YUDITH

YUDITH
RESONANSI HATI


__ADS_3

Hari Minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu bagi anak-anak yang masih memiliki orang tua ataupun keluarga. Bahkan para siswi dan para pegawai juga sangat menantikannya, karena hari Minggu adalah hari kunjungan keluarga.


Pukul sembilan pagi, beberapa anak Wisma Awan sudah dijemput orang tuanya untuk di ajak jalan-jalan atau sekadar makan di luar. Dan bagi mereka yang tidak memiliki keluarga cukup terhibur dengan kedatangan para dermawan yang membagi-bagikan kue atau makan ringan lainnya. Bahkan ada juga yang membawa makan siang untuk seluruh penghuni yayasan.


Namun, suasana ceria hari ini tidak bisa dinikmati oleh Irene. Kedua orang tua dan kakaknya datang berkunjung, tetapi dia malah mengunci diri di dalam kamar mandi.


Sebenarnya tadi setelah dibujuk, Irene sudah bersedia diajak ke ruang kunjungan. Sesampai di sana dia pun mau dipeluk sang ibu yang menyambutnya di depan pintu. Namun, begitu melihat ayah dan kakaknya, wajah Irene langsung pucat dan saat itu juga balik badan dan lari sekencang-kencangnya.


Yudith mengejarnya, tetapi Irene terlalu gesit. Dia sampai di asrama beberapa detik lebih lambat dan Irene sudah masuk ke kamar mandi dan mengunci diri.


"Irene, keluar, yuk. Bu Yudith janji enggak akan maksa Irene ketemu sama mereka lagi." Kalimat bujukan itu sudah berulang kali Yudith ucapkan, tetapi hasilnya nihil.


"Irene kenapa lagi, Dith?" Bu Yuliana yang seharusnya bertugas memandu para dermawan berkeliling ke asrama-asrama, terpaksa pulang karena tadi sempat melihat Irene dan Yudith berkejaran.


"Dia masih baik-baik saja waktu ketemu ibunya. Mau dipeluk juga, tapi waktu melihat ayah dan kakaknya langsung kayak ketakutan gitu. Terus lari."


Bu Yuliana mengernyitkan dahi. "Aneh enggak sih, Dith? Jujur, ya, aku agak gimana gitu sama kakaknya Irene. Usianya beda jauh lo. Malah lebih cocok jadi ibunya Irene."


Hal itu sudah sejak lama terpikirkan oleh Yudith. Ibu Irene memang jauh lebih cocok jadi nenek dan kakaknya pantas jadi ibu. Dan satu lagi, sebenarnya bukan urusan Yudith atau Bu Yuliana, tetapi siapa pun akan merasa aneh bila melihat suami dan menantu Bu Duwina tampak sebaya, masih kisaran usia empat puluh tahun. Sementara Bu Duwina, meski masih terlihat cantik dan terawat, tetap saja sudah terlihat di awal usia akhir empat puluhan, atau malah sudah lima puluh lebih.


"Bu Yuli tolong bujuk Irene, ya. Aku mau menemui keluarga Irene dulu."


Baru saja Yudith selesai bicara, pintu kamar mandi tiba-tiba dibuka dan Irene berdiri di pintu menatap dengan mata basah karena menangis. Gadis itu menggeleng, entah apa maunya.

__ADS_1


"Irene." Yudith segera menarik gadis kecil itu ke dalam pelukan, lalu membimbingnya berjalan ke kamar.


Bu Yuliana mengikuti. Ketika Yudith dan Irene sudah masuk ke kamar, dia berkata dari pintu, "Ya sudah, kamu urus Irene biar aku saja yang bicara sama keluarganya."


"Trimakasih, Bu Yuli."


Setelah Bu Yuliana pergi, Yudith menatap Irene yang duduk di sampingnya, di tepi tempat tidur Irene. Dengan lembut dia meraih tangan gadis itu, lalu menggenggamnya.


"Irene. Kalau kamu enggak bicara, Bu Yudith enggak akan tau kamu maunya apa."


Gadis itu menatap dengan mata yang terus berkaca-kaca, sesekali bibir berkedut seperti hendak bicara, tetapi pada akhirnya tetap membisu. Di matanya yang basah, Yudith seperti melihat diri sendiri yang masih kecil. Dirinya yang mencoba tegar saat melihat sang ayah pergi menjauh. Menjauh benar-benar jauh hingga tidak pernah bisa digapai lagi.


Yudith jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada ayah Irene? Atau lebih tepat, sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga Irene?


Bisa dirasakan dari gestur, sepertinya Irene ingin menyampaikan sesuatu, tetapi pada akhirnya sama saja. Tidak satu pun kata terucap. Yudith kembali berpikir, apa mungkin Irene seperti dirinya? Menyimpan semua keluhan di dalam hati, menanggung semua beban seorang diri, hingga akhirnya apa yang dikira akan baik-baik saja jika dia tetap diam, justru menjadi bumerang yang menyerang baik dirinya.


Perlahan Yudith mengusap mata dan pipi Irene yang basah, sambil berbicara ringan, "Irene mau dengar cerita? Cerita tentang seorang gadis pendiam yang selalu merindukan ayahnya."


Irene tiba-tiba mengusap sendiri matanya, lalu menatap Yudith lekat-lekat, seperti ingin menyampaikan, ya, aku mau dengar.


"Mau?" Yudith bertanya lagi hanya untuk memancing Irene bereaksi atau menanggapi dengan cara yang seharusnya. Misalnya saja bilang ya atau sekadar mengangguk. "Mau? Irene harus menjawab supaya Bu Yudith tau. Atau beri tanda."


Gadis mungil itu menatap lama, lalu mengangguk perlahan. Ketika kembali menatap, wajahnya jauh lebih cerah dan sisa-sisa kesedihan seperti terhapus begitu saja. Yudith cukup terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba, tetapi dalam hati tertawa senang. Rasanya tiba-tiba gemas melihat pipi Irene yang sedikit berisi meski badannya mungil.

__ADS_1


"Anak itu sudah kehilangan ayahnya sejak usia delapan tahun ...."


Entah kenapa, Yudith juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba tergerak untuk menceritakan kisah hidupnya kepada Irene. Yang saat ini dia inginkan hanyalah membuat gadis itu merasa tidak sendirian. Dia berharap setelah mendengar kisahnya, Irene pun tergerak untuk membuka hati dan mau bicara.


"Sudah terbiasa menanggung beban sendirian, gadis itu pun merasa bahwa diam adalah yang terbaik. Dengan diam dia yakin semua akan baik-baik saja. Tapi karena terlalu diam dan tidak peduli pada sekitar, akhirnya dia tidak punya teman ...."


Yudith menjeda hanya untuk tersenyum pada Irene yang menyimak penuh perhatian. Bahkan matanya nyaris tidak berkedip, seperti sedang menonton film kesukaan dan takut ketinggalan jalan ceritanya.


"Sebenarnya dia punya teman yang mau menerima dia apa adanya. Tapi dia tetap tidak mau bercerita apa pun pada temannya itu. Bahkan ketika dia dicelakai oleh seseorang yang sangat membencinya, dia tetap tidak cerita."


Di titik ini tiba-tiba Irene berkedip, lalu perlahan menunduk. Yudith pikir, mungkin Irene merasa seperti mendengar kisahnya sendiri diceritakan orang lain. Merasa ada peluang, Yudith pun melanjutkan,


"Kamu tau apa yang orang jahat itu lakukan pada gadis itu?"


Irene kembali menatap Yudith dan entah dengan sadar atau hanya gerak refleks saja, dia menggeleng. Yudith pun bersikap seolah hal itu lumrah, lalu melanjutkan lagi, "Kepalanya dibenturkan ke dinding kamar mandi, dua kali. Dan saat gadis itu jatuh, masih dijambak dan dimaki-maki, diancam tidak boleh mengadu."


Tiba-tiba air mata Irene berlinang. Yudith perlahan mengusapnya sambil terus berbicara, "Kasihan, kan? Untung segera ditemukan dan dibawa ke rumah sakit, jadi dia baik-baik saja sekarang. Tapi setelah sembuh dia dimarahi oleh suster kepala, karena sudah membiarkan penjahat bebas dan bisa saja penjahat itu berbuat jahat lagi ...."


Tangis Irene tiba-tiba pecah, meraung-raung sambil memeluk Yudith erat-erat. Yudith tahu hati Irene tersentuh karena mungkin saja dia pernah mengalami hal serupa. Yudith bahkan sangat yakin Irene sudah mengalaminya karena bekas luka-luka di kaki itu sangat mencurigakan.


Yudith tidak berusaha menghentikan tangis Irene karena tangisnya yang sekarang berbeda dengan tangisan waktu dia marah atau tantrum. Tangisan ini terasa tulus dari hati untuk melampiaskan segala kesedihan dan beban yang selama ini dia pendam sendiri.


Hati Yudith seperti beresonansi dengan hati Irene, dapat merasakan apa yang Irene rasakan karena dia juga pernah mengalaminya. Pernah ada di situasi ini. Namun, saat itu usianya sudah enam belas tahun, sedangkan Irene baru dua belas tahun. Dia punya Suster Vero dan Ririsma, sedangkan Irene sendirian di antara orang-orang yang masih sangat asing baginya.

__ADS_1


__ADS_2