
Hari Minggu. Keluarga Irene datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Sebenarnya yang menjadi masalah bukan itu. Hari bebas kunjungan, kedatangan para keluarga pun sudah pasti diterima. Paling-paling hanya perlu laporan pada petugas piket pintu dan para pegawai yang bertugas.
Namun, Irene adalah kasus khusus karena dia tidak pernah ingin bertemu keluarganya. Jadi, konfirmasi terlebih dahulu itu sangat-sangatlah penting supaya pihak asrama bisa mempersiapkan hati Irene. Karena kalau tidak akibatnya bisa fatal.
Kisaran pukul sepuluh, Bu Magda dan Bu Duwina diantar oleh seorang petugas piket pintu memasuki area dalam kompleks yayasan. Tidak semua pengunjung mendapat hak istimewa diperolehkan masuk ke dalam kompleks seperti mereka. Sekali lagi ditekankan, Irene adalah kasus khusus.
Ketika sedang melintas di jalan dekat pelataran sekolahan TK, mereka melihat Irene sedang bermain ayunan dengan Eva dan yang lainnya.
"Itu Irene, Bu," ujar si pegawai yang mengantar mereka.
Sebelum Bu Duwina dan Bu Magda sempat memanggil Irene, Eva sudah melihat mereka kemudian memberi tau Irene, "Irene, ibu sama kakakmu datang."
Seketika itu juga Irene berdiri. Bu Duwina yang mengira Irene antusias hendak menyambut mereka, melambai dan memanggil, "Sini, Sayang."
Wajah Irene pucat pasi, alih-alih mendekat, gadis itu malah lari tunggang langgang menjauh.
"Irene, mau ke mana?!" Eva berteriak dan segera menyusul Irene yang alih-alih berlari pulang, tetapi justru menuju ke pintu gerbang.
Bu Duwina dan Bu Magda ditemani petugas piket pintu pun bergegas mengejar. Mereka berteriak-teriak meminta siapa pun untuk mengadang Irene, tetapi di hiruk pikuk suasana kunjungan, yang mana banyak orang dan kendaraan keluar masuk, tubuh mungil gadis itu seperti selemabar kertas diterbangakan angin, menyelip di antara barisan buku yang berderet di atas rak.
Sangat lincah dan gesit sehingga ketika orang-orang yang ada di area depan kompleks itu mendengar suara teriakan untuk mengadang, Irene sudah berhasil menerobos pintu gerbang. Petugas piket pintu yang paling cepat pun hanya berhasil mengamankan Eva.
"Pulang, laporan sama ibu asrama dan perawatnya," suruh petugas itu pada Eva.
Tidak buang-buang waktu, Eva pun langsung berlari kembali ke dalam kompleks. Sementara itu, Bu Duwina dan Bu Magda sudah mengendarai mobil keluar dari pintu gerbang.
"Bu Yuli! Bu Yudith!" Masih jauh dari asrama Eva sudah berteriak-teriak.
Bu Yuliana dan Yudith yang tengah kerja bakti mencuci dan menjemur sprai di belakang asrama pun bergegas berlari ke depan.
"Ada apa, Va?" tanya Bu Yuliana sambil mengusap tangan bawahnya ke celemek.
Yudith langsung sadar bahwa Irene tidak bersama Eva dan merasa pasti ada yang tidak beres. "Irene mana, Va?"
"Lari ...." Napasnya ngos-ngosan, Eva pun kesulitan bicara. "Kabur ... keluar pintu gerbang ...."
"Hah?! Kok, bisa!" Bu Yuliana berseru syok.
__ADS_1
"Ibu sama kakaknya datang, Irene ketakutan dan langsung lari."
Ya Tuhan. Lutut Yudith rasanya langsung lemas. "Bu Yuli, aku mau cari Irene."
"Tunggu aku." Bu Yuliana bergegas masuk dan tidak lama kemudian sudah kembali. "Eva, jangan ke mana-mana, ya. Ayo, Dith."
Mereka pergi dengan terburu-buru sampai tidak terpikirkan untuk berganti pakaian kerja dengan yang lebih layak dipakai untuk keluar.
"Tidak lapor Suster Davince dulu, Bu---"
Yudith tidak melanjutkan pertanyaannya karena saat menoleh, ternyata Bu Yuliana sedang melakukan panggilan telepon.
"Iya, Suster. Aku tau." Hanya itu lalu sambungan pun diputus. "Kita harus cepat menemukan Irena, jangan sampai mereka menemukannya duluan. Suster Davince nyamuk, Dith."
Sambil berjalan, Bu Yuliana terus bicara menjelaskan, membuat napasnya semakin ngos-ngosan. Yudith tidak menanggapi karena rasanya tidak perlu juga. Toh, perintah sudah jelas.
Sesampai di pintu gerbang, tidak ada petugas yang menghentikan mereka. Keduanya pun sempat mendengar seseorang berkata, "Kasihan, sampek enggak sempat ganti baju."
Bu Yuliana dan Yudith seperti sedang lomba jalan cepat di trotoar. Menjadi perhatian para pengguna jalan sudah tidak mereka pedulikan. Namun, sebelum mereka melangkah terlalu jauh, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari mendekat. Begitu mereka berbalik, Irene langsung menubruk Yudith dan menangis sejadi-jadinya.
"Ya, Tuhan, Irene ...." Bu Yuliana terjebak di antara rasa lega dan rasa tidak percaya Irene bisa ditemukan begitu cepat.
Bu Yuliana menyadari bahwa mereka menjadi tontonan orang lewat, segera berkata, "Ayo, pulang dulu. Nanti bicara lagi di rumah."
Tanpa bicara, Yudith menggandeng Irene yang terus menunduk, dan mengajaknya berjalan. Memasuki pintu gerbang, mereka kembali menjadi perhatian dan semakin banyak yang berkasak-kusuk.
"Yuliana!"
Mereka berhenti dan menoleh ke pintu kantor yayasan. Suster kepala sekolah berdiri di sana dan melambai. Ketiganya pun membelokan langkah ke sana.
Suster kepala sekolah membiarkan mereka masuk, setelah sama-sama duduk baru berbicara, "Ada apa? Kenapa enggak mau bertemu ibu dan kakakmu? Kamu tau kan kalau di luar itu berbahaya? Kalau kamu diculik bagaimana? Mau cari di mana?"
Cara suster kepala sekolah berbicara sebenarnya biasa saja, tetapi suaranya besar dan cenderung bervolume tinggi. Tentu saja membuat Irene ketakutan. Gadis itu langsung memeluk Yudith dan menyembunyikan wajah di dadanya.
Yudith tidak ingin Irene merasa tidak nyaman dan berdampak lebih buruk pada kondisi kejiwaannya. Jadi dia memberanikan diri berkata, "Maaf, Suster. Dia masih belum mau bicara. Kalau Suster tidak keberatan, biar saya saja yang membujuknya di asrama."
"Ya sudah bawa pulang sana," ujar suster kepala sekolah. "Kamu tetap di sini, Yul. Kita harus bicara sama ibunya Irene."
__ADS_1
Mereka pun setuju tanpa kata. Yudith bergegas keluar dari kantor bersama Irene lewat pintu bagian dalam, dan Bu Yuliana tetap duduk, sedangkan suster kepala sekolah menelepon.
Obrolan via telepone hanya berlangsung beberapa detik saja. Setelah itu, suster kepala sekolah pun duduk di samping Bu Yuliana.
"Sebenarnya aku sudah menyuruh Pak Heru untuk mendatangi keluarga Irene di alamat yang mereka kasih," ujar suster kepala sekolah dengan suara bergetar. Dari raut wajahnya, Bu Yuliana bisa menebak bahwa suster kepala sekolah sedang berusaha menahan amarah.
"Lalu, orang tua Irene bilang apa, Sus?"
Tiba-tiba saja suster kepala sekolah memukul lengan sofa. "Kurang ajar! Ternyata itu bukan alamat mereka!"
"Hah?! Kok, bisa?! Lalu alamat siapa, Sus." Bu Yuliana sampai melongo saking syoknya.
"Rumah kosong. Tetangganya bilang sudah hampir dua tahun kosong."
"Ya, Tuhan."
"Itu mereka datang."
Bu Yuliana menoleh ke arah dinding kaca gelap, dan benar saja mobil mereka sedang memasuki pintu gerbang. Tidak sampai lima tujuh menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di sofa kantor.
"Irene enggak papa kan, Sus?" Wajah Bu Duwina tampak sangat risau.
"Dia baik-baik saja, Bu." Bu Yuliana yang menjawab.
"Begini, Bu Duwina dan Bu Magda. Saya kan sudah pernah sampaikan," suster kepala sekolah menatap tajam "kalau mau berkunjung tolong informasikan dulu. Jangan tiba-tiba datang seperti ini. Ibu-ibu tau kan bagaimana kondisi Irene?"
"Iya, Suster. Kami sungguh minta maaf."
Tiba-tiba Bu Magda menimpli sangat ketus, "Sudah bayar mahal, mau ketemu pun tidak leluasa. Mesti pake konfirmasi segala."
Suster kepala sekolah sudah membuka mulut hendak bicara, tetapi Bu Yuliana mendahui. "Tidak mengurangi rasa hormat terhadap keluarga pasien, aku tanya balik pada Bu Magda. Kenapa aturan konfirmasi terlebih dahulu berlaku pada Irene? Dan perlu Ibu tau, untuk saat ini hanya Irene yang mendapat hak istimewa itu. Kenapa?"
Bu Magda hendak menjawab, tetapi Bu Duwina mencegah dengan cara meremas tangannya. Setelah itu, Bu Duwina pun berkata, "Saya minta maaf---"
Tiba-tiba amarah Bu Yuliana meledak. "Maaf terus, ya, Bu! Buat kalian setelah mengucapkan maaf semua selesai. Tapi bagaikan dengan kami? Yudith totalitas mengasuh Irena dan berhasil mengubahnya menjadi anak yang lebih ceria walaupun masih belum mau bicara. Tapi dengan kejadian hari ini Irene kembali ketakutan. Kami butuh kerja sama kalian, bukan malah menganggap kami ikut campur dan mengancam akan memindahkan Irene ke yayasan lain. Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa seorang anak tidak mau bertemu keluarganya? Malah ketakutan dan lari!"
"Yuliana, sudah. Sudah sudah." Suster kepala sekolah segera menepuk-nepuk bahu Bu Yuliana untuk memenangkannya, karena semakin banyak bicara nada suaranya semakin tinggi dan ngelantur.
__ADS_1
Bu Duwina dan Bu Magda yang sepertinya tidak menyangka bakal dicecar, hanya terdiam dan sesekali saling melirik.