YUDITH

YUDITH
AKHIRNYA


__ADS_3

Setelah Irene mau bicara, sedikit demi sedikit segalanya pun menjadi lebih gamblang. Irene mengakui bahwa adakalanya dia sengaja bersikap berlebihan supaya pihak yayasan kasihan padanya dan tidak mengizinkan Bu Magda membawanya pulang begitu saja. Contohnya adalah waktu dia kabur karena melihat kedatangan Bu Andina dan Bu Magda. Bahkan kebiasaan tantrum dan menyakiti diri sendiri itu juga akal-akalan saja untuk membangun citra buruk pada keluarganya.


Keakrabkan dengan teman-temannya pun terjalin dengan baik. Irene pun  semakin hari semakin leluasa membuka diri dan kerap bercerita banyak hal pada Yudith. Sering pula sebelum tidur mereka bercengkerama bertiga dengan Eva.


Hubungan Irene dengan keluarganya pun semakin baik. Seminggu sekali mereka bertemu di ruang kunjungan dan dua minggu sekali Irene akan diajak keluar, sekadar jalan-jalan dan makan. Namun begitu, Irene masih tetap menjaga jarak dengan suami Bu Andina dan suami Bu Magda, tidak mau memandang mereka, apalagi bertegur Sapa.


Hari berlalu begitu cepat, segalanya pun berjalan dengan baik. Namun, sampai tiba waktunya Yudith dan kawan-kawan harus mempertanggungjawabkan hasil penanganan kasus, Irene tidak pernah lagi menyinggung tentang sertifikat. Sepertinya dia memang berniat menyimpannya sendiri.


Menjelang akhir tahun ajaran, Yudith disibukkan dengan belajar belajar dan belajar untuk persiapan ujian. Setelah ujian berakhir, dia dan kawan-kawannya masih harus mempertanggungjawabkan hasil penanganan kasus.


Walaupun Yudith sudah mengatakan bahwa dirinya tidak akan menjadikan Irene objek penanganan kasusnya, dan bersedia mengulang praktik di tahun ketiga, tetapi Bu Lenni dan suster kepala sekolah menegaskan bahwa penanganan Irene tetap dihitung sebagai hasil praktik penanganan kasusnya dan dia wajib mempresentasikannya di hadapan para penguji.


Pada kenyataannya, setelah hasil  penanganan kasus diujikan di depan para guru pembimbing serta para penguji, banyak dari mereka yang tidak lulus dan harus mengulang praktik penanganan kasus di tahun ajaran ketiga. Bersyukurlah Yudith dan keempat sahabatnya dinyatakan lulus dan berhak menjalani tahun ajaran ketiga dengan fokus hanya pada pelajaran untuk mengahadapi ujian akhir.


Hari itu, setelah ujian kasus selesai kisaran pukul tiga sore, Yudith dan sahabat-sahabatnya berkumpul di depan kantin seperti biasa. Mereka membeli cukup banyak makanan dan minuman untuk merayakan keberhasilan ujian penanganan kasus.


"Heran, kenapa mereka selalu beruntung, sih?"


Lodi dan Ratna melintas bersama beberapa teman yang tidak lulus ujian penanganan kasus, dan yang barusan menggerutu adalah Lodi. Namun, hanya Ratna yang bisa mendengarnya. Niat Lodi ingin bergunjing untuk melampiaskan kekesalan hati karena tidak pernah bisa mengungguli Yudith dan sahabat-sahabatnya.


Ratna membalas dengan mengomel, "Jangan sembarangan kalau ngomong. Beruntung? Apanya yang beruntung? Enggak lihat apa kasus yang ditangani Yudith kayak apa?"


"Lah, tumben kamu belain dia." Lodi membalas sinis.


"Enggak belain, cuma bicara fakta. Nyesel aku enggak serius gara-gara dengerin omongan kakak-kakak kelas itu."

__ADS_1


"Iya juga, sih. Katanya praktik penanganan kasus hanya formalitas, enggak usah terlalu diseriusin. Buktinya ...."


"Katanya sih karena udah beda guru. Guru yang tahun lalu sudah pada keluar, kan?"


Keduanya terus bersungut-sungut. Salah sendiri tidak serius hanya karena mendengarkan omongan orang-orang yang tidak sungguh-sungguh ingin maju. Sekarang mereka pun ikut tertahan dan akan mengalami tahun paling melelahkan karena harus memecah fokus untuk praktik ulang dan belajar untuk persiapan ujian akhir tahun. Menyesal pun tiada guna.


Malamnya, saat Yudith sedang merapikan barang-barang karena setelah tugas praktiknya selesai dia harus kembali ke asrama khusus pelajar, Irene dan Eva datang membantu.


"Bu Yudith jangan lupain kita, ya," ujar Eva sambil memasukkan buku-buku ke dalam kardus.


"Masih bisa ketemu setiap hari gimana bisa lupa."


"Irene boleh naik ke lantai empat enggak, Bu?"


"Ya, ketemu Bu Yudith."


Ketiganya pun tertawa-tawa riang sambil terus bekerja hingga akhirnya Yudith bilang cukup karena sudah waktunya istirahat.


Ketika Yudith sudah hendak berbaring, Irene tiba-tiba turun dari tempat tidur dan menghampirinya.


"Ada apa?"


Irene naik ke tempat Yudith lalu duduk bersila berhadapan. "Irene sudah memutuskan," ujarnya tiba-tiba.


Yudith menyipitkan mata, lalu bertanya, "Memutuskan apa?"

__ADS_1


"Irene mau kembali ke rumah Bude Andina."


Setelah sekian lama akhirnya Irene mau membicarakan hal ini juga. Yudith tersenyum teduh sambil menepuk pundak Irena.


"Apa alasannya?"


"Irene mau bantuin Bude Andina di yayasan. Sertifikat itu mau Irene kasihkan Bude, terserah mau diapakan. Irene tidak membutuhkannya."


Benar-benar tidak ada keraguan dalam suaranya. Entah kenapa, hati Yudith rasanya sangat lega. Seakan beban yang masih sempat tertinggal sekarang telah sepenuhnya disingkirkan. Hanya dalam satu tahun, Irene yang awalnya memandang siapa pun penuh permusuhan, sekarang sudah mau membuka hati dan tatapannya selalu cerah ceria.


Mungkin luka batin dan trauma akibat pengalaman buruk di masa lalu tidak akan bisa sepenuhnya hilang, tetapi paling tidak Irene tahu apa yang dia inginkan dan tidak ragu untuk melakukannya. Dengan begitu dia tidak akan lagi kehilangan jati diri, tidak akan lagi kalah dengan keadaan dan tidak akan lagi melampiaskan emosi jiwa dengan cara yang tidak benar. Sekarang Irene justru sudah bisa berpikir bijak.


"Asal untuk kebaikan, Bu Yudith pasti dukung apa pun yang Irene putuskan. Lakukan apa yang menurutmu benar."


Irene tersenyum lebar, lalu memeluk Yudith erat-erat. "Terima kasih sudah baik sama Irene."


"Kamu baik-baik di sana. Bu Yudith percaya kamu bisa membawa diri."


Irene hanya mengangguk sambil terus memeluk Yudith. Malam itu adalah malam terakhir mereka tidur di satu kamar karena keesokan harinya Yudith sudah harus pindah. Dan perpisahan di antara mereka benar-benar terjadi satu tahun kemudian ketika Yudith sudah lulus dari SMK dan Irene menginjak tahun ketiganya di SMP.


Sudah memutuskan untuk pergi otomatis dia pun akan melanjutkan sekolahnya di sekolah luar. Sekolah yang lokasinya tidak jauh dari rumah Bu Andina. Entah bagaimana kedepannya, masih bisa bertemu lagi atau tidak, yang jelas bagi Irene, Yayasan Mulia Harapan dan Yudith adalah dua hal yang akan selalu mendapat tempat istimewa di hatinya.


Setelah Irene pergi bersama keluarganya, Yudith pun pindah ke asrama baru yang kushus disediakan untuk para mahasiswi. Yudith, Ririsma dan Andreas telah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Institut Mulia Harapan, sedangkan Fitus pergi ke Kupang untuk kuliah di sana supaya lebih dekat dengan keluarga. Suster Vero beda lagi. Dia sudah naik tingkat, sudah benar-benar resmi menjadi biarawati. Begitu lulus, tempat tugas baru di pedalaman Kalimantan sudah menunggunya.


[ARC 2 End jumpa lagi di ARC 3]

__ADS_1


__ADS_2