
Mau tidak mau Bu Andina pun akhirnya menceritakan yang sebenarnya. Pertama-tama dia mengatakan bahwa menggunakan nama Duwina sebenarnya hanyalah untuk menutupi Identitasanya sebagai pemilik sebuah yayasan panti asuhan. Yang dia pikirkan waktu itu, apa kata pihak Yayasan Mulia Harapan jika mengetahui seorang pengelola yayasan panti asuhan justru menitipkan anak ke yayasan lain.
Sementara itu tentang Pak Muksin, Bu Andina benar-benar menganggapnya sudah mati. Perempuan itu membenci Pak Muksin sampai ke tulang-tulang rasanya karena laki-laki itu selama menjadi suami Bu Duwina kerjanya hanya menghamburkan uang untuk berjudi.
Pabrik pengolahan kulit mereka sampai harus dijual untuk membayar utang. Sampai-sampai tidak ada lagi uang untuk Bu Duwina berobat. Harta yang tersisa hanyalah tanah dan rumah. Jika sertifikat tanah itu bisa ditemukan, pasti juga sudah dijual oleh Pak Muksin. Frustasi karena tidak bisa menemukan sertifikat, Pak Muksin jadi kerap uring-uringan dan Irene pun menjadi sasaran.
Ketika Bu Andina datang untuk menjemput Irene, keadaan bocah itu sangat menyedihkan. Kurus, pucat, dan penuh luka terutama di bagian kaki. Sedangkan Pak Muksin sudah linglung, suka bicara sendiri, tertawa sendiri, bahkan ada kalanya mengamuk.
Untuk menutupi malu, mereka diam-diam memasukkan Pak Muksin ke rumah sakit jiwa, dan membawa Irene pulang bersama mereka. Dan perlu diketahui, sebenarnya Irene bukanlah putri kandung Bu Duwina. Gadis itu awalnya adalah salah satu bayi terlantar yang ditampung di Yayasan Kasih Ibu milik Bu Andina.
Intinya, kebohongan yang mereka lakukan adalah demi menjaga nama baik Bu Andina sebagai pemilik Yayasan Kasih Bunda. Mengenai, kenapa Irene dimasukkan ke Yayasan Mulia Harapan alasannya adalah karena Bu Andina ingin Irene sembuh dari trauma. Fakta yang sangat memprihatinkan adalah, Irene sangat takut melihat laki-laki dewasa.
Dia ketakutan melihat suami Bu Andina dan suami Bu Magda karena trauma. Trauma karena pernah menjadi bulan-bulanan Pak Muksin. Bahkan juga dilecehkan di usianya yang masih sangat belia, yaitu sembilan tahun.
"Kalau begitu, kenapa Irene masih sangat menyayangi ayahnya?" Suster kepala sekolah bertanya, setelah Bu Andina selesai menceritakan semuanya.
"Saya juga kurang tau, Sus. Bahkan waktu masih bersama kami dia juga selalu memandangi foto itu. Saya pikir, saya sudah membakar semua foto yang dia punya. Tidak disangka, ternyata Irene masih memiliki satu."
Suster kepala sekolah bisa mengerti alasan Bu Andina menyembunyikan identitas demi melindungi reputasi yayasan panti asuhannya. Karena kalau sampai reputasi yayasan tercoreng, tersebar luas dan diketahui oleh para donatur, maka habislah yayasan mereka. Bisa-bisa tidak ada lagi donatur yang mau menyumbangkan dana.
Yayasan Kasih Ibu bukan yayasan kecil. Jadi, rumah yang didatangi Pak Heru waktu itu bukan yayasannya, melainkan rumah tinggal Bu Andina beserta keluarga.
"Saya menyayanginya Irene seperti putri saya sendiri dan ingin memberikan yang terbaik, tapi Magda tidak menyukai sikap Irene yang suka membangkang dan keras kepala. Makanya, Irene juga kurang cocok dengan putri saya."
"Apa alasan ibu ingin membawa Irene pulang?" Tiba-tiba saja Yudith yang sedari tadi diam menyimak mengajukan pertanyaan.
Bu Andina tersenyum canggung, lalu menjawab, "Kami takut kalau Irene akan bicara yang tidak-tidak. Lagi pula, setelah Irene berubah sikap, juga menolak saya. Saya jadi khawatir anak itu akan membenci kami semua dan pada akhirnya tidak ingin kembali kepada kami. Dengan mengajaknya pulang, Saya ingin memperbaiki hubungan. Walaupun bagaimana, dia adalah anak yang sudah diakui Duwina."
"Lalu, bagaimana dengan nasib rumah peninggalan Bu Duwina?" Suster kepala sekolah bertanya dengan tatapan menyelidik.
"Rumah itu adalah hak Irene. Sudah tertulis dalam surat wasiat yang ditandatangani Duwina dan bermaterai. Hanya saja, sertifikatnya entah di mana. Kami sudah berusaha mencarinya di seluruh rumah, tapi tidak ketemu."
Sejenak suasana menjadi hening karena tidak ada yang bicara dan tidak lama kemudian suster kepala sekolah berkata, "Sebenarnya, sertifikat itu ada pada Irene."
__ADS_1
Bu Andina terperangah. "Apa? Bagaimana suster bisa tau?"
Suster kepala sekolah memberikan surat yang ditulis oleh Bu Duwina kepada Bu Andina. "Silakan dibaca dan setelah itu akan dikembalikan pada Irene. Soal ini biar Yudith yang bicara padanya."
Mendengar itu hati Yudith rasanya langsung seperti tertimpa beban. Dia ragu bisa membuat Irene mengerti dan takut malah akan membuatnya kehilangan rasa percaya.
Melihat Yudith termenung menatap meja, suster kepala sekolah pun bisa memahami kira-kira apa yang sedang Yudith pikirkan.
"Kamu enggak usah khawatir. Sejauh ini kamu sudah berhasil mengambil hati Irene. Yakin saja kamu pasti bisa melakukannya."
"Baik, Suster. Aku akan mencobanya."
Dengan begitu pertemuan pun berakhir. Ketika Bu Yuliana dan Yudith pergi, Bu Andina masih tinggal di kantor dan berbicara serius dengan suster kepala sekolah.
Malamnya, setelah makan, Yudith mengajak Irene berbicara berdua di dalam kamar. Keduanya duduk santai di tepi tempat tidur Yudith.
"Irene sayang Bu Yudith, kan?"
Seperti sebelum-sebelumnya, wajah Irene pasti langsung muram bila ditanya seperti ini dan pasti kepalanya menunduk. Namun kali ini Yudith tidak ingin membiarkan gadis kecil itu menghindar lagi. Dia sudah lelah dengan situasi sekarang ini.
Yudith menahan dagu Irene dan membuatnya mendongak sehingga mata mereka pun saling bertatapan. Tatapan Yudith sangat teduh sehingga Irene yang awalnya tegang perlahan menjadi lebih santai.
"Dengan diam, semua masalah enggak akan bisa diselesaikan. Irene tau itu, kan? Tolong. Bu Yudith mohon, bicara. Apa pun yang terjadi, Bu Yudith janji pasti tetap ada di pihak Irene. Bukan hanya Bu Yudith, tapi Bu Yuliana dan suster kepala yayasan juga."
Mata Irene mulai berkaca-kaca, tetapi sikapnya tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya. Yudith pun merasa lebih percaya diri untuk lanjut bicara,
"Bu Yudith mau jujur tentang sesuatu, tapi Irene janji jangan marah, ya?"
Irene menatap Yudith tanpa berkedip, begitu pun sebaliknya. Untuk beberapa saat mereka terpaku saling menatap. Irene seperti ingin meyakinkan diri bahwa Yudith bisa dipercaya dan Yudith berusaha menyampaikan lewat tatapan teduhnya bahwa dirinya layak dipercaya. Setelahnya, Irene mengangguk.
Yudith melepaskan dagu Irene, lalu mengelus kedua lengannya. "Tadi ibu perawat piket melihat lantai kamar dekat almari kotor, banyak debu. Dia pikir atas almari pasti kotor---"
Irene tersentak dan langsung melihat ke atas almari. Bahkan sudah hendak beranjak, tetapi Yudith menahannya.
__ADS_1
"Tidak usah khawatir, sertifikat itu ada pada Bu Yudith. Aman."
Raut wajah lega yang Irene tunjukan adalah bukti bahwa gadis itu sudah benar-benar bisa mempercayainya. Yudith pun semakin percaya diri.
"Benda itu sangat berharga dan butuh orang dewasa untuk mengurusnya. Kalau sampai hilang, akan sia-sia usaha Bu Duwina untuk menjaga sertifikat itu tetap aman. Irene mengerti, kan?"
Irene perlahan mengangguk dan Yudith melanjutkan, "Apakah Bu Andina jahat sama kamu?"
Kali ini Irene menggeleng, tetapi Yudith dengan tegas berkata, "Jawab Bu Yudith, Irene. Tolong bicara." Suara Yudith bergetar, dan entah kenapa suasana melankolis di hatinya tiba-tiba meningkat, sampai-sampai matanya terasa hangat.
Melihat mata Yudith berkaca-kaca, air mata Irene tiba-tiba berlinang. Gadis itu menubruk Yudith dan memeluk erat-erat, lalu berbisik, "Enggak."
Mendengar suara Irene, Yudith rasanya seperti sedang bermimpi. Keduanya berpelukan cukup lama hingga tangis Irene berhenti. Setelah itu, Yudith mengambil sertifikat dari almari dan memberikannya kepada Irene.
"Ini Bu Yudith kembalikan. Tapi Irene tidak bisa terus menyimpannya sendiri. Kalau sampai terjadi apa-apa, nanti bisa-bisa kita semua disalahkan. Yang jelas pasti Bu Yudith yang disalahkan, karena Bu Yudith penanggung jawab Irene."
"Irene harus bagaimana?" Suara yang selama ini disimpan pun akhirnya terbebas meski sangat lirih dan serak.
"Bukankah ibunya Irene percaya sama Bu Andina? Kenapa tidak dibicarakan dengan Bu Andina saja."
"Tapi Mbak Magda selalu bilang 'kalau saja sertifikat rumah itu ketemu pasti langsung dijual'."
"Irene mau dipertemukan dengan Bu Andina sendiri? Bu Andina itu sayang banget sama kamu."
Irene tidak menjawab juga tidak mengangguk dan Yudith pun tidak ingin memaksa. Dia mengerti bahwa Irene pasti butuh banyak waktu untuk memikirkannya. Setelah Pembicaraan malam itu, di hari-hari selanjutnya Irene jauh-jauh lebih ceria. Karena suara mau bicara, temannya pun bertambah banyak, bukan hanya Eva.
Sesuatu hari Yudith iseng iseng bertanya pada Irene tentang ayahnya, tetapi reaksi Irene sungguh di luar dugaan.
"Aku tidak mau membicarakannya." Begitulah jawaban Irene.
"Kenapa? Bukannya kamu sangat menyayanginya? Bahkan selalu memandangi fotonya."
Ketika Yudith bertanya seperti itu jawaban Irene jauh lebih mengejutkan lagi, "Aku membencinya. Ingin memakinya dan mengatakan banyak kata-kata jahat tepat di depan wajahnya, tapi tidak bisa. Jadi, aku melakukannya di depan fotonya."
__ADS_1