam sesaat untuk mengatur napas dan menata batin, kemudian berkata, "Sebenarnya aku sudah mengancamnya." Suaranya bahkan terdengar serak, padahal barusan minum.


Sudah menduga kalau hal itu yang hendak disampaikan sahabatnya, Yudith hanya menatap terpaku dengan wajah dan sorot mata tenang, sehingga terkesan tak acuh.


"Dith. Kok lo diem aja sih? Gue sudah ngancem Lisa. Kalau dia bunuh diri gara-gara ancaman gue itu gimana?"


"Ya kita harus berani tanggung jawab, Ris." Cara Yudith bicara begitu santai dengan suara lirih, tetapi lugas seolah tidak tersirat kekhawatiran sama sekali. Namun, bukan hal itu yang membuat mata Ririsma menyipit, menatap penuh selidik, melainkan kata kita.


"Kita? Maksud lo?"

__ADS_1


"Bisa dibilang kalau aku ... juga sudah mengancamnya."


"Hah?!"


__ADS_2