YUDITH

YUDITH
JANGAN SAMPAI DIEMBAT ORANG


__ADS_3

Ririsma tidak tahu Dewangga sedang merencanakan apa. Dia menuruti kemauannya hanya karena tidak ingin orang menyebalkan itu menyempil di antara hubungan Yudith dan Andreas. Gadis itu bahkan sudah terpaksa berjanji untuk bertemu lagi di hari minggu bebasnya, karena Dewangga bilang ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.


Itu pun harus dengan satu syarat, dia tidak mau diantar pulang malam ini. Berat hati, Dewangga pun melepas Ririsma pulang naik angkot. Dipikir-pikir lagi, Ririsma jadi merasa kalau sebenarnya Dewangga seperti sengaja mengulur-ulur waktu supaya masih mempunyai alasan untuk bertemu dengannya lagi.


Awas saja kalau macam-macam, ancamnya dalam hati.


Gadis itu menekankan pada diri sendiri kalau Dewangga bukan orang baik. Dia adalah orang ketiga yang sedang mencoba masuk di antara Andreas dan Yudith.


Sesampai di kompleks asrama putri, suasana sangat sepi karena semua penghuninya masih berada di ruang makan. Sejenak dia mengesampingkan segala pemikiran tentang Dewangga. Langsung masuk ke kamar dan membanting diri di tempat tidur Yudith. Kelopak matanya baru saja menutup, tetapi segera setelahnya kembali terbuka.


Wajah Dewangga yang tengah tersenyum menyebalkan tergambar jelas di angan, membuatnya merasa seperti diteror. "Ughf, sialan." Dia menggerutu sambil memukul kepalanya bertubi. "Enyah, enyah, enyah. Enyah lo sialan."


Drrrt drrrt


Suara getaran dari ponsel menghentikan aksi Ririsma, buru-buru dia bangun dan mengeluarkan benda itu dari tas ransel mininya yang tergeletak di dekat kaki.


"Tsk, dia lagi. Mau apa sih?" Begitu melihat nama pengirim pesan, Ririsma langsung menggerutu sambil memutar mata bosan.


Sudah sampai apa belom? Btw, dua minggu lagi terlalu lama. Apa nggak bisa kamu tukeran jadwal sama temanmu?


"Idih, dasar ngelunjak. Memangnya lo pikir lo tu siapa?" Sambil mengomel dia mengetik balasan.


Nggak!!!!


Setelah itu menonaktifkan ponselnya dan beranjak untuk berganti pakaian karena sebentar lagi makan malam usai, dan setelah itu ibadat penutup. Dia boleh alpa makan malam, tetapi tidak boleh alpa ibadat penutup, karena dalam surat izinnya tertulis batas waktu keluar hanya sampai jam setengah delapan.


Sementara itu, sambil telentang di tempat tidur berukuran cukup besar, Dewangga tersenyum geli setelah membaca balasan dari Ririsma. Dia bisa membayangkan bagaimana raut wajah gadis itu sekarang.


"Benar-benar menarik." Senyumnya semakin lebar saat seolah-olah suara Ririsma yang sedang mengomel pun terngiang di telinga.


Seumur-umur belum pernah berhadapan dengan gadis yang berani terang-terangan menolaknya, bahkan tidak segan-segan berbicara dan berlaku kasar, membuat Dewangga memberi nilai lebih pada Ririsma.


Semakin dipikirkan dan dibayangkan, gadis Jakarta yang suka blak-blakan itu semakin mempengaruhi hatinya. Dia benar-benar merasa tertantang untuk menaklukkannya walau mungkin cara yang dilakukannya sedikit kotor. Dalam hati dia mengucap maaf pada Andreas dan Yudith.


Setelah puas berangan-angan, dia kembali mengetik pesan. Setelah mengirimnya bergegas bangkit untuk ke kamar mandi. Pesan Dewangsa sampai tujuan. Di dalam almari, ponsel Lisa berkelip-kelip. Gadis itu tidak membawa ponselnya karena tengah mengikuti ibadat penutup.


Sekarang dia sudah mulai sedikit patuh pada peraturan, tidak seperti dulu di awal-awal datang. Ponsel selalu dibawa ke mana-mana, bahkan saat sedang berdoa bersama sekalipun, akibatnya si ponsel disita dan baru dikembalikan seminggu kemudian. Itu pun masih ditambah hukuman kerja sosial. Kejadian yang sama terus berulang beberapa kali hingga akhirnya dia merasa jera sendiri.


Ibadat penutup yang tidak lebih dari sepuluh atau lima belas menit usai, Lisa bergegas kembali ke kamar dan langsung menggambil ponselnya. Satu pesan dari Dewangga membuat bibirnya mengerucut sebal dan setelah membaca wajahnya langsung merah padam. Pesan berisi ancaman itu membuatnya naik darah, tetapi juga tidak berdaya.


Dasar sinting. Aku peringatkan, jangan berani macam-macam lagi pada Yudith. Kalau masih nekat, pesan yang kamu kirim waktu itu bisa menjadi bukti di kantor polisi. Kamu sudah bukan lagi bocah di bawah umur yang kebal hukum. Jangan pikir aku hanya menggertak. Coba saja kalau nggak percaya.

__ADS_1


Lisa menelan ludah, tetapi yang menyusur turun di kerongkongan serasa padat bagai batu, sangat menyakitkan. Bodoh. Seharusnya waktu itu dia tidak sok jagoan mengakui perbuatannya pada Dewangga. Niatnya hanya untuk mengancam supaya kakak sepupunya itu mau membantunya, tetapi malah jadi senjata makan tuan.


"Sialan." Gigi gerahamnya mengetat, rahang menonjol tegas membuat wajah oriental itu tampak garang.


Dia tidak rela harga dirinya jatuh gara-gara Yudith si gadis kampung. Dia tidak iklhas kalah bersaing dengan gadis biasa-biasa saja itu. Akan tetapi, apa yang bisa Lisa lakukan untuk mengalahkan Yudith? Beberapa cara yang sudah dia lakukan mêntal semua, bahkan berbalik pada dirinya sendiri.


Gadis itu perlahan duduk di tepi tempat tidur lalu termenung. Dalam hati dia bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dirinya inginkan? Andreas? Atau hanya sekadar ingin menunjukkan superioritasnya dengan mengalahkan Yudith yang digadang-gadang sebagai sosok yang paling disayang oleh para petinggi yayasan.


Semakin dipikirkan, dia pun semakin tidak mengerti kenapa begitu tidak menyukai Yudith, padahal gadis pendiam dan cuek itu tidak pernah menyinggungnya sama sekali. Perlahan dan pasti, Lisa mulai menyadari bahwa hatinyalah yang selalu merasa, kalau, setiap gerak-gerik Yudith seperti dimaksudkan untuk menantangnya?


Dia membenci Yudith karena gadis itu adalah orang pertama yang telah membuatnya kehilangan perhatian orang-orang di sekitar. Di asrama ini tidak ada yang memandangnya istimewa, padahal sebelumnya dia selalu menjadi pusat perhatian.


Dulu tidak ada seorang pun yang berani mendekati atau menyentuh barang yang sudah diincarnya. Namun sekarang, seseorang bernama Yudith tidak hanya mengabaikannya, tetapi juga dengan berani sudah memiliki sosok paling menarik yang dijumpainya di tempat ini, Andreas.


Bagaimana caranya merusak reputasi baik gadis itu? Apa yang harus dia lakukan? Mencelakainya hanya akan menyeret dirinya sendiri dalam masalah. Akan lebih menyenangkan bila bisa menghancurkan gadis itu tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Masih belum tahu cara apa yang akan ditempuhnya, tetapi hanya dengan memikirkan hasilnya saja bibir Lisa menyeringai puas.


"Gila lo ya? Senyum-senyum sendiri ...."


Demi Tuhan, suara Ririsma membuat bahu Lisa menjengit, bahkan punggung yang tadinya agak melengkung santai seketika tegak.


"Sialan! Bisa nggak sih ketuk pintu dulu?!" Seperti biasa, sakelar permusuhan otomatis ON bila berhadapan dengan Ririsma, Lisa pun tidak bisa bicara baik-baik. Bawaannya pengin mengamuk.


"Ngapain ketuk pintu yang sudah kebuka? Kurang kerjaan banget." Ririsma berdiri dengan dagu terangkat dan tangan bersedekap.


"Mau apa sih?"


"Lo sama kakak sepupu lo sekongkol mau ngancurin hubungan Andreas dan Yudith, kan? Ngaku!"


"Hah?" Lisa melongo.


Ririsma mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya tepat berada di depan wajah Lisa, sangat dekat sampai pucuk hidung hampir bersentuhan, memaksa Lisa menarik tubuh ke belakang.


"Ih! Apaan sih?!"


Bergeming meski Lisa membentaknya, Ririsma menyipitkan mata dan berucap dari sela gigi yang dikatup rapat, "Lo dengar baik-baik ya. Berani macam-macam, gue lawan lo. Paham?"


Setelah itu, Ririsma langsung menolak bahu Lisa hingga gadis itu terkapar di kasur. Setelah itu, sambil menusuk dahi Lisa, Ririsma kembali berujar, "Camkan itu!"


"Persetan! Memangnya aku takut sama kamu!"


Lisa menepis tangan Ririsma lalu bangun hendak mendorongnya, tetapi gagal karena Ririsma sudah terlebih dahulu menarik diri, dan kini berdiri tegak menantang.

__ADS_1


"Tunggu sampai gue bisa membuktikan kalau memang lo yang sudah mendorong Yudith."


Seulas senyum sinis tersungging, mata mengerling tajam, lalu sambil bersiul pelan Ririsma meninggalkan Lisa yang membisu dengan wajah tegang dan pasi. Reaksi gadis itu membuat kecurigaan Ririsma semakin menguat. Dia bahkan sudah memiliki rencana untuk pura-pura berkompromi dengan Dewangga demi mencari tahu kebenarannya.


Yakin tahu atau sudah tahu sekalipun hanya akan percuma kalau tidak ada bukti untuk menyudutkan si pelaku.


______


Tidak lama setelah makan dan minum obat Yudith pun tertidur, sedangkan Andreas yang masih belum mengantuk, padahal sudah pukul sebelas lebih, tampak asyik membaca novel misteri yang waktu itu dia beli untuk Yudith. Ririsma yang membawanya ke sini. Dalam situasi sekarang ini, membaca novel yang sebelumnya sangat membosankan bagi Andreas, tiba-tiba saja menjadi hal yang sangat menarik, apalagi ceritanya ternyata sangat seru.


Tentang seseorang yang berusaha membongkar kasus dengan cara melakukan manipulasi. Menipu berbagai pihak, bahkan rekan-rekannya, demi menangkap si penjahat.


"Pantesan Yudith suka baca novel misteri." Pemuda itu bergumam sembari menutup novelnya, lalu meletakkan ke atas meja, kemudian meraih tangan Yudith dan memandangi wajahnya.


Tadi setelah Ririsma dan Dewangga pulang, Pak Heru dan istrinya, serta Suster Rosa datang menjenguk sebentar. Mereka hanya kira-kira setengah jam di situ, pulang setelah seorang perawat datang mengantarkan makanan untuk Yudith.


Drrrt drrrt


Ponselnya bergetar, satu pesan masuk, buru-buru dia membukanya. Ternyata dari Ririsma.


"Sudah jam segini belum tidur dia," gumamnya.


Sekarang lo sama Dewa dekat? Gimana ceritanya?


Dahi Andreas mengernyit. Bahkan hanya berupa tulisan saja dia bisa merasakan nada sengak dalam pesan Ririsma itu. Dia pun membalas,


Nggak dekat juga sih. Dia minta bantuan aku buat deketin kamu, tapi aku bilang usaha sendiri.


Balasan datang di menit yang sama,


Awas lo macam-macam di belakang gue. Dan lo nggak usah baik-baik amat sama tu orang dech. Ingat, dia kakak sepupunya Lisa.


"Tsk, mulai dech." Pemuda itu berdecak sambil menggeleng kecil lalu mengetik balasan.


Nggak baik curigaan gitu. Mas Dewa baik kok. Kenapa nggak coba buat dekat biar lebih tau gimana orangnya.


Nggak usah sok bijak. Jagain baik-baik aja tu Yudith. Diembat orang baru tau rasa.


Balasan Ririsma membuat Andreas tersenyum geli.


No way. Sudah, tidur sana. Aku juga mau tidur.

__ADS_1


Setelah itu, tidak ada balasan lagi dari Ririsma. Andreas pun  menonaktifkan ponselnya, kemudian merebahkan kepala di tepi brankar, tepat di dekat tangan Yudith yang digenggamnya.


__ADS_2