
"Oya??? Abang bilang begitu???"
Sherina mengangguk. "Bang Satria pernah sakit hampir satu bulan lamanya saat penugasan di Papua sampai badannya kurus kering mendengar Mbak Lintar menikah sama almarhum Bang Jenar. Nggak mau makan, nggak mau minum, sering tiba-tiba demam tinggi, mabuk sampai akhirnya Abang bisa mengontrol diri"
Lintar terhenyak mendengar cerita Sherina, ia telah salah paham dan tidak percaya kejujuran Bang Satria.
"Terus apalagi?" Tanya Lintar semakin penasaran.
"Abang tidak mau menikah dengan wanita manapun, saran dari semua sahabatnya di tolaknya mentah-mentah. Jika bukan Mbak Lintar, seumur hidup Abang nggak akan menikah" itulah ucapnya.
Hati Lintar semakin merasa bersalah mendengarnya.
"Apa Abang tidak punya pacar?"
"Hmm.. dulu..........."
:
Lintar mondar mandir di kamarnya. Ia kebingungan sendiri dengan situasi yang tengah ia hadapi.
"Aku harus bagaimana ya? Bang Satria sudah baik, Abang juga sudah menyelamatkan nama baik Papa dan keluargaku. Apa aku minta Abang nikahi aku saja??? Aahh ngelunjak nggak sih??" Lintar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku juga nggak mungkin tinggal satu atap tanpa ikatan apapun" Lintar merasa terjepit, ia paham mental, iman dan karakter Bang Satria. Tapi pria tetaplah pria yang bisa saja khilaf kapanpun tanpa di duga.
cckkllkk..
"Abang kenapa masuk kamar Lintar?"
Lintar melihat Bang Satria masih saja memercing kesakitan. Berarti 'suami catutan' nya itu tak akan memiliki daya apapun.
"Kalau Abang pingsan bagaimana? Lagipula kamar Abang di pakai tidur sama Sherina" jawab Bang Satria.
Masuk akal juga jawaban Bang Satria hingga Lintar tak berani berkata apapun dan lagi Bang Satria sedang sakit hingga hatinya menjadi tidak tega.
"Ya sudah masuk sini. Abang tidur paling pinggir pinggir dan jangan mencoba mendekat Lintar atau denda dua juta..!!" Ancam Lintar.
"Abang sedang sakit. Nggak mikir sampai kesana. Tapi kalau kamu yang mepet, denda lima juta ya..!!" Bang Satria pun mengancam. "Ya masa Abang lagi sakit tapi kamu umekin." Kata Bang Satria memelas.
***
Bang Satria tidak bisa memejamkan matanya. Sejak tadi melihat Lintar memakai daster sudah sangat mengganggu pandangan matanya.
Perlahan ia mengintip Lintar, istrinya itu sudah tidur nyenyak. "Astagfirullah Ya Allah, cantik sekali Engkau memberi paras pada wanita ini, salahkah jika hambaMu ini tergoda nafsu dunia?"
Bang Satria membelai pipi Lintar. Ia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Flashback Bang Satria on..
__ADS_1
"Siap Komandan.. Ijin arahan..!!"
"Duduk..!!" Perintah Dan Rakit.
"Siap.." Bang Satria duduk berhadapan dengan Dan Rakit. Suasana di ruang itu sangat panas apalagi Bang Arsene dan Bang Panji sudah menatapnya. Ada beberapa orang juga di ruangan tersebut.
"Kamu mencintai Lintar?" Tanya Dan Rakit.
"Siap tidak berani Komandan"
"Tidak berani gundhulmu. Kamu ini laki-laki atau bukan, kenapa tidak berani melangkah demi kebahagiaan mu dan Lintar??"
"Siap salah. Kapten Panca sudah melamar Sertu Lintar" jawab Bang Satria.
"Apa kau tau Panca selingkuh dengan wanita lain?" Selidik Dan Rakit. "Panca.. sering keluar masuk hotel."
"Astagfirullah..!!" Bang Satria baru mengetahui hal ini, amarahnya menanjak.. tangannya mengepal geram. Di saat dirinya sudah merelakan sang pujaan hati demi balas Budi dan sahabatnya, namun Bang Panca malah meruntuhkan kepercayaan nya.
"Saya tau kamu mencintai Lintar. Besok adalah hari pernikahan Panca dan Lintar. Saya tidak rela putri saya menikah dengan Panca. Jika saya meminta kamu menikahi Lintar sekarang juga.. apa kamu bersedia??" Tanya Dan Rakit.
Bang Satria terdiam sejenak. Banyak hal yang ia pikirkan dalam hatinya.
"Kamu pilih pernikahan Lintar dan Panca sudah terjadi dan dia menangis setiap hari atau kamu nikahi dia dan kalian membangun rumah tangga?" Dan Rakit sengaja menegaskan ucapnya. "Hanya saja saya mohon maaf.. Lintar sudah pernah menikah"
Dan Rakit tersenyum mendengar setiap ucap rendah hati Kapten Satria. Sebagai seorang ayah, jujur hatinya sangat tenang. "Jadi bagaimana?"
"Jika Komandan dan ibu beserta kedua Abang merestui.. saya siap menikahi Lintar sekarang juga."
~
"Alhamdulillah.. sah"
"Alhamdulillah..!!" Bang Satria mengusap wajahnya. Ia menghapus tetesan bening di sudut mata.
"Nanti aku beritahu Lintar" kata Bang Arsene.
"Jangan dulu Ar..!!" Cegah Bang Satria. "Tolong.. ada beberapa hal yang harus saya selesaikan.. juga saya ingin bermain-main sedikit dengan Lintar. Nggak apa-apa khan kalau saya pengen 'pacaran' lagi?"
Seluruh anggota pun mengerti.
"Ya sudah, yang penting sekarang Papa sudah tenang"
"Iya Pa"
Bang Khezin dan Bang Bismo tersenyum turut bahagia melihat senyum sumringah Bang Satria.
__ADS_1
"Ini pacaran yang paling enak. Kebablasan pun nggak perlu pusing." Kata Bang Khezin. "Gue mau minta pacar datang kesini."
"Awas hamil" jawab Bang Satria.
"Jiiiaaahh.. pakai ngeledek bilang hamil. Kamu bisa jantungan kalau tau pacarku hamil" ledek Bang Khezin.
Bang Satria tak begitu menanggapi ucapan Bang Khezin. Fokusnya hanya rasa bahagia dalam hati karena Lintar sudah sah menjadi istrinya.
Flashback Bang Satria off...
Hati-hati sekali Bang Satria menarik Lintar lebih dekat dengannya. Perlahan ia mencium kening Lintar dan memeluknya. "Kamu tidak tau betapa rindunya Abang sama kamu. Tersiksa lahir batin mencintai kamu, tapi Abang ikhlas.. ikhlas karena memang Abang sayang sama kamu."
Jemari Bang Satria menelusuri setiap jengkal lekuk tubuh Lintar. Hingga pada satu titik.. darah Bang Satria memanas. Bang Satria mengurungkan niatnya. "Sepertinya, kita harus lebih banyak interaksi ya sayang..!!"
...
Pagi hari Lintar menggeliat bangun dari tidurnya. Ia menyentuh sesuatu yang membuatnya bingung. "Siapa letakan timun disini?" Gumamnya. Lintar pun menoleh. "Astagaa.. Aaaaaa.." teriak Lintar sampai Bang Satria harus membungkam mulutnya.
"Allahu Akbar.. ada apa pagi sekali kamu teriak????" Bang Satria melihat tubuhnya sampai merosot. "Astagfirullah.. kamu apakan Abang dek??? Abang khan lagi sakiitt" wajah Bang Satria sudah sangat cemas. Ia membenahi pakaiannya lalu menarik selimut.
"Baaang.. sumpah Lintar nggak bermaksud pegang Abang."
"Nggak mungkin.. tidurmu saja melewati garis" kata Bang Satria. Wajahnya sangat sedih. "
"Maaf Abaaaang..!!"
"Kamu harus tanggung jawab. Abang harus lapor sama POM."
"Abaaang.. jangan gitu lah. Mereka taunya kita sudah menikah" kata Lintar.
"Naahh.. Abang sakit karena kepikiran hal itu. Kita sudah menikah, kalau kamu nggak hamil juga.. kamu mau bilang apa sama rekan kerja kita. Kamu nggak kasihan sama Abang?? Kamu sudah jelas punya anak. Laahh Abaang??" Ucap Bang Satria menekan penuh kelembutan pada Lintar.
Lintar paham maksud Bang Satria tapi dirinya juga takut. Ia menitikan air mata. "Abang berani bayar Lintar berapa?"
Bang Satria tersenyum kecut. Ada rasa bersalah yang sangat kuat dalam hatinya. Sungguh ia tidak berniat merendahkan sang istri karena ketidak jujurannya. "Kamu minta apa?"
"Mungkin Lintar bukan apa-apa dalam hidup Abang. Tapi bisakah Abang mencintai Lahar? Jika Abang sudah tak suka lagi. Bisakah tetap berpura-pura untuknya?" Pinta Lintar.
.
.
.
.
__ADS_1