
"Ririsma!" Lisa berlari di koridor asrama mengejar Ririsma yang hendak pergi menjenguk Yudith.
Gadis berkacamata itu sudah sampai di tangga, terpaksa berhenti. Merasa perjalanannya tertunda wajahnya langsung suntuk. "Ngapain sih lo?!"
"Aku ... aku ikut ke rumah sakit, ya?" Lisa ngos-ngosan, saat menarik napas wajahnya sampai mengernyit.
Mata Ririsma langsung memicing. Mau keluar asrama itu harus izin secara tertulis, pakai buku khusus dan tidak boleh mendadak. Bagaimana bisa Lisa mau ikut kalau belum izin? Lagi pula, mana sudi Ririsma pergi dengannya.
"Buat apa? Mau cari kesempatan kabur?"
"Nggaklah! Curigaan muluk!" Lisa bersungut-sungut. "Ya, mau jenguk Yudith'lah."
Ririsma tersenyum sinis. "Kenapa? Mau mastiin keadaan Yudith parah atau nggak? Berhenti mimpi deh lo. Yudith mati pun kesempatan lo buat dapetin Andreas tetap nol besar. Paham lo?!"
"Iiihh! Apaan sih kamu?! Orang punya niat baik pun salah!"
Setelah menyeringai mencemooh dan berdecak sebal, Ririsma berujar dingin, "Niat baik lo bilang? Yang ada gue malah curiga lo yang sudah bikin Yudith jatuh!"
Ririsma hanya asal bicara sekadar untuk membuat Lisa berhenti merengek minta ikut, tetapi tidak disangka-sangka wajah gadis itu menegang, matanya yang sedikit sipit melebar, dan bibir tipis yang sewarna peach itu tiba-tiba pasi.
"Ja-jangan sembarangan ngomong! Fitnah itu namanya!" Setelah berteriak seperti anjing menyalak, Lisa langsung balik badan, meninggalkan Ririsma dengan langkah-langkah lebar.
Kerutan di dahi Ririsma semakin dalam. Aneh, pikirnya. Dia memiliki pikiran yang cukup tajam, sedikit kejanggalan bisa mendorongnya melakukan analisis dadakan dan mengambil kesimpulan. Dulu Yudith pernah gagal terkena fitnahnya Ratna berkat Ririsma yang berpikir cepat dan cermat.
Melihat gelagat mencurigakan dari Lisa, gadis itu jadi merasa curiga dan sambil melangkah otaknya kembali melakukan kilas balik. Dia ingat, waktu itu kala dirinya, Yudith dan Andreas keluar dari kelas, Lisa masih ada di dalam. Akan tetapi, dia tidak tahu apakah Lisa masih tetap di sana ketika Yudith kembali dari toilet?
Mencoba mengingat-ingat lagi, siapa saja yang dilihatnya saat dia dan Andreas menunggu di lantai satu. Diingat berulang kali pun dia sangat yakin tidak melihat Lisa, padahal tempatnya menunggu sangat strategis. Siapa pun yang turun dari gedung kampus pasti melewatinya karena tidak ada jalan lain selain tangga di bagian selatan gedung itu.
Ririsma menggeleng kecil, mencoba menghapus kecurigaannya, tetapi di dalam hati bertekad untuk menyelidiki peristiwa itu. Rasanya memang aneh. Kenapa begitu kebetulan Yudith jatuh dari tangga saat dia dan Andreas tidak bersamanya. Masa iya, malaikat maut pun harus menunggu Yudith sendirian untuk mencelakainya? Konyol sekali.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian dia sudah melangkah di koridor rumah sakit. Di jam-jam besuk seperti ini, koridor itu cukup banyak orang berlalu lalang. Saat tiba di kamar rawat Yudith dan mendapati Dewangga ada di sana, Ririsma sedikit terkejut. Wajah yang biasanya ceria pun langsung masam.
"Ngapain lo di sini?" Belum menyapa Yudith atau Andreas, dia sudah menyalak pada Dewangsa.
"Ris." Yudith yang dalam posisi bersandar memanggil lirih.
Andreas buru-buru menghampiri lalu mendorong bahu Ririsma untuk mendekat ke Yudith. "Baru datang sudah marah-marah. Duduk dulu dan tanya baik-baik kenapa?" Andreas menekan bahu Ririsma, memaksanya duduk.
Dewangga menatap Ririsma yang mendelik padanya dengan senyum samar dikulum. Entah kenapa dia merasa terhibur dengan sikap permusuhan gadis itu. Ada rasa tertantang untuk menaklukkan.
Selama satu jam lebih di situ, Ririsma hanya berbicara pada Yudith dan sesekali saja menyambung omongan Andreas yang sedang mengobrol dengan Dewangga. Andreas fokus mengajak Dewangga mengobrol hanya supaya pemuda itu tidak merasa diabaikan karena apa pun yang dia katakan selalu ditanggapi sengak oleh Ririsma.
Dan ketika waktu pulang tiba, Dewangga mencoba mengambil kesempatan untuk membangun citra baik di depan Ririsma. Dia menawarkan diri untuk mengantar gadis itu, tetapi sungguh sayang, ditolak mentah-mentah.
"Nggak usah. Nggak ada helm, kan? Gue nggak mau melanggar peraturan lalulintas," ujar Ririsma sangat ketus.
Tidak menyerah begitu saja, Dewangga berkata, "Nggak jauh di sebelah barat rumah sakit ada toko helm, nanti mampir beli---"
"Idih lo tu, ya! Nggak peka banget ditolak! Gue nggak mau! Ada helm atau nggak gue tetap nggak mau!"
__ADS_1
Setelah itu, dia buru-buru berpamitan pada Yudith dan Andreas lalu pergi tanpa memberi muka pada Dewangga. Pemuda berpotongan rambut unik itu pun tidak mau ketinggalan, buru-buru berpamitan juga lalu menghambur ke luar.
Andreas tersenyum kecil sambil menggeleng pelan lalu menoleh pada Yudith. "Capek nggak? Mau diturunin kasurnya?"
Berpikir bahwa sebentar lagi jam makan, Yudith pun menggeleng. Daripada bolak-balik dinaik-turunkan lebih baik sekalian nanti saja.
"Rambutmu agak berantakan, Dith. Sini aku sisirin."
Karena sebenarnya diri sendiri juga merasa kalau rambutnya kacau, jadi Yudith mengangguk lalu perlahan duduk tegak. Saat Andreas sudah bersiap menyisir, dia segera menghadap ke arah yang berlawanan supaya pemuda itu lebih mudah menyisir rambutnya.
"Makasih, An."
"Nggak usah sering-sering bilang makasih. Santai aja. Anggap aja memang sudah kewajiban." Setelahnya Andreas terkekeh riang dan bibir Yudith pun melengkung tipis ke atas.
Andreas begitu sabar dan telaten merawat Yudith. Tidak merasa direpotkan sama sekali, justru merasa bersyukur karena bisa menunjukkan kasih sayangnya secara nyata. Hal itu secara perlahan membuat Yudith merasa lebih leluasa bersikap di depannya. Meski tetap jarang bicara, tetapi tidak kaku atau secuek dulu lagi.
Sementara itu, Dewangga yang mengejar Ririsma akhirnya berhasil menangkap tangan gadis itu sebelum dia keluar dari pintu gerbang.
"Ish! Apaan sih, lo?" Gadis itu mengibaskan tangan dan ketika kibasannya tidak berhasil menghempaskan tangan Dewangga, dia pun menariknya kuat-kuat. Namun, Dewangga tidak berniat melepaskannya sama sekali, malah menariknya ke tempat parkir.
"Lepas woe! Resek lo! Nggak ada otak! Kakak sama adek kelakuan sama! Sama-sama gila!"
Sesampai di dekat sepeda motornnya diparkir, Dewangga melepaskan tangan Ririsma dan gadis itu langsung menyumpah-serapah. Berdiri berhadapan, Ririsma tampak seperti mau meledak karena emosi, sedangkan Dewangga terlihat santai-santai saja. Tersenyum pula.
"Aku salah apa sih? Kenapa kamu benci banget sama aku? Ketemu juga baru sekali, ini yang kedua."
"Lo sepupuan sama Lisa sudah bisa jadi alasan kuat buat gue nggak suka sama lo. Ngerti?"
Sementara Ririsma berapi-api, Dewangga tetap bertahan dengan sikap tenangnya. Pemuda itu berdiri sambil melipat tangan di dada dan tatapannya hangat bersahabat. Hati Ririsma seperti disentil. Tatapan Dewangga membuatnya sedikit malu. Dia merasa seperti orang tidak tahu diri yang dibaik-baiki, tetapi malah ngelunjak.
"Nggak ngerti ya sudah! Minggir lo! Jangan halangi jalan gue!"
Ririsma ingin segera menjauh dari Dewangga, menyerobot maju dan dengan sengaja menabrak lengannya, tetapi pemuda itu menangkap tangan Ririsma lalu menekannya ke tiang.
"Lo mau apa sih?!"
"Aku cuma mau bicara kok. Nggak lebih. Seriusan."
Setelah cukup lama saling menatap dalam diam dan sepertinya Ririsma pun sudah mau berkompromi, akhirnya Dewangga melepaskan pegangannya dari tangan gadis itu.
"Kamu masuk asrama jam berapa?" Nada suara Dewangga ringan dan caranya bertutur sangat akrab, seperti sedang berbicara dengan kawan lama.
"Lo mau apa? Mau ngomong ya ngomong aja di sini." Dari balik kacamata, mata Ririsma mendelik tajam.
Untuk sesaat keduanya hanya saling menatap, seperti sedang mencoba membaca isi kepala lawan. Berpikir kalau mereka terus begitu malah akan membuang-buang waktu, belum lagi Ririsma juga harus segera pulang ke asrama, akhirnya Dewangga memecah keheningan.
"Kamu ingin aku ngejar Yudith apa ngejar kamu?"
"Hah?! Maksud lo?" Sebenarnya Ririsma sudah paham maksud Dewangga, tetapi dia khawatir jangan-jangan si jangkung itu salah menyebut nama.
__ADS_1
"Jawab aja. Aku harus ngejar kamu apa Yudith?"
Dewangga tampak acuh tak acuh. Jadi, Ririsma pikir dia hanya main-main. Gadis itu menghela napas panjang lalu mendengkus sarkas.
"Dasar sarap! Nggak dua-duanya! Gue nggak tertarik sama lo dan Yudith---"
"Aku ngejar dia kalau gitu."
"Hah! Nggak ada otak lo? Yudith pacarnya Andreas, lo tau itu, kan?"
"Baru pacar, kan? Selagi janur belum melengkung sah-sah aja---"
Bugh
"Oughf!"
Dewangga tidak menyangka Ririsma akan menendang kakinya, tepat di tulang kering pula. Pemuda itu mengaduh kesakitan sambil mengangkat kaki dan berputar beberapa kali.
"Nggak salah gue nggak suka sama lo. Ternyata lo sama adik sepupu lo itu sama aja. Dasar pecundang!" Selesai mengoceh Ririsma hendak berlalu, tetapi Dewangga segera mencekal lengannya.
"Lepas nggak!" teriakan gadis itu menarik perhatian beberapa orang yang ada di sekitar area parkir. Merasa tidak enak sudah membuat keributan, Dewangga menarik Ririsma ke dekat sepeda motornya.
"Naik."
"Nggak!"
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Janji tidak lama."
Ririsma menatap tajam. Dia sungguh tidak sudi pergi bersama Dewangga. Awal jumpa sudah muak, apalagi sekarang setelah mendengar pernyataannya, semakin muak dan enggan bertatap muka.
Namun, dia tidak punya pilihan selain menuruti permintaan Dewangga. Kalau dirinya terus bersikeras menolak dan Dewangga juga tidak mau menyerah, bisa-bisa dia terlambat pulang ke asrama.
Dengan bersungut-sungut akhirnya Ririsma naik ke sepeda motor. Dewangga sudah nangkring dari tadi dan begitu gadis itu sudah duduk nyaman di jok belakang, dia langsung tancap gas.
Dalam perjalanan mereka sempat mampir ke toko helm. Setelah itu, Dewangga meluncurkan kuda besinya ke daerah alun-alun dan singgah di sebuah kafe.
"Buruan ngomong." Begitu bokong mendarat di kursi, pesan makan atau minum juga belum sempat, Ririsma sudah menodong Dewangga dengan wajah garang.
"Makan dulu," balas Dewangga santai.
"Jangan ngelunjak ya."
Mata mirip mata elang itu menatap Ririsma sendu. Perlahan menghela napas, wajah tegasnya pun perlahan layu. "Kamu itu cewek. Mbok ya jangan judes judes kenapa ...," ujarnya tanpa semangat.
Baru kali ini ada yang mengatainya judes, Ririsma merasa tertohok. Dia pun diam termenung. Kalau dipikir-pikir, memang baru kali ini dia bersikap agak keterlaluan pada orang yang baru dikenalnya. Pantas saja dibilang begitu. Orang-orang yang sudah mengenalnya dan sudah terbiasa, hanya akan menyebutnya cerewet dan sok.
Melihat sikap Ririsma melunak, Dewangga pun menjadi lebih percaya diri. "Sekarang aku hanya mau ntraktir kamu makan. Ngomongnya lain kali saja. Minta nomor telponnya, dong."
"Lo ...."
__ADS_1
Saking kesalnya, Ririsma sampai tidak tahu harus ngomong apa. Gadis itu mendelik dan mengetatkan rahang rapat-rapat.