YUDITH

YUDITH
DIA ORANG SPESIAL ITU


__ADS_3

Duduk di atas sepeda motor yang baru saja berhenti dan dimatikan mesinnya, tubuh tegap terbalut jaket dan celana denim terlihat gagah dan keren. Sepatu kets bermerek yang dia kenakan menambah kesan maskulin dan berkelas. Dia melepas helm. Di belakang, potongan rambutnya cepak ala militer, tetapi di bagian depan cukup panjang menutup wajah hingga ke dagu.


Dia mengibaskan kepala beberapa kali lalu menyugar rambutnya ke samping kiri. Setelah itu, bercermin di kaca spion untuk menata rambut bagian kanan yang masih sedikit berantakan. Merasa sudah cukup, dia pun lantas turun dari sepeda motornya. Berdiri sambil merogoh saku celana untuk mengambil ponsel, dia mengedar pandangan ke sekeliling.


Taman Wisata Bunga ini tampak jauh lebih indah dari yang terakhir dia lihat sekitar setengah tahun yang lalu. Sesaat kemudian dia mengabaikan keindahan sekitar untuk menghubungi seseorang lewat ponselnya.


"Hai, kamu di mana?"


"Aku di atas." Lisa menjauh dari Andreas, Yudith, dan Ririsma untuk menjawab panggilan Dewangga, kakak sepupunya.


"Aku baru keluar dari tempat parkir. Aku tunggu di dekat kolam renang, ya. Aku nggak bisa lama, ada janji ma temen. Kamu buruan turun."


"Iya, iya, bentar. Bye ...."


Setelah mematikan sambungan, Lisa bergegas kembali pada yang lain dan langsung disemprot Ririsma, "Lo jangan cari gara-gara, ya. Gue cekek lo kalau macem-macem.


Ririsma masih belum bisa menerima kenyataan kalau sekarang dia adalah bagian dari tim pengawasan Lisa. Sejak berangkat tadi dia terus-terusan menggerutu, memrotes hampir seluruh gerak-gerik Lisa, wajahnya pun suntuk plus jutek.


"Idih, apaan sih? Marah-marah mulu, cepat tua tauk ...."


"Ish ...."


Ririsma mengangkat tangan hendak memukul Lisa, sebenarnya tidak serius, tetapi Andreas dan Yudith yang khawatir dia sungguh-sungguh segera mencegahnya.


"Jalan lagi, yuk," ajak Yudith sambil meraih tangan Ririsma lalu menggandengnya.


"Ke bagian sana itu bunganya bagus-bagus." Andreas menunjuk ke arah sekumpulan bunga warna-warni yang berada agak jauh dan jalannya menanjak.


"Aku mau ke toilet!"


Mereka yang sudah hendak melangkah pun urung dan bersamaan menoleh ke Lisa.


"Ya, pergi sana. Ngapain bilang? Tau jalannya, kan?" Ririsma benar-benar tidak punya niat sedikit pun untuk menutupi rasa tidak sukanya. Setiap kata yang terlontar dari mulut gadis itu selalu bernada sinis dan pedas.


Wajah Lisa memelas, tatapannya tertuju pada Andreas. "Aku tidak terlalu ingat. Takut tersesat."


Sudah terlanjur sebal, bawaannya negative thinking terus. Jadi, di mata Ririsma segala gerak-gerik Lisa terlihat selalu mempunyai maksud yang bertujuan menjauhkan Andreas dari Yudith lalu memonopoli Andreas.


"Sini gue antar. Nggak usah main mata sama Andreas."


Ririsma hendak meraih tangan Lisa, tetapi ditepis dan gadis berwajah oriental berhidung lancip itu pun mundur dua langkah. "Aku nggak mau. Kamu kan nggak suka sama aku dan aku nggak akan kasih kamu kesempatan buat ngerjain aku."


"Oho, bener juga. Baru terpikirkan. Terima kasih udah kasih ide. Sini gue dorong lo ke tebing di sebelah sana itu."


Merangsek ke arah Lisa, Ririsma bermaksud mencekal tangan gadis itu, tatapi hal itu justru memberi kesempatan pada Lisa untuk mendramatisir keadaan, pura-pura ketakutan lalu berlindung di belakang Andreas.


Sambil memegang kedua lengan Andreas dia merengek, " An, anterin aku, dong. Kebelet, nih. Nggak tahan."


"Apa sih yang lo rencanain? Sudahlah, pergi berempat aja!"


Yudith mencekal lengan Ririsma yang sudah hendak melangkah. Sambil menunjuk ke petak bunga warna merah muda pudar dia berkata, "Aku pengen ke sana."


"Nanti ke sana setelah---"


"Sekarang aja." Yudith memotong ucapan Ririsma. "Biar Andreas yang ngantar Lisa."


"Kamu nggak pa-pa?" Andreas meremas jemari Yudith yang sedari tadi digenggamnya. Mata belo gadis itu menatap teduh, seoalah ingin menyampaikan, aku tidak apa-apa.


Andreas melepas topi yang dia kenakan lalu memakaikannya pada Yudith. "Di atas lebih panas. Sana duluan, nanti aku susul."

__ADS_1


Senyum tipis terukir di bibir Yudith. Tatapannya teduh dan hangat, perlahan dia mengangguk.


"Buruan, dong. Kebelet, nih." Lisa kembali merengek sambil mengguncang lengan Andreas.


"Dasar resek lo!" Sejenak Ririsma melotot pada Lisa lalu menarik tangan Yudith dan mengajaknya pergi sambil bersungut-sungut.


Lisa tidak peduli. Senyum sinis tersungging di sudut bibirnya yang tipis, puas karena tujuannya sudah tercapai. Sekarang Andreas sudah ada di tangan, tinggal mengenalkannya pada Dewangga dan meminta pertolongan pada kakak sepupunya itu tentang satu hal.


Melangkah di samping Andreas, wajah gadis itu tampak cerah ceria. Dia kerap kali merapat ke Andreas untuk mencuri-curi kesempatan menggandengnya, tetapi Andreas selalu refleks menjauh.


Dari tempat mereka, letak toilet terdekat ada di dekat kolam renang. Selagi berjalan, Lisa terus mengoceh ini-itu untuk menarik perhatian Andreas, tetapi pemuda itu hanya menanggapi sekadarnya.


Kalau Lisa ini bukan Mahasiswi Ekslusif yang mana membutuhkan pengawasan khusus, Andreas tidak akan segan menolak menemaninya. Sayangnya tadi sebelum berangkat, Suster Eva menitipkan gadis itu padanya. Jadi, otomatis saat ini Lisa adalah tanggung jawabnya. Kalau sampai dia kabur atau terjadi sesuatu yang buruk, dia pasti menjadi salah satu pihak yang paling disalahkan.


"Kak Dewa!"


Andreas menjengit saat tiba-tiba saja Lisa berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya yang diangkat cukup tinggi. Di depan sana, seorang pemuda berpakaian denim berdiri di bawah pohon, tadinya asyik memainkan ponsel, langsung mendongak begitu mendengar suara Lisa lalu balas melambai.


"Yuk, An!" Lisa begitu antusias. Dia menarik tangan Andreas dan mengajaknya berlari-lari.


"Lis, pelan-pelan!" Andreas mau tidak mau harus memegang tangan Lisa erat-erat. Jalanan di situ menurun, kalau tidak hati-hati bisa kebablasan atau malah tersungkur.


"Yei, akhirnya bisa ketemu Kak Dewa lagi." Lisa langsung menubruk pemuda itu dan mendekapnya erat-erat.


Andreas lega bukan kepalang saat Lisa melepaskan tangannya. Dahi pemuda itu turut mengernyit saat melihat wajah Dewangga mengkerut karena Lisa memeluknya terlalu erat.


"Lepas, Sa, lepas. Aku nggak bisa napas." Dewangga menepuk-nepuk punggung Lisa lalu mencengkeram kedua lengannya, kemudian mendorong adik sepupunya itu menjauh. "Sialan, barbar amat jadi cewek." Dia menggerutu sambil menepuk dada.


"Lisa kan kangen, Kak." Sambil menggelayut di lengan Dewangga, Lisa merengek seperti anak kecil.


Andreas cukup terkejut dengan perubahan gadis itu. Dia terpaku menatap sosok yang biasanya tampak arogan itu kini terlihat manja, kekanakan, polos, ceria dan menyenangkan.


"Dia orang spesial itu?" Suaranya cukup lirih, hanya Lisa yang bisa mendengar dengan jelas.


Gadis itu buru-buru mendekatkan mulutnya ke telinga sang kakak. "Gimana? Keren, kan?"


Dewangga mengangguk-angguk. "Lumayan. Kirain nggak ada yang bagus di asrama."


"Sembarangan!" Lisa memukul bahu Dewangga lalu bicara pada Andreas, "An, kenalkan. Ini kakak sepupuku, Dewangga."


"Hai. Aku Dewangga, kakak sepupu Lisa." Dewangga mengulurkan tangan. Gayanya santai, kesan pertama begitu melihatnya adalah menyenangkan.


"Aku Andreas, teman kuliah Lisa." Andreas menyambut uluran tangan Dewangga lalu keduanya berjabat erat untuk sejenak.


"Titip anak bandel ini, ya. Kalau macam-macam laporin saja ke suster kepala." Dari cara bicaranya bisa dirasakan kalau Dewangga ini orangnya supel.


Seperti belalang, dari Dewangga, Lisa melompat ke Andreas lalu bergelayut di lengannya. Hampir saja pemuda itu menghempaskan Lisa, untung segera sadar kalau Dewangga sedang memperhatikan. Akhirnya Andreas hanya bisa pasrah walau dalam hati geregetan.


"Jangan khawatir. Andreas ini---"


"Bukannya tadi kamu bilang mau ke toilet?" Andreas menyela sambil perlahan melepaskan diri dari lilitan Lisa.


"Oh iya." Gadis itu cengengesan sambil mengelus tengkuk. "Kalau gitu, aku ke toilet dulu. Kalian ngobrol-ngobrol aja." Meski sebenarnya tidak ingin, mau tidak mau Lisa harus pergi ke toilet, atau entah ke mana yang penting menyingkir untuk sementara supaya tidak ketahuan bohongnya.


Melihat gelagat Lisa, Andreas yakin pertemuan dengan Dewangga bukan kebetulan. Sepeninggal gadis itu, Andreas pun bertanya, "Kalian janjian ketemu di sini?"


"Begitulah. Anak manja itu bilang ingin mengenalkanku pada seseorang yang istimewa." Setelahnya Dewangga terkekeh renyah sambil menyugar rambutnya ke belakang.


"Oo, begitu ...."

__ADS_1


Mendadak Andreas merasa sedikit canggung karena dia yakin yang dimaksud orang istimewa itu pasti dirinya.


"Andreas!"


Mendengar suara Ririsma, Andreas pun menoleh. Melihat Yudith, wajahnya langsung berbinar. Buru-buru dia menyongsong, meraih tangan Yudith lalu menggandengnya.


"Kok, ke sini. Nggak jadi ke atas?"


Yudith menggeleng. "Riris maksa ngajak ke sini."


"Gue nggak percaya sama rubah itu." Lagi-lagi Ririsma bersungut-sungut.


Melihat keintiman Andreas dan Yudith, wajah Dewangga langsung mengeras. Kurang ajar sekali si Andreas. Berani-beraninya mesra dengan cewek lain sementara Lisa sedang di toilet, begitulah pikirnya.


Pemuda itu perlahan menghampiri Andreas yang sekarang berdiri berhadapan dengan Yudith sambil bergandengan tangan. Sementara itu, Ririsma memperhatikan Dewangga. Dia tidak mengenal pemuda itu, tetapi sepertinya pemuda itu mengenal Andreas karena tadi terlihat sedang mengobrol. Mata Ririsma melebar saat Dewangga menyentak kasar bahu Andreas.


"Apa maksudnya ini, huh?!" Dewangga menunjuk Yudith dan menatap Andreas tajam.


"Memangnya kenapa?" Andreas terbengong. Tidak mengerti kenapa tiba-tiba Dewangga marah. "Dia Yudith pacarku."


"Pacar? Terus Lisa apa? Kamu hanya mempermainkannya?!"


Ah! Andreas langsung paham. Pasti Lisa sudah ngomong yang tidak-tidak pada Dewangga. "Aku---"


"Minggir!" Tiba-tiba Ririsma sudah berdiri di antara mereka, dan mendorong Dewangga cukup kasar sampai pemuda itu terhuyung mundur.


Nama Lisa disebut, antena kebencian Ririsma terhadap gadis itu langsung menegang. Tidak peduli siapa pemuda yang ada di hadapannya, kalau dia ada di pihak Lisa pasti akan dilawannya.


"Siapanya Lisa lo? Apa yang lo tau tentang gadis rubah menyebalkan itu, huh?" Ririsma berkacak pinggang. Kepala terpaksa mendongak karena Dewangga jauh lebih tinggi, tetapi hal itu justru membuatnya terlihat sangat angkuh dan berani. Alih-alih menjawab, Dewangga malah terpaku menatap Ririsma. Tidak merespons bahkan juga tidak berkedip.


"Ris, jangan salah paham dulu." Andreas menepuk bahu Ririsma untuk menenangkannya. "Kita ngomong baik-baik aja, jangan kayak gitu."


"Ah! Nggak bisa! Tu rubah kalau dibiarkan lama-lama ngelunjak." Menepis tangan Andreas dari bahunya, Ririsma lantas maju lebih mendekat ke Dewangga dan pemuda itu refleks mundur.


"Lo siapanya Lisa?" Cara Ririsma bertanya seperti anjing menyalak, membuat Dewangga yang sedang terbengong menjengit.


"Kakak sepupunya? Memang kenapa?" Dewangga yang terkejut sekaligus terpesona oleh gaya Ririsma yang seperti pahlawan tanpa rasa takut, berdeham beberapa kali sebagai transisi untuk mengembalikan wibawanya yang sempat ambyar.


"Cih! Sudah bisa kuduga kalau begitu. Dia pasti ngaku-ngaku kalau Andreas itu pacarnya, kan? Dasar resek nggak tau malu."


"Hei, hati-hati kalau ngomong."


Dewangga menunjuk muka Ririsma, tetapi gadis itu langsung menepisnya kasar sampai terdengar suara plak.


"Trus, mau apa lo? Yang sembarangan ngomong itu ya adik sepupu lo, bukan gue!"


"Riiis .... Sudah cukup."


Andreas berdiri di antara mereka lalu mendorong Ririsma ke arah Yudith dan Yudith langsung memegang tangannya. Kamudian, Andreas berdiri menghadap Dewangga.


"Mas Dewa, aku nggak tau Lisa sudah ngomong apa sama Mas. Tapi bener lho, aku sama Lisa gak ada hubungan apa-apa. Kami bahkan nggak dekat."


"Kalau nggak deket kenapa jalan bareng?!"


"Itu karena suster kepala asrama menyuruh kami mengawasi Lisa!" Ririsma yang geram setengah mati, berteriak gusar.


Saat itu juga Dewangga membuang napas kasar sambil menepuk dahi. Dia pun akhirnya paham situasinya. "Astaga anak itu," gumamnya lelah lalu menatap Andreas. "Oke, kalau begitu aku minta maaf dan---" Dia melihat Lisa keluar dari kamar mandi. "Sa! Sini!"


Melihat kehadiran Yudith dan Ririsma, wajah Lisa langsung pucat. "Oo, kacau ini. Rencanaku sudah berantakan sebelum berjalan."

__ADS_1


__ADS_2