8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
43. Titik kekuatan.


__ADS_3

Bang Satria mulai gusar. Waktu dua jam yang telah di tentukan pun sudah usai namun sesekali Lintar masih merasa kesakitan.


"Sat.. sudah dua jam. Bisa kita bicara?"


~


"Relakan ya Sat..!!"


Bang Satria mengepalkan tangannya berusaha sekuatnya menahan perasaan tak karuan didalam hatinya.


"Sat..!!!!"


"Baiklah Bang.. silakan..!!" Kata Bang Satria.


"Permisi dok.. pasien di kamar Dahlia tidak ada." Kata seorang perawat wanita.


"Lho.. kemana ners???"


"Lintar..!!!!!!" Bang Satria segera keluar dari ruang Dokter dan berlari mencari Lintar.


~


"Dimana kamu sayang..!!" Gumam cemas Bang Satria kelabakan mencari keberadaan Lintar yang pergi entah kemana.


"Tidak ada di sekitar rumah sakit Dan..!!" Kata Delon.


"Ya Allah.." tubuh Bang Satria terasa mengambang, lemas dan gemetar apalagi Lintar kabur membawa janin yang keadaan kandungannya kurang memungkinkan untuk di lanjutkan.


HT Bang Satria berbunyi. Info menunjukan pergerakan Lintar ada di sekitar jembatan dan tak jauh dari rumah sakit.


Bang Satria segera berlari menuju ke tempat informasi tadi berasal.

__ADS_1


:


"Jangan macam-macam kamu dek..!!"


"Abang yang macam-macam. Apa janji Abang?? Apa Abang tidak kasihan dengan anak kita????" Ucap Lintar dengan emosi.


"Semakin kamu seperti ini, semakin kamu tidak bisa mempertahankan anak kita..!! Kita belum sempat memeriksa keadaan anak kita..!!" Bang Satria pun tak kalah emosi karena situasi ini juga membuat posisinya serba salah."


"Lintar sudah bilang, kalau dia tidak bersama Lintar, lebih baik Lintar mati..!!" Jerit Lintar.


"Apa hanya anak itu yang kamu pikir???? Bagaimana dengan Lahar?????" Bentak Bang Satria.


Lintar terdiam tapi air matanya masih berlelehan.


"Lahar juga butuh kasih sayangmu... Abang hp sudah katakan, tidak masalah jika hanya ada lahar dalam hidup Abang..!! Abang juga sangat menyayanginya." Kata Bang Satria. "Abang tau perasaanmu, Abang tau inginmu. Tapi kita hanya manusia yang tidak memiliki kuasa untuk melawan kuasa Tuhan. Kalau saja diri ini bisa menggantikan posisi lebih baik henti nafas ini untuk hadirnya."


Seketika kaki Lintar tak sanggup menahan tubuhnya. Ucap Bang Satria sungguh memukul telak sanubarinya.


...


Bang Satria mendekap Lintar yang sama sekali tidak mau menatap layar USG. Terdengar samar detak jantung yang menandakan bahwa makhluk kecil itu masih bernyawa.


"Sat, dia masih kuat bergerak. Ada tendangan kecil di perut Lintar."


Masih menahan tangisnya, Bang Satria terus menahan laju air matanya. Tendangan kecil itu seakan menunjukan bahwa ia tetap ingin berada disana hingga waktunya tiba. "Untuk kesekian kalinya saya tetap bertanya. Apakah mungkin dia tetap berada disana?" Tanya Bang Satria.


"Kali ini.. Tuhan mendengar do'amu Sat. Calon bayimu bisa di pertahankan." Jawab Dokter.


"Allahu Akbar.. Alhamdulillah Ya Allah." Tangis itu lepas begitu saja.


"Hasil dari setiap do'amu Sat. Saya tau kamu tak lepas bersujud demi istri dan anakmu."

__ADS_1


Bang Satria melepas pelukannya tapi ternyata Lintar sudah tak sadarkan diri dalam tangisnya. Tampaknya sang istri sudah begitu syok hingga tak sanggup lagi mendengar hal yang paling terburuk dalam hidupnya.


"Dek.. bangun sayang. Kita masih bersamanya dan akan terus bersamanya." Bisik Bang Satria.


...


Mata Lintar perlahan terbuka, ia mengusap air matanya.


"Iya Bang, tolong beri surat ijin khusus untuk Lintar bisa dinas luar..!!" Terdengar suara Bang Satria menghubungi seseorang. "Selebihnya saya yang handle. Lintar harus bedrest dan tidak bisa bangkit dari tempat tidur untuk sementara waktu." Ucapnya lagi. "Benar Abang, lemah kandungan."


Mata Lintar memicing. 'Apa itu artinya bayiku masih ada?'


Tak berapa lama akhirnya Bang Satria masuk ke dalam kamar rawat.


"Bang..!!!"


"Eehh...kamu sudah bangun?" Bang Satria mengecup kening Lintar.


"Apa dia masih ada?" Tanya Lintar tanpa basa-basi.


"Alhamdulillah.. dia masih ada sama kita. Abang baru berunding agar kamu bisa full istirahat di rumah." Jawab Bang Satria.


"Alhamdulillah Bang, Lintar senang sekali. Ini bukan mimpi khan Bang?" Lintar memastikan sekali lagi.


"Bukan. Ini nyata. Kita masih bisa bersama dia.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2