
Begitu memasuki wilayah Pasuruan, mobil yang di kendarai Bu Duwima membelok ke arah kiri, ke sebuah perumahan yang cukup sepi. Pak Heru berhenti di dekat tikungan, berlindung di balik daun-daun mangga untuk menngatur jarak aman.
Tidak lama kemudian mobil itu berhenti di ujung jalan, di depan sebuah rumah yang terlihat paling besar juga bertingkat. Setelah kedua perempuan itu keluar dari mobil dan masuk ke rumah, Pak Heru pun segera melajukan sepeda motornya di jalan kompleks perumahan yang sangat lengang. Perumahan yang tidak bisa dibilang elit, tetapi mengatakannya sebagai perumahan biasa saja juga terlalu meremehkan.
Sesampai di depan rumah Bu Duwina dia berhenti, lalu turun dan berpura-pura memeriksa sepeda motornya. Jongkok di samping sepeda motor sambil sok sibuk, matanya kerap mengerling ke atas, ke dinding kaca hitam yang sesekali menampilkan samar-samar bayangan bergerak-gerak.
Seorang laki-laki muda keluar dari rumah dan menghampiri, Pak Heru pun segera berpura-pura sedang memeriksa rantai sepeda motornya.
"Motornya kenapa, Pak?" Orang itu bertanya ramah.
Pak Heru segera menyambar ranting cukup besar yang ada di dekatnya, lalu buru-buru berdiri. Sambil terkekeh ringan berkata, "Ini, Pak, ada ranting yangkut di jari-jari roda. Tapi enggak apa, kok."
Wajah laki-laki itu tidak asing bagi Pak Heru, karene suster kepala sekolah sudah memberikan semua foto anggota keluarga Irene. Yang sekarang ada di hadapannya ini adalah ayahnya Irene.
Laki-laki itu tampak santai, tetapi Pak Heru tahu bahwa sebenarnya dia curiga, terlihat dari sorot matanya.
"Bapak mau ke mana kok lewat sini? Enggak tahu kalau ini jalan buntu, berarti bukan orang sini, ya?"
"Iya, bukan, Pak. Saya hanya tengkulak mangga. Tadi lewat di depan situ kok ada mangga yang buahnya lebat terus saya ke sini. Siapa tahu ada yang lainnya. Ternyata Enggak ada, ya, sudah kalau begitu saya permisi."
"Oh, iya ya, Pak. Hati-hati."
Saat tengah menstater sepeda motor, tanpa sengaja Pak Heru melihat ke atas dan mendapati wajah kecil beberapa anak menempel di kaca sedang menatapnya. Namun, Pak Heru hanya acuh-tak acuh memutar sepeda motornya, lalu melaju santai.
Ayah Irene segera kembali ke rumah setelah sosok Pak Heru terlihat semakin kecil. Namun, alih-alih melaju ke jalan raya, Pak Heru justru menghentikan sepeda motor di depan sebuah rumah yang di terasnya ada laki-laki paruh baya sedang duduk.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak," sapanya ramah.
Laki-laki itu pun berdiri, lalu mendekat. Namun, tidak membuka pintu pagar besi. "Selamat siang juga. Ada yang bisa dibantu, Pak?"
"Iya, Pak. Ini, saya sedang mencari rumah penampungan TKW. Tapi saya lupa tepatnya di blok mana?"
Laki-laki itu sejenak mengernyitkan dahi, lalu berkata, "Penampungan TKW enggak ada di sini, Pak. Tapi kalau panti asuhan penampungan anak-anak ada. Itu rumahnya yang paling ujung." Orang itu menunjuk rumah Bu Duwina.
"Oh, kalau begitu saya salah belok. Jadi, yang di ujung itu panti asuhan? Ya sudah, Pak. Saya permisi. Terima kasih."
Setelah berbasa-basi, Pak Heru pun segera melaju. Sesampai di jalan raya menepikan sepeda motor, lalu menghubungi suster kepala sekolah dan melaporkan hasil penguntitannya.
Di kantor yayasan, perempuan berbadan tambun itu bergegas pergi setelah meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Dia hendak pergi ke Wisma Awan. Sesampai di sana, dia melihat Irene sudah kembali ceria, malah sedang membantu memeras sprai bersama Eva. Akhirnya dia mengurungkan niat untuk berbicara dengan Bu Yuliana dan Yudith, lalu melanjutkan langkah menuju ke kapel.
Sampai siang berganti malam, suster kepala sekolah tidak menampakkan diri di Wisma Awan. Entah apa yang sedang direncanakannya. Urusan keluarga klien sebenarnya pihak yayasan tidak punya hak untuk ikut campur, tetapi untuk kasus Irene memang sangat janggal dan pihak yayasan tidak bisa tinggal diam begitu saja.
Selesai makan malam, Bu Yuliana meminta tolong pegawai lain untuk menemani anak-anak belajar, sedangkan dia, Yudith dan Irene masuk ke kamarnya.
Irene duduk di kursi menghadap meja, buku sudah terbuka di depannya dan alat untuk menulis pun sudah di tangan. Ternyata semudah itu meminta Irene menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hal ini Bu Yuliana dan Yudith'lah yang kurang akal. Terlalu fokus bahwa manusia itu berkomunikasi menggunakan mulut, mereka malah lupa cara alternatif yang tidak kalah efektifnya.
"Irene bilang kalau Bu Duwina bukan ibu dan Bu Magda bukan kakak?" Bu Yuliana memulai sesi interogasi dengan cara yang santai supaya Irene tidak merasa tertekan. Untuk pertanyaan ini, Irene hanya mengangguk.
"Lalu siapa mereka?" tambah Bu Yuliana.
Tidak langsung menulis, Irene malah menatap Yudith seperti minta persetujuan. Yudith pun tersenyum dan mengangguk. "Jawab kalau memang bisa dijawab. Kalau enggak, ya, enggak papa," ujarnya lembut.
__ADS_1
Akhirnya Irene pun menuliskan jawabannya.
Mereka orang-orang dari panti asuhan.
Selesai menulis, Irene memberikan bukunya pada Yudith untuk dibaca. Bu Yuliana pun bergegas pindah ke sisi Yudith supaya bisa membacanya bersama. Setelah membaca, mereka pun saling bertukar pandang.
"Panti asuhan?" tanya Bu Yuliana dengan wajah bodoh. "Lalu kenapa kamu dibawa ke sini?" Sambil bicara Bu Yuliana memberikan buku pada Irene dan gadis itu pun segera menulis.
Karena aku nakal. Suka membantah memberi contoh yang tidak baik. Mereka bilang akan membawaku kembali kalau aku tidak nakal lagi.
Irene selesai menulis dan hendak memberikan bukunya kepada Yudith, tetapi tiba-tiba urung dan kembali menulis.
Aku tidak mau kembali ke sana.
Baru kemudian menyerahkannya kepada Yudith. Setelah membaca, Yudith dan Bu Yuliana kembali bertukar pandang, lalu Yudith bertanya,
"Kenapa mereka enggak memulangkanmu? Malah dikirim ke sini?"
Rupanya pertanyaan Yudith sangat sensitif bagi Irene, tiba-tiba saja gadis itu menunduk dan air matanya pun langsung berjatuhan. Yudith buru-buru mengelus lembut bahunya.
"Sudah, sudah jangan nangis. Tadi kan Bu Yudith sudah bilang, kalau enggak bisa jawab, ya, enggak usah dijawab."
"Ya, sudah, sampai di sini saja dulu," ujar Bu Yuliana sambil mengelus rambut gadis itu. "Irene gabung sama teman-teman, belajar gih. Terima kasih, ya, sudah mau bekerja sama."
Yudith pun membantu Irene mengelap mata basahnya, kemudian membuka pintu. "Sudah, jangan sedih lagi ya," ujarnya sesaat sebelum Irene keluar.
__ADS_1
Setelah itu, Yudith dan Bu Yuliana pun mengobrol berdua. Sementara itu di ruang belajar, Irene tampak sedang menulis. Eva yang ada di sebelahnya tanpa sengaja melihat apa yang ditulisnya. Mata gadis itu melebar, tetapi ketika Irene berhenti menulis dan mengangkat wajah, Eva segera berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Irene pun tampaknya tidak peduli. Gadis itu menggenggam kertas di tangan hingga menjadi gumpalan, lalu membuangnya ke tempat sampah. Eva tetap berpura-pura hingga waktu belajar selesai. Ketika Irene pergi ke kamar mandi, dia segera mengambil kertas yang tadi dibuang dan menyimpannya di saku celana.