
Sementara Irene dan Eva sudah tidur, Yudith masih mengisi buku observasi Irene dengan penerangan lampu baca. Gadis itu berhenti mencatat, lalu termenung. Sejak kemarin dia merasa seperti ada yang salah sehingga hatinya tidak berhenti gelisah. Dia sudah berulang kali mencoba untuk mengingatnya, tetapi hasilnya nilihil.
Setelah cukup lama hanya buang-buang waktu dengan terdiam tanpa melakukan apa-apa, akhirnya Yudith melanjutkan menulis. Baru saja menulis beberapa kata, tiba-tiba dia merasa otaknya seperti disegarkan.
Entah apa yang terjadi, dia kemudian membalik lembaran buku dengan serampangan, seperti sangat tidak sabaran. Setelah menemukan yang dicari, dia pun membacanya dan setelahnya mengembus napas lega.
"Ya, Tuhan," gumamnya penuh syukur sambil membanting punggung ke sandaran kursi. "Bagaimana aku bisa melupakan hal sepeninggal ini." Sekarang dia menggumam penuh penyesalan.
Selalu menunjukkan sikap permusuhan. Menatap penuh kebencian. Tidak suka ditegur atau dinasehati. Jika dilarang melakukan sesuatu dia justru dengan sengaja melakukannya. Tidak suka bergaul. Suka menyendiri dan membaca buku. Tidak bicara, tapi suka tiba-tiba menceletuk mengatakan sesuatu yang sepertinya ditujukan untuk seseorang yang sangat tidak disukainya.
Itu adalah hasil observasi di awal-awal Yudith menangani Irene. Dia melupakan hal sepenting itu. Bila tidak di sadari sampai akhir penanganan kasus, bisa menjadi lubang besar yang akan membuatnya terjerumus pada kegagalan.
Irene tidak bisu. Bahkan ada juga di mana Yudith mencatat bahwa Irene suka bicara dalam tidur. Fakta itu terlupakan begitu saja karena Irene tidak pernah lagi tiba-tiba menceletuk atau bicara dalam tidur. Perangainya memang menjadi lebih baik, tetapi dia malah membisu total.
Yudith yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, tidak menyadari saat Eva turun dari tempat tidur tingkat. Gadis remaja tanggung itu mendekati Yudith, lalu menyentuh bahunya sambil berbisik,
"Bu Yudith."
Yudith menjengit dan langsung menoleh. "Kok, belum tidur?" Suaranya pun sangat pelan suapaya tidak menggangu Irene yang tidur pulas.
Tidak langsung menjawab, Eva justru merogoh saku celananya dan mengeluarkan gumpalan kertas, lalu memberikannya kepada Yudith, sambil berbisik lebih pelan dari sebelumnya, "Tadi Irene menulis ini terus membuangnya ke tempat sampah."
Yudith menerima gumpalan kertas itu dan Eva langsung kembali naik ke tempat tidur. Sesampai di atas dan melihat Yudith sedang menatapnya, dia menempelkan jari telunjuk ke bibir. Setelah itu, tanpa suara berkata, "Jangan sampai Irene tau."
Yudith bisa membaca gerak bibirnya dengan sangat jelas. Dia pun mengangguk dan tersenyum. Setelah itu, segera mengurai gumpalan kertas tersebut dan meletakkannya di atas meja, lalu menggosok-gosoknya seperti menyetrika supaya tidak terlalu kusut dan tulisan pun lebih mudah dibaca.
Begitu tulisan itu sudah bisa dibaca, mata Yudith pun melebar. "Ya, Tuhan," gumamnya syok.
Ayah dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ibu meninggal karena sakit. Bu Duwina saudara kembar ibu, tapi enggak sayang Irene. Dia mau menampung Irene hanya demi harta warisan.
Yudith segera keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Bu Yuliana. "Ada yang penting, Bu," ujar Yudith begitu Bu Yuliana membuka pintu.
__ADS_1
Bu Yuliana mengerling kertas yang dipegang Yudith, lalu berkata, "Kita ke ruang belajar saja."
Sekarang sudah hampir pukul dua belas tengah malam. Semua penghuni asrama pun sudah pada tidur. Bicara di kamar Yudith atau di kamar Bu Yuliana sama-sama tidak aman karena bisa mengganggu tidur anak-anak. Setelah duduk berhadapan juga telah membaca tulisan Irene, reaksi Bu Yuliana pun sama seperti Yudith tadi. Syok.
"Jadi begitu. Astaga, jahatnya."
"Dan sebenarnya Irene tidak bisu, Bu."
Bu Yuliana menatap Yudith dengan mata menyipit. "Memangnya dia sudah mau bicara sama kamu."
Yudith menggeleng. "Tidak. Tapi aku pernah beberapa kali mendengar dia mengigau mengaduh kesakitan, memohon-mohon. Karena sudah lumayan lama aku jadi lupa."
"Oke, setidaknya kita sudah tau kalau Irene tidak bisu. Soalnya suster kepala sekolah sampai nyuruh aku membawa Irene ke dokter THT. Beliau khawatir."
"Iya, Mbak. Kasihan sekali anak itu."
Setelah itu, keduanya terdiam dan tidak lama kemudian masuk ke kamar masing-masing. Sesampai di kamar, Yudith terkejut melihat Eva sedang duduk di tepi tempat tidur Irene sambil menepuk-nepuk punggung tangannya.
"Ngigau." Eva berbicara tanpa suara, tetapi Yudith bisa membaca gerak bibirnya.
Menghampiri, Yudith pun duduk di sebelah Eva. "Sudah, biar ibu saja. Kamu tidur lagi sana."
Alih-alih naik ke tempat tidurnya, Eva malah menarik Yudith ke dekat pintu, lalu bertanya, "Memangnya Irene mau dibawa pulang, Bu?"
Untuk sesaat Yudith hanya menatap, lalu bertanya dengan berbisik, "Tadi Irene ngigau apa?"
"Enggak mau pulang. Berkali-kali ngomong begitu."
Yudith menggeleng. "Irene enggak akan ke mana-mana. Dia akan selalu ada di sini. Enggak usah sedih."
Mata Eva berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. "Bu Yudith enggak bohong, kan?"
__ADS_1
"Enggak bohong. Jangan khawatir. Percaya sama omongan ibu, ya." Sambil bicara berbisik-bisik, Yudith menyeka mata Eva yang sudah basah. "Sekarang tidur. Kalau Irene tiba-tiba bangun dan melihat kamu menangis, dia pasti sedih."
Eva mengangguk, lalu memutar badan dan berjalan ke tempat tidurnya. Yudith memperhatikan sampai Eva berbaring dan menutup diri dengan selimut.
Keesokan harinya, Yudith absen jam pelajaran pertama karena harus menghadap suster kepala sekolah bersama Bu Yuliana juga Pak Heru. Yudith duduk di tengah, di antara Bu Yuliana dan Pak Heru.
"Kamu ini ceroboh, teledor. Bisa-bisanya hal sepenting ini lupa." Suster kepala sekolah berbicara dengan nada tegas mengecam, setelah membaca catatan salinan observasi Irene perihal bicara dalam tidur dan suka menyeletuk.
"Maaf, Suster. Lain kali tidak akan terulang lagi."
Bu Yuliana menengahi dengan bertanya, "Jadi enggak perlu ke dokter THT kan, Sus."
"Belum diperlukan. Kita lihat saja Perkembangannya. Oh, iya, Pak Heru, nanti kamu coba cek, rumah kosong yang ada di Tidar itu. Untuk rumah yang katanya panti asuhan di daerah Pasuruan untuk sementara jangan diusik dulu. Jangan sampai mereka curiga."
"Baik, Suster. Apa enggak sebaiknya segera dilaporkan ke yang berwajib biar diawasi. Soalnya orang-orang seperti mereka itu biasanya lihai melarikan diri."
"Aku tau. Tapi kalau mereka tidak tau bahwa kejahatannya sudah ketahuan, pasti akan santai santai saja."
"Bener juga."
Setelah itu, suster kepala sekolah berbicara pada Yudith dan Bu Yuliana, "Sore ini kita bawa Irene bertemu ayahnya. Aku sudah tau di RSJ mana. Siapa tau setelah itu dia mau bicara lagi."
Setelah mendapat tugas masing-masing, pertemuan pun bubar. Baru saja Yudith dan yang lainnya keluar dari kantor, telepon kantor berdering. Suster kepala sekolah pun bergegas menerimanya.
"Halo ...."
"Halo, Suster. Ini ibunya Irene."
"Iya, Bu. Ada yang bisa dibantu atau bagaimana?"
"Begini, Suster. Sebelumnya saya minta maaf, tapi kami sudah memutuskan untuk membawa Irene pulang."
__ADS_1
Suster kepala sekolah terdiam. Orang-orang itu semakin mencurigakan saja.