YUDITH

YUDITH
RASA YANG TAK BERUBAH


__ADS_3

Yudith dibawa ke rumah sakit umum. Setelah menjalani pemeriksaan di ruangan khusus, kini gadis itu tertidur lelap. Andreas yang menemani terus menggenggam tangannya. Sambil memandangi wajah manis yang tengah lena, pikiran pemuda itu melayang ke masa lalu. Masa di mana mereka baru bertemu.


Tidak ada yang tahu, apakah mereka akan bersatu selamanya, tetapi yang jelas pertemuan mereka bukanlah suatu kebetulan, dia percaya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.


Hari berlari disongsong minggu, bulan menyambut berbaur tahun, musim berganti tiada yang merintangi. Perlahan, tetapi pasti, semua yang ada di muka bumi ini bertransformasi. Namun, rasa yang Andreas miliki untuk Yudith tidak pernah terganti.


Empat tahun telah berlalu, rasa itu masih utuh, dan semakin hari justru semakin besar dan dalam. Penantian panjangnya untuk bisa menjadi orang spesial bagi Yudith pun sudah membuahkan hasil. Yudith kini adalah kekasihnya, miliknya.


Dia sudah berjanji pada diri sendiri akan menjaga Yudith sebaik-baiknya. Namun, belum juga melewati dua bulan resmi berpacaran, dia sudah lalai dan membuat gadis kesayangan kini terbaring lemah di brankar rumah sakit karena gegar otak ringan.


Seandainya waktu itu dia tidak meninggalkan Yudith. Seandainya dia dan Ririsma tetap di lantai tiga menunggunya. Kecelakaan itu pasti tidak pernah terjadi. Andreas tidak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri, sampai-sampai tidak ingin beranjak dari sisi gadis itu.


Sudah dua hari Andreas pergi kuliah dari rumah sakit dan pulang pun ke sana, dan di hari ketiga ini dia bolos kuliah karena ingin seharian menemani Yudith yang sudah mulai bangun dan kerap mengalami mual-mual.


Sebenarnya dia bisa bergantian dengan Ririsma atau Ratna yang sudah menawarkan diri berkali-kali, tetapi pemuda itu menolak. Dalam keadaan seperti ini, rasa-rasanya dia tidak bisa mempercayakan Yudith pada orang lain.


Andreas menatap wajah Yudith yang tampak semakin tirus. Beberapa saat yang lalu gadis itu membuka mata dan hanya bertahan beberapa menit saja, kemudian menutup mata lagi dan akhirnya terlelap. Perlahan pemuda itu mengangkat tangan Yudith yang sedari tadi dia genggam dan elus lalu mengecupnya.


"Cepat sembuh, Dith." Andreas berbisik seraya menempelkan telapak tangan Yudith di pipinya.


Ruangan ini berisi dua tempat tidur, tetapi pasiennya hanya Yudith. Jadi, Andreas bisa lebih leluasa mengekspresikan perhatiannya. Sebenarnya tidak ada maksud memasukkan Yudith ke kamar VIP, tetapi waktu Yudith masuk hampir semua kamar sudah penuh dan hanya ruangan VIP saja yang masih ada. Perjanjiannya kalau ada ruangan kelas biasa yang sudah kosong, Yudith akan dipindahkan. Namun, Pak Heru dan istrinya bersikukuh Yudith tetap dirawat di kamar VIP ini. Segala kebutuhan Yudith pun mereka yang memenuhi


Drrrt ... drrrt ....


Ponsel yang ada di atas nakas bergetar, Andreas buru-buru mengambilnya karena tidak ingin tidur Yudith terganggu. Nama Dewangga muncul di layar monokromnya yang berkelap-kelip kehijauan. Sejenak Andreas mengernyit, kemudian bergegas menjauh dari Yudith untuk menerima panggilan itu.


"Ha---"


"Halo, Andreas."


"Ada apa, Mas Dewa?"


"Kamu hari Minggu ini acaranya ke mana?" Suara Dewangga terdengar antusias.

__ADS_1


"Kalau Yudith belum keluar dari rumah sakit, ya, aku di rumah sakit jagain dia. Memangnya ada apa to, Mas?"


"Hah?! Yudith di rumah sakit? Sakit apa?"


"Jatuh dari tangga dan gegar otak ringan."


"Ya Tuhan! Kok, bisa sih?! Kamu di rumah sakit mana ini?"


"Rumah Sakit Umum SA."


"Kamu sudah makan apa belum? Mau dibawaiin makanan nggak?"


"Huh? Mas Dewa mau ke sini?"


"Boleh, kan?"


"Bolehlah. Nggak usah bawa apa-apa. Aku sudah bawa makanan dari asrama."


"Oke, aku ke sana sekarang."


"Ish."


"Ati-ati, Dith!"


Andreas buru-buru menghampiri Yudith yang hendak bangun. Gadis itu sepertinya mengalami kesulitan. Wajahnya mengernyit menahan sakit dan tangan memegang kepala.


"Sandaran aja. Aku naikin dulu kasurnya." Andreas memegangi lengan Yudith dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memutar tuas tempat tidur. "Nah, sudah. Sandar pelan-pelan."


Dengan mata terpejam dan kepala yang terasa seperti diaduk-aduk, Yudith pasrah pada Andreas. Setelah menyandar dan merasa lebih santai, rasa mual yang tadi dirasa pun berangsur-angsur sirna.


"Makasih, An." Suaranya sangat lirih dan mata masih terus terpejam.


Melihat bibir Yudith sangat kering, Andreas berinisiatif mengambil segelas air. "Minum, Dith," ujarnya sambil menempelkan ujung sedotan ke bibir gadis itu.

__ADS_1


Merasakan ada benda menyentuh bibirnya, Yudith pun membuka mulut lalu menyesap. Dalam hati dia sangat bersyukur karena Andreas begitu pengertian. Seandainya Andreas tidak berinisiatif, mungkin dia akan tetap diam meskipun haus.


"Makasih, An."


"Aku panggilkan perawat, ya? Kamu harus makan sesuatu."


Perlahan kelopak yang sedari tadi terpejam itu berkedut lalu sedikit demi sedikit membuka. Bulu matanya bergetar saat terang dalam kamar itu terasa begitu menyilaukan. Dia berkedip beberapa kali dan akhirnya cukup percaya diri membuka mata saat siluet Andreas semakin nyata mengalahkan silau.


Begitu melihat sosok pemuda itu, dada Yudith rasanya menghangat dan secara naluriah dia pun tersenyum. Melihat senyum itu jiwa Andreas rasanya sejuk. Lembut dia menyingkirkan rambut Yudith yang menutupi wajah.


"Sebentar, aku ambilkan waslap dulu." Sebelum melangkah ke kamar mandi, Andreas memencet tombol merah pemanggil perawat yang ada di dinding.


Tidak sampai satu menit kemudian dia sudah kembali sambil membawa waslap basah. "Pejamkan mata, Dith. Aku lap dulu mukanya."


Menolak pun tidak berguna, akhirnya Yudith hanya menurut saja. Saat kain basah itu menyentuh kulit wajah, rasanya begitu sejuk dan segar.


Klak


"Mbak Yudith sudah bangun?" Seorang perawat masuk dan menghampiri. "Wah, Masnya perhatian sekali." Dia menggoda Andreas yang baru saja selesai menyeka wajah Yudith.


Andreas hanya tersenyum sambil melangkah mundur untuk memberi si perawat ruang, sedangkan Yudith yang wajahnya sudah lebih segar tampak tersipu.


Perawat itu memeriksa kondisi Yudith. "Masih mual?" tanyanya


Yudith mengangguk pelan dan berkata, "Sedikit."


"Oke. Makan ya? Sebentar saya ambilkan."


Sepeninggal si perawat, Andreas kembali mendekat lalu menggenggam tangan Yudith. "Jangan lama-lama sakitnya. Aku janji lain kali nggak akan ninggalin kamu lagi."


Yudith menatap sendu dan menggeleng kecil. "Aku yang kurang hati-hati," ujarnya sambil membalas genggaman Andreas. rasanya nyaman sekali, hati pun merasa sangat aman karena ada orang yang selalu mendampingi di sisinya.


Yudith tidak ingin menceritakan kejadian yang sesungguhnya karena dia tidak mau menarik banyak perhatian, dan akhirnya malah heboh. Dia akan memikirkan cara---cara untuk menghadapi Lisa. Cara yang aman dan damai.

__ADS_1


Lisa mengingatkannya pada Irene. Di mata Yudith, Lisa ini adalah versi Irene yang lebih tua, lebih barbar, lebih membangkang. jadi, menghadapinya juga harus super sabar karena bila dikerasi dan harga dirinya merasa terluka, dia bisa jauh lebih barbar.


__ADS_2