YUDITH

YUDITH
CINTA DALAM KLEPON


__ADS_3

Malang, tahun 2000


Seperti biasa, setelah turun dari bus yayasan, Andreas bergegas menuju ke depan kantin. Bila dulu dia datang ke kompleks yayasan ini sebagai siswa SMA, sekarang dia adalah seorang mahasiswa.


Menyelip di antara anak-anak PLB, SD, SMP, dan SMA yang sedang berlalu-lalang, pemuda berambut lurus dengan bagian depan sedikit berponi itu tampak membawa sebuah bungkusan di tangan kanannya. Senyum otomatis terkembang saat melihat si gadis favorit sedang duduk di bangku kantin, seperti biasanya. Dan seperti biasa juga, gadis itu selalu menunduk menekuni buku. Ririsma, gadis berkacamata asal Jakarta, yang duduk di sampingnya juga tampak sedang membolak-balik halaman buku.


"Aku datang!" Andreas berseru riang. Sudah biasa berkumpul di tempat itu, kehadirannya pun bukan hal yang mengejutkan lagi. Dia langsung saja duduk.


Ririsma mendongak. "Selamat datang, Pangeran Andreas," ujarnya dengan nada dibuat-buat, lalu tersenyum lebar sampai matanya menyipit tertutup kerutan.


Yudith pun perlahan mendongak. "Pagi, An." Gadis mungil berkulit eksotis dengan mata bulat besar itu tersenyum tipis sekilas lalu kembali menunduk.


"Nih, buat sarapan." Andreas menyodorkan bungkusan yang dibawanya kepada Yudith, tetapi disambar oleh Ririsma.


"Makasih, An," ujar gadis itu sambil membuka bungkusan.


"Ish, kamu ini!" Andreas mengayun tangan hendak merampas bungkusan itu kembali, tetapi Ririsma dengan gesit menjauhkannya. "Ris, kamu boleh ikut makan, tapi biar Yudith yang buka pertama kali. Please ...."


"Iya, iya, iya. Nih, buruan buka, Dith." Ririsma meletakkan kotak makan yang dibungkus kresek putih itu di atas buku yang sedang Yudith baca. Hanya itu cara paling efektif untuk menarik perhatian gadis itu dengan cepat.


Benar saja, karena bacaannya terhalang, Yudith mau tidak mau harus segera membuka kotak makan itu lalu memberikannya pada Ririsma. Ini bukan yang pertama kali Andreas memberinya makanan. Pemuda itu sudah melakukannya sejak SMA---setiap hari. Begitulah cara sederhana Andreas mengekspresikan rasa sayang pada Yudith yang juga tipe gadis sederhana.


Paling-paling isinya klepon seperti biasa. Tepat sekali, begitu dibuka, aroma manis dan aroma gurih kelapa langsung menguar dari kotak. Namun, ada yang tidak biasa kali ini. Kelapa parut yang biasanya ditabur berantakan, sekarang ditata rapi berbentuk hati dan di bagian dalam tutup ditempel kertas bertuliskan,


Kita sudah lulus SMA. Sudah boleh pacaran, kan?


Dith, kamu manis bila tersenyum, semanis gula klepon. Sering-seringlah tersenyum.


Seketika itu juga Yudith merasakan wajahnya panas. Yudith jadi teringat kala dulu masih SMA Andreas pernah mengutarakan perasaannya lewat tulisan saat sedang di perpustakaan, dan waktu itu lewat tulisan juga dia membalas, fokus sekolah dulu. Ketika Andreas menulis pertanyaan, jadi kalau sudah lulus mau? Yudith tidak membalasnya.

__ADS_1


"Isinya apaan sih?"


Ririsma merapat ke Yudith, penasaran soalnya mata Yudith terus terpaku pada isi kotak. Yudith buru-buru melepas kertas itu sebelum Ririsma melihatnya lalu diam-diam memasukkannya ke dalam saku rok.


"Ya, astaga!" Begitu melihat bentuk hati pada permukaan jajaran klepon, Ririsma langsung terbahak-bahak. "Lo, astaga, An. Lo romantisnya nanggung banget." Gadis itu mengambil kotak klepon, melihatnya lebih dekat dan tergelak lebih keras.


"Apaan sih? Sini balikin." Andreas hendak merampas kotak klepon dari Ririsma, tetapi lagi-lagi gagal karena gadis itu menjauhkannya.


"Barang yang sudah dikasih nggak boleh diminta kembali."


"Tapi aku kasih buat Yudith, bukan kamu."


"Iya, iya, iya. Nih, gue balikin." Ririsma meletakkan kotak di depan Yudith. "Lo payah. Masa klepon muluk, sesekali kasih coklat atau yang lain kek. Klepon lagi, klepon lagi. Duh, cepek dech."


Sambil mengoceh, Ririsma hendak mencomot satu klepon, tetapi Yudith buru-buru menutupnya lalu memindahkan ke sebelah kiri, jauh dari jangkauan Ririsma. Mata Andreas melebar. Yudith tidak pernah pelit sebelumnya, tetapi kenapa sekarang tidak mau berbagi dengan Ririsma, sahabat terbaiknya?


"Ish, pelit lo, ah! Iya, iya, gue ngerti. Lo nggak mau berbagi hati Andreas sama orang lain, kan?"


Andreas menatap Yudith dengan mata berbinar. Benarkah? Benarkah itu alasan Yudith kali ini tidak mau berbagi klepon dengan Ririsma? Karena ada hati yang dibentuk dari parutan kelapa yang melambangkan hati dan perasaan Andreas terhadapnya.


Sedikit menjauhkan diri dari meja, Andreas mencuri pandang ke bawah, setelah melihat tangan Yudith, dia meraihnya perlahan. Sejenak dirasakannya Yudith menjengit dan refleks hendak menarik tangan, tetapi Andreas menggenggam lebih erat, akhirnya Yudith pun pasrah.


"Kalau nggak dimakan sekarang bisa basi. Sinih, gue titipin di kulkas kantin."


Yudith lagi-lagi hendak melepaskan tangan dari genggaman Andreas, tetapi pemuda itu tidak mau melonggarkan genggamannya. Kalau dia mengambilkan kotak makanan dengan tangan yang satunya, pasti Ririsma akan merasa aneh dan berpikir, ada tangan yang lebih dekat kenapa harus menggunakan tangan yang posisinya sulit menjangkau Namun, apa boleh buat. Andreas berkeras tidak mau melepaskannya.


"Ambil sendiri kan bisa," ujar Andreas acuh tak acuh.


Ririsma menatap Andreas dan Yudith bergantian dengan dahi mengernyit. Dia jadi curiga ada apa-apa di bawah meja. Apalagi, sepertinya posisi duduk mereka terlihat semakin merapat. Perlahan dia menunduk untuk melihat ke bawah meja dan saat itu juga hampir menyembur tertawa, tetapi ditahan.

__ADS_1


"Ya udah dech, sini." Dia mengambil kotak makanan sambil melirik Andreas dan berkata tanpa suara, good job, lalu bergegas pergi.


Sepeninggal Ririsma Yudith yang sedari tadi menunduk akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Andreas. "Lepas, An. Nggak enak dilihat orang."


Andreas pura-pura tidak mendengar. Dia menggambil buku diktat Ririsma menggunakan tangan kiri lalu sok sibuk membalik-balik halamannya. Yudith hanya bisa menatap tak berdaya.


"Halo, Andreas."


Seorang gadis muncul dan berdiri di sisi Andreas, membuat Yudith terkejut dan refleks hendak menarik tangan, tetapi lagi-lagi Andreas mencegahnya.


"Halo, Sa. Ada apa, ya?" Andreas tampak santai walaupun di bawah meja tangannya dicubit-cubit oleh Yudith.


Gadis berambut pendek setengkuk yang berdiri di samping Andreas sekilas melirik Yudith, ada kilat dingin nan tajam di matanya. "Kemarin ibuku datang, ini ada sedikit oleh-oleh," ujar Lisa sembari meletakkan kotak bening berbentuk hati yang berisi kue.


Andreas melirik Yudith yang terus menunduk menekuni buku. Sebenarnya dia tidak ingin menerima pemberian Lisa demi menjaga perasaan Yudith, tetapi penolakan pasti akan membuat gadis itu kecewa.


Andreas sungguh tidak ingin memberi gadis itu harapan, pun sudah mengatakan kalau dirinya sudah punya pilihan. Namun, Lisa keras kepala. Dia bilang, semua adil dalam cinta dan akan terus berusaha untuk mendapatkan cintanya. Padahal dalam keseharian, Andreas sudah secara terang-terangan lebih memilih Yudith, tetapi Lisa sepertinya tidak mau tahu. Di saat canggung seperti ini, kehadiran Ririsma sungguh sangat berguna.


"Hai, Sa. Wah, nastar! Buat Andreas, kan? Gue boleh minta kan, An?"


Tanpa menunggu jawaban, Ririsma langsung membuka kotak kue dan tanpa sungkan memakannya. Ririsma tahu Lisa menyukai Andreas dan hal itu sudah cukup menjadi alasan kuat baginya untuk tidak menyukai gadis itu. Dari dulu, Ririsma selalu mendukung Andreas dan Yudith. Yudith untuk Andreas dan Andreas hanya untuk Yudith. Ririsma tahu mereka saling menyukai, hanya saja dulu Yudith sangat menjunjung tinggi peraturan di atas segala-galanya. Peraturan asrama dan sekolah melarang para siswa berpacaran, ya, berarti tidak boleh pacaran, titik.


"Ish! Kamu gimana sih? Itu kan buat Andreas." Lisa hendak merampas kotak kue dari tangan Ririsma, tetapi Ririsma menjauhkannya.


"Sudah dikasihkan berarti sudah milik Andreas. Jadi lo nggak punya hak lagi buat komplen, dong."


Lisa cemberut. Matanya menatap nanar Ririsma, tetapi saat menatap Andreas tampak mengiba. "An ...."


Andreas tersenyum lembut dan berkata menenangkan, "Sudah nggak pa-pa. Makasih ya, Sa. Tapi lain kali nggak usah repot-repot, lebih baik dibagikan ke teman-teman asramamu saja."

__ADS_1


Tidak berkata apa-apa lagi, Lisa pergi dengan langkah sedikit menghentak-hentak. Gadis itu istimewa dalam tanda kutip. Dulu saat masih SMA dia adalah gadis manja dan pembangkang yang terjerumus dalam pergaulan tidak baik. Oleh orang tuanya dikirim kuliah ke Institut Harapan Mulia ini dengan harapan bisa berubah menjadi lebih baik karena berada di bawah bimbingan para biarawati.


__ADS_2