
Sebenarnya Bu Magda, kakaknya Irene, masih ngotot ingin membawa Irene pulang. Bahkan tidak segan membentak suster kepala sekolah dan menuduh bahwa pihat yayasan sudah menghasut Irene sehingga gadis itu berani kurang ajar.
Menghadap Bu Magda yang terlpelajar, tetapi bersikap seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan, suster kepala sekolah harus ekstra sabar. Namun beruntunglah, tidak lama kemudian Bu Duwina menghubungi dan memerintahkan putri sulung dan suaminya untuk segera meninggalkan yayasan.
Setelah peristiwa itu, Irene menjadi sering diam-diam menangis. Perubahan sikapnya sungguh drastis. Bila dulu selalu menatap tajam dengan sorot mata penuh permusuhan, sekarang dia malah tidak berani menatap orang lain sama sekali. Selalu menunduk dan ketika dihampiri malah semakin dalam menunduk dan tiba-tiba menangis.
Guru pembimbing meminta Yudith untuk lebih banyak berbicara, memberi kata-kata hiburan yang bisa membuat suasana hati Irene menjadi lebih baik. Namun, Yudith tidak melakukan itu. Bukan tidak bisa, melainkan karena dia memiliki pemikirannya sendiri.
Untuk Irene yang bahkan bicara saja tidak mau, Yudith pun berpikir bahwa tindakan jauh lebih efektif untuk Irene. Seperti sekarang ini misalnya. Saat sedang belajar bersama teman-temannya, tiba-tiba Irene menangis. Ketika ditanya dan dihibur dengan banyak kata, tangisnya justru semakin pecah. Bahkan lebih parahnya dia juga membentur-benturkan dahi ke meja belajar.
Bu Yuliana yang pada saat itu mendapat giliran mengawasi mereka belajar dibuat kebingungan, tetapi tidak lama kemudian Yudith yang seharusnya ada di Kapel membantu persiapan untuk ibadah besok pagi tiba-tiba muncul bersama Vivi. Si kecil itu lagi-lagi bertindak tanpa atas inisiatifnya sendiri. Untung saja kali ini bukan kenakalan.
"Ah, syukurlah kamu pulang." Bu Yuliana mengembuskan napas lega, lalu mengusap kepala Vivi. "Makasih, ya Vi, sudah manggil Bu Yudith."
Bocah enam tahun itu tersenyum lebar, bangga karena tindakannya kali ini benar. Bahkan mendapatkan pujian. Sementara itu, Yudith berdiri sambil mengelus kepala dan punggung Irene yang memeluk erat-erat dan menyembunyikan wajah di perutnya.
"Mau pindah ke kamar?" Yudith bertanya lirih tepat di telinga Irene dan yang bersangkutan langsung mengangguk. "Ya, sudah, ayok." Sebelum pergi Yudith berpesan pada Eva supaya mengemaskan buku-buku.
Yudith dan Irene berjalan dengan Irene yang terus memeluknya erat, bahkan mencengkeram pinggang, seperti takut kalau dilepas Yudith akan pergi meninggalkannya. Mungkin penyebab Irene menangis tadi adalah karena Yudith tidak ada di asrama untuk menemaninya.
Sesampai di kamar Yudith hendak mengajak duduk di tempat tidur Irene, tetapi gadis kecil itu tidak mau dan mendesak Yudith ke arah tempat tidur tunggal miliknya. Begitu sampai dia langsung naik dan berbaring miring menghadap dinding. Itu pun masih dengan menggenggam tangan Yudith erat-erat.
Yudith membiarkan saja Irene berbuat sesuka hati yang penting tidak membahayakan dan dia bisa merasa tenang. Karena akhir-akhir ini, tepatnya setelah kedatangan kakaknya waktu itu, Irena jadi memiliki kebiasaan menyakiti diri sendiri walaupaun frekuensinya kecil.
__ADS_1
Biasanya hal itu terjadi setelah Irene termenung cukup lama. Bila sudah begitu, Irene seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Di dalam dunianya itu entah apa yang dia pikirkan dan dia hadapi. Yang jelas begitu tersadar emosinya langsung tidak stabil dan spontan menyakiti diri.
Suasana tiba-tiba menjadi hening, tidak terdengar lagi suara isak tangis. Yudith mencondongkan badan untuk memeriksa Irene. Ternyata gadis itu sudah tertidur, tetapi genggamannya tidak kendur sama sekali. Yudith pun tidak beradaya dan tetap duduk di tempatnya.
Dengan tangan kiri yang bebas dia menarik selimut dan hendak menyelimuti Irene, tetapi ketika tanpa sengaja melihat ada bekas luka di mata kaki gadis itu yang sudah tumbuh keloit tipis, Yudith pun tidak jadi menyelimuti, malah lebih dekat melihat untuk memeriksa.
"Ya, Tuhan." Yudith bergumam kaget karena ternyata bekas luka itu bukan satu-satunya. Ada beberapa, tetapi yang paling jelas hanya satu tadi. Bila lebih saksama diperhatikan, bekas luka itu sebelumnya seperti menyambung. Katakanlah berbentuk melingkar.
Setelah itu, Yudith pun memerikasa kaki yang satunya. Tidak ada bekas luka di pergelangan kaki, tetapi ada bekas luka memanjang kisaran tiga senti di samping betis bagian dalam. Bahkan ada tanda-tanda bekas benang jahitan.
Irene sudah besar dan bisa bantu diri, tidak perlu bantuan dalam hal mandi dan berpakaian. Jadi, masuk akal bila tidak ada perawat pengasuh yang pernah melihat bekas luka-luka itu. Apalagi, Irene juga lebih sering memakai piyama dengan lengan dan kaki panjang, rok sekolah pun panjangnya di bawah lutut.
"Kenapa Dith?" Bu Yuliana melongok ke dalam dari pintu yang dibuka secelah.
Bu Yuliana bergegas masuk, lalu ikut memperhatikan kaki Irene. "Ini kok kayak bekas diikat."
Setelah itu, Bu Yuliana menyingkap rok Irene lebih tinggi dan keduanya pun langsung melebarkan mata. Di paha Irene terdapat banyak sekali bekas luka sabetan, sebagian berwarna garis-garis putih mirip strecth mark.
Keduanya pun saling bertukar pandang syok. Bu Yuliana selaku ibu asrama sekaligus orang yang menerima Irene saat datang, merasa sudah kecolongan. Pemeriksaan fisik memang tidak menjadi salah satu persyaratan masuk. Jadi, tidak pernah terpikirkan untuk melakukannya juga. Setelah ada kejadian seperti ini rasanya pemeriksa fisik perlu diberlakukan.
Tiba-tiba saja Irene bangun dan langsung menarik kaki, lalu duduk di sudut sambil memeluk kedua kakinya. Dia tidak menunduk untuk yembunyikan wajah, justru sedang menatap kedua pengasuhnya. Menatap dengan sorot mata penuh ketakutan.
"Enggak papa. Enggak usah takut." Yudith naik ke tempat tidur dan langsung membawa Irene ke dalam pelukan, lalu mengelus-elus bahu dan punggungnya.
__ADS_1
Bu Yuliana pun ikut duduk, lalu dengan lembut bertanya, "Apa masih sakit?"
Baik Yudith maupun Bu Yuliana sudah siap menerima kenyataan bahwa Irene tidak akan menjawab, tetapi tidak disangka-sangka gadis itu malah merespons dengan gelengan.
Merasa ada peluang untuk mengambil hati Irene, Bu Yuliana pun berkata lembut, "Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, cerita saja. Jangan takut. Bu Yuli dan Bu Yudith akan mendengarkan, tidak akan mengatakan pada siapa pun dan akan membantu kalau Irene butuh bantuan."
Irene mengeratkan pelukan sambil menatap Bu Yuliana cukup lama, tetapi kemudian malah menyembunyikan wajah di dada Yudith.
"Irene maunya Bu Yuli dan Bu Yudith ngapain? Kalau Irene hanya diam, kami tidak akan tau apa mau Irene." Yudith menempelkan pipinya ke kepala Irene sambil terus mengelus rambutnya.
Perlahan Irene mendongak, menatap Yudith lekat, seperti tengah memikirkan sesuatu. Di saat yang sama, Bu Yuliana mendapatkan ide untuk memancing reaksinya.
"Irene kangen ibu?"
Mendengar pertanyaan Bu Yuliana, tubuh Irene menjengit, lalu menatap takut-takut.
Berpura-pura tidak menyadari reaksi itu, Bu Yuliana melanjutkan, "Besok hari Minggu, ibu, ayah, dan kakak Irene katanya akan datang berkunjung."
Saat itu juga tiba-tiba napas Irene ngos-ngosan dan tubuhnya pun gemetar. Dia pun menggeleng dengan cepat, lalu kembali menyembunyikan wajah di dada Yudith.
Sambil mengelus-elus punggung Irene, Yudith beradu pandang dengan Bu Yuliana. Tanpa kata terucap, keduanya pun sama-sama menyimpulkan bahwa mungkin saja, dulu Irene pernah mengalami penyiksaan verbal.
Entah dilakukan oleh siapa? Akan tetapi, jika melihat reaksinya barusan .... Apa mungkin keluarganya sendiri tega? Lalu kenapa? Apa alasannya?
__ADS_1