
Sudah seminggu berlalu, tetapi Dewangga belum memberi kabar apa pun. Dihubungi juga tidak pernah bisa, sepertinya pemuda itu sengaja menghindari Lisa. Duduk di kursi barisan tepi dekat jendela kaca nako, tatapan Lisa menerawang ke luar, ke arah dedaunan yang bergoyang lembut diterpa angin sepoi-sepoi.
Semakin dipikirkan, semakin dia merasa kalau Dewangga tidak bisa diharapkan. Mungkin kali ini kakak sepupunya itu benar-benar tidak mau membantunya. Dia sadar, di dunia ini tidak ada yang kekal. Semua pasti berubah seiring berjalannya waktu, tidak terkecuali dirinya sendiri.
Bukankah dia berada di Yayasan Harapan Mulia ini juga karena sebuah perubahan. Perubahan sikap sang ibu yang tidak lagi mau menuruti kemauannya, padahal dia sudah memohon dan berjanji tidak akan lagi bergaul dengan mereka-mereka yang telah membuatnya terjerumus.
Namun, tetap saja dia dimasukkan ke sini dengan alasan supaya bisa belajar hidup mandiri dan menjadi lebih baik, karena dibimbing langsung oleh para biarawati. Seharusnya dia tidak boleh terlalu naif dan berpikir kalau Dewangga yang sekarang masihlah Dewangga yang dulu. Pemuda itu tiga tahun lebih tua, cara berpikirnya pun pasti sudah jauh lebih dewasa. Sudah bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Beda dengan waktu masih SMA dulu.
Bodoh sekali.
Lisa menghela napas panjang nan berat. Dia benar-benar merasa sangat bodoh karena sudah berpikir kalau Dewangga pasti membantunya.
Baik. Lihat saja nanti. Jangan pikir aku hanya main-main saat bilang mau buat onar.
Lisa menyipitkan mata. Dalam benaknya kini penuh rencana busuk---rencana untuk membuktikan bahwa ancamannya tidak main-main---rencana untuk menunjukkan pada dunia kalau dia benar-benar menginginkan Andreas. Tidak peduli dengan cara apa pun dia harus bisa mendapatkan Andreas dan membalaskan sakit hati pada Yudith.
Selama ini dia tidak pernah kalah, sekarang pun tidak boleh kalah, begitu pun di masa depan. Pokoknya Lisa Wijayanto tidak boleh kalah dari siapa pun apalagi dari gadis biasa saja macam Yudith. Tidak akan ada yang bisa menyalahkannya karena semua adil dalam cinta. Semua berhak mendapatkan kesempatan yang sama.
Treeet treeeet
Suara bel tanda istirahat berbunyi, menarik paksa Lisa kembali dari alam lamunannya.
"Dith, ke kantin, yuk."
Suara Andreas begitu jernih menyapa pendengaran Lisa. Suasana sangat riuh, kenapa juga suara itu masih saja menjadi prioritas, padahal sang pemilik suara tidak pernah menganggapnya sama sekali.
Cih. Menyebalkan! Yudith, Yudith, Yudith terus! Lisa menggerutu dalam hati. Dia benar-benar muak pada sikap Andreas yang terlalu perhatian, bahkan terkesan memanjakan Yudith.
Lisa yang selalu menganggap kasta Yudith jauh di bawahnya, merasa tidak terima karena gadis kampung itu telah mendapatkan sesuatu yang saat ini sedang dia kejar. Tidak pantas, tidak level dan sangat tidak adil.
"Duluan saja, aku mau ke toilet bentar."
"Ya udah, aku tunggu di lantai satu sama Ririsma."
Mendengar itu, mata Lisa langsung berkilat. Dia tetap duduk di kursinya sampai semua penghuni kelas keluar. Dan tetap bertahan di situ sampai Yudith kembali dan melintas di koridor. Buru-buru Lisa mengejarnya
Yudith yang tidak menyadari kalau Lisa sedang mengejarnya, meski mendengar suara hentak kaki dari arah belakang tetap saja cuek dan terus melangkah. Tidak punya firasat buruk sama sekali. Sesampai di tikungan, yang mana setelah itu, jalan yang harus dilalui adalah anak tangga, Lisa berlari lebih cepat, kemudian tanpa ragu mendorong bahu Yudith hingga gadis itu oleng. Sebelum tubuhnya tersungkur dan terguling ke bawah, Yudith sempat berpegangan pada susuran tangga dan melihat Lisa menatap dengan sorot mata bengis.
__ADS_1
"Rasakan!" Lisa berseru puas. Puas yang benar-benar puas, tidak peduli kalau gara-gara kejadian ini dia akan mendapat kesulitan atau yang lebih parah, dikeluarkan.
"Ish." Yudith mendarat dalam posisi tengkurap. Dia mendesis kesakitan saat menggerakkan tangan.
Sepuluh anak tangga memang tidak bisa dibilang sangat tinggi, tetapi dianggap pendek juga terlalu mengentengkan. Tubuh Yudith rasanya seperti remuk, dada sesak sempat kesulitan bernapas, kepala pun pening berdenyut-denyut dan mata berkunang-kunang, membuatnya tidak berani bergerak.
Situasi ini mengingatkan Yudith pada masa lalu, masa di mana kepalanya dibenturkan ke dinding kamar mandi oleh Bu Cici, mantan ibu asramanya dulu. Jantung Yudith berdegup kencang. Perasaan takut perlahan menggerayangi jiwanya. Dia takut bergerak karena bagian dada dan rusuknya sangat sakit.
Lisa menuruni anak tangga dengan cepat, sesampai di tempat Yudith dia menoleh ke koridor lantai dua yang sangat sepi. Di jam istirahat, bangunan tiga lantai ini memang selalu sepi, karena para penghuninya pasti ke luar untuk mencari udara yang lebih segar.
"Hei!" Gadis itu menyentuh bagian pinggang Yudith menggunakan ujung kaki. "Pingsan apa mampus?"
Yudith diam bergeming. Kepalanya masih terus berdenyut sampai-sampai telinga rasanya ikut berdenging. Membuka mata saja dia tidak berani. Wajah Lisa yang tadinya semringah puas, perlahan mengendur dan berubah tegang. Waduh .... Kalau dia mati beneran gimana, dong?
Sekali lagi dia menoleh ke sana-kemari. Setelah yakin tidak ada orang, bergegas meninggalkan tempat itu. Dia memang ingin memberi pelajaran pada Yudith. Ingin membuat gadis yang dianggapnya rival itu menderita dan hancur, tetapi sama sekali tidak pernah terpikir untuk membunuhnya.
Sambil melangkah lebar-lebar, dia sibuk menerka-nerka apakah tadi Yudith sempat melihatnya? Demi apa pun dia berharap Yudith tidak melihatnya, tetapi di saat yang sama, dia merasa yakin kalau tadi jelas-jelas sempat beradu pandang dengan Yudith sebelum gadis itu jatuh terguling.
"Yudith lama banget, sih," ujar Ririsma sambil melihat jam tangannya.
Tepat pada saat itulah Lisa melintas. Gadis itu terus melangkah, berpura-pura tidak melihat Andreas dan Ririsma yang berdiri di bawah pohon. Ririsma dan Andreas pun tidak melihatnya karena sedang bercengkerama.
"Woe, Andreas, Ririsma! Yudith jatuh!" Ratna yang ada di koridor lantai dua melongok ke bawah dan berteriak-teriak.
Andreas langsung berlari seperti kesetanan dan Ririsma yang menyusul pun sama. Keduanya menaiki anak tangga dua-dua sekaligus. Tidak peduli pada napas yang rasanya hanya tinggal satu-satu, begitu melihat tubuh Yudith yang terbaring tengkurap, keduanya semakin mempercepat langkah, bahkan di tiga anak tangga paling atas Andreas melompatinya sekaligus.
"Dith!"
Andreas sampai duluan dan langsung bersimpuh di samping Yudith, tidak sampai lima detik kemudian Ririsma menyusul.
"Dith!"
"Jangan dulu, Ris. Biar aku aja." Andreas mencegah saat Ririsma hendak membalikkan tubuh Yudith. Gadis itu langsung mundur, wajahnya pucat, tatapannya nanar.
Ratna yang masih di situ, berdiri merapat pada dinding. Dia ingin menjelaskan kalau dirinya tidak tahu menahu bagaimana Yudith bisa jatuh, tetapi masih belum berani bicara.
"Dith, kamu sadar, kan?" Perlahan, Andreas menyentuh lengan Yudith.
__ADS_1
Dalam keadaan kepala masih terasa berdenyut-denyut, Yudith berusaha mengangguk dan hasilnya hanyalah anggukan sangat tipis.
"Aku bantu bangun. Kalau sakit bilang ya."
Setelah Yudith mengangguk lagi, Andreas memegang lengan dan bagian tengkuk Yudith lalu dengan perlahan memiringkannya. Sebelum tubuh Yudith telentang, Andreas mengambil posisi duduk nyaman supaya bisa memangku kepala gadis itu. Tidak tampak ada luka atau memar parah di bagian luar tubuh, tetapi mata Yudith yang terus terpejam, membuat Andreas dan Ririsma sangat khawatir.
"Dith, lo nggak pa-pa, kan? Gimana bisa jatuh, sih?" Suara Ririsma serak. Saking khawatirnya, tenggorokan gadis itu terasa kering kerontang.
"Tanyanya nanti aja. Kita bawa ke rumah sakit dulu, Ris."
Sekali lagi Ririsma mundur supaya Andreas lebih leluasa mengangkat Yudith. "Kamu duluan, aku lapor dosen dan Suster Davince du---"
"Biar aku aja. Kamu ikut Andreas ke rumah sakit." Ratna menyela Ririsma, dan saat itulah Andreas dan Ririsma baru sadar kalau Ratna masih ada di situ.
Ririsma menatap tajam, dan Ratna buru-buru menjelaskan, "Sungguh aku nggak tau apa-apa. Aku tadi mau turun terus lihat Yudith sudah kayak gitu."
Wajah Ratna terlihat memelas. Andreas jadi kasihan lalu berkata, "Makasih, Rat. Ayo, Ris."
Sambil membopong Yudith, Andreas menuruni anak tangga dengan sangat berhati-hati. Melangkah di jalanan kompleks yayasan yang sekarang sedang banyak orang berlalu lalang, kehadiran Ririsma sungguh sangat berguna. Gadis itu berjalan duluan untuk membuka jalan.
Menjadi pusat perhatian, banyak kasak-kusuk tidak jelas, dan beberapa ada yang bertanya, tetapi mereka tidak ambil peduli. Lisa yang berdiri di pelataran sekolah TK, bisa melihat mereka dengan jelas. Wajah gadis itu tampak pucat, hatinya risau luar biasa. Bagaimana kalau Yudith mati?
Lokasi rumah sakit tidak jauh, tidak sampai sepuluh menit kemudian Yudith sudah dibaringkan di brankar rumah sakit kompleks yayasan dan menjalani pemeriksaan. Andreas dan Ririsma menunggu di luar dalam diam, berjalan mondar-mandir seperti orang kehilangan arah.
Mereka seperti merasakan dejavu. Situasi seperti ini pernah terjadi, dulu saat mereka masih di kelas satu SMA. Yudith ditemukan pingsan di toilet dengan dahi benjol dan hidung mimisan. Saat itu salah satu orang yang menemukannya adalah Ratna.
"Permisi, Dek." Suster Angelin, suster biarawati yang mengepalai rumah sakit yayasan muncul di pintu, Andreas dan Ririsma buru-buru menghampiri.
"Bagaimana keadaannya, Sus?!" Saking tegangnya Andreas tanpa sadar meninggikan suaranya.
"Masih dalam pemeriksaan. Oh iya, Suster Davince sudah diberi tahu apa belum?"
"Tadi Ratna bilang dia yang akan memberi tahu," jawab Ririsma dengan wajah tidak kalah tegang dari Andreas.
"Bagaimana itu anak, hah?"
Suara menggelegar dengan aksen timur itu mengalihkan perhatian mereka. Seorang biarawati bertubuh tinggi gempal datang bersama Ratna. Dialah Suster Davince, suster kepala yayasan.
__ADS_1
"Suster, kita harus membawanya ke rumah sakit yang peralatannya lebih canggih. Dia harus di CT scane," ujar Suster Angelin begitu sudah berhadapan dengan Suster Davince.
Mendengar itu, Andreas dan Ririsma saling tatap dengan mata melebar. Mereka jadi berprasangka buruk. Takut kalau-kalau kepala Yudith bermasalah.