YUDITH

YUDITH
KAMU TIDAK PANTAS


__ADS_3

Dulu selain Ririsma, Yudith memiliki satu sahabat lagi, seorang biarawati bernama Sr. Vero. Namun, semenjak lulus SMA sahabat biarawatinya itu dipindahtugaskan ke yayasan cabang di Kalimantan.


Yudith yang mempunyai kecenderungan menyendiri dan hanya berteman buku, tidak pernah memusingkan seberapa banyak orang yang mau berteman dengannya. Dalam diam dia bisa mengukur ketulusan hati seseorang, dan hanya orang-orang yang benar-benar tuluslah yang akan bertahan berada di sisinya. Seperti Sr. Vero, Ririsma, dan Andreas.


Dampak dari kasus yang dulu pernah terjadi padanya, yang mana dia berhasil membongkar tindak kecurangan para senior, lantas dicelakai di kamar mandi, membuat nama Yudith sebenarnya cukup populer di Yayasan Harapan Mulia. Orang-orang yang tidak pernah terlibat atau merasa dirugikan oleh Yudith, menaruh hormat dan mengagumi keberanian dan kepribadian gadis itu.


Bahkan setiap kali ada angkatan baru, para anak baru itu pasti penasaran dengan sosok yang bernama Yudith. Sampai sekarang pun Yudith masih menjadi---seperti---tolak ukur bagaimana menjadi berani berbeda demi sebuah kejujuran dan taat pada peraturan.


Namun, kepopuleran itu sama sekali tidak mempengaruhi Yudith. Gadis itu tetaplah gadis yang sama, seperti waktu pertama kali datang ke Yayasan Harapan Mulia ini. Pendiam, cuek, berpendirian teguh, taat pada peraturan, kaku, idealis, dan semua itu secara alami membangun tembok penghalang bagi orang-orang untuk menjalin hubungan atau sekadar berkomunikasi dengannya.


Pagi ini, begitu keluar dari bus yayasan, Ririsma langsung pergi ke toilet tanpa menunggu Yudith. Katanya sudah kebelet, tidak tahan. Yudith melangkah santai di antara orang-orang yang tadi turun dari bus yang sama. Mereka adalah para mahasiswa yang tinggal di asrama luar dan para pegawai yayasan.


Secuek-cueknya gadis itu, tetap saja mau memberi respon saat namanya disapa, mengangguk kecil dan tersenyum tipis sekadar untuk basa-basi sudah cukup. Tiba-tiba angin berembus cukup kencang, refleks tangannya menggosok-gosok lengan yang terasa dingin, kering, dan gatal.


Turun dari bus yang baru datang, Andreas melihatnya. Sembari berlari-lari kecil mengejar Yudith, dia melepas jaket yang dikenakan. Begitu sudah dekat, langsung melingkarkan jaket itu ke bahu Yudith.


"Pagi, Dith. Dingin, kenapa nggak pake jaket sih?"


Yudith tidak menoleh dan hanya menggeleng kecil, juga tidak berkata apa-apa saat Andreas berjalan begitu dekat di sisinya. Sudah terbiasa seperti itu, Andreas pun tidak ambil pusing. Yudith tetaplah Yudith. Dunia di sekitarnya boleh saja mengalami begitu banyak perubahan dalam jangka waktu empat tahun ini, tetapi dia, seperti bertahan di tempat dengan sikap pendiam dan cueknya.


Sambil terus melangkah, Andreas membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah paper bag. Tulisan di paper bag itu adalah nama sebuah toko kue cukup terkenal di Malang.


"Kue, Dith." Dia menyodorkannya pada Yudith.


Sesaat Yudith hanya menatap paper bag itu lalu perlahan menerimanya saat melihat ada secarik kartu ucapan diikat dengan pita di talinya.


Tersenyumlah ....


Tidak sulit kok. Cobain deh, tatap aku dan lengkungan bibirmu ke atas.


Yudith mengatur napas untuk meredam detak jantungnya yang hampir menggila. Sudah sejak lama dia mendapatkan perlakuan manis ini dari Andreas, tetapi akhir-akhir ini level manisnya semakin bertambah. Perlahan dia menoleh pada Andreas dan melengkungkan bibir, sangat tipis, tetapi Andreas bisa melihat senyuman itu dengan jelas.


"Makasih, An," ucap Yudith lirih.


"Yes! Terima kasih juga untuk senyumnya." Andreas meraih tangan Yudith lalu menautkan jemari, tetap bergeming dan meremas semakin erat saat Yudith berusaha melepaskannya.


"An, lepas."


"Nggak mau."


Yudith hanya bisa menghela napas pasrah dan tidak berkata apa-apa lagi tanpa menyadari ada tatapan penuh kebencian tertuju padanya. Menyaksikan adegan itu dari koridor lantai dua, Lisa tidak bisa menahan amarah. Gadis itu memukul besi pagar pembatas.


"Sialan! Apa sih, bagusnya dia?"


"Lebih baik jangan cari masalah dengannya," ujar Ratna sambil melangkah masuk ke kelas.

__ADS_1


Bahkan Ratna yang dulu tidak menyukai Yudith dan dengan senang hati akan bersekutu dengan sesama pembenci Yudith untuk mengerjainya, merasa enggan berteman dengan Lisa yang arogan dan selalu memandang rendah orang lain.


"Hei, Ratna, tunggu!" Karena Ratna tidak mau berhenti, akhirnya Lisa mengejar dan duduk di kursi sebelahnya.


"Kamu mau apa?" Sikap Ratna yang acuh tak acuh jelas menunjukkan kalau dia tidak mau berurusan dengan Lisa, tetapi Lisa tampak tidak peduli.


"Memang benar ya, si Yudith itu favorit para suster?" Lisa bertanya dengan wajah mengernyit jijik.


"Dan dia menjadi favorit bukan tanpa alasan. Sudah dech, nggak usah berharap sama Andreas. Dia itu dari kelas satu SMA sudah ngejar-ngejar Yudith. Kamu nggak akan ada kesempatan." Ratna menatap bosan, nada suaranya gusar.


Selama empat tahun ini sudah begitu banyak hal dia lalui. Dia juga sempat berada di posisi Yudith, di mana dia dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah dia lakukan. Sungguh sangat tidak enak rasanya.


Dari situlah, sedikit demi sedikit dia mencoba mengenal dan memahami Yudith walaupun tidak pernah bisa menjadi dekat. Dan lama kelamaan dia sadar, Yudith memang pantas mendapatkan semua perhatian, bahkan berhak untuk diistimewakan karena Yudith memang istimewa.


"Kesempatan akan selalu ada untuk Lisa. Apa pun sah, adil dalam cinta dan perang," ujar gadis berambut pendek berwajah oriental dengan hidup mancung terkesan runcing itu penuh percaya diri. Kilat matanya liar terkesan licik.


"Terserah."


Ratna menggeleng kecil. Dia dulu juga sempat menyukai Andreas dan juga sempat ngotot ingin berjuang karena berpikir apa pun sah dalam cinta. Adil, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan cinta yang diinginkannya. Namun, cinta yang bagaimana dulu? Sah dan adil hanya akan menguntungkan sepihak bila cara mendapatkannya salah.


_______


Sepulang kuliah, Yudith hendak mengembalikan jaket Andreas, tetapi si empunya menolak.


"Simpan aja."


"Ya, biar aja." Andreas melihat wajah Yudith tampak tersipu lantas berkata, "Makan bakso, yuk! Terus pulang naik angkot."


Yudith langsung menggeleng. "Nggak bisa."


"Hari ini ada jadwal audit ke asrama panti." Ririsma menjelaskan karena dia tahu Yudith tidak akan menjelaskan alasannya kenapa tidak bisa. Jadi, dia mewakili.


Pada dirinya sendiri, Yudith menanamkan pemahaman bahwa segala sesuatu itu bisa terjadi atau tidak, pasti ada alasannya dan dia tidak pernah mau mengorek-ngorek, karena menurutnya tidak semua orang ingin urusannya diketahui orang lain.


Dengan begitu, secara naluriah dia pun tidak pernah ingin menjelaskan alasan kenapa dia begini atau begitu. Cukuplah orang lain tahu dia tidak bisa ini atau tidak ingin itu tanpa perlu menyebutkan alasannya. Namun, dia tidak akan keberatan menjelaskan bila diminta.


Andreas yang juga sudah memahami Yudith, bisa mengerti dan tidak berkata apa-apa lagi. Akhirnya mereka berpisah karena naik bus yang berbeda---rute asrama mereka tidak searah.


Setelah makan siang, Yudith tidak punya waktu untuk beristirahat. Dia dan Suster Rosa berkeliling ke asrama-asrama panti untuk melakukan pemeriksaan administrasi anak secara dadakan hingga menjelang waktu makan malam.


Turun dari mobil yang mengantarkannya, Yudith lantas melangkah santai menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Saat melewati koridor, Yudith melihat banyak sekali handuk disampirkan di pagar pembatas, dan wadah-wadah peralatan mandi berbaris di bawahnya, padahal hal itu tidak diperbolehkan.


Sebagai penanggung jawab asrama lantai dua, Yudith tidak bisa membiarkan itu terjadi. Meskipun kakinya sudah terasa mati rasa karena saking lelahnya, Yudith dengan telaten memungut handuk itu satu per satu, dari ujung ke ujung lalu mengumpulkannya dalam satu keranjang dan meletakkan di depan kamar mandi, begitu juga dengan peralatan mandi.


Sebenarnya kebiasaan buruk ini tidak akan terjadi kalau Ririsma ada di asrama dan menggantikannya mengontrol, sayangnya gadis itu saat ini sedang sibuk di dapur karena piket masak.

__ADS_1


Sekembalinya dari area kamar mandi, saat berjalan di koridor, Yudith melihat beberapa penghuni asrama celangak-celinguk.


"Beri tahu yang lain, cari di keranjang dekat kamar mandi," ujarnya acuh tak acuh sambil terus melangkah menuju kamarnya.


"Ish, untung nggak dibuang."


"Aku kira dia bakal pulang agak malaman."


"Bah! Tidak bisa teledor sedikit saja."


"Dasar, huhf!"


Gadis terakhir mengacungkan jari tengahnya ke arah punggung Yudith. Sebenarnya Yudith sempat mendengar ujaran-ujaran mereka, tetapi sama sekali tidak hirau.


"Yudith, sini."


Baru saja Yudith hendak mengambil pakaian dari almari, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Lisa. Yudith tidak menolak dan tidak berkata apa-apa, ikut saja ke mana dirinya dibawa. Sesampai di ujung koridor yang sepi, Lisa memepet Yudith ke dinding, menatapnya tajam, dan senyumnya miring merendahkan.


Tetap tenang dalam situasi apa pun sudah menjadi ciri kas Yudith. Gadis itu tidak mudah atau bahkan tidak pernah terprovokasi. Diam, tenang, dan memendam semua rasa untuk dirinya sendiri, sampai-sampai orang lain tidak mampu melihat emosinya.


"Gadis miskin yang bisa sekolah dan melanjutkan kuliah karena ikatan dinas sepertimu, tidak pantas bersaing denganku!" Lisa berbicara dengan suara mendesis tepat di depan wajah Yudith.


Namun, Yudith bergeming. Hanya enatap datar dan di wajahnya tidak tersirat ekspresi sedikit pun. Hal itu membuat Lisa semakin geram.


"Kamu ngerti nggak sih?!" Lisa menggeretakkan gigi dan kedua tangannya memukul dinding di sekitar kepala Yudith. "Orang tuaku adalah donatur dan aku di sini adalah mahasiswi ekslusif."


"Lalu apa maumu?" Nada suara Yudith sangat tenang dan terdengar datar-datar saja.


"Jauhi Andreas. Lebih baik mundur dari sekarang karena aku pasti akan mendapatkannya. Aku tidak pernah kalah dari orang lain dan selalu mendapatkan apa pun yang aku mau. Camkan itu!"


Setelah puas menumpahkan unek-uneknya, Lisa langsung pergi meninggalkan Yudith. Sepeninggal Lisa, Yudith tersenyum tipis nan sinis. Dia tidak akan pernah melarang siapa pun untuk mendekati Andreas.


Silakan saja. Semoga beruntung.


Di lubuk hati terdalam dia memang memiliki rasa pada Andreas, tetapi tidak pernah ingin menggenggam apa yang belum tentu menjadi miliknya itu terlalu erat. Dia takut terluka untuk yang kedua kalinya. Dulu, dia pernah sangat menyayangi seseorang dan saat orang itu pamit untuk pergi merantau, dia sangat berharap orang itu akan kembali padanya dan sang ibu suatu hari nanti.


Yudith benar-benar menaruh harap dan menggenggam erat-erat janji orang itu yang katanya pasti kembali, tetapi pada akhirnya Yudith harus menelan kepahitan karena orang itu ternyata tidak pernah kembali. Dan kabar terakhir yang dia dengar adalah bahwa pria itu sudah menikah lagi di perantauan sana.


Orang itu adalah ayahnya. Ayah yang dalam pandangan umum selalu digadang-gadang sebagai cinta pertama bagi para anak gadisnya. Seperti layaknya orang putus cinta, Yudith pun sempat mengalami patah hati. Namun, tidak lantas terpuruk. Dia justru menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi demi ibunya dan diri sendiri.


Ibunya pernah mengatakan, tidak adil buat ayahmu yang sehat, tampan dan gagah untuk tetap bertahan bersama ibu yang penyakitan, terlihat tua, dan menyusahkan. Ayahmu berhak mendapatkan cinta dari perempuan yang jauh lebih baik dari ibu. Namun, pada akhirnya Yudith mengetahui bahwa sebenarnya sang ayah tidak pernah ingin menceraikan ibu.


Pria itu hanya ingin menikah lagi dan berjanji akan bersikap adil. Namun ibunya tahu, tidak akan pernah ada keadilan dalam cinta dan rumah tangga bila titik yang semula hanya ada dua telah berubah menjadi tiga titik. Pasti akan ada yang lebih disayangi dan ada yang tersakiti, ada yang lebih diperhatikan dan ada yang diabaikan. Bersembunyi di balik kata 'adil' hanya untuk memuaskan hasrat.


Andreas sudah menyukainya sejak SMA dan sampai detik ini masih sama seperti itu. Yudith bisa merasakan perasaan Andreas tidak berkurang sedikit pun. Oleh karena itu, dia menaruh kepercayaan padanya. Percaya, sedikit berharap, tetapi tidak ingin menggenggamnya terlalu erat. Dia siap melepas bila memang suatu hari nanti harus melepaskan.

__ADS_1


Itulah makna adil dalam cinta bagi Yudith. Adil memberi Andreas kesempatan---adil pada diri sendiri untuk menikmati segala ungkapan cinta yang diterima, tetapi tidak sampai terlena---adil merelakan cinta itu pergi bila dia memang ingin pergi. Adil itu tidak merugikan, tidak menyakiti, juga tidak egois.


__ADS_2