YUDITH

YUDITH
KEPUTUSAN ADA DI TANGANMU


__ADS_3

Segalanya sudah dikoordinir dengan baik. Jadi, begitu Tuan dan Nyonya Wijayanto tiba di yayasan sekitar pukul delapan pagi, petugas piket pintu langsung mengantarkan mereka ke rumah sakit.


Dewangga yang tidak tahu kalau om dan tantenya akan datang, langsung terlonjak dari duduk ketika keduanya masuk. Namun, kedua orang dewasa itu tidak hirau. Mereka langsung menghampiri Lisa yang masih tidur nyenyak dan secara tidak langsung memaksa Dewangga bergeser dari tempatnya.


Sekitar lima menitan ruangan tidak terlalu luas dengan dua tempat tidur itu hanya diisi oleh suara sedu sedan Nyonya Wijayanto. Setelah itu, barulah dia berbicara pada Dewangga, meminta untuk bertemu dengan Yudith dan orang yang pertama kali menemukan Lisa dalam keadaan sekarat.


Dinamika kerja para petugas yayasan sangat terstruktur. Dalam segala hal pihak-pihak terkait selalu saling berkomunikasi sehingga ketika sesuatu dibutuhkan, tidak perlu lagi meminta persetujuan sana-sini. Jadi, begitu Dewangga menyampaikan keinginan Nyonya Wijayanto kepada salah seorang petugas jaga rumah sakit, tidak sampai sepuluh menit kemudian mereka sudah berkumpul di ruang khusus yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Dewangga, Ririsma, dan Yudith duduk bersama di sofa panjang, berhadapan dengan Tuan dan Nyonya Wijayanto yang masing-masing duduk di sofa tunggal. Selama hampir lima belas menit sudah cukup banyak yang mereka bicarakan, tetapi masih ada hal yang membuat kedua orang tua Lisa tidak mengerti.


"Jadi, sebenarnya siapa yang mempunyai ide atau rencana?" Nada bicara Nyonya Wijayanto tegas, tetapi tidak ada kesan mengintimidasi. Lebih mirip seperti ibu yang tengah meminta anak-anaknya berkata jujur. Matanya bergulir perlahan memandang mereka bergantian dan berhenti di Yudith.


Waktu itu Dewangga mengatakan bahwa Yudith meminta waktu dua mingguan untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik, tetapi setelah pembicaraan barusan, rasanya seperti ada yang tidak benar. Hanya dengan melihat sikap duduknya yang tegak dan matanya yang tidak canggung sama sekali menatap lawan bicara, membuat Nyonya Wijayanto merasa bahwa di dalam tubuh mungil itu seperti ada kebijaksanaan besar yang tidak akan membuatnya bertindak ceroboh. Hati kecilnya meragukan opini yang berusaha digiring Dewangga ke arah Yudith.


Ririsma'lah yang pertama kali bereaksi. "Maaf, sebenarnya, itu---"


"Aku." Dewangga segera memotong perkataan Ririsma. "Maksudnya, aku yang punya ide ...."


Ririsma yang merasa diri bukanlah pengecut dan tidak butuh untuk dilindungi, refleks menoleh dan mendelik pada Dewangga. Namun, pemuda itu tidak hirau, tatapannya tetap lurus pada om dan tantenya.


Sangat peka dan tidak ingin setelah ini situasi di antara Ririsma dan Dewangga bertambah kacau, Yudith segera menengahi. "Maaf, Bapak, Ibu ...." Suaranya sedikit parau, tetapi sangat sopan. Semua mata otomatis tertuju padanya, tetapi gadis itu bergeming dan terus bicara. "Semua salah kami dan kami sangat menyesal. Kami benar-benar minta maaf." Dia sedikit menunduk untuk menunjukkan kesungguhan, lalu melanjutkan, "Seharusnya kami nggak bertindak sendiri, tapi saya pribadi tetap berharap supaya perbuatan Lisa jangan dilaporkan dulu ...."


Yudith mengangkat wajah dan menatap kedua orang tua Lisa bergantian. "Di lingkup kecil yayasan, sangsi sosial akan terasa jauh lebih berat ... atau setidaknya, kita tunggu Lisa bangun dulu sebelum mengambil keputusan."


Tuan dan Nyonya Wijayanto saling bertukar pandang sejenak, lalu Nyonya Wijayanto kembali menatap Yudith dan berkata, "Dia sudah menyakiti kamu, tapi kamu masih memikirkan yang terbaik untuknya." Suara Nyonya Wijayanto parau dan bergetar, bibirnya sedikit mecembik dan mata berkaca-kaca. Dia terharu, dalam hati turut merasa bangga pada perempuan yang telah melahirkan Yudith.


Merasa diri tidak sebaik yang Nyonya Wijayanto pikirkan, Yudith menggeleng pelan. Dia pun sudah membuka mulut hendak menyangkal, tetapi menutupnya kembali karena tiba-tiba saja tidak tahu harus mengatakan apa. Pikirnya, apa pun yang dia katakan hanya akan terkesan seperti merendah, tetapi sebenarnya mengharapkan sanjungan yang lebih tinggi. Lebih baik diam maka tidak akan ada saling lempar pujian dan penolakan.


"Yudith hanya ingin memberi Lisa kesempatan." Ririsma yang sudah memahami karakter Yudith lahir dan batin tidak tahan untuk terus diam. Setelah itu, sesuai dengan citranya sebagai gadis tipe blak-blakan, dia berkata tanpa sungkan, "Lisa memang menyebalkan, tapi gue tau sebenarnya dia nggak jahat. Dia hanya nggak terbiasa dinomorduakan. Apalagi kalah dari Yudith yang di matanya hanya gadis udik kasta rendah, harga dirinya sebagai tuan putri dari keluarga kaya raya pasti terluka."


Tuan dan Nyonya Wijayanto merasa seperti ditinju tepat di ulu hati. Keduanya menarik napas berat bersamaan sambil saling menatap. Sementara itu, Dewangga yang tidak pernah mengira bahwa keberanian Ririsma berbicara blak-blakan tidak hanya terbatas di kalangan orang-orang seusianya atau yang lebih muda, cukup merasa miris dan sesak napas dibuatnya. Perkataan Ririsma barusan bisa diartikan teguran pada pola asuh Tuan dan Nyonya Wijayanto yang menurutnya kurang bagus.


"Sebenarnya, gue yang minta Dewangga bicara sama Bapak dan Ibu untuk memberi waktu dua mingguan. Gue nggak tahu kalau ternyata Yudith jatuh memang didorong oleh Lisa, tapi gue sudah curiga dan ada beberapa hal yang membuat kecurigaan gue semakin besar. Nggak nyangka aja Lisa yang sok-sokan mencelakai orang ternyata terlalu rapuh. Nggak punya nyali ...." Ririsma tanpa segan menatap Tuan dan Nyonya Wijayanto, bahkan tersenyum miring mencibir, lalu perlahan menunduk. "Gue yang seharusnya meminta maaf. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ...."


Ruangan itu mendadak terasa berkali-kali lipat lebih sunyi. Yudith sudah menduga ini pasti terjadi karena dia tahu Ririsma bukan tipe pengecut yang akan menerima perlindungan dari orang lain begitu saja. Namun, dia tetap saja tidak menduga kalau sahabatnya itu akan begitu berani berbicara penuh sarkasme terhadap orang-orang yang jauh lebih dewasa. Bahkan tidak berniat mengubah gue menjadi saya hanya supaya terdengar lebih formal dan sopan.


Sementara itu, baik Dewangga maupun Tuan dan Nyonya Wijayanto tiba-tiba kehilangan kemampuan bicara. Sebagai orang Jawa, kedua orang tua Lisa memang merasa sedikit tidak nyaman dengan penyebutan gue, tetapi itu bukan masalah besar. Bagi mereka yang terasa jauh lebih tidak nyaman adalah permintaan maaf Ririsma barusan, karena kesannya lebih mirip ungkapan: maaf, Lisa sudah mencelakai sahabat saya. Jadi, dia pantas menerima balasannya. Senyum miring gadis itu pun jelas artinya bagi mereka dan membuat aksinya menunduk saat mengucap maaf justru terasa seperti tamparan keras.


Dewangga tiba-tiba menyadari sesuatu. Ririsma terlalu tinggi untuk bisa diraihnya. Sebelum gadis itu berbicara barusan, masih ada arogansi di hati Dewangga bahwa Ririsma pasti juga akan bisa dia taklukkan. Namun sekarang, hatinya telah menciut seciut-ciutnya. Dua gadis yang duduk di sampingnya ini memiliki standar dan kualifikasi mereka sendiri, tidak bisa disamakan dengan gadis kebanyakan. Lebih baik tahu diri daripada mempermalukan diri sendiri.


"Gue tidak akan menutupi perbuatan gue. Kalau memang ingin diperkarakan, silakan. Tapi jangan sampai berat sebelah, perbuatan Lisa---"

__ADS_1


"Ris." Yudith meremas tangan Ririsma untuk menghentikan sahabatnya itu bicara. "Sudah cukup. Nggak usah diperjelas semua sudah jelas, kok."


Untuk mendinginkan hati Ririsma yang sedang panas, Yudith memaksa bibirnya yang terasa kaku untuk tersenyum. Sangat manjur seperti biasa, Ririsma paling tidak bisa membantah bila Yudith sudah berbicara.


"Terserah." Ririsma sedikit bersungut-sungut, lalu membanting punggung ke sandaran sofa dan bergeming dengan wajah kaku.


Nyonya Wijayanto menatap Ririsma dan gadis itu pun balik menatap tanpa berkedip. Sulit dijelaskan, bagaimana bisa aura gadis muda itu mampu menekan hingga perempuan dewasa yang selalu dihormati dan disanjung tinggi di kalangan kaum sosialita ini merasa sesak napas.


Atmosfer di dalam ruangan terasa semakin berat. Persediaan udara pun rasanya semakin menipis. Deru napas-napas berat terdengar samar. Suasana hening karena tidak seorang pun bicara akhirnya pecah saat seorang petugas jaga mengetuk pintu dan mengabarkan bahwa Lisa sudah bangun.


Sebelum mereka beranjak, Yudith berkata, "Ijinkan saya bicara dengan Lisa. Bapak dan Ibu bisa mendengarkan dari luar ruangan."


Tidak ada suara yang menyatakan persetujuan, tetapi anggukan dari kedua orang tua Lisa sudah cukup bagi Yudith. Gadis itu keluar dari ruangan lebih dulu dan begitu masuk ke ruang rawat Lisa langsung disambut dengan mata melotot.


Lisa yang duduk menyandar pada kepala tempat tidur, segera membuang muka, menatap ke luar jendela sambil mengoceh seperti orang mabuk, "Ngapain kamu di sini? Pergi sana, aku nggak peduli. Mau lapor kepala sekolah, lapor polisi, lapor saja sana. Nggak takut aku ...."


Yudith berdiri di samping brankar, menatap Lisa prihatin. "Takut atau nggak, itu ... hanya dirimu sendiri yang tau," ujarnya pelan dan datar. "Kamu harus tau, Sa. Sejak awal aku nggak mau melibatkan diri dalam masalahmu. Kamu menyukai Andreas, aku nggak melarang. Seperti yang kamu bilang, semua orang punya hak yang sama untuk dicintai atau mencintai dan segalanya adil dalam cinta. Aku sependapat denganmu. Aku memberi kesempatan hanya untuk membiarkan kamu bermain. Supaya kamu bisa melihat sendiri ...."


Yudith berbicara sangat tenang. Setiap kata diucap satu persatu dengan jelas. Aura penuh wibawa pun seolah membungkus suara gadis itu sehingga, walaupun dia berbicara cukup panjang tidak terkesan cerewet ataupun banyak bicara. Justru terdengar seperti seorang biarawati tengah memberi petuah.


"Andreas bukan piala yang harus dimenangkan, Sa. Dia milik dirinya sendiri, bukan milikku ataupun milikmu. Apa kamu tau, Sa? Adil yang kamu pahami dalam mendapatkan cinta seseorang itu nggak benar. Caramu itu bukan saja nggak adil buat Andreas, tapi juga nggak adil untukmu sendiri dan orang tuamu."


"Bukan urusanmu!" Lisa menatap nanar, mata dan wajahnya memerah.


"Cukuuup! Keluar, aku nggak mau dengar! Aku nggak butuh! " Lisa meraung, tanpa ampun melemparkan bantal pada Yudith dan tepat mengenai mukanya.


"Lisa!" Tuan Wijayanto muncul diikuti yang lain.


"Dith." Andreas menghampiri Yudith, memegang kedua lengannya, lalu membimbingnya menjauh dari Lisa.


Kehadiran pemuda itu cukup membuat Yudith terkejut. Sesaat kemudian dia menyadari kalau sekarang adalah jam istirahat. "An, aku---"


Andreas tersenyum lembut dan menggeleng kecil. "Nggak pa-pa. Aku nggak pa-pa. Kamu sudah mengatakan apa yang ingin kamu katakan pada Lisa, kan? Sebaiknya jangan di sini lagi."


Yudith tersenyum tipis dan mengangguk, lalu menatap Ririsma yang wajahnya merah padam. Tinju gadis itu mengepal erat. Dia buru-buru menghampiri sang sahabat. "Bukan urusan kita lagi. Ayo, pergi, Ris."


"Tunggu aku di kantin," pinta Andreas dan Yudith pun mengangguk. Setelah berpamitan, Yudith langsung menarik Ririsma yang sebenarnya masih sangat enggan pergi.


Andreas tetap tinggal karena ingin menyampaikan sesuatu pada Lisa. Dia sudah tahu semuanya dari Ririsma, baru saja. Pemuda itu sebenarnya sedang marah karena menjadi yang paling terakhir tahu tentang penyebab Yudith jatuh. Apalagi ditambah dengan kata-kata dan tindakan Lisa barusan, rasanya ingin mengamuk untuk melampiaskan kemarahannya. Namun, pada akhirnya berhasil menekan segala emosi dan saat berbicara tetap ramah.


"Bapak dan Ibu, sebelumnya saya mohon maaf karena tanpa sadar telah menjadi sumber masalah. Maaf juga pada Mas Dewangga. Dan Lisa," Andreas menatap tajam pada gadis yang sedang dipeluk ayahnya untuk ditenangkan, "aku tau, sebenarnya aku hanyalah alat yang hendak kamu pergunakan untuk menyakiti Yudith. Nggak ada cinta sama sekali, kan?"

__ADS_1


Walaupun Andreas berbicara dengan nada yang sopan, tetapi mereka bisa merasakan kemarahan pemuda itu mengalir dalam setiap kata yang terlontar. Mereka hanya diam, membiarkan saja pemuda itu menyampaikan uneg-unegnya. Walaupun bagaimana, semua ini terjadi karena kesalahan Lisa. Jadi, mereka merasa tidak punya hak untuk membela diri.


"Kamu hanya merasa nggak terima karena Yudith yang miskin, bisa kuliah saja karena biaya ikatan dinas, tapi ternyata bisa mengalahkanmu dalam segala hal. Mengalahkan kamu putri donatur tetap yayasan yang seharusnya dipermuliakan."


Lisa tidak berani menatap Andreas. Gadis itu menyusut ke dalam pelukan sang ayah dan menyembunyikan wajah di dadanya. Andreas tidak peduli dan terus bicara,


"Kalau pun ternyata memang benar ada rasa suka, aku ucapkan terima kasih. Tapi maaf, seperti yang pernah kamu katakan dulu, semua adil dalam cinta, aku pun berhak memilih cinta yang aku inginkan dan adil padanya. Kamu pun harus adil pada dirimu sendiri, Sa. Berikan cintamu pada orang yang layak. Memaksakan kehendak pada akhirnya kamu justru akan merugikan diri sendiri." Setelah itu, Andreas membungkuk sekilas ditujukan kepada Tuan dan Nyonya Wijayanto. "Saya permisi."


Tanpa basa-basi lagi, Andreas segera beranjak. Namun, di ambang pintu dia berhenti dan menoleh. "Kesempatan untuk memperbaiki diri sudah diberikan padamu, Sa. Gunakan sebaik-baiknya. Kalau kamu masih berkeras, aku akan benar-benar membawa kasus ini ke polisi." Setiap kata diucap datar, setelahnya segera melanjutkan langkah.


Sepeninggal Andreas, Tuan dan Nyonya Wijayanto saling bertukar pandang. Hanya dari sorot mata, mereka bisa saling memahami isi hati. Kalau tidak menyaksikan dan mendengar sendiri, mereka mungkin tidak akan percaya bahwa ada muda-mudi baru beranjak dewasa, tetapi kedewasaan cara berpikirnya seperti orang-orang yang telah puas mengecap pahit manis kehidupan.


Sebagai orang yang lebih tua, mereka merasa seperti telah ditampar. Akan tetapi alih-alih kesal, mereka justru merasa malu hati karena kenyataannya kualitas hasil cetakan mereka tidak sebaik anak-anak muda itu.


Lihat saja seperti apa Lisa dan bagaimana itu Dewangga? Meskipun tidak seburuk Lisa, tetapi tetap saja di usianya yang tiga atau empat tahun lebih tua, Dewangga belum bisa berpikir sedewasa Andreas. Apalagi Lisa, tidak ada seujung kukunya Yudith.


"Bagaimana, Sa? Sekarang kita pulang?" Suara Tuan Wijayanto , memecah hening yang terasa menyesakkan.


Mata Dewangga melebar dan segera berkata, "Tapi, Om. Masak iya, Lisa pulang begitu saja? Dia kan seharusnya mengakui perbuatannya ...."


"Dewangga!" Nyonya Wijayanto menghardik sembari melirik Lisa dengan gestur waswas. "Yudith sendiri sudah bilang kalau---"


Tuan Wijayanto menyela, "Korban boleh saja memaafkan, tapi tindak kriminal nggak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada sanksi supaya jera." Cara bicaranya tegas dan sepertinya Lisa paham maksud ayahnya. Gadis itu meremas lengan sang ayah dan tangisnya pecah.


"Tapi, Yah ...."


Tuan Wijayanto menatap sang istri tajam sembari menggeleng pelan. Perempuan itu mengerti maksud suaminya, tetapi sebagai seorang ibu, melihat putri satu-satunya terisak-isak sampai megap-megap, hati tidak tega juga. Akhirnya dia mendekat dan mengambil alih Lisa. Dalam pelukan sang ibu, tangis gadis itu malah semakin menjadi-jadi.


Nyonya Wijayanto paham betul situasinya. Mereka tidak bisa terus-terusan mengalah dari Lisa. Ucapan sang suami barusan hanyalah trik untuk menakut-nakuti putrinya.


Di antara orang-orang yang terlibat dalam masalah ini, Andreas yang tanpa sadar telah menjadi pemicu konflik, justru menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu-menahu bahwa Yudith celaka karena ulah Lisa. Marah? Iya dan dia sudah cukup melampiaskannya pada Lisa.


Kecewa? Tentu saja. Namun, dia bukan tipe orang yang suka mendramatisir keadaan. Baginya, Yudith dalam kondisi baik-baik saja sudah cukup.


Begitu Andreas tiba, Ririsma langsung pamit. Ada banyak hal yang harus diluruskan, dia ingin memberi mereka privasi. Namun, dia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Yudith dan Andreas malah tidak berbicara sama sekali. Mereka saling menguatkan hanya dengan jemari yang saling bertaut erat di bawah meja, di atas paha Andreas.


Dengan cara sederhana itu saja Yudith mampu memahami bahwa Andreas menyatakan diri akan selalu ada di sisinya apa pun yang terjadi, dan remasan lembut dari Yudith, Andreas pahami sebagai penerimaan. Mata saling menatap penuh ketulusan dan bibir pun secara alami mengukir senyum.


___________


Awalnya, Yudith memang berharap Lisa tidak dikeluarkan. Namun, setelah dipikir-pikir, mungkin sebaiknya gadis itu untuk sementara dibawa pulang. Yudith tahu kalau sebenarnya jiwa Lisa terluka dan lingkungan terbaik untuk mendukung kesembuhannya adalah lingkungan yang paling bisa membuat Lisa merasa nyaman dan aman. Di mana lagi kalau bukan di keluarga.

__ADS_1


Pada akhirnya, Tuan dan Nyonya Wijayanto pun membawa Lisa pulang. Pulang baik-baik bukan diusir seperti Bu Cici dulu.


TAMAT


__ADS_2