YUDITH

YUDITH
DIA MENERORKU


__ADS_3

Bus berhenti, Ririsma langsung bergegas turun, menyerobot antrean menyebabkan sedikit kekacauan dan membuat beberapa orang menggerutu.


"Maaf, sudah nggak tahan!" Sesampai di luar bus dia berdiri sambil melambaikan tangan sebentar lalu kembali mengayun langkah-langkah lebar.


"Dasar resek nggak sopan." Seseorang menggerutu cukup keras, menarik perhatian Andreas yang berjalan mengantre di belakang Yudith.


Wajah Lisa sedikit tersipu saat pemuda itu menatapnya. Dia membuang muka pura-pura tidak tahu kalau Andreas tadi melihat ke arahnya. Toh cuma sekilas.


Turun dari bus, Andreas langsung menggandeng tangan Yudith. Sedikit menariknya merapat untuk menghindari senggolan orang-orang yang keluar dari bus dengan tergesa-gesa.


"Mau langsung naik apa duduk dulu di depan kantin? Aku bawa kue bolu gulung, mau dimakan sekarang apa nanti pas jam istirahat?"


"Nanti saja." Yudith hanya menjawab singkat sambil mengarahkan langkah ke gerbang tengah yang memisahkan kampus dengan sekolahan. Itu artinya dia ingin langsung naik ke kelas. Andreas mengiringinya dengan tangan terus bertaut. Tidak merasa sungkan atau malu pada banyak mata yang memandang. Yudith pun sudah ada di tahap tidak peduli lagi, dilarang pun percuma---Andreas tidak mau dengar.


Saat menaiki anak tangga, terdengar suara langkah menghentak-hentak dari arah belakang mereka. Tidak perlu menoleh untuk mencari tahu siapa dia karena sosok berambut pendek itu segera muncul di hadapan keduanya---tanpa basa-basi berjalan mendahului.


Baik Andreas maupun Yudith bukanlah pribadi yang suka mencela atau membicarakan orang di belakang. Jadi, melihat tingkah Lisa barusan, mereka pun tidak mengatakan apa-apa meski dalam hati heran juga tidak habis pikir, kenapa Lisa selalu saja bersungut-sungut?


Sudah menjadi tradisi kalau sebelum jam kuliah pertama dimulai kelas ini kosong, karena setelah turun dari bus para mahasiswa lebih memilih untuk duduk-duduk di area bawah, menunggu sampai bel masuk berbunyi. Lisa, tidak mempunyai teman dan tidak mau bergaul dengan yang lain, selalu menjadi orang pertama dan satu-satunya yang berada di kelas di jam-jam begini.


Gadis itu masuk ke kelas dengan hati kesal. Sesampai di kursinya hendak membanting buku-buku yang dibawanya di atas meja, tetapi urung karena di sana ada selembar kertas bertuliskan ancaman.


"Apa-apaan ini?" Dia menyambar kertas itu dan membaca tulisannya yang cukup panjang.


Aku tahu apa yang sudah kamu lakukan. Akui saja perbuatanmu itu atau kamu lebih suka polisi terlibat. Aku tidak main-main. ;)


"Ughf, sialan!" Kertas itu pun bernasib sama dengan dua kertas sebelumya, diremas hingga menjadi gumpalan. Wajah Lisa mengeras, tatapan nanar, tangannya yang mengepal erat-erat bergetar. Yudith, awas aja kamu.


Terdengar langkah-langkah mendekat, Lisa langsung balik badan. Saat melihat Yudith seketika amarahnya membutakan akal sehat. Gadis itu menyongsong Yudith, hentakan kakinya yang begitu tegas bagi Andreas terdengar seperti alarm. Pemuda itu buru-buru berdiri menghadang di depan Yudith.


Tidak peduli pada Andreas, Lisa melempar gumpalan kertas ke arah Yudith dan mengenai wajahnya. "Dasar resek! Munafik! Di depan alim tapi di belakang kayak setan!"


"Loh loh loh, kok langsung marah-marah. Ada apa to ini?" Andreas mencegah tangan Lisa yang mengayun ke belakangnya hendak menyerang Yudith.


Sementara Andreas tidak memperhatikan dirinya, Yudith menunduk untuk memungut kertas yang tadi dilempar oleh Lisa.


Setelah kertas itu terurai, dia membatin, jadi gara-gara ini dia tadi buru-buru?


"Kamu tu ya, mau aja ditipu Yudith! Di depan alim lemah, tapi di belakang bisa melakukan perbuatan yang menjijikkan!"


Seperti kantong serut yang ditarik mengkerut, kedua alis Andreas bertaut dan kerutan di antaranya terlihat dalam. "Yudith nggak kayak gitu," ujarnya santai. "Kamu pasti sudah salah paham, Sa."


"Salah paham apanya. Nih, lihat! Dia menerorku!" Lisa berhasil merampas kertas dari tangan Yudith, tanpa pikir panjang lantas memberikannya pada Andreas. "Baca, tu, baca! Mana ada orang alim bikin surat ancaman kayak gitu?! Pikir, dong! Dan itu bukan yang pertama!"


Memandangi tulisan yang tertera di atas kertas, kerutan di dahi Andreas semakin dalam. Dia sangat mengenali tulisan Yudith, dan tulisan di kertas itu jelas bukan tulisannya.


"Ini tadi kamu dapat dari mana?" Andreas bertanya masih dengan sikap tenang.


"Di mejaku, lah! Aku masuk sudah ada di situ!" Lisa menunjuk ke arah mejanya dengan berapi-api.

__ADS_1


Andreas semakin tidak mengerti. Bagaima bisa Lisa menuduh Yudith yang baru saja datang kalau kertas itu sudah ada si sana saat dia masuk.


"Logikamu piye? Yudith baru datang sama aku, lho. Lagian, ini bukan tulisan Yudith sih." Andreas mengembalikan kertas pada Lisa. Sikapnya yang biasa-biasa saja membuat Lisa geram bukan kepalang.


"Kalau bukan dia siapa lagi, hah?! Setan?!" Gadis itu meraung sambil melemparkan kertas pada Yudith yang langsung menangkapnya.


"Ya, mana aku tahu, Sa." Andreas membalas santai, tidak terlalu hirau pada kemarahan gadis itu. "Yuk, Dith, duduk dulu," ujarnya sambil menggandeng pergelangan tangan Yudith.


Melihat adegan itu hati Lisa serasa terbakar. "Halah, jangan pura-pura sakit kamu!" Dia berteriak sambil menarik tangan Andreas lalu mendorong Yudith hingga jatuh terduduk di kursinya.


"Lisa! Apa-apaan sih kamu?!" Andreas tanpa sadar menarik tangan Lisa sangat kasar lalu menghempaskannya begitu saja, hingga tubuh gadis itu terhuyung-huyung dan menabrak kursi. Tidak menyesali perbuatannya, Andreas maju menghampiri Lisa yang berdiri sambil mengelus pinggul yang terasa sakit dan panas karena menghantam kursi. "Sekarang jelaskan. Kenapa kamu menuduh Yudith? Dan beritahu aku, apa alasan Yudith sampai mengancamu seperti itu? Bawa-bawa polisi segala."


Seperti disengat listrik ribuan volt, perut dan dada Lisa serasa berdesir, sampai-sampai bisa merasakan aliran darah di bawah kulit. Nadi berdenyut kuat, tubuh terasa ringan seperti tidak berpijak. Lagi-lagi dia harus menelan kekalahan yang sangat pahit karena gegabah. Dia benar-benar lupa kalau Andreas tidak tahu menahu tentang kejadian yang sebenarnya.


Setelah akal sehatnya kembali, barulah dia menyadari kalau perkataan Andreas benar, Yudith tidak mungkin yang menulis surat ancaman itu. Lalu, siapa?


"Wah, lo berdua, ya. Bikin susah aja. Gue cariin di depan kantin nggak ada. Gue sampek lari-lari ke sini."


Perhatian mereka beralih ke pintu. Ririsma melangkah masuk, napas sedikit ngos-ngosan tidak menghalanginya mengoceh. Tiba-tiba terbersit dugaan dalam benak Lisa. Gadis itu berbalik, hendak merampas kertas dari Yudith, tetapi Yudith sudah tidak memegangnya lagi. Diam-diam gadis berkulit eksotis itu sudah memasukan kertas ke dalam lipatan buku.


"Mana kertas tadi?!" Lisa bertanya sengit, tetapi Yudith tidak menjawab. Hanya menatap datar.


Tatapan Yudith kembali menyadarkan Lisa akan bahaya yang mengancam. Kalau dia terus memaksa memperkarakan soal surat ancaman tadi, yang ada perbuatannya akan diketahui Andreas dan Ririsma juga. Dia tidak boleh dan tidak mau gegabah lagi.


"Lo kenapa marah sama Yudith?" Ririsma melewati Lisa, dan dengan sengaja menyenggol lengannya hingga tubuh gadis berambut pendek itu sedikit terhuyung.


"Bukan urusanmu! Dasar resek!" Lisa pun akhirnya kembali ke tempat duduknya.


Bisa jadi dia tidak ke kamar mandi, tetapi meletakkan surat ancaman itu lalu sembunyi di kamar mandi, kemudian muncul dengan napas dibuat ngos-ngosan seolah habis berlari dan menaiki anak tangga. Hanya itu kemungkinan yang terpikirkan karena mereka tidak berpapasan di tangga. Kalau Ririsma turun seharusnya mereka tadi bertemu di tangga.


Akan tetapi, apa alasan Ririsma melakukan itu pada Lisa? Kenapa juga Lisa sangat yakin menuduh Yudith? Meneror katanya. Mustahil sekali. Andreas menatap punggung Ririsma, gadis itu sedang berbicara dengan Yudith.


Apakah mereka menyembunyikan sesuatu dariku? Apa jangan-jangan ....


Andreas menggeleng pelan. Dia tidak mau berprasangka buruk dan berharap yang terjadi pada Yudith adalah murni kecelakaan.


__________


Pria gagah berkumis tipis itu turun dari lantai dua hanya mengenakan piyama. Dia baru saja kembali sekitar satu setengah jam yang lalu. Setelah beristirahat, sekarang mau mengisi perut yang sudah keroncongan. Karena sudah waktunya makan siang, di meja makan pun sudah disiapkan hidangan lengkap. Dahinya mengernyit saat melihat ada tiga piring. Hanya ada dia dan istrinya, kenapa disiapkan tiga piring?


"Kok ada tiga piring, Yah?" Sang istri muncul dan langsung menanyakan pertanyaan yang belum sempat pria itu tanyakan pada asisten rumah tangganya.


Seorang perempuan berpakaian pelayanan lengkap dengan celemeknya, muncul dari arah pintu sebelah kanan.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Kemarin malam Mas Dewangga nginap. Tadi pagi sebelum Tuan dan Nyonya pulang, dia pergi ke kampus. Katanya akan pulang ke sini lagi untuk makan siang."


"Oh, begitu. Tumben anak itu," ujar Tuan Wijayanto.


"Mungkin ada kegiatan kampus yang mendesak. Kan lebih dekat dari sini," balas sang istri.

__ADS_1


Si asisten rumah tangga segera undur diri tanpa diperintah karena kedua majikannya sudah mulai sibuk mengobrol sambil makan. Baru makan beberapa suap, suara mesin sepeda motor berhenti di depan rumah menarik perhatian mereka.


"Nah, itu dia pulang." Nyonya Wijayanto memanjangkan leher untuk melongok ke depan melewati pintu ruang tengah dan ruang tamu yang lurus sejajar.


Sosok tinggi Dewangga melangkah masuk sambil melepaskan jaket yang dikenakan. Pemuda itu tahu om dan tantenya sudah di rumah, tadi asisten rumah tangga sudah menghubunginya. Makanya setelah kegiatan kampus usai dia langsung pulang.


"Halo, Om, Tan," sapanya riang begitu sampai di ruang makan.


"Hai, Ngga. Sini duduk, makan," ujar Nyonya Wijayanto.


"Kamu tumben-tumbenan nginep." Tuan Wijayanto mengerling sang keponakan yang sudah duduk di depannya.


"Makan dulu, ah, laper. Eh iya belum cuci tangan." Dewangga buru-buru berdiri dan pergi ke wastafel yang ada di samping pintu dapur. "Aku mau bicara soal Lisa," ujarnya kemudian sambil kembali duduk.


Tangan Nyonya Wijayanto yang sudah hendak menyuapkan nasi ke mulut seketika berhenti. "Lisa? Ada apa lagi? Kalian sering telponan, ya?"


"Jangan bawa kabar buruk aja dach. Soalnya sudah beberapa kali dia telpon minta pulang."


"Jadi bener," ujar Dewangga lirih sebelum memasukkan makanan ke mulut. Maksudnya, jadi benar kata Ririsma kalau Lisa telepon ibunya minta pulang.


"Maksudnya?" Nyonya Wijayanto menatap intens pemuda yang dahinya tampak lebar karena rambutnya disingkap ke belakang menggunakan bandana.


"Makan dulu, Tan. Laper." Dewangga tidak mau merusak acara makan siang. Dia ingin berbicara di tempat yang lebih nyaman dan suasana lebih kondusif. Seusai makan, ketiganya duduk di gazebo, di halaman belakang dekat kolam renang.


"Ada apa, buruan cerita." Nyonya Wijayanto menepuk pundak Dewangga.


"Tante sama Om, ada rencana mau bawa Lisa pulang nggak? Soalnya kuliah di sana itu mentok hanya bakal jadi guru, guru agama."


"Nggak," jawab Tuan Wijayanto lugas dan tegas. "Atau setidaknya belum. Dia harus benar-benar berubah dulu kalau mau pulang. Tidak masalah jadi guru agama, malah bagus."


Nyonya Wijayanto menghela napas panjang. "Kamu nggak usah belain dia lagi. Sudah waktunya dia dididik lebih serius. Mau jadi apa kalau terus bergaul sama anak-anak brandal itu."


"Jadi, bela-belain nginep hanya mau bantuin Lisa?" Tidak salah Tuan Wijayanto berpikir demikian, karena pembicaraan Dewangga seperti mengarah ke sana.


"Nggak." Mengeleng cepat, nada suaranya pun tegas. Dewangga membuat om dan tantenya bertukar pandang heran. "Aku cuma mau mastiin kalau Om dan Tante tetap pada pendirian, apa pun alasannya tetap nggak akan bawa Lisa pulang."


"Sebenarnya ada apa to, Ngga?" Omongan Dewangga membuat Nyonya Wijayanto merasakan sebuah isyarat. Anak dari kakak laki-lakinya itu seperti hendak menyampaikan sesuatu yang penting.


Dewangga menatap om dan tantenya bergantian. "Aku kasih tau, tapi Om dan Tante harus tetap tenang. Oke?"


"Kamu ini. Cepat bilang." Tuan Wijayanto menatap intens dan sepertinya sangat penasaran.


"Iya, buruan bilang."


Dewangga menghela napas panjang, setelah mengembuskan perlahan, berkata, "Lisa mendorong temannya dari tangga---"


"Hah?!"


"Apa?!"

__ADS_1


"Temannya sempat dirawat di rumah sakit karena mengalami gegar otak ringan."


Tuan dan Nyonya Wijayanto menatap nanar, setelah seruan barusan mulut tetap menganga.


__ADS_2