
Berkali-kali mengatakan pada diri sendiri dengan sangat yakin bahwa dia tidak akan membiarkan Yudith menang, tidak menganggap tantangan satu minggu itu serius. Dia tidak akan pernah mengakui perbuatannya sampai kapan pun walau apa yang terjadi. Namun, ketika waktu seminggu itu telah menyusut dan tinggal dua hari tersisa, tidur Lisa pun tidak bisa nyenyak lagi.
Di permukaan masih terlihat tegar, tetapi di lubuk hati yang paling dalam dia merasa teramat sangat gelisah, bahkan nafsu makannya pun berkurang drastis. Tidak hanya itu saja. Dia yang selama ini merasa tidak masalah selalu menyendiri, tiba-tiba merasa kesendirian itu sangat sepi dan terasing. Merasa tidak dibutuhkan juga merasa dibuang sejak kedua orang tuanya tidak mau lagi bicara padanya. Kedua orang tuanya benar-benar membuktikan ancaman.
Ponselnya rusak dan sudah dibuang, tetapi di lubuk hati terdalam Lisa masih berharap kedua orang tuanya akan menghubungi lewat telepon asrama. Nyatanya, tidak. Sekarang jiwa Lisa rasanya selalu gamang, seperti terancam oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Sudah dua malam dia dihantui mimpi buruk. Mimpi berlari-lari di dalam hutan karena dikejar oleh sosok tidak jelas. Tidak pernah tahu sebenarnya siapa atau apa yang mengejar, tetapi merasa bahwa dirinya harus menghindar, jangan sampai tertangkap.
Dalam mimpi itu, pada akhirnya dia harus menyerah dan pasrah kala kakinya tersandung akar. Ketika bayangan hitam besar tanpa wujud nyata itu hendak menerkam, dia menjerit histeris dan saat itu juga tertarik ke dunia nyata karena teman satu kamarnya membangunkan.
"Mimpi apaan sih kamu? Teriak-teriak kayak orang kesetanan."
Napas masih ngos-ngosan dan jiwa pun masih belum sepenuhnya kembali ke raga, Lisa hanya menatap---tatapan tidak fokus---pada salah satu teman yang tadi membangunkannya.
"Kamu akhir-akhir ini keliatan kurang sehat. Sakit apa gimana?" Salah satu teman yang tidur di pembaringan atas turut bertanya.
"Tidur gerak-gerak terus. Aku kan jadi nggak bisa tidur nyenyak." Teman yang tidur di pembaringan di atas Lisa memrotes.
Karena pada dasarnya mereka itu tidak menyukai Lisa, nada bicara ketiganya pun jadi sama---sama-sama ketus dan sinis. Tidak ada rasa prihatin atau simpati sama sekali.
"Terjadi sekali kali masih mending." Teman yang tadi membangunkan Lisa kembali ke tempat tidurnya sambil mengomel.
"Mending cuci muka sana, Sa. Biar nggak mimpi buruk lagi," saran teman yang tidur di atasnya.
Lisa masih bergeming. Hanya dadanya saja yang tampak naik turun kasar karena napas belum teratur. Sekarang dia bingung. Semakin berkeras hati, semakin nuraninya gelisah. Namun, egonya yang penuh gengsi selalu membisikkan, "Jangan dengarkan mereka. Lisa Wijayanto tidak boleh lemah. Tidak boleh kalah dari gadis biasa macam Yudith. Tetap perjuangkan cintamu pada Andreas, karena semua adil dalam cinta."
"Tapi kalau aku dikeluarkan bagaimana? Ayah sama ibu sudah tidak peduli lagi padaku. Mereka mengabaikan aku."
Di saat sisi lemahnya mengeluh seperti itu, maka egonya akan kembali menguatkan.
"Lisa tidak akan kehabisan akal, bukan? Buka mata mereka dan buat mereka menyesal. Setelah itu, pasti Lisa akan kembali menjadi kesayangan."
"Gimana caranya?"
"Ingat-ingatlah. Ingat apa yang dulu pernah kamu lakukan. Lakukan juga itu sekarang."
Lisa tersentak oleh pemikirannya sendiri. Haruskah? Haruskah dia melakukan hal itu supaya orang tuanya kembali peduli dan berpihak padanya?
"Tidak ada salahnya mencoba, bukan?"
Wajah yang tadinya pasi seketika menjadi lebih berwarna karena senyum sinis nan licik menghiasi sudut bibirnya.
"Baik. Kalian lihat saja nanti."
__ADS_1
Hati merasa cukup terhibur, sisa malam itu pun dilaluinya dengan tenang. Tidur nyenyak tanpa mimpi buruk lagi. Namun, ketika pagi datang dan harus kembali bersua dengan Yudith, kegelisahan itu pun kembali mencengkeram hatinya.
Sikap diam nan cuek Yudith bagi Lisa terasa seperti kebisuan yang menyimpan sejuta strategi licik, akan segera dilancarkan untuk menyerang bila dirinya lengah.
Gadis pecinta novel misteri itu memang terlihat seperti tidak peduli lagi pada apa yang sudah terjadi, atau apa yang akan Lisa lakukan. Namun, di saat-saat tertentu bila mata mereka bertemu, tatapannya yang datar itu seperti mengandung ancaman.
Entah memang begitu adanya atau mungkin hanya karena perasaan Lisa yang sedang gelisah saja, jadinya mikir yang bukan-bukan. Yang jelas, gara-gara perasaan itu, rencana yang terpikirkan kemarin malam mendadak jadi tidak menyenangkan lagi. Kini dia malah merasa takut dan tidak yakin akan berhasil. Gadis itu sekarang tampak termenung di tempat duduknya di dalam kelas. Di kepalanya melintas banyak hal yang menyebabkan hati semakin resah.
Andreas dan Ririsma yang sejak Yudith keluar dari rumah sakit tidak pernah lagi pergi ke kantin, pun ada di kelas, bertiga sedang memakan camilan dan kue yang Andreas bawa. Ada pula minuman kemasan. Setelah sempat melirik sebentar ke arah Lisa, Yudith pun mengambil satu minuman kotak dan roti cokelat.
"Mau ngapain lo?" Ririsma menatap heran dan Yudith hanya menanggapi dengan lirikan ke arah Lisa.
"Biar aku saja." Andreas berpikir kalau Lisa itu tidak menyukai Yudith. Jadi lebih baik tidak membiarkan Yudith dekat-dekat padanya.
Namun, Yudith menggeleng juga tersenyum tipis. Seolah ingin mengatakan, nggak pa-pa. Tenang aja.
"Yakin lo?"
Yudith mengangguk singkat, kemudian berdiri. "Kalian bisa nggak, tunggu di luar sebentar?"
"Hah? Apa maksud lo?"
"Tapi, Dhit ...."
Andreas dan Ririsma saling bertukar pandang heran, tetapi sesaat kemudian keduanya mengangguk, saling meyakinkan tanpa kata lalu pergi ke luar. Mereka khawatir, tetapi tidak bisa menolak kemauan Yudith. Mereka sudah sangat mengenalnya. Bila sudah ada maunya, Yudith itu sangat sulit dicegah, apalagi dilarang.
Sepeninggal Andreas dan Ririsma, gadis itu melangkah santai ke arah Lisa, sesampainya di sana langsung meletakkan roti dan minuman yang dibawanya di atas meja. Seketika itu juga, Lisa yang tadinya asyik memandang ke luar jendela, menoleh padanya. Wajah gadis itu pun langsung memerah, tatapan penuh kebencian bergulir naik turun bagai alat pemindai.
"Dari Andreas," ujar Yudith kalem. Niatnya tulus berbagi, karena dalam dua hari ini dia sudah mendengar beberapa kabar yang mengatakan kalau Lisa tidak berselera makan, juga mengalami mimpi buruk sampai teriak-teriak.
Orang lain boleh saja tidak melihat perubahan sikap Lisa. Namun, di mata Yudith, terlihat jelas kalau Lisa itu sedang gelisah. Dia yakin Lisa pasti sedang memikirkan tantangannya yang akan berakhir besok.
"Nggak sudi. Nggak butuh belas kasihan juga." Lisa menepis roti dan minuman itu hingga jatuh ke lantai.
"Aku tau, selalu sendirian itu nggak enak," ujar Yudith sambil menunduk untuk mengambil kedua benda itu. "Aku juga nggak punya banyak teman---"
"Nggak tanya dan nggak peduli juga! Lagian siapa yang mau temenan sama patung arca kayak kamu? Beda sama aku. Aku yang nggak mau temenan sama mereka. Nggak level!"
Bibir Yudith melengkung tipis ke atas. Gadis itu perlahan duduk di kursi sebelah Lisa---roti dan minuman masih dipegangnya.
"Apa kamu bahagia?"
Mata Lisa mengerling tajam, wajah memberengut dan hidung mengernyit seperti sedang mencium aroma busuk. "Ngomong apa sih? Nggak jelas."
__ADS_1
"Aku tidak disukai. Aku tau itu dan tidak menyalahkan mereka ...."
Sebenarnya Lisa tidak ingin mendengarkan ocehan Yudith, tetapi rasa penasarannya terhadap gadis itu mencegahnya untuk menyela. Walaupun selalu membuang muka, tetapi telinganya merekam semua.
Merasa pengalaman pribadinya mirip dengan Lisa, Yudith pun mendadak berubah menjadi Yudith versi lain---versi banyak bicara. Kurang lebih sepuluh menit, hingga bel masuk berbunyi, Yudith berbicara tanpa sedikitpun Lisa menyelanya. Setelah itu, omongan Yudith pun selalu terngiang-ngiang di benak Lisa, seperti kaset rusak yang memutar ulang dengan sendirinya.
Setiap orang berhak memilih dan setiap pilihan pasti ada dampak, bahkan ada konsekuensi yang harus ditanggung.
Memang sulit untuk nggak menyalahkan orang lain atas apa yang kita derita. Tapi bukan berarti kita boleh seenaknya menumpahkan amarah pada mereka.
Percayalah, Sa. Memiliki satu saja teman itu jauh lebih baik daripada nggak punya sama sekali. Kita bisa menjadi teman.
Berdamailah dengan egomu. Jangan lagi anggap orang lain lebih rendah atau musuh. Aku tau kamu nggak jahat. Aku tau kamu nggak bahagia. Dan aku yakin kamu juga pernah merasa kesepian dan berpikir untuk menyerah. Putus asa. Iya, kan?
Kalau kamu memang menyukai Andreas, perjuangkan dia dengan cara yang adil. Adil yang berarti benar-benar tidak merugikan siapa pun. Berhenti berjuang bila ternyata tidak ada peluang, itu juga sebuah keadilan untuk dirimu sendiri. Pandanglah adil dari sudut pandang yang positif supaya adil yang kamu jadikan perisai saat memperjuangkan cinta tidak justru menjadi blunder.
Hanya dengan keyakinan bahwa semua adil dalam cinta, berarti kamu bisa seenaknya berjuang untuk memaksa cinta orang lain berpaling padamu, kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Pikirkan baik-baik, tanyakan pada hatimu sebenarnya apa yang kamu harapkan ....
Gadis itu duduk termenung di kapel, punggung menyandar lemas pada dinding. Tadi, setelah ibadat penutup selesai dia tidak ikut meninggalkan kapel. Di tangannya ada satu pack obat sakit kepala yang tadi siang dia beli di koperasi yayasan.
Aku baik? Bullshit.
Putus asa, ya? Mungkin.
Senyum sinis tersungging di bibirnya yang terlihat kering.
Kamu bukan cenayang, kan? Gadis aneh.
Lisa merasa bahwa Yudith telah membaca pikirannya. Bagaimana bisa begitu kebetulan. Baru kemarin malam dia berpikir hendak bunuh diri karena tidak tahu lagi bagaimana caranya bisa menang dari Yudith, sekaligus untuk membuat orang tua dan orang-orang di sekitar menyesal karena sudah mengabaikannya. Dan hari ini, Yudith bicara tentang putus asa dan ingin menyerah, seolah sudah tahu apa yang Lisa rencanakan.
Lisa menatap terpaku dengan sorot mata kosong pada obat-obat yang ada di tangannya. Pikirannya kalut luar biasa, tanpa sadar air mata pun mengalir.
"Buk, Yah ...." Dia menggumam sangat lirih.
Sementara itu, Yudith yang merasa khawatir, terus-menerus memikirkan Lisa. Duduk menghadap buku di meja belajar yang ada di kamar, tatapannya tampak kosong. Ririsma yang sedang asyik berbalas pesan sambil duduk di kasur Yudith tidak menyadari kalau sahabatnya itu sedang melamun.
Pernah berada dalam situasi di mana semua mata menatapnya penuh kebencian, semua mulut menghujat. Batin merasa tertekan, tetapi tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada orang lain. Hanya bisa menangis dan menjerit dalam hati, sempat pula terbersit dalam hati keinginan untuk mati supaya semua penderitaannya berakhir. Membuat Yudith benar-benar bisa memahami situasi Lisa.
Dia beruntung karena masih memiliki sahabat-sahabat yang menyayanginya. Sahabat yang selalu siap sedia membelanya. Karena merekalah Yudith kuat dan mampu bertahan hingga sekarang.
Tidak ada yang tahu isi hati Yudith yang sesungguhnya. Tidak ada yang akan menyangka kalau gadis tegar itu pernah punya keinginan untuk mati. Rahasia itu tersimpan rapat dan hanya dirinya sendiri serta Tuhan yang tahu.
Begitu banyak pengalaman pahit yang dia rasakan, membuatnya bisa berempati pada Lisa. Dia tidak pernah memandang Lisa sebagai seseorang yang membencinya, tetapi sebagai seseorang yang kesepian, butuh perhatian, butuh teman, butuh didekati, diarahkan, dan temani.
__ADS_1
Walau tidak mempunyai banyak teman, tetapi di masa-masa sulit Yudith masih punya Ririsma dan Suster Vero, sedangkan Lisa benar-benar sendirian.