
Setelah satu minggu menjalani perawatan, Yudith pun diperbolehkan pulang. Sudah tiga hari ini dia kembali ke asrama, tetapi masih belum diizinkan pergi kuliah. Suster Davince memberinya waktu istirahat ekstra untuk pemulihan, bahkan meminta para suster pendamping untuk mengawasinya kalau-kalau saja gadis itu membandel.
Malam ini, ketika Ririsma yang besok pagi piket masak sedang ada di dapur untuk mempersiapkan bahan makanan, Yudith pergi mencari Lisa.
Kendatipun saat berjalan badannya terasa sangat ringan dan kepala pusing sampai-sampai seperti oleng, dia tidak menyerah karena kesempatan lolos dari pengawasan Ririsma sangatlah sulit. Satu-satunya peluang, ya, saat sahabatnya itu sedang sibuk menjalankan piket seperti sekarang ini.
Dia melewati ruang makan yang jam-jam segini sudah berubah menjadi ruang belajar dan tempat bersantai. Beberapa teman menyapa dan memintanya berhati-hati, Yudith hanya menanggapi dengan senyuman tipis.
Tidak disangkal bahwa Yudith itu memang menyebalkan, tetapi pembawaannya yang cuek dan tenang mampu memancarkan kewibawaan. Dengan begitu, mereka pun secara alami merasa segan padanya. Mereka kebanyakan tidak membenci atau menyukai Yudith secara berlebihan, hanya berpikir lebih baik tidak terlibat urusan apa pun dengannya.
Yudith yang tahu Lisa tidak pernah bergaul dengan yang lain, terus melangkah melintasi ruangan itu menuju kamarnya. Sesampai di depan pintu, tangannya yang sudah terangkat hendak mengetuk seketika membeku di udara karena sesuatu yang Lisa katakan. Sepertinya gadis itu sedang berbicara di telepon.
"Lisa mau keluar dari sini, Buk. Sudah nggak betah. Tolong dong, Buk. Lisa janji nggak akan macam-macam lagi."
Suara gadis itu serak dan bergetar, sepertinya sedang menangis. Yudith tertegun sejenak, dalam hati merasa kasihan. Pikirnya, setelah peristiwa itu, hati Lisa pasti tidak pernah tenang lagi. Gadis itu menutupi kegelisahannya dengan keangkuhan.
Karena tidak ingin menguping terlalu banyak, dia pun segera mengetuk pintu dan suara Lisa pun langsung senyap. Tidak lama kemudian pintu dibuka. Untuk sesaat mereka saling menatap. Berdiri berhadapan keduanya terlihat sangat kontras, satu berkulit putih dan postur tubuhnya tinggi, sedangkan yang lain berkulit eksotis dan mungil.
"Mau apa?!" Nada suara Lisa sengak, matanya yang kemerahan menyipit, menatap merendahkan.
Yudith menatap teduh. "Mau bicara sebentar." Cara bicaranya juga ringan dan santai.
Tidak berkata apa-apa, Lisa langsung kembali masuk dan Yudith pun mengikutinya dan sebelum dipersilakan sudah duduk karena berdiri terlalu lama membuat kepalanya serasa berputar. Lagi pula, dia tidak yakin Lisa mau berbaik hati mempersilakannya duduk.
Keduanya kembali terdiam. Lisa yang duduk di tepi tempat tidur menatap sengit, tetapi Yudith tahu kalau sebenarnya gadis itu sedang gelisah.
"Seharusnya kamu mempertanggungjawabkannya, bukan malah menghindar ...."
Wajah Lisa seketika menegang. Sedari tadi dia mencoba menghibur hati, dengan terus mengatakan pada diri sendiri kalau Yudith tidak mendengar percakapannya barusan, tetapi sekarang dia tahu pasti Yudith sudah mendengarnya.
Setelah menelan ludah yang rasanya seperti kerikil, Lisa berkata dingin, "Kenapa aku harus bertanggung jawab? Bertanggung jawab apa memangnya?"
"Aku hanya gegar otak ringan, nggak amnesia."
Sekali lagi Lisa menelan ludah, kali ini rasanya kerikil yang menuruni kerongkongan jauh lebih besar dan hampir membuatnya sukar bernapas dan berkata-kata.
Ketika dia memaksakan diri bicara, suaranya parau parah, "Memangnya ada bukti, hah?" Dia berdeham beberapa kali lalu melanjutkan, "Nggak ada bukti sama aja fitnah. Kamu tau itu, kan?" Kalimat terakhir dia ucap sambil mengangkat dagu.
Sudut kanan bibir Yudith tertarik tipis ke atas. "Nggak perlu bukti," ujarnya dengan mata menatap lekat yang membuat Lisa merasa seperti sedang diintimidasi. "Kamu sendiri yang akan mengakuinya."
Saat itu juga Lisa menyembur tertawa. Konyol sekali, pikirnya. Bagaimana bisa Yudith begitu yakin dirinya akan mengakui perbuatan yang lebih baik disembunyikan? Dia bukan ular bodoh yang alih-alih menyingkir, tetapi malah mendatangi pemukul.
Selagi tidak ada bukti konkret, dia akan tetap aman. Lisa yakin, orang macam Yudith tidak akan mungkin mengadu pada petinggi hanya bermodalkan omongan, yang jatuhnya malah seperti fitnah belaka.
"Kamu nggak sedang meremehkan aku, kan? Hei, dengar ya. Aku nggak sebodoh itu!" Lisa memberi penekanan dalam setiap kata di kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Yudith tersenyum miring. Dibanding datar, wajahnya kali ini lebih terlihat tenang. Sebenarnya gadis itu tidak ingin banyak bicara, tetapi keadaan memaksanya. Dulu karena dia hanya diam---tidak melapor juga tidak bertindak---Bu Cici dengan leluasa mengintimidasinya, bahkan mencelakainya, kemudian mantan ibu asramanya itu dikeluarkan tanpa diberi kesempatan memperbaiki kesalahan.
Kali ini, Yudith tidak ingin hal semacam itu terulang lagi. Dia harus bicara juga bertindak untuk menyadarkan Lisa. Kalau bisa, dia juga ingin membuat Lisa berubah. Dia tidak ingin ada lagi yang dikeluarkan karena telah berbuat bodoh yang hanya didasari rasa benci pada dirinya.
Kedua orang tua Lisa memasukkannya ke sini dengan tujuan putrinya tersebut bisa berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Yudith tidak ingin hati dan harapan meraka hancur begitu saja. Yudith jadi merasa seperti punya tanggung jawab, membantu mereka untuk menyadarkan Lisa, karena dia sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan harapan dari seseorang yang sangat berharga. Dia tidak ingin orang lain juga mengalami hal yang sama.
"Kalau nggak bodoh, seharusnya kamu mengerti maksud baik orang tuamu. Bukan malah menyia-nyiakan kesempatan yang mereka berikan."
"Hei! Kamu pikir kamu itu siapa? Tau apa kamu tentang orang tuaku?" Darahnya serasa menggelegak, Lisa refleks bangkit lalu mendorong bahu Yudith.
Sentakan kasar itu membuat Yudith refleks memejamkan mata. Gadis itu meringis sambil memijit pelipis yang rasanya berdenyut-denyut seperti ada makhluk hidup bernapas di sana. Tangannya mencengkeram tepi meja erat-erat.
"Ka ... oe, jangan pingsan di sini. Aku nggak mau disalahin tauk. Sana pergi." Mulut Lisa sangat kasar, tetapi raut wajahnya tampak cemas. Sebenarnya dia tidak hanya khawatir, tetapi juga takut.
Setelah merasa lebih baik, Yudith membuka mata dan menatap Lisa dengan mata sedikit basah. Basah bukan karena menangis, melainkan efek dari pusing.
"Aku beri waktu satu minggu. Akui perbuatanmu dan minta maaf atau---"
"Atau apa, huh? Jangan mimpi. Aku Lisa Wijayanto, nggak ada seorang pun yang bisa memaksaku melakukan sesuatu yang nggak aku ingin, atau mengancamku."
Wajah Lisa merah padam. Gadis itu berbicara dengan suara rendah, tetapi di setiap katanya penuh penekanan, sambil menunjuk-nunjuk wajah Yudith.
"Dalam waktu satu minggu, pikirkan baik-baik." Sambil bertumpu pada tepi meja perlahan berdiri, Yudith berujar tenang bahkan saat wajahnya mengernyit menahan sakit masih sempat tersenyum miring.
"Oh iya ...." Yudith yang sudah sampai di pintu menghentikan langkah dan menoleh. "Kalau kamu benar-benar menyukai Andreas, tarik perhatiannya dengan cara yang baik. Jangan lagi bertindak konyol. Itu pun kalau kamu benar-benar menyukainya, nggak hanya menganggapnya sebagai piala yang harus dimenangkan ...."
Setelah itu, sambil merambat pada dinding, Yudith meninggalkan Lisa yang hanya berdiri terpaku.
'Ngak hanya menganggapnya sebagai piala yang harus dimenangkan', Yudith sengaja menggunakan istilah itu karena dia sebenarnya bisa merasakan, Lisa mengejar Andreas bukan karena sungguh-sunguh menyukainya.
Sosok Andreas dengan penampilan fisiknya yang menawan memang sangat menonjol. Menarik perhatian hampir seluruh kaum hawa di yayasan ini. Sejak SMA, Yudith sudah merasakan permusuhan dari orang-orang di sekitarnya hanya karena dia dekat dengan pemuda itu. Namun dia pikir, bagi Lisa yang ibaratnya selalu mendapatkan segala sesuatu dengan kelas premium, dan bergaul dengan orang-orang kelas atas, Andreas itu tidak cukup sepadan atau layak.
Sepertinya, Lisa hanya melihat Andreas sebagai sesuatu yang paling bagus yang ada di tempat ini. Tidak peduli bagaimana kualitasnya, yang dia inginkan hanyalah bisa memiliki pemuda itu demi mengalahkan yang lain---yang dianggapnya rival. Setelah berhasil dan merasa puas, kemungkinan besar dia tidak akan tertarik lagi.
Yudith tidak rela Andreas yang berhati tulus dipandang rendah seperti itu. Itu sangat tidak adil untuknya. Diibaratkan sebagai piala dalam perlombaan, dihargai hanya saat dimenangkan, kemudian dan seterusnya diabaikan atau hanya akan dipajang sebagai hiasan.
Perhatian Andreas selama satu minggu di rumah sakit, menyadarkan Yudith betapa dia sangat mengasihi pemuda itu dan tanpa sadar selama ini telah menggantungkan harapan padanya. Sekarang dia menjadi sedikit lebih egois, ingin Andreas berlaku seperti itu hanya padanya. Tekad untuk tidak menggenggam erat-erat apa yang belum tentu menjadi miliknya pun perlahan menyusut.
Bahkan, dalam termenung sempat terpikirkan, bagaimana dirinya tanpa Andreas? Atau, apa dia sanggup bila suatu saat kehilangan Andreas.
"Ish." Yudith mendesis saat kepalanya terasa semakin pening hingga mata pun berkunang-kunang.
Terlalu banyak bicara dan berpikir sungguh menguras energi. Gadis itu terus merambat pada dinding supaya tidak oleng. Di pintu ruang makan dia hampir bertabrakan dengan Ririsma.
"Astaga Yudith! Disuruh istirahat malah keluyuran ...." Buru-buru dia meraih tangan sahabatnya lalu membimbingnya berjalan. "Dari mana sih, lo?"
__ADS_1
"Jalan-jalan. Bosan di kamar," jawaban Yudith membuat bibir Ririsma otomatis menyeringai tipis, sambil matanya melirik ke arah koridor yang redup nan lengang. Di sana Lisa berdiri mematung.
"Hape lo bunyi terus dari tadi. Si An telpon." Ririsma sengaja mengeraskan suaranya supaya Lisa bisa mendengar juga.
Lihat aja lo. Bakal gue buat nggak tenang, gadis berkacamata itu membatin sinis.
Sesampai di kamar, Yudith langsung membaringkan diri, sedangkan Ririsma sibuk membentang matras.
Sejak Yudith kembali, dia tidak mau tidur di tempat tidurnya. Dengan dalih berjaga-jaga kalau Yudith ingin sesuatu di tengah malam, akhirnya dia mendapat izin meminjam satu matras dari gudang.
"Kalau pusing tidur aja. Aku matiin lampunya ya?" Ririsma berpikir dengan keadaan gelap mata Yudith bisa lebih rileks.
"Jangan dulu."
Ririsma tahu, Yudith tidak mau lampu dimatikan karena kedua teman sekamar mereka belum kembali.
"Ya sudah nih, tutup mata pake kain." Ririsma memberikan selendang yang biasa dia gunakan sebagai syal.
"Makasih, Ris."
Terdengar suara getaran dari dekat bantalnya, Yudith pun meraba-raba. Melihat sahabatnya kesulitan, Ririsma buru-buru membantu.
"Nih. Andreas." Sebelum Yudith menerima, Ririsma sudah membuka sambungan. "Jangan lama-lama telponnya. Istri lo butuh istirahat. Ngerti lo?"
Terdengar suara tergelak dari seberang. "Buruan kasihkan ke Yudith."
Ririsma memberikan ponsel pada Yudith lalu duduk bersila di matras sambil membaca novel pemberian Andreas.
"Halo, An."
"Gimana? Sudah mendingan apa belum? Jangan lupa minum obatnya. Istirahat, jangan bandel."
Meski tahu Andreas tidak bisa melihatnya, Yudith tetap mengangguk sambil berucap, "Iya. Makasih, An."
"Ya sudah, tidur gih. Jangan baca novel dulu."
"Hem." Lagi-lagi Yudith mengangguk.
"Met bobok, Dith. Cepat sembuh."
"Siap, Tuan Andreas!" Ririsma berseru sambil cekikikan.
Dari seberang terdengar Andreas tertawa, tetapi langsung senyap karena Yudith memutuskan sambungan.
Gadis itu menghela napas panjang sambil membatin, makasih, An.
__ADS_1