YUDITH

YUDITH
DIHUKUM


__ADS_3

Yudith berjalan pulang sambil memikirkan kembali saran Andreas. Andreas bilang, cara terbaik untuk mendekati Irene adalah dengan menanamkan rasa percaya.


"Seperti aku dulu, pengen deket sama kamu ya harus pelan-pelan membuatmu percaya kalau aku juga bisa menjadi sahabat yang baik. Sahabat yang bisa dipercaya dan bisa diandalkan." Begitulah tadi Andreas bilang.


Setelah itu, Suster Vero menimpali, "Pelan-pelan saja. Jangan sampai membuatnya merasa terganggu dan tertekan. Nanti malah semakin sulit mendekatinya."


Yudith merasa, berdiskusi dengan sahabat-sahabatnya justru jauh lebih efektif, dibandingkan dengan guru pembimbing yang terkesan mendikte.


Udara di bawah pohon juar yang ditanam di sepanjang jalan ini sangat sejuk. Dia berniat tetap berjalan santai untuk menikmati sejuknya angin sepoi-sepoi, tetapi tiba-tiba saja terdengar suara menjerit kesakitan disertai tangis meraung-raung dari arah Wisma Awan. Hatinya langsung tidak enak karena suara jerit dan tangis itu sangat memilukan. Gadis itu pun mempercepat jalannya dengan langkah-langkah lebar.


"Aaa! Sakit!"


"Siapa suruh pukul teman, hah? Nggak ada yang ajar kamu main pukul! Nggak baik itu, tau nggak?!"


Plak


"Sakit! Sakit!"


Yudith bisa menduga apa yang terjadi. Gadis itu pun tidak lagi berjalan cepat, tetapi berlari sekencang-kencangnya. Tanpa memberi salam langsung menyerbu masuk wisma dan terus berlari ke ruang belakang.


Dia muncul tepat ketika Bu Laili hendak memukul tangan Irene menggunakan penggaris kayu. Yudith meloncat dan langsung menutupi tangan Irene yang tengadah di atas meja.


Plak


Tak ayal lagi, penggaris itu pun memukul punggung tangan Yudith.  Sakit, tentu saja sangat sakit, panas juga. Yudith sampai memejamkan mata erat-erat dan merapatkan gigi untuk menahan rasa sakit dan panas itu. Namun, dia cepat-cepat membuka mata dan menarik Irene untuk sembunyi di belakang punggungnya.


Dia menatap nanar Bu Laili yang wajahnya syok karena tidak menyangka Yudith akan tiba-tiba muncul dan melindungi tangan Irene.


Untuk menutupi canggung, pegawai berwajah tirus itu pun membeberkan alasan menghukum Irene, "Dia sudah memukul temannya sampai memar-memar! Tadi aku dipanggil ke sekolahnya!"


"Gurunya nggak bilang kenapa Irene mukul temannya?" Suara Yudith serak dan bergetar karena sebenarnya dia sangat marah, tetapi ditahannya sekuat tenaga.


"Hanya gara-gara boneka."


"Hanya? Hanya gara-gara boneka ...." Yudith mengulangi perkataan Bu Yuliana dengan nada sarkas.

__ADS_1


"Kamu nggak usah belain dia. Anak itu nggak bisa dihalusin. Ditanya sampek mulut berbusa juga nggak dijawab. Bikin emosi!"


Yudith menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Setelah itu berbicara dengan suara yang jauh lebih tenang, "Dia tanggung jawabku. Ada apa-apa biar aku saja yang bicara sama dia, Bu."


"Oke! Terserah!" Setelah itu, Bu Laili pergi begitu saja sambil bersungut-sungut.


Sepeninggalnya, Yudith baru menyadari kalau di ruangan itu ada beberapa anak lain yang sedang menonton dengan wajah takut. Yudith tidak hirau pada mereka dan segera memeriksa tangan Irene. Hati Yudith pedih rasanya saat melihat bilur-bilur merah di punggung dan tapak tangan Irene.


Ya, Tuhan. Yudith mengelus tangan Irene. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu sambil menunduk, tubuh kurusnya sampai berguncang-guncang.


"Ayo, diobati dulu tangannya."


Irene bergeming, tetapi ketika Yudith menggandengnya berjalan ke kamar, dia menurut. Sesampai di kamar, Yudith membasuh tangan Irene menggunakan handuk basah, kemudian mengoleskan salep.


Setelah itu, dia juga membersihkan wajah Irene yang basah kotor, serta mengganti pakaiannya yang masih seragam sekolah. Gadis remaja tanggung itu hanya diam dan menurut.


Yudith duduk di samping Irene, lalu bertanya, "Kamu sudah makan?"


Tidak menjawab, Irene malah naik ke tempat tidur, lalu duduk di sudut memeluk kedua kaki sambil memandang ke luar kaca.


Irene tetap bergeming dan Yudith hanya bisa menatap prihatin. Sesaat kemudian dia teringat pada boneka beruang yang menjadi sumber masalah. Segera Yudith mengambilnya dari dalam tas sekolah, lalu kembali duduk di tepi tempat tidur Irene.


"Ini, tapi sudah rusak." Yudith mengulurkan boneka beruang tipis itu.


Begitu melihat benda kesayangan, Irene langsung merampasnya dan mendekapnya di dada. Kemudian kembali menatap ke luar.


Yudith ingin mengambil kesempatan ini untuk menanamkan rasa percaya di hati Irene. Dengan lembut penuh perhatian dia berkata, "Tangan dan kakinya hampir lepas, Bu Yudith bantu jahit boleh?"


Alih-alih senang, Irene malah menyembunyikan boneka itu di bawah bantal, lalu dia pun berbaring membelakangi Yudith.


Hati Yudith rasanya seperti disayat-sayat ketika kembali teringat bagaimana Bu Yuliana dengan tega memukul tangan Irene. Bahkan sepertinya tidak memberi kesempatan anak itu untuk makan siang terlebih dulu.


Temperamen setiap orang memang tidak sama dan banyak juga Yudith mendapati para perawat pengasuh yang bertemperamen buruk. Akan tetapi, sejauh ini masih aman karena sepertinya mereka mampu mengendalikan emosi dengan cukup baik. Yudith belum pernah mendapati seorang perawat pengasuh melakukan penganiayaan secara verbal seperti itu.


"Bu Yudith."

__ADS_1


Yudith menoleh ke pintu dan mendapati gadis seumuran Irene tengah berdiri di sana.


"Iya, Va."


"Boleh Eva masuk?"


"Masuk saja. Sini."


Gadis mungil berambut pendek setengkuk itu tersenyum lebar sambil melangkah masuk, lalu duduk di samping Yudith.


"Irene belum makan, Bu. Nggak dibolehin sama Bu Laili. Katanya disetrap nggak boleh makan siang."


Lagi-lagi Yudith merasakan dadanya seperti membengkak dan penuh sesak. "Kamu temani Irene dulu, ya? Bu Yudith mau ambil makan buat Irene."


Eva mengangguk, lalu berkata, "Bu Yudith hati-hati sama Bu Laili. Soalnya Bu Laili suka mengadu dan bicara sembarangan. Takutnya nanti malah Bu Yudith disalahkan karena sudah membela Irene."


Yudith tersenyum lembut. "Mungkin bukan begitu maksud Bu Laili. Eva hanya salah paham mungkin. Ya, sudah tolong temenani Irene sebentar."


Tidak banyak bicara dan seperti hidup di dunianya sendiri, bukan berarti Yudith tidak tahu apa-apa atau tidak bisa menilai seseorang dari gerak-geriknya. Sejak pertama kali melihat Bu Laili, Yudith sudah bisa merasakan ketidaktulusan. Namun, bukan kapasitasnya untuk menilai baik buruk seseorang. Toh, dirinya juga bukan manusia yang tidak pernah berbuat salah.


Yudith sampai di ruang makan, ternyata para suster perawat dan para suster biarawati sedang berkumpul untuk makan siang.


"Sini, Dith, duduk."


Bu Yuliana bergeser untuk memberi Yudith ruang. Yudith mendekat, tetapi tidak duduk. Dengan sopan dia berbicara pada Bu Yuliana, "Maaf, Bu Yuli. Boleh aku bawa makanan buat Irene?"


Bu Yuliana yang pada saat kejadian tadi sedang ada di gudang, sudah tentu tidak tahu apa yang terjadi dan sepertinya tidak ada yang memberi tahu.


"Irene kenapa? Sakit? Perasaan tadi aku lihat pas istirahat baik-baik saja." Bu Yuliana berbicara dengan nada sangat wajar. Para suster biarawati dan yang lain pun tampak biasa saja karena mereka tadi masih di sekolah. Jadi juga tidak tahu apa yang terjadi. Hanya Bu Laili yang setiap hari selalu ada di asrama sebagai sosok ibu rumah tangga dan saat ini sedang mendelik pada Yudith.


Sudah tentu Yudith tidak takut, tetapi karena tidak ingin memperkeruh keadaan, dia pun berkata, "Iya, Bu. Sekarang lagi istirahat."


"Ya udah ambil saja. Nanti sore bawa ke rumah sakit ya, Dith"


"Baik, Bu. Terima kasih."

__ADS_1


Selagi Yudith merasa lega, Bu Laili wajahnya seketika berubah pucat.


__ADS_2