8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
10. Masa itu.


__ADS_3

Kalau ada kesalahan struktur keluarga, mohon maaf ya, harap maklum, next Nara perbaiki dan revisi kembali. Terima kasih 🥰🥰🙏🙏.


🌹🌹🌹


"Sialan lu Sat. Masa lu yang makan nangka, kita yang kena getahnya." Protes rekan satu barak Bang Satria.


"Maaf" jawab Bang Satria ringan saja.


"Maafmu nggak ada gunanya, kita sampai di hukum"


"Ya terus saya harus bagaimana?? Sudah kejadian juga kita di hukum" Bang Satria tidak ingin mengambil pusing ocehan kawannya karena tubuhnya sudah sangat lelah usai mendapat hukuman yang lebih berat karena dirinya yang membuat kesalahan.


"Kau ini memang tidak ada penyesalan nya..!!" Seorang rekan melayangkan tinju ke arah wajah Bang Satria namun Bang Ricky masih sanggup menangkisnya. "Berani kau ya..!!!"


Perkelahian menjelang pagi itu tak bisa di hindarkan. Hingga suara pluit pos pantau mengetahui keributan di barak E.


~


"Kamu lagi.. kamu lagi. Kamu putranya Dan Galar ya???" Tegur seorang pelatih.


"Siap..!!"


"Papamu pria yang hebat. Masa punya anak biang rusuh. Kasihan Papamu le" pelatih tersebut memberi nasihat. "Banyak di luar sana yang ingin jadi tentara tapi tidak tercapai. Kamu bisa dapat kesempatan ini, kenapa kamu sia-siakan???"


"Siap salah" jawab Bang Satria.


"Potensi mu bagus. Matamu tajam membidik, ilmu beladiri mu mumpuni, mental mu tangguh, insting mu akurat. Pergunakan sebaik mungkin, jangan karena egoismu di usia muda, hancur lah masa tua mu..!!"


"Siap..!!" Hanya kata itu saja mewakili segala rasa dalam hatinya. Terbayang wajah Sherina, adik perempuan satu-satunya yang harus ia tinggalkan karena harus melaksanakan pendidikan militer. "Saya akan berusaha sebaik mungkin demi masa depan"


\=\=\=


Dua tahun kemudian.


"Ayo bidik lagi Sat..!!" Bang Zeni selaku Abang asuh Bang Satria dengan telatennya menyemangati sang adik.


dooorr..

__ADS_1


"Yaaakk.. bagus..!!" Kata pelatih. "Hebat kamu Sat, teknik bidikanmu itu tepat seperti saat matamu melihat gadis pujaanmu."


Bang Satria tersenyum mendengarnya. "Siap pelatih."


Hari demi hari Bang Satria menjadi sosok siswa muda yang banyak mendapat apresiasi dari para perwira tinggi dan pejabat. Sejumlah prestasi begitu menonjol pada diri Bang Satria.


\=\=\=


Empat tahun kemudian.


Bang Satria berdiri seorang diri. Di saat para lulusan lain mendapat pelukan hangat dari keluarga, hanya dirinya lah satu-satunya yang tak mendapatkan pelukan hangat tersebut, mungkin hanya teriknya matahari yang paling mengerti inginnya.


'Apa gunanya pangkat Letda ini. Tak ada seorang pun yang bangga padaku'


"Abang ku tampan dan gagah sekali" sapa seseorang tak jauh dari Bang Satria. Seorang gadis membawa bucket bunga yang indah.


"Sherina.. terima kasih banyak. Sama siapa kamu kesini?" Tanya Bang Satria.


"Sama Papa dan Mama" Jawab Papa Galar.


"Apa kabar le?" Sapa Mama Syahnaz.


Tangis Bang Satria pecah meraung-raung. Mama Syahnaz yang membawanya dari jalanan ke rumah tak seberapa besar milik negara. Mama Syahnaz memberi nya makan, pakaian bersama Sherina adik perempuan yang saat itu masih berusia satu tahun.


"Ini Mama le, Mama bangga sama Satria. Satria anak Mama." Ucap Mama Syahnaz.


"Terima kasih Mama telah bersedia menerima kehadiran saya juga Sherina. Harus dengan apa saya membalas segala kebaikan Mama??" Bang Satria memeluk erat kaki sang 'Mama'.


"Jangan pernah tinggalkan Mama. Satria dan Sherina juga bagian dari hidup Mama"


"Apapun.. demi Mama" jawab Bang Satria.


Papa Galar berdehem menyadarkan semua. "Ada Papa, ada Mama.. baru ada kamu Sat. Masa lupa sama Papa" protes Papa Galar.


Bang Satria berdiri memberi hormat pada Papa Galar dan Papa Galar menyambutnya kemudian memeluk Bang Satria. "Papa bangga le, sangat bangga" kata Papa Galar.


Bang Satria menumpahkan tangisnya di bahu Papa Galar. "Terima kasih banyak Papa"

__ADS_1


\=\=\=


Beberapa tahun kemudian.


Mata Bang Satria melihat sosok gadis cantik berlari pagi keluar dari kesatrian lembaga pendidikan militer wanita.


"Siapa dia?" Tanya Bang Satria pada seorang anggotanya.


"Ijin Letnan, namanya Reradihan Inggil Gitarja, biasa di panggil Lintar."


"Khusus siswa Lintar.. tolong carikan semua info tentang dia..!! Saya bukan pelatih, tapi saya penasaran sama Lintar."


Seorang pelatih tersenyum mendengarnya. "Siap..!!"


...


"Ayo merosot Lintaaarr..!!!" Teriak Bang Satria meminta Lintar menuruni papan rapling.


"Ijin pelatih, tidak berani..!!" Lintar sama sekali tidak mengetahui bahwa Bang Satria hanyalah seorang penyusup demi mencari 'perkara' dengan seorang siswa.


"Kamu itu di didik jadi tentara, bukan jadi foto model.." ucap garang Bang Satria.


Masih asyiknya mengerjai Lintar ada seorang junior Bang Satria mencolek lengannya.


"Ijin Bang Sat.. Bang Ke memanggil." Lapor Bang Bismo.


"Heeehh Bemo, kamu panggil saya apa??? Kamu menghina saya?????" Tegur Bang Satria pada juniornya yang berbibir sedikit eksotis tanpa mengurangi ketampanan perwira muda itu.


Para anggota sudah cengar cengir menahan geli mendengar sapaan Letda Bismo untuk Letda senior.


"Siap.. tidak berani Abang"


"Gundhulmu..!!! Saya jungkir kamu dari sini, rontok semua itu gigimu...!!" Ancam geram Bang Satria.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2