YUDITH

YUDITH
AKU TAHU YANG SUDAH KAMU LAKUKAN


__ADS_3

Pukul empat pagi lonceng bangun tidur dibunyikan. Biasanya itu adalah tugas Yudith, tetapi karena Yudith masih sakit jadinya Ririsma yang menggantikan--sebelum dia sendiri turun ke dapur untuk piket masak.


Memaksa kelopak mata yang terasa masih ingin merem untuk terbuka, para penghuni asrama itu mulai bergerak dari balik selimut. Melawan rasa dingin yang serasa menggigit kulit, mereka satu per satu meninggalkan pembaringan yang hangat untuk menjalankan piket.


Tidak terkecuali Yudith. Namun, karena kondisinya yang belum sehat betul, teman satu kelompoknya melarang dia bekerja. Akhirnya gadis yang tidak bisa hanya berdiam diri ketika orang lain bekerja itu pun menyibukkan diri merapikan kamarnya.


Sementara itu di kamar Lisa, dia menjadi yang terakhir bangun. Gadis itu sempat melihat ketiga temannya saling berbisik di depan pintu sambil sesekali menoleh padanya. Dia juga sempat melihat salah satu dari mereka membungkuk, seperti sedang memungut sesuatu lalu segera mengembalikan, kemudian ketiganya bergegas pergi.


"Apaan sih? Nggak jelas. Dasar orang-orang udik." Itulah Lisa. Kerap bersungut-sungut, bahkan saat baru bangun dari tidur pun.


Tidak seperti teman-temannya yang meski sebenarnya juga enggan, tetapi tetap bergerak cekatan, Lisa merapikan tempat tidurnya dengan lambat seperti sengaja berlama-lama. Begitu selesai, dengan enggan dia melangkah ke luar kamar. Selembar kertas yang tergeletak di atas keset depan pintu menarik perhatiannya. Sepertinya itu kertas yang tadi dilihat teman-temannya. Dia pun memungut dan membaca tulisan yang ada di situ.


Dear Lisa ....


Aku tahu apa yang sudah kamu lakukan ;)


Berhati-hatilah.


Wajah gadis itu seketika menegang. Sambil meremas kertas rahangnya mengetat.


Yudith.


Satu nama itu langsung terlintas di benaknya. Ya, Yudith. Hanya dia satu-satunya orang yang mungkin melakukan ini karena hanya dia yang mengetahui perbuatannya dan dia juga adalah korbannya. Lagi pula, semalam Yudith sendiri sudah secara terang-terangan menyatakan perang terbuka.


Lisa tersenyum miring sambil mendengkus sarkas dan dalam hati berkata, benar-benar ingin menantangku rupanya. Setelah itu, dia melangkah bergegas, melewati ruang makan yang memisahkan kamar blok A dan blok B, menuju kamar Yudith.


Sesampai di koridor depan kamar Yudith dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Di ujung blok B adalah kapel, ada beberapa orang sedang menyapu, mengepel dan lap kaca, begitu pun di ujung lorong blok A yang merupakan kamar mandi, ada beberapa orang sedang bersih-bersih. Setelah yakin mereka semua sibuk dan tidak ada yang memperhatikannya, Lisa menerobos masuk ke kamar Yudith.


"Heh!"


Yudith yang sedang mengelap permukaan almari dibuat menjengit oleh kedatangan Lisa yang tiba-tiba. Gadis itu menoleh dan menatap datar hanya sekilas lantas melanjutkan aktivitas, seolah tidak ada siapa-siapa di dekatnya.


"Jangan sok sibuk dech." Tangan Lisa sudah terulur hendak menarik bahu Yudith, tetapi mendadak urung karena teringat kondisi Yudith yang masih belum sembuh benar.


"Mau apa? Mau mengaku ya ngomong aja," ujar Yudith yang kini beralih menata barang-barang di atas meja, nada suaranya datar, juga tanpa menoleh.


"Dalam mimpimu aja ya ...." Lisa melemparkan kertas yang sudah berupa gumpalan ke atas meja. "Jangan pikir aku akan kalah dengan trik murahan begitu." Setelahnya, dia pergi dengan dagu terangkat.


Menatap gumpalan kertas itu dahi Yudith pun mengernyit. Dia tidak mengerti apa maksud Lisa barusan. Perlahan diambilnya kertas tersebut lalu diurai. Begitu melihat tulisan yang ada di situ tatapannya langsung terpaku.


Ini?


Kepalanya mendadak berdenyut-denyut, gadis itu perlahan melangkah ke tempat tidur dan duduk, kemudian menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Sesaat diam termenung dan pada akhirnya harus menyerah pada rasa pusing yang disertai mual. Perlahan dia berbaring dan menutup mata untuk menenangkan sarafnya.


Salah seorang suster pendamping yang sedang berkeliling untuk mengontrol pekerjaan para penghuni asrama melintas. Melihat Yudith berbaring dia pun menghampiri, tetapi tidak berkata apa-apa, lantas keluar begitu saja.


Dari kejauhan Lisa melihat suster itu. Perasaannya langsung saja tidak enak. Dia sudah hendak melangkah untuk mendatangi Yudith, tetapi seseorang mencegahnya.


"Kamu mau ke mana? Piket belum kelar."


Lisa menoleh dan mendapati Ratna sedang menatapnya dengan raut wajah sebal. "Dih, sok ngatur-ngatur." Meski bersungut-sungut, Lisa tidak bisa mengabaikan teguran Ratna. Kalau sampai gadis itu melapor bahwa dirinya tidak disiplin, bisa-bisa hari Minggu nanti dia tidak dapat izin untuk hari bebas.


Lisa boleh saja bersikap sok tenang dan tidak peduli pada ancaman Yudith, tetapi barusan saat melihat salah satu suster keluar dari kamar Yudith, hatinya seketika cemas. Takut kalau-kalau si irit kata itu sudah mengadu.

__ADS_1


Dua jam kemudian, semua penghuni asrama berkumpul di kapel untuk mengikuti ibadat pagi---kecuali yang piket masak karena harus menata makanan di ruang makan.Yudith yang setelah beristirahat dan mandi merasa jauh lebih baik, pergi ke ruang makan untuk membantu menata peralatan makan seusai berbalas pesan dengan Andreas.


Ririsma masuk membawa nampan, ada mangkuk dan piring berisi makanan di atasnya. "Istirahat aja, Dith. Jangan cepek-capek lo."


"Aku kuliah hari ini."


"Hah, yakin lo? Kalau masih belum sehat betul nggak usah dipaksain dech." Sambil bicara Ririsma meletakkan bawaannya satu per satu di atas meja.


"Nggak pa-pa."


"Ya sudah. Yang penting hati-hati ajalah."


Kalau Yudith sudah memutuskan sesuatu, lebih baik tidak usah didebat karena tidak guna. Kemarin-kemarin dia masih menurut waktu dipaksa tidak boleh kuliah, tetapi setelah tiga hari dan itu bagi dia sudah cukup, jangan harap dia akan menurut lagi.


Lima belas menit kemudian, koridor yang tadinya lengang langsung berubah ramai oleh hiruk-pikuk para penghuninya yang keluar dari Kapel, dan langsung masuk ke ruang makan. Begitu melihat Lisa sudah duduk bersama kelompoknya, Yudith perlahan mendekati Suster Eva.


"Suster, hari ini saya mau kuliah." Sambil bicara matanya tertuju pada Lisa, hal itu membuat Suster Eva secara alami melakukan hal yang sama.


Dengan mata yang masih tertuju pada Lisa, suster kepala asrama itu berkata, "Kamu yakin? Kalau belum baik betul jangan dipaksakan, Dith."


"Nggak pa-pa, Sus. Saya akan lebih hati-hati."


Untuk beberapa saat keduanya terus berbicara sambil sesekali mengarahkan pandangan pada Lisa. Terlihat seolah-olah sedang membicarakannya. Hal itu membuat hati Lisa semakin gelisah. Gelisah bercampur marah, tetapi berpura-pura tidak peduli. Terlihat lahap menikmati sarapannya, padahal kerongkongan terasa tersekat susah menelan.


Apa yang mereka bicarakan? Kenapa terus-terusan menatapku? Yudith sialan. Awas saja. Dipikirnya aku takut.


"Ya sudah, hati-hati bener kamu itu. Cedera di kepala nggak bisa dianggap remeh."


"Nanti kalau rasa gimana-gimana langsung istirahat di rumah sakit kompleks aja, ya."


Yudith mengangguk dan tersenyum tipis lalu melangkah menuju kelompoknya. Sebelum duduk, dia menyempatkan diri menatap lekat pada Lisa yang buru-buru membuang muka, padahal tadi terus memperhatikan Yudith dengan tatapan benci.


Hati Lisa tidak tenang. Dia memikirkan, menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah dia akan dipanggil untuk ditanyai atau malah dimarahi lalu diusir?


Jangan sampai. Dia memang selalu ingin pergi dari tempat ini, tetapi tidak pergi dengan cara dikeluarkan karena telah berbuat kesalahan. Walaupun bagaimana hal itu sangat memalukan. Harga dirinya akan tercoreng.


Belum sembuh rasa kesalnya saat sarapan, Lisa sekali lagi dipaksa menahan geram ketika turun dari lantai dua langsung melihat Andreas dan Yudith bersama. Dia tidak habis pikir, apa bagusnya Yudith sampai Andreas begitu perhatian, bahkan bela-belain jalan kaki ke sini untuk menjemputnya supaya bisa naik bus yang sama, padahal asrama putra dan asrama putri cukup jauh.


Keduanya berdiri di dekat pos penjagaan sambil bercakap-cakap. Lebih tepatnya Andreas yang berbicara dan Yudith hanya menanggapi sekadarnya.


"Yuk jalan," ajak Andreas sambil meraih tangan Yudith.


"Tunggu Riris sebentar. Dia masih mampir ke dapur tadi." Yudith menoleh ke arah tangga---begitu pun Andreas---bertepatan dengan Lisa melewati anak tangga terakhir. Jadi, seolah-olah mereka sengaja melihat ke arah Lisa.


Sekali lagi gadis itu merasa tidak nyaman, apalagi Andreas yang biasanya mau berbasa-basi menyapanya, kini hanya diam. Senyum pun tidak. Namun begitu, dia tidak ingin terlihat gentar. Dengan senyum merekah lebar dan dagu terangkat seperti biasanya, dia melangkah menghampiri.


"Hai, An. Berangkat bareng yuk." Cara bicaranya manja terkesan centil, malah berani menyentuh lengan Andreas.


Refleks menarik diri dan lebih merapat ke Yudith, Andreas tersenyum canggung. "Kita masih nunggu Ririsma. Kamu bisa duluan."


Wajah Lisa langsung masam. Gadis berhidung mancung terkesan runcing itu melirik Yudith sinis dan tersenyum miring. "Oke. Aku duluan kalau gitu." Setelah itu, saat mulai melangkah dia bergumam, " Aku nggak perlu main akrobat kayak seseorang hanya untuk mencari perhatian."


Baik Andreas maupun Yudith bisa mendengarnya cukup jelas, tetapi keduanya tidak ambil peduli, dan ketika Ririsma sudah ke luar, mereka pun langsung berangkat.

__ADS_1


Sesampai di kampus, duduk bersebelahan, Yudith bertanya pada Ririsma. "Kamu baca novel yang dibelikan Andreas?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


Yudith menggeleng. "Nggak pa-pa. Tanya aja."


Ririsma terkekeh sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke Yudith lalu berbisik,  "Ternyata seru ya. Banyak pelajaran yang bisa diambil. Kalau Vero masih di sini, pasti lebih asyik."


"Hm." Yudith hanya menggumam, bibirnya tersenyum miring sangat tipis.


Orang lain yang mendengar perkataan Ririsma barusan, pasti tidak akan menemukan korelasi apa pun antara keseruan membaca novel misteri dengan keasyikan bila Suster Vero masih ada di sini. Namun, Yudith dengan pasti mengetahui keterkaitannya, bahkan Ririsma sendiri pun belum tentu tahu kalau Yudith mengetahuinya.


Senyum tipis Yudith semakin lama terlihat misterius. Gadis itu sedikit memiringkan kepala untuk melempar pandangan misterius kepada Lisa yang duduk di belakangnya, di barisan paling tepi. Lisa seketika memicingkan mata. Tidak mau kalah, dia pun menyeringai mencemooh.


"Lo ngapain sih?" Ririsma pun ikut menoleh ke arah Lisa. "Dia cari masalah lagi sama lo?"


Yudith berpaling. Kini gantian Ririsma yang beradu tatap dengan Lisa. "Nggak," jawab Yudith singkat.


"Dith, siniin bukumu." Andreas yang duduk di bangku barisan sebelah kiri, dua bangku di belakang Yudith, menjulurkan badan dan tangannya untuk mengambil buku Yudith.


Gadis itu menatapnya dengan mata menyipit. "Buat?"


"Biar aku catatkan ringkasan penjelasan dosen. Ntar aku nyalin dari bukumu."


Ririsma langsung tergelak. "Dasar aneh. Bukannya catat aja di buku sendiri terus Yudith yang nyalin."


"Orang nggak pernah jatuh cinta kayak kamu mana ngerti rumus mencurahkan kasih sayang," balas Andreas sambil bibirnya miring mencibir.


Bahkan Yudith yang jarang menganggap lelucon Andreas itu lucu, ikut tersenyum simpul, apalagi Ririsma. Gadis itu tergelak-gelak sampai akhirnya terpaksa diam saat dosen masuk ruangan.


Perhatian Andreas terhadap Yudith dan gurauan Ririsma tidak dimaksudkan untuk memanas-manasi Lisa, tetapi gadis itu merasa terbakar dengan sendirinya.


Dia benar-benar merasa tidak rela Yudith mengalahkannya. Sangat tidak adil, bagaimana bisa Yudith gadis biasa saja itu bisa mendapatkan apa yang sangat dia inginkan. Ingin sekali rasanya mencakar-cakar wajah gadis bermata besar itu. Namun sekarang, setelah Yudith menunjukkan sikap, bahkan berani mengancamnya, Lisa merasa gentar juga. Ketika jam istirahat tiba, Lisa buru-buru pergi ke ujung koridor yang sepi, dekat toilet.


"Gue ke toilet sebentar ya." Ririsma pun buru-buru berpamitan, tanpa menunggu tanggapan dari Andreas dan Yudith langsung berlari ke luar.


"Dasar anak itu," gumam Andreas sembari pindah duduk di sebelah Yudith lalu meletakkan sekotak kue kering di hadapannya. "Makan. Aku sengaja beli tadi pas jalan ke asramamu. Biar nggak usah ke kantin."


Andreas sudah memperhitungkan kalau kondisi Yudith pasti masih belum fit benar untuk turun naik tiga lantai, makanya tadi dia sengaja mencari toko kue terdekat.


"Makasih, An." Yudith tersenyum sedikit lebar hingga gigi gingsulnya terlihat.


Andreas pun balas tersenyum lebih lebar sampai matanya tertimbun kerutan. "Sini aku bukain."


Sementara itu, di depan toilet paling ujung, Lisa sedang berbicara di telepon, sedangkan Ririsma yang tadi sengaja membuntutinya berdiri di balik dinding gudang sapu. Tidak jauh dari tempat Lisa berada.


"Buk, tolonglah. Lisa sudah nggak betah di sini." Gadis itu merengek dengan suara serak.


"Kamu ini kenapa lagi sih? Bukannya kamu bilang sudah betah karena ada Andreas yang perhatian sama kamu?" Suara sang ibu begitu lembut dan sabar.


"Andreas digoda sama cewek gatel. Pokok Lisa mau pulang. Ayolah, Buk. Lisa mohon."


Di tempat persembunyian, Ririsma mencibir geram. Dasar rubah, pintar memutar balik fakta.

__ADS_1


__ADS_2