YUDITH

YUDITH
KITA BELI BUKU YANG SAMA


__ADS_3

Kita Beli Buku yang Sama


🕳️


Sekitar pukul setengah tujuh petang, Andreas diajak Pak Dimas pergi ke toko buku. Selagi sang kepala asrama mencari-cari buku di deretan lain, Andreas berada di deretan novel. Datang ke situ hanya karena diajak, tadinya dia tidak punya rencana untuk membeli buku apa pun. Namun, ketika iseng-iseng menyusuri lorong barisan novel, dia langsung teringat Yudith.


Pemuda itu mendengkus geli lalu tersenyum miris karena merasa bodoh. Selama ini dia kerap memberikan hadiah ini-itu, tetapi tidak pernah terpikirkan untuk memberi Yudith novel misteri kegemarannya.


Benar-benar idiot kamu, An. Andreas terkekeh geli dalam hati lalu mulai melihat-lihat untuk memilih novel yang hendak dibelinya.


Lokasi rak-rak novel berada dekat dengan dinding kaca sehingga bisa terlihat jelas dari arah luar. Lisa yang sedang melintas bersama kedua orang tuanya tanpa sengaja melihat keberadaan Andreas.


"Ayah, Ibu, ke toko buku, yuk!" Gadis itu langsung menarik tangan kedua orang tuanya.


"Kita kan mau makan, Sa," ujar sang ibu. Perempuan cantik yang masih tampak sangat muda itu mengerling suaminya.


"Alah, ikut aja." Sama-sama tidak paham kenapa putrinya tiba-tiba berubah haluan, pria gagah berkumis tipis itu pun tidak tahu harus merespon sang istri bagaimana.


Ya, benar ikut saja apa mau putrinya. Toh, mereka sengaja menjemput Lisa untuk makan malam di luar sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menuruti permintaannya pada hari Minggu lalu.


Sesampai di dekat Andreas yang masih sibuk memilih-milih buku, Lisa langsung menepuk bahunya. "Hai, An."


"Astaga!" Andreas terlonjak dan dua buku yang sedang dipegang langsung terjatuh. Setelah mengambilnya kembali, dia menoleh dan dahi langsung mengernyit. Bagaimana bisa Lisa yang seharusnya tidak boleh keluar dari asrama tiba-tiba ada di sini? "Ya ampun, Sa. Bikin kaget. Kok, kamu ada di sini?"


"Sama Ayah, Ibu. Mau makan malam. Kenapa? Kamu kira aku kabur, gitu?" Tanpa sungkan, Lisa menumpangkan tangannya di bahu Andreas.


"Bukan begitu." Pemuda itu refleks bergeser, tetapi Lisa ikut bergeser untuk mempertahankan tangannya tetap berada di bahu Andreas.


"Ayah, Ibu, ini Andreas yang pernah Lisa ceritain. An, kenalkan ini orang tuaku."


Andreas tersenyum kikuk sambil mengangguk. Dia sudah sempat bersyukur saat Lisa menurunkan tangan dari bahunya, tetapi yang terjadi kemudian malah lebih gila. Gadis itu merangkulnya erat-erat.


"Oh, jadi ini yang namanya Andreas." Sang ayah tersenyum sambil manggut-manggut.


Senyum sang ibu lebih lebar, sampai-sampai banyak kerutan di bawah matanya. "Memang ganteng, ya, Yah ...," ujarnya kemudian.


Andreas tidak tahu apa yang sudah Lisa ceritakan pada orang tuanya, dan dia juga tidak mau tahu. Yang dia inginkan sekarang adalah mengakhiri suasana yang terasa sangat canggung ini.


"Senang ber---"


"Gimana Bu, Yah?" Lisa tidak memberi kesempatan pada Andreas untuk menyapa orang tuanya. "Kami cocok, kan?"


Hah? Apa-apaan? Andreas melirik Lisa yang semakin erat merangkulnya. Astaga, anak ini! Andreas hanya bisa menggetatkan rahang untuk menahan malu dan gemas.


"Cocok. Cocok banget, kan, Yah?"


"Bener, Bu. Cocok cocok."


Antusiasme kedua orang tua Lisa membuat dahi Andreas mengernyit dalam. Sekarang dia bisa menduga kira-kira apa yang sudah Lisa ceritakan kepada orang tuanya. Ingin sekali dia menyentak tangan gadis itu dengan kasar, tetapi sudah tentu tidak dilakukannya. Dia masih punya hati, tidak seperti Lisa yang suka seenaknya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Loh, An ...."


Pak Dimas muncul, Andreas rasa-rasanya seperti terselamatkan dari penculikan yang membahayakan nyawa. Tanpa ragu dia melepaskan diri dari Lisa lalu bergegas menghampiri sang kepala asrama.


"Pak Dimas sudah dapat bukunya?"


"Sudah." Sambil bicara, alih-alih menatap Andreas, Pak Dimas malah melihat ke arah Lisa. "Ini, kok, ada Lisa?"


Dengan wajah cemberut Lisa memperkenalkan Pak Dimas pada kedua orang tuanya. Hatinya masygul karena merasa kehadiran kepala asrama putra itu sudah mengganggu kesenangannya.

__ADS_1


"Titip Lisa ya, Nak Andreas," pinta sang ibu saat hendak berpisah.


Andreas hanya tersenyum sambil mengangguk sopan lalu buru-buru mengajak Pak Dimas pergi dari situ. Sepeninggal Andreas dan Pak Dimas, Lisa mengambil buku yang sama dengan yang diambil Andreas.


"Suka novel misteri rupanya." Lisa bergumam sambil membolak-balik buku di tangannya. Seulas senyum tipis nan licik tersungging di sudut bibirnya.


Lihat saja. Sebelum janur kuning melengkung, masih selalu ada kesempatan. Semua adil dalam cinta. Ya, kan, Dith?


__________


Pukul delapan malam, setelah makan dan ibadat penutup (doa malam bersama), para penghuni asrama putri bebas melakukan kegiatan apa saja asal dalam batas wajar. Ada yang belajar, nonton TV, mendengarkan musik dari radio atau tape recorder, yang punya ponsel ya main ponsel atau berbalas pesan, dan lain sebagainya.


Yudith, Ririsma dan beberapa yang lain tampak sedang asyik menekuni buku masing-masing di ruang makan---yang kalau malam diubah fungsi sebagai ruang belajar.


Drrtt ... drrtt


Ponsel Yudith bergetar, layar monokromnya berkelip hijau kekuningan dan terdapat gambar amplop. Gadis itu segera membukanya. Sudah pasti pesan dari Andreas karena di situ hanya ada dua nomor kontak, yaitu Ririsma dan Andreas.


Ada kejutan untukmu besok. Selamat belajar, Yudith ;)


Setelah membaca, Yudith langsung menaruh ponselnya di atas meja. Ririsma segera mencomot ponsel itu lalu, tanpa bisa dicegah, membaca pesan dari Andreas.


"Ish, lo mah memang dasar. Dibalas dong, Dith. Biar gue aja yang balas kalau gitu ...."


Ririsma sudah biasa seperti itu. Jadi, Yudith pun tidak ambil pusing. Biarkan saja dia balas sesukanya, lumayan ada asisten buat balas pesan.


Makasih, Cayang. Aku sudah nggak sabar menunggu besok. Selamat belajar juga. Ntar bobok mimpiin aku ya ....


Tidak lama setelah pesan itu dikirim, balasan pun datang.


Sialan kamu, Ris! Balikin HP-nya sama Yudith!


Ririsma cekikikan sambil mengembalikan ponsel pada Yudith. "Kira-kira bawa apa ya?" gumamnya kemudian. "Kalau hanya makanan pasti nggak bakal dibilang kejutan."


Brak


Seisi ruangan menoleh ke arah pintu. Lisa yang barusan---tanpa sengaja---menendang tempat sampah, masuk dan dengan langkah pasti menghampiri Yudith dan Ririsma. Dia baru pulang, belum ganti pakaian pun. Gadis itu sudah tidak sabar untuk menjalankan rencananya.


"Ngapain lo?" Ririsma langsung pasang wajah masam, suaranya pun sengak.


Lisa meletakkan novel misteri yang tadi dibelinya ke atas meja. "Ternyata Andreas itu suka baca novel misteri. Baru tau aku." Gadis itu terkikik, bangga sudah mengetahui sesuatu yang belum tentu diketahui orang lain.


Sementara Yudith cuek seperti biasanya, Ririsma menatap Lisa dengan mata memicing dahinya mengernyit. Sejak kapan Andreas suka baca novel misteri? Kalau Yudith ya sudah pasti iya.


"Tau dari mana lo---"


"Ris." Di bawah meja Yudith menendang pelan kaki Ririsma dan gadis itu pun langsung bungkam.


"Ini buktinya." Lisa menunjuk novel misterinya. "Tadi aku ketemu Andreas di toko buku dan kami membeli buku yang sama. Dia juga langsung akrab sama ayah ibuku, lho. Kami ngobrol banyak banget."


Dalam diam Yudith langsung bisa menduga kejutan yang tadi dimaksud Andreas. Kalau memang benar Andreas membeli novel misteri seperti yang dikatakan Lisa, kemungkinan besar itu untuknya.


Ririsma menyembur tertawa. Dia pun sudah menarik kesimpulan yang sama dengan Yudith. Jadi, bisa dibilang kalau si Lisa itu sedang ke-GR-an.


"Sudah dech! Berhenti bermimpi. Andreas nggak bakalan pernah suka sama lo. Pergi sana!"


Lisa mengambil novelnya. "Kita lihat saja nati dan ... siap-siap kalah kamu," ujarnya sambil tersenyum sinis. Setelah itu melenggang pergi, melangkah dengan dagu terangkat.


"Ish, norak!" Ririsma mencibir. "Kalah apa maksudnya?"

__ADS_1


"Mana aku tau." Yudith menjawab tak acuh sambil terus menekuni bukunya. Dia tidak pernah bercerita pada Ririsma tentang ancaman Lisa waktu itu.


Kalau Yudith sudah seperti itu, percuma juga Ririsma memaksa terus bertanya. Gadis itu menyipitkan mata, mencoba menerka-nerka maksud ucapan Lisa yang sepertinya sedang bertaruh. Namun, akhirnya harus menyerah karena tidak bisa menemukan kemungkinan apa pun. Dengan Yudith yang membosankan, apa serunya bertaruh? Lagi pula mana mungkin Yudith mau taruhan.


Keesokan paginya, begitu turun dari bus yayasan, Andreas langsung mencari Yudith dan menemukan gadis itu sedang duduk di bangku kantin seperti biasa.


"Pagi, Sayang," sapa Andreas sembari duduk di sebelah Yudith lalu meraih tangan gadis itu dan mengecupnya.


Kata sayang dan aksinya barusan hanyalah salah dua caranya bercanda untuk menggoda Yudith. Pemuda itu paling suka melihat wajah sang kekasih yang biasanya datar seperti papan setrikaan itu menjadi sedikit tersipu.


"Huweeek!" Dan seperti biasa juga, Ririsma tidak bosan-bosannya berpura-pura muntah. "Makin hari makin menjadi-jadi aja lo, ya."


Andreas tergelak. "Kenapa kamu yang sewot sih? Yudith aja nggak keberatan."


"Ish, dasar. Oh iya, mana kejutannya?"


"Kok, malah kamu yang nggak sabaran." Sambil pura-pura menggerutu, Andreas mengeluarkan novel misteri yang dia beli kemarin, tetapi sebelum sempat diberikan pada Yudith, Lisa datang dan langsung duduk mepet di sampingnya.


"Pagi, An. Novelnya seru, ya," ujar Lisa antusias sambil menunjukan novelnya pada Andreas. "Aku sudah baca sebagian tadi malam. Benar-benar mendebarkan. Kamu gimana?"


"Hai, Sa, pagi " Andreas menatap Lisa dengan dahi mengernyit. Dia pun terang-terangan bergeser lebih mendekat ke Yudith. "Maksudnya apaan?"


Sementara itu di bawah meja, Yudith sudah mencolek paha Ririsma, memperingatkannya supaya tidak berkomentar. Dan gadis berkacamata itu pun hanya terdiam, menyaksikan detik-detik Lisa yang ke-PD-an mempermalukan diri sendiri.


"Ini, novel misteri yang kita beli kemarin. Masak lupa, sih?" Lisa melirik Yudith dan tersenyum sinis, sedangkan Yudith tetap menunduk, sedikit pun tidak mengangkat muka.


"Oh, kamu beli novel itu juga ...," ujar Andreas polos tanpa mengetahui maksud terselubung Lisa.


"Iya. Gimana?" Lisa beringsut lebih mendekat dan Andreas pun semakin mepet ke Yudith.


"Aku nggak baca novel misteri, kok. Ini,"---Andreas menunjukkan novelnya lalu meletakkan di depan Yudith---"aku beli buat Yudith. Dia yang suka baca novel misteri."


"Hah?" Wajah Lisa yang putih bersinar seketika itu juga memerah, matanya membelalak dan mulutnya melongo. Sialan! Mengumpat dalam hati. Seumur hidup baru kali ini dia dipermalukan, dan sialnya dipermalukan oleh diri sendiri yang terlalu yakin dan kelewat percaya diri.


Ririsma setengah mati menahan tawa. Kalau pahanya tidak sedang dicubit Yudith, dia pasti sudah terbahak-bahak.


Malu luar biasa, Lisa bergegas pergi. Gadis itu melangkah lebar-lebar tanpa peduli pada sekitar, menyenggol dan menabrak orang lain seperti banteng merajuk. Dan saat melintas di dekat tong sampah langsung melemparkan novel itu ke sana. Senjata makan tuan, buat apa disimpan. Toh, sebenarnya dia tidak suka membaca novel, mengatakan sudah membacanya itu hanya omong kosong belaka.


"Mampus lo." Ririsma meledak tertawa. Gadis berkacamata itu terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja, sampai-sampai Andreas meringis.


Apa nggak sakit? Pikirnya. "Kamu ngetawain apaan sih?"


"Itu, si Lisa. Semalam pulang-pulang pamer beli novel samaan sama lo. Terus, katanya lo langsung akrab sama ayah ibunya." Setelah nyerocos, Ririsma kembali terbahak-bahak karena Andreas terbengong seperti idiot.


"Hah? Dia bilang begitu?" Andreas benar-benar tidak habis pikir, bagaimana Lisa mengartikan suasana canggung itu sebagai sebuah keakraban. Perasaan tidak enak, dia pun menatap Yudith yang masih betah menunduk. "Dith, itu nggak bener."


Akhirnya Yudith mengangkat wajah dan tersenyum tipis. Dia sudah membaca kartu ucapan yang ditempel di sampul novel. Soal Lisa dan segala ucapannya, Yudith tidak peduli.


Selamat membaca dan jangan lupa tersenyum 🤍🤍🤍


"Makasih, An."


Andreas tersenyum lebar. Sesaat merasa berbunga-bunga karena akhir-akhir ini Yudith jadi sering tersenyum, tetapi setelah gadis itu membuka novelnya dan mulai membaca, terbersit sedikit penyesalan di hati karena Yudith ternyata lebih sayang novel misteri itu dibanding orang yang membelinya.


"Novelnya jauh lebih menarik daripada orangnya, ya, Dith?" Andreas menggoda Yudith sembari menggenggam tangan gadis itu. Sebagai ungkapan bahwa anggapan Andreas tidak benar, Yudith perlahan balas meremas lembut jemari Andreas.


Setelah itu, seperti ingin menyampaikan bahwa Andreas tidak bisa dibandingkan dengan novel. Gadis itu menutup novelnya, tetapi tetap menunduk memandangi sampulnya. Dia terlalu malu untuk menatap Andreas atau sekadar mengangkat wajah. Tangan yang ada dalam genggaman Andreas rasanya basah berkeringat.


"Gue duluan, ya." Ririsma yang merasa jadi obat nyamuk pun bergegas menyingkir.

__ADS_1


__ADS_2