YUDITH

YUDITH
INGIN DIAWASI KAMU


__ADS_3

Seusai makan malam, para penghuni asrama putri berkumpul di Kapel untuk melakukan ibadat penutup. Sebelum ibadat dimulai, suster kepala asrama yang duduk di barisan paling belakang---duduk di kursi sementara yang lain di lantai beralas karpet---menilik mereka satu per satu. Matanya menyipit karena ada seseorang yang belum hadir.


"Lisa ke mana?"


Ruangan yang tadinya sunyi seketika riuh karena sambil menoleh ke sana-kemari mereka saling berbisik. Namun, tidak seorang pun mengetahui keberadaan Lisa.


"Teman sekamar Lisa siapa?"


"Saya, Suster." Seorang gadis yang duduk di pojok mengangkat tangan. "Tadi dia piket cuci piring. Setelah itu nggak tau ke mana."


"Yudith, cari Lisa. Yang lain, ayo dimulai ibadatnya."


Yudith segera meninggalkan tempat. Keluar dari Kapel yang berada di ujung lorong, dia melangkah lebar menyusuri koridor berpencahayaan redup menuju ke kamar Lisa yang letaknya berada di barisan seberang kamarnya.


Sementara itu, Lisa yang secara diam-diam masuk ke kamar Yudith, sekarang tengah asyik melihat-lihat sebuah kotak kayu yang di dalamnya bersisi berlembar-lembar kertas dan kartu ucapan. Kamar-kamar asrama memang tidak boleh dikunci, tetapi bukan berarti boleh sembarangan masuk ke kamar orang lain tanpa izin, apalagi di jam-jam sepi seperti sekarang ini. Tidak peduli pada konsekuensinya, Lisa yang menaruh dendam kepada Yudith karena merasa dipermalukan soal novel kemarin, nekat melakukan hal terlarang demi balas dendam.


"Ish, norak banget Andreas. Apa bagusnya sih si Yudith? Dipuja kayak tuan putri aja. Cantik juga nggak, kayak patung arca iya."


Gadis itu mengambil kotak itu lalu memasukkan ke saku jaketnya. "Rasain, bakal aku bakar semua."


Saat hendak ke luar, dia melihat novel misteri pemberian Andreas ada di atas tempat tidur, buru-buru dia ambil lalu bergegas keluar dari kamar Yudith. Selagi masih menutup pintu, Yudith yang muncul dari lorong arah kamar mandi melihatnya.


"Kamu ngapain?"


"Astaga!"


Lisa terlonjak dan novel yang dipegangnya terjatuh. Buru-buru dia mengambilnya kembali dan menyembunyikan di belakang, sebelum Yudith sempat melihat dan mengenali itu novel misteri pemberian Andreas. Namun ....


"Kembalikan," pinta Yudith sambil menadahkan tangan.


"Kembalikan apanya?!" Nada suara Lisa sengit, matanya mendelik---menantang.


"Novel pemberian Andreas." Yudith menatap tenang, cara bicaranya pun santai.


Refleks Lisa menunjukkan novel yang tadi disembunyikan. "Ini punyaku, kok. Aku kan juga beli," ujarnya bersungguh-sungguh terkesan ngotot.


"Coba lihat."


"Apaan sih?!"


Saat Yudith mengulurkan tangan hendak mengambil buku yang dipegangnya, Lisa spontan menjauhkannya ke samping. Karena gerakan itu kotak yang ada di saku jaket menyembul ke luar dan Yudith melihatnya. Buru-buru gadis itu menyambar jaket Lisa sekenanya lalu memegangnya erat-erat.


"Apa-apaan sih, kamu?!" Lisa tanpa sadar meninggikan suaranya.


"Kembalikan kotak itu," pinta Yudith tegas dengan wajah kaku dan tatapan tajam.


"Ish, sampah! Noh, ambil sendiri!"


Tanpa bisa dicegah, Lisa melemparkan kotak dan novel ke luar pagar pembatas.


"Kamu ...." Yudith tidak melanjutkan perkataannya. Dia bergegas menyeret Lisa ke Kapel, tidak peduli gadis itu meronta dan memaki.


Sesampai di Kapel dia mendorong Lisa masuk begitu saja. Setelah menutup pintu, dia berlari sepanjang koridor, bahkan saat menuruni anak tangga pun tidak mengurangi kecepatan. Sesampai di pelataran dia mendapati pak satpam sedang memunguti kertas-kertas yang berserak karena kotaknya sudah pecah.

__ADS_1


"Pak Bowo ...." Gadis itu datang dengan napas terengah-engah sambil menepuk-nepuk dada.


"Weh, Mbak Yudith kok lari-lari, to? Jangan-jangan yang jatuh ini punyanya sampean?"


Yudith mengangguk cepat. "Iya, Pak. Makasih sudah dibantu ngumpulin."


"Woo, lain kali hati-hati. Jangan sembrono lagi, lihat kotaknya jadi pecah." Pria bertubuh tambun itu menyerahkan semua kertas yang barusan dia pungut ke tangan Yudith. "Ini bukunya juga."


"Sekali lagi makasih, Pak." Yudith sampai membungkuk karena benar-benar merasa bersyukur sudah dibantu. Kalau tidak, bisa jadi kertas-kertas kecil yang baginya sangat berharga itu bakal diterbangkan angin.


"Iya, iya, sama-sama."


Sebelum beranjak, sekali lagi Yudith membungkuk, lantas sambil berjalan tergesa dia menata kertas dan kartu ucapan dari Andreas itu di dalam novel. Sesampai di lantai dua ternyata ibadat penutup sudah selesai. Yudith bergegas ke kamar dan menjumpai Ririsma di sana.


"Lisa bilang lo ke toilet. Sakit perut apa gimana?"


Pantas suster kepala asrama tidak memanggilnya karena alpa ibadat penutup, rupanya Lisa sudah berbohong. Yudith sama sekali tidak berterima kasih karena Lisa berbohong bukan untuk melindunginya, melainkan untuk menyelamatkan diri sendiri. Tidak mungkin, kan, Lisa akan mengatakan bahwa dirinya sudah masuk ke kamar Yudith diam-diam dan mencuri barangnya?


"Nggak, cuma kebelet aja."


Yudith sebenarnya tidak ingin ikut-ikutan berbohong, tetapi kalau dia mengatakan yang sejujurnya, bisa-bisa Lisa habis diamuk Ririsma.


Dahi Ririsma mengernyit saat melihat Yudith meletakkan novelnya di atas meja. Dia tahu betul tadi saat ditinggal ke ruang doa, novel itu ada di atas kasur. Kenapa sekarang dibawa-bawa? Ke toilet pula. Itu bukan gaya Yudith sekali.


"Ke toilet bawa novel? Yang benar aja lo. Terus kotak berharga lo di mana, kok, nggak ada?"


Sempat bingung tidak tahu harus ngomong apa, sedangkan hati tidak ingin berbohong lagi, Yudith merasa bersyukur dengan kedatangan dua teman sekamar mereka.


"Lisa juga dipanggil. Dia sudah duluan malah." Yang lain menimpali.


Sejenak Yudith dan Ririsma saling bertukar pandang. Kalau berhubungan dengan Lisa---tidak hanya mereka---hampir seluruh penghuni asrama pasti berprasangka buruk.


"Makasih." Yudith memecah keheningan lalu buru-buru menarik Ririsma ke luar. Dia tidak mau membuat Suster Eva, kepala asrama, menunggu lama.


Sesampai di sana mereka mendapati Lisa sedang duduk di satu-satunya kursi yang ada di kamar itu, sedangkan Suster Eva duduk di tepi tempat tidur. Dengan begitu sudah bisa dipastikan Yudith dan Ririsma harus berdiri.


Melihat wajah songong Lisa kerap dihiasi senyum sinis yang terkesan, seperti sedang berpuas diri akan sesuatu hal yang baik untuknya, tetapi belum tentu baik bagi Ririsma dan Yudith, Ririsma mendelik pada gadis itu, seolah mengancam awas kalau macam-macam.


"Kalian ... mulai minggu depan Lisa sudah boleh keluar hari bebas, tapi masih harus diawasi. Dan kalian yang bertugas mengawasinya."


Bagi Ririsma, perkataan Suster Eva terdengar seperti sedang menjatuhkan hukuman padanya dan Yudith. Mengawasi Lisa sama saja dengan menyia-nyiakan waktu untuk bersenang-senang. Dan kenapa juga Lisa malah senyam-senyum? Sepertinya senang diawasi. Ririsma jadi curiga gadis itu mempunyai niat terselubung.


"Maaf, Suster. Kenapa harus kami?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut Ririsma juga.


"Karena Lisa yang minta dan aku rasa juga memang hanya kalian yang paling pas. Ini tugas, bukan permintaan. Jadi kalian nggak bisa nolak."


Keputusan sudah final begitu, bahkan Ririsma yang biasa lugas mengutarakan unek-uneknya pun tidak berani protes atau menolak.


Yakin Lisa memiliki maksud tertentu, keluar dari kamar Suster Eva, Ririsma langsung mencegat Lisa di lorong.


"Maksud lo apa?"


"Ris, sudah. Jangan cari perkara." Yudith berusaha menarik Ririsma pergi, tetapi gagal karena sahabatnya itu bergeming.

__ADS_1


"Nggak ada, kok. Cuma pengen jalan bareng kalian aja supaya lebih saling mengenal." Setelahnya Lisa terkikik sambil menutup mulut. Gestur meledeknya membuat Ririsma muak.


"Lo pikir gue bodoh. Lo sengaja milih kita karena lo pengen deket sama Andreas, kan?"


Tepat sasaran. Senyum Lisa semakin menyebalkan. "Kalau iya, memang kamu mau apa?"


"Lo---"


Tanpa bicara sepatah kata pun, Yudith langsung menarik Ririsma pergi dan yang bersangkutan tidak bisa protes. Sejak Suster Eva bilang kalau Lisa sendiri yang ingin diawasi olehnya dan Ririsma, Yudith sudah bisa meraba maksud gadis itu. Yudith sudah tahu masa-masa merepotkan ini suatu hari akan datang sejak Lisa menyuruhnya mundur dari Andreas.


Tidak masalah. Biarkan saja Lisa berbuat sesuka hati dan lihat bagaimana hasil akhirnya. Toh, meskipun sudah menerima Andreas sebagai kekasih, keputusan Yudith untuk tidak menggenggam erat-erat sesuatu yang belum tentu menjadi miliknya tetap tidak berubah.


Seperti yang pernah Andreas katakan, nikmati dan biarkan saja mengalir seperti air.


Walaupun ada kemungkinan hati dan rasa akan berubah seiring berjalannya waktu, tetapi orang baik seperti Andreas pantas mendapatkan kepercayaan dan kesempatan.


"Dasar gatel!" Ririsma menggerutu sembari membanting diri ke kasur Yudith.


"Jangan sembarangan ngomong, ah, Ris." Yudith tidak suka menghakimi orang lain, dan kata gatel atau kegatelan memiliki efek tersendiri baginya, karena dulu dia pernah menyandang predikat itu gara-gara dekat dengan Andreas. Padahal mereka dekat karena berada dalam satu kelompok untuk tugas praktik.


Ririsma langsung menyadari kalau dirinya kelepasan bicara. "Sorry, Dith. Gue nggak ada maksud nyinggung lo."


"Nggak pa-pa. Belajar aja, yuk."


"Oke." Ririsma beranjak dari kasur lalu memanjat naik untuk mengambil tas dari tempat tidurnya yang ada di atas tempat tidur Yudith.


Sembari keluar dari kamar, Yudith membaca pesan dari Andreas di ponsel yang sudah masuk dari beberapa puluh menit yang lalu.


Halo. kesayangan, lagi ngapain?


Lagi belajar.


Sepertinya ponsel Andreas selalu standby di dekatnya. Balasan darinya langsung datang di menit yang sama dengan pesan Yudith dikirim.


Selamat belajar kalau gitu. Love you, miss you. Sampai ketemu besok. Emuach ....🤍🤍🤍 Jangan lupa tersenyum :)


Dan seperti biasa, kalau Andreas sudah mengirim ucapan mesra bertubi, Yudith tidak akan membalasnya. Walaupun hati berbunga-bunga, tetapi itu tetap saja terlalu memalukan bagi Yudith. Wajahnya sampai terasa panas.


Sementara itu di kamarnya, Lisa yang tengah berbahagia karena rencananya berhasil, sedang berbicara di sambungan telepon.


"Iya, aku mau ngenalin Kak Dewa sama seseorang. Ketemuan di mana, nanti aku hubungi lagi."


"Siapa memang?"


"Seseorang yang sangat spesial tentunya."


"Ya udah, sampai ketemu Minggu. Ingat, jangan terlalu bandel, ya."


"Siap, Kak." Lisa tertawa renyah. Tawa yang membuatnya terlihat normal dan untuk sejenak mengikis habis kesan jutek dan arogan yang selama ini melekat padanya.


Namun, sesaat kemudian tawa itu menjelma menjadi senyuman sinis.


It's show time. Selama aku ada, jangan harap kamu bisa tenang. Dasar gadis kampung. Mana bisa dibandingkan denganku.

__ADS_1


__ADS_2