![[Sistem :Cowok Idaman]](https://asset.asean.biz.id/-sistem--cowok-idaman-.webp)
Setelah lelah berlari , Ariel berhenti di tempat keramaian.
Ia mencoba menghilangkan penat dan juga rasa takutnya.
Selama beberapa menit duduk di tepi jalan ,ia segera mengingat Adzra.
Ia harus mencari bantuan ,tapi harus seseorang yang di takuti Beni.
Sebuah ide muncul dalam kepalanya bak lampu pijar.
Ting!!
Lalu ,ia mencari mini market. Dengan gaya imutnya ,ia meminjam ponsel seorang kasir.
"Selamat datang!, Selamat berbelanja"
Ucap pegawai minimarket ,ramah.
"Permisi kak.."
"Iya kakak,,ada yang bisa kami bantu?"
"Bisa minta tolong sebentar kak?"
Ucap Ariel lagi sambil malu-malu.
"iya??"
Pegawai tersebut tampak begitu gemas dengan Ariel, karena terlihat begitu imut dengan seragam SMAnya.
"Bisa pinjami saya ponsel kak?,saya harus menelpon polisi,,teman saya di hajar preman"
Ucap Ariel tanpa sungkan lagi, matanya berkaca-kaca.
Pegawai minimarket yang memakai tage name 'Susi' itu langsung saja mengambil ponsel disakunya dan menelpon polisi.
Ariel memberikan laporan ,dan juga lokasi tempat kejadian.
Polisipun menerima laporan dan segera menuju lokasi.
__ADS_1
Setelah telpon dimatikan, Ariel segera di serbu berbagai pertanyaan dari Susi.
Lalu Ariel pun menjelaskan peristiwa naas yang dialaminya dan juga teman nya..., rasanya sedikit kikuk saat Ariel mengatakan bahwa Adzra adalah 'temannya'..
Susi mendengarkan sambil sesekali mengumpat pada Beni yang sudah sangat keterlaluan.
Lalu dia memberi semangat dan juga sedikit menasehati Ariel , agar tidak bergaul dengan anak-anak seperti itu.
Ariel mengerti, lalu dia mengucapkan banyak terimakasih pada Susi ,dan segera pamit.
Ia ingin segera menyusul Adzra.
**
Begitu melihat keadaan Adzra yang mengenaskan, Ariel yang berada di belakang salah satu polisi langsung berteriak histeris.
Membuat Aldi dan juga Erik menyerngit heran.
Kemudian mereka menyadari bahwa Ariel lah yang membawa polisi-polisi itu kemari.
Sementara Beni yang duduk dibawah pohon mendecakkan lidah.
Ia merasa jengkel,namun juga kagum pada keberanian gadis ini.
'kalian pikir akan selamat hanya karena membawa polisi-polisi ini ?....huh MIMPI!!!!'
Ketiga polisi memborgol Beni dan teman-teman nya.., sementara yang lain menyodorkan senjata mereka ,mengancam.
Mereka bertiga di bawa polisi tanpa ada perlawanan sedikitpun, membuat Ariel sedikit heran.
Namun ia segera mengalihkan fokusnya pada Adzra.
Ariel terus menangis dan juga menyalahkan dirinya sendiri..,ia begitu iba melihat keadaan Adzra sekarang.
Andai cowok itu tidak berusaha menolongnya, pasti ia tidak akan mendapatkan luka-luka ini ,pikirnya.
Lalu , ia meminta tolong polisi ,agar membawa Adzra ke rumah sakit terdekat.
**
__ADS_1
"Kamu harus bangun Adzra..!!"
"Tolong , segeralah sadar dan buka matamu.."
Hiks...hiks...
" Dengan begitu ,aku akan sedikit lega..jangan buat aku terlalu banyak berhutang padamu"
Ariel terus memohon agar Adzra segera sadar , sambil terus menangis.
"Permisi ,apa anda wali dari pasien?"
Tanya seorang perawat pada Ariel sopan.
Namun Ariel yang masih belum menguasai keadaan hanya menoleh, lalu mengangguk.
"Ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani ,mohon datang ke ruangan dokter secepatnya,Nona"
Ariel mengangguk-angguk , lalu ia segera menuju ruangan dokter.
**
Ariel terlihat begitu murung saat keluar dari ruangan dokter.
Ia kembali ruangan dimana Adzra dirawat sambil terus menitikan air mata.
Kata-kata dokter terus terngiang di telinganya.
"Kondisi pasien sangat kritis,nona. Dia perlu perawatan yang intensif. Pasien harus dibawa ke luar negeri..!"
"beberapa organ dalamnya bahkan tidak berfungsi."
Ariel terdiam sambil menatap tubuh Adzra yang di balut perban, seperti mumi. Juga selang yang terpasang di hidung juga mulutnya.
Serta banyak nya kabel yang menempel di kepala dan dadanya.
Ia berpikir keras , ingin menyelamatkan Adzra.
'Uang darimana untuk biaya pengobatan Adzra?.., Sementara aku kabur dari rumah demi menghalangi rencana papa yang akan menikah lagi.
__ADS_1
Apa aku harus pulang dan menurunkan egoku??"
'Ya... tidak ada jalan lain !!..'