
Mungkin karena kelelahan setelah menangis cukup lama, Irene pun ketiduran di pelukan Yudith. Setelah membaringkan dan menyelimutinya, Yudith keluar dari kamar untuk mengambil map administrasi Irene dan langsung kembali lagi. Dia duduk di kursi samping tempat tidur untuk menjagai Irene, sambil mencatat detail peristiwa barusan ke dalam buku observasi.
Pada saat Yudith tengah asyik mencatat, Bu Yuliana masuk. "Ibunya Irene ada di ruang tamu, mau bicara sama kamu."
Yudith melirik Irene dan Bu Yuliana menambahkan, "Biar aku yang jagain. Sudah sana. Oh, iya, mumupung Bu Duwina sendirian, kamu coba tanya tentang bekas luka di kaki Irene."
"Iya, Bu Yuli. Aku ke ruang tamu dulu."
Kedatangan Yudith memaksa Bu Duwina mengalihkan pandangan dari ponsel yang sedang dioperasikannya. Perempuan paruh baya itu tersenyum lebar menyambutnya.
"Maaf Suster Yudith, Irene pasti sudah sangat merepotkan," ujar Bu Duwina ramah setelah bersalaman dan Yudith duduk pun di sebelahnya.
"Sudah kuwajiban, Bu."
"Terima kasih banyak, sudah sabar menghadapi sikap Irene yang seperti itu. Oh iya, Irenenya mana?"
"Maaf, Bu. Irenenya tidur."
"Oalah, ya sudah, enggak papa kalau begitu. Oh iya, Suster. Ibu mau minta maaf atas sikap kasar Magda."
Yudith tersenyum samar. "Walaupun sebenarnya kami tidak mengerti kenapa Bu Magda marah-marah, tapi yang sudah terjadi ya sudalah."
"Iya, begitulah dia." Bu Duwina tersenyum canggung. Bahkan saat Yudith menatapnya, dia buru-buru mengalihkan pandangan.
"Bu Duwina, Irene dititipkan di sini karena keluarga berharap dia bisa menjadi lebih baik, kan?" Yudith mulai melancarkan rencananya. Walaupun itu berarti dia harus banyak bicara, bukan masalah.
"Iya, tentu saja itu harapan kami. Memangnya ada apa ya?"
"Begini, Bu. Untuk bisa memberi penanganan yang tepat, kami butuh kerja sama Ibu dan keluarga. Kami ingin mengetahui beberapa hal yang mungkin saja telah menyebabkan Irene menjadi seperti itu."
"Iya, ibu mengerti. Lalu, apa yang harus ibu lakukan?"
Yudith merogoh saku baju perawatnya dan mengeliar dua lembar foto yang biasa diselipkan di dalam buku oleh Irene, lalu memperlihatkannya pada Bu Duwina. "Kalau boleh tau, laki-laki ini saipanya Irene, Bu?"
Tangan Bu Duwina sudah hendak meraih kedua foto tersebut, tetapi Yudith segera menariknya kembali dan menaruhnya di atas pangkuan. Dengan gestur acuh tak acuh seolah tidak menyadari tatapan syok Bu Duwina, Yudith bertanya lagi, "Bagaimana, Bu? Siapa laki-laki itu? Soalnya Irene selalu memandangi foto ini."
__ADS_1
Sesaat Bu Duwina tampak gugup, tetapi kemudian menjawab, "Itu ayah kandung Irene. Sudah meninggal tiga tahun yang lalu, tapi Irene masih sering merindukannya. Dia tidak akrab dengan ayah barunya, sering bicara tidak sopan. Kadang-kadang kelakuannya juga keterlaluan."
Dengan jawaban tersebut, Yudith merasa masih dalam tahap wajar. Namun, kenapa Bu Magda tidak bersedia menjawab? Malah mengancam akan memindahkan Irene ke yayasan lain. Aneh sekali. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dan di antara Bu Duwina dan Bu Magda, Yudith yakin ada yang berbohong.
"Keterlaluan itu maksudnya seperti apa, ya, Bu? Soalnya selama di sini Irene benar-benar tidak mau bicara dan suka menyendiri. " Nada bertanya Yudith sangat ringan dan santai, sama sekali tidak ada tanda-tanda sedang menginterogasi.
"Dia sering meludahi, memukul, menggigit, suka mengoceh kalau dia tidak ingin ayah baru dan ingin ayahnya kembali. Kalau sudah seperti itu dia akan mengamuk dan menyakiti kami dan menyakiti diri sendiri. Kami---"
Bu Duwina tiba-tiba berhenti dan menatap sedikit nanar. Yudith bisa membaca kalimat tidak kasatmata tertulis di wajah perempuan itu: Untung saja aku tidak keceplosan.
"Jadi begitu. Pantas saja di sekujur kakinya banyak bekas luka." Yudith bergumam, bicara lebih pada diri sendiri.
Wajah Bu Duwina tampak menegang, sikapnya pun terlihat gugup. Namun, Yudith tetap bersikap acuh tak acuh seolah tidak menyadarinya. Gadis itu pun kembalibicara, "Sebelumnya maaf, Bu. Ada satu pertanyaan lagi. Apakah, suami ibu pernah melakukan kekerasan pada Irene."
"Tentu saja enggak pernah!" Volume suara Bu Duwina tiba-tiba meningkat. Yudith serta-merta menatap perempuan itu lekat dan yang bersangkutan langsung tampak gugup. "Ma-maksudnya kalau mukul sih enggak pernah, membentak pun sangat jarang. Kalau Irene pernah cerita yang tidak-tidak, Suster Yudith jangan percaya."
"Tidak, Bu Duwina. Saya bertanya pada Ibu justru karena Irene tidak mau bicara, seperti yang sudah saya bilang berulang kali."
"Oh, iya ya."
Keesokan harinya, Yudith menemui Bu Lenni untuk memberikan laporan perkembangan Irene. Setelah membaca semua catatan, guru pembimbing itu menatap Yudith dan tersenyum.
"Penganatan Suster Davince memang akurat. Kamu tau? Sebenarnya dulu Irene tidak masuk daftar klien praktek penanganan kasus karena masih baru. Tapi Suster Davince bilang dia harus didaftar dan kamu yang bertanggung jawab. Alasannya adalah, Suster Davince berpendapat bahwa kamu dan Irene akan jauh lebih bisa saling memahami karena sama-sama pendiam. Dan lihat,"
Bu Lenni mengetuk buku catatan Yudith, lalu melanjutkan, "Kamu menggunakan cara bicara dari hati ke hati yang disamarkan dalam sebuah cerita. Dia tersentuh itu berarti pengalaman hidupnya kurang lebih juga seperti itu."
"Tapi dia masih belum mau bicara, Bu."
"Enggak papa. Harus lebih sabar lagi, ya. Ini saja sudah melebihi ekspetasi---" Tiba-tiba Bu Lenni berhenti bicara, lalu tersenyum dan menambahkan, "Soal bekas luka Irene dan segala sesuatu yang sekiranya bisa menimbulkan salah paham, juga membuat keluarga Irene tidak nyaman, sebaiknya tidak usah dilanjutkan. Tugasmu sekarang fokus untuk membuat Irene nyaman dan akhirnya mau membuka hati lebih lebar lagi."
Yudith terpaku menatap Bu Lenni. Dia sungguh tidak mengerti kenapa tiba-tiba harus berhenti begitu saja? Ya, dia pun tahu kalau pada akhirnya segala usaha yang dilakukan akan membentur jalan buntu bila keluarga Irene tidak mau bekerja sama. Minim informasi, terkendala jarak dan situasi bila ingin melangkah lebih jauh untuk mengumpulkan lebih banyak informasi atau mungkin bukti.
Tanpa sadar Yudith mengembuskan napas panjang. Padahal dia sudah memiliki sebuah rencana dan berpikir akan menyelesaikannya sebelum waktu liburan tiba.
Kenapa harus selesai sebelum waktu liburan tiba? Itu karena untuk mengantisipasi keributan bila mana Irene menolak diajak pulang berlibur. Yudith benar-benar penasaran dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Setelah dari ruang guru, Yudith menemui sahabat-sahabatnya di tempat biasa. Mereka semua sedang sibuk menyalin laporan tertulis dari buku corat-coret ke buku resmi pemberian sekolah.
Melihat Andreas berhenti menulis, Yudith bertanya, "Masih banyak? Sini aku bantuin."
Mereka yang tadinya serius mencatat serta-merta menaikan pandangan untuk menatap Yudith. Begitu pun Andreas. Bukan apa-apa, hanya saja Yudith itu paling anti membantu orang lain mengerjakan tugas. Apalagi Andreas jelas-jelas bisa melakukannya sendiri.
"Lo kesambet setan mana? Setan toilet apa setan kantor guru?" seloroh Ririsma.
Suster Vero tiba-tiba tertawa. Geli rasanya mendengar Yudith berinisiatif menawarkan bantuan pada Andreas. "Kamu kenapa sih? Aneh banget tauk."
"Kau mau minta apa sama si An? Bilang saja tidak usah pake bantu membantu segala. Klepon, brownies, bika ambon, atau apa bilang saja." Fitus malah ngelantur tidak karuan membuat Suster Vero dan Ririsma tergelak-gelak.
"Ada apa, to, Dith?" tanya Andreas.
"Aku mau minta tolong, temeni aku pergi ke daerah Tidar."
Tawa Suster Vero dan Ririsma seketika berhenti. Mereka semua menatap Yudith penasaran.
"Lo mau ngapain?"
"Mau mencari informasi tentang Irene dan keluarganya."
"Bah! Bukannya tadi kau bilang Bu Lenni sudah melarang mencampuri urusan keluarga Irene?"
"Dith, aku setuju." Suster Vero bersemangat. "Kapan? Aku ikut."
"Aku sih oke oke saja, Dith. Tapi kira-kira nanti bakal ada masalah enggak?" Andreas akhirnya bersuara. "Tapi, kalau memang maunya begitu, aku sih dukung aja. Kapan mau ke sana?"
"Hari Minggu siang."
"Oke."
Sebagai satu-satunya yang paling rasional di saat yang lain kompak menuruti emosi, Fitus pun berkata, "Kalian jangan cari perkara."
Namun harus berakhir jadi samsak tinju Suster Vero dan Ririsma.
__ADS_1