8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
19. Meng-clear-kan suasana.


__ADS_3

Papa Rakit sudah tiba karena akan menikahkan Lintar dan Bang Panca. Bersama Mama Fia, Bang Panji dan Bang Arsene papa menunggu Lahar tapi tidak kunjung melihat Bang Panca di sana.


"Kenapa Panca belum datang"


"Nggak tau Pa" jawab Lintar.


"Dia niat jadi suamimu atau tidak??? Kalau dia niat jadi suami, seharusnya dia datang membantu mu dan ikut menjaga Lahar" bentak Papa Rakit.


Tak lama berselang Bang Bismo datang ke ruang rawat Lahar Raksa dan berbisik di telinga Papa Rakit.


Mata Papa Rakit berkilat merah penuh amarah. "Kurang ajaar."


"Ada apa Pa?" Tanya Bang Arsene.


"Panggil Satria kesini..!!"


"Bang Satria sedang dinas Pa" kata Bang Panji.


"Kamu pikir Papa nggak tau.. panggil Satria sekarang juga..!!!!"


-_-_-_-_-_-


Dengan telaten Bang Satria mengurus Lahar yang masih dalam masa pemulihan. Keadaannya belum juga membaik.


"Apa alasanmu membiarkan Panca pacaran dengan Lintar? Bukanya kamu juga ada hati sama Lintar" Selidik Papa Rakit.


"Hutang Budi saya terlalu besar Pa, dulu Sherina pernah kecelakaan waktu saya sedang penugasan PAMRWN di Papua hingga akhirnya Sherina bisa sadar dan sehat, saya juga tau kabar itu setelah beberapa hari kemudian. Kedua.. Panca juga telah memberi hidup kedua untuk saya. Darahnya juga menyelamatkan nyawa saya Pa" jawab Bang Satria.


"Tidak begitu pola pikir mu Satria. Tidak semua hal bisa di sangkut pautkan dengan hutang budi. Kalau semua akan merugikan pada akhirnya.. lebih baik kamu mengambil tindakan tegas..!!!!!" Kata Papa Rakit. "Papa tanya sama kamu, apa setelah ini kamu akan melepaskan Lintar lagi??????"


"Tidak akan pernah Pa, Lintar adalah tanggung jawab saya. Demi apapun saya tidak akan melepas Lintar lagi."


...


Bang Satria memberikan kartu ATM nya pada Lintar.


"Bawalah semuanya.. Abang hanya pegang satu ini untuk sedikit kebutuhan Sherina."


Seketika Lintar meletakan semua kartu ATM itu, emosinya merangkak naik. "Lintar tidak meminta Abang berkorban sampai sejauh ini, gaji Lintar pun masih cukup untuk menghidupi Lahar, jika memang hati Abang hanya untuk Sherina.. silakan..!!" Lintar beranjak dari hadapan Bang Satria. Tak tau apa yang ada dalam pikiran Bang Satria hingga memberikan nyaris seluruh kartu ATM nya.


Dengan cepat Bang Satria memeluk Lintar dari belakang "Percayalah, Sherina itu adik kandung Abang.. satu-satunya keluarga yang tersisa.. yang Abang punya."

__ADS_1


Lintar berusaha melepaskan dekapan Bang Satria tapi Bang Satria menolaknya. "Tolong percaya sama Abang, landasan hubungan kita adalah Tuhan, setia dan percaya satu sama lain..!!"


Doktrin Bang Panca tentang Sherina terlalu kuat melekat dalam hati Lintar. "Bagaimana bisa Lintar percaya sama Abang? Sedangkan laki-laki yang akan menikahi Lintar saja tega membohongi Lintar" dengan kasar Lintar berusaha melepaskan pelukan Bang Satria. "Lintar mau menikah Bang, tolong yang sopan..!!!" Tegur Lintar.


Lintar menepis tangan Bang Satria lalu keluar dari kamar.


...


"Menghubungi Bang Panca" jawab Lintar saat Bang Arsene geram melihat Lintar terus berusaha menghubungi Bang Panca.


"Untuk apa kamu hubungi dia???? Lupakan Panca..!! Lahar sakit saja dia tidak mau tau" kata Bang Arsene.


Lintar terdiam mendengar kemarahan Abangnya. Bang Arsene amat sangat marah saat mengetahui littingnya tidak pernah datang menemuinya.


***


Seharusnya hari ini adalah hari pernikahan Lintar dan Bang Panca. Lintar menangis tersedu-sedu karena acara akad nikahnya tak ada kabar, tanpa ucapan apapun bahkan dinas tak bisa menemukan keberadaan Bang Panca dua hari ini.


"Kamu jangan menangisi pria kurang ajar itu..!!!!" Jengah Papa Rakit sampai membentak Lintar. "Pikirkan anakmu daripada kamu mikir pria nggak jelas seperti Panca..!!!!"


"Lintar hanya takut Papa malu karena kejadian ini."


Saat itu Bang Satria masuk ke dalam kamar rawat Lahar. "Kalau mau ribut tolong di luar..!!" Cukup kalimat itu membuat seisi ruangan terdiam.


"Papaaaa... Pulaang..!!!!" Pinta Lahar.


"Sabaar donk.. om dokternya mau lihat dulu apakah pasukan jahat di perut Bang Lahar sudah kalah. Kalau sudah kalah baru kita pulang..!!" Jawab Bang Satria. "Kira-kira Abang mau pulang sama Papa atau sama Mama?"


"Sama Papa" jawab Lahar.


"Kalau mau pulang sama Papa berarti Abang harus minum obat, makan sayur juga harus habis." Bujuk Bang Satria lembut.


"Abang mau makan..!!"


Bang Satria tersenyum mendengar jawaban Lahar. Tangan kekar itu menggelitik perut gendut lahar yang bobotnya sudah susut karena sakit.


Tawa ceria lahar sangat alami setiap bersama dengan Bang Satria.


"Sat..!!" Sapa Papa Rakit.


"Iya Pa" Bang Satria menoleh menanggapi Papa Rakit.

__ADS_1


Kening Lintar berkerut karena Bang Satria mulai akrab dengan Papanya.. entah sejak kapan.


"Papa putuskan kembali ke NTB, Papa titip Lintar dan Lahar" kata Papa Rakit.


"Nggak perlu titip Pa, saya akan jaga mereka.. Itu sudah tugas saya..!!"


"Aku tinggal dulu Pa, aku harus bicara sama Panca..!!" Sambung Bang Arsene.


"Ar.. Kamu kembali saja sama Papa.. biar aku yang urus semuanya..!!"


"Kamu memang bisa urus semuanya, tapi Lintar tetap adikku dan aku butuh ketegasan status. Status yang menyatakan kalau hubungan mereka sudah selesai dan pengajuan pernikahan secara resmi batal..!!" Ucap tegas Bang Arsene.


"Jika menurut keluarga keputusan itu yang terbaik.. silakan di lakukan. Asal jangan ada yang mengusik Lintar dan Lahar..!!" Pesan Bang Satria.


"Aku nggak akan melibatkan mereka..!!!"


:


"Ijin Abang.. silakan ikut saya..!!" Ajak Bang Bismo setelah berhasil menemui Bang Panca di kamar mess nya.


"Kemana?"


"Bang Arsene ingin bertemu dengan Abang..!!" Jawab Bang Bismo.


"Dimana?" Tanya Bang Panca.


"Di rumah sakit." Bang Bismo mulai kesal dengan seniornya.


"Laaahh.. siapa yang sakit?"


"Ijin.. Abang tidak tau kalau Lahar di rawat di rumah sakit???" Bang Bismo balik bertanya.


"Mana saya tau, besok saya mau menikah sama Lintar. Jadi saya menjalani pingitan" alasan Bang Panca.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2