
Malam usai jam bebas, Bang Panca mendinginkan hatinya. Banyaknya panggilan telepon dari Lintar sama sekali tidak di pedulikannya.
"Pancaa???" Sapa seorang wanita.
"Tantri.. kamu disini?" Bang Panca celingukan mencari kemungkinan Tantri disana bersama rekan atau mungkin kekasihnya. "Sama siapa kesini?" Tanya Bang Panca saat tak menemukan siapa pun berada dekat Tantri.
"Sendirian saja..!!. Kamu dengan siapa?" Tantri balik bertanya.
"Sendirian juga." Jawab Bang Panca.
:
Bang Panca dan Tantri hanyut dalam pertemuan singkat, mereka berdua saling menghangatkan di bawah kelap kelip lampu dan bisingnya suara music.
"Dulu kamu wanita kesayangan Satria"
"Yaaa.. tapi aku nggak suka dengan sikapnya yang selalu memikirkan Sherina. Mungkin kalau aku jadi istrinya, seluruh uangnya hanya untuk Sherina saja" gerutu Tantri.
"Lupakan dia, Satria hanya masa lalu pahitmu. Sekarang sudah ada aku..!!" Kata Bang Panca.
Tantri tersenyum mendengarnya. "Kamu kesepian nggak Pan?" Tanya Tantri.
"Yaaa.. lumayan lah. Memangnya kenapa?"
Tanpa jawaban Tantri langsung menyambar bibir Bang Panca dan kekasih Lintar itu menyambutnya.
//
Perlahan Bang Satria merebahkan Lahar di ranjangnya. Akhirnya jagoan kecil berusia satu setengah tahun itu tidur juga.
"Alhamdulillah..!!" Bang Satria merasa lega karena akhirnya Lahar bisa tidur nyenyak. Sejak tadi kata 'Papa' sangat familiar di telinganya.
"Terima kasih ya Bang, sudah mau bersusah payah menemani Lahar sampai tidur. Lintar nggak tau kalau Lahar bisa semanja ini sama Abang" kata Lintar merasa tidak enak hati.
"Nggak apa-apa. Abang senang main sama Lahar."
Keduanya saling menatap namun kemudian Bang Satria mengalihkan pandangan.
"Abang kembali ke mess dulu..!!"
__ADS_1
Lintar mengangguk menjawabnya.
...
Bang Satria sejenak memejamkan mata. Kebersamaan dirinya dengan keluar Lintar sungguh sangat membekas dalam hatinya. Menemani Lahar bermain, mandi berdua dengan jagoan kecil Lintar menjadi moment indah tersendiri dalam hatinya. Namun segala rasa itu harus di telannya karena Lintar tidak akan pernah menjadi miliknya.
"Baaang.." suara itu menyadarkan Bang Satria.
"Masuk..!!"
"Akhirnya datang juga Abangku ini. Apa kabar Bang?" Sapa Bang Bismo.
"Alhamdulillah sehat. Waahh.. kamu sudah nikah saja. Kalah nih saya. Selamat ya..!!" Kata Bang Satria.
"Siap Bang, istri saya juga lagi hamil nih."
Senyum Bang Satria kembali merekah.
"Abang kapan nyusul?" Tanya Bang Bismo.
"Kamu tanya atau meledek??????" Raut wajah kesal Bang Satria pun membuat ketar ketir hati Bang Bismo.
"Siaap.. tidak berani Abang..!!"
"Ada apa itu? Coba kamu lihat..!!" Perintah Bang Satria pada juniornya.
"Ijin Bang, itu Bang Khezin datang bawa rombongan music" jawab Bang Bismo.
"Apa-apaan sih dia, apa di pikir saya ini pengantin sunat, kenapa pakai tanggapan lenong segala?????" Gerutu Bang Satria.
"Heeeh Bang Saaatt.. keluar lu..!!!!!" Teriak Bang Khezin dari luar.
Sontak kesal Bang Satria merangkak naik. "Dasar Bang Khee.. ada apa sih.???????"
"Gue kangen sama lu Sat, setahun lebih kita nggak ketemu. Hati gue rasanya hampa" kata Bang Khezin. "Gue jaga anak lu baik-baik. Gue ajak Lahar main sampai gue rela nggak pacaran demi momong anak lu. Sekarang lu bisa kasih kompensasi apa ke gue.????"
Bang Satria tersenyum mendengar celotehan Bang Khezin apalagi wajahnya terlihat sangat memelas.
"Minta apa lu??" Tanya Bang Satria.
__ADS_1
"Duit lu khan banyak, baru pulang dari Sudan, usaha lu juga laris. Modalin gue makan di restoran donk..!!!"
Bang Satria tak bisa menahan tawanya kalau sudah berhadapan dengan Bang Khezin, tapi tetap wajah cool itu bisa menutupi segalanya.
"Biasa makan nasi pecel aja lu sok-sokan mau makan di restoran. Sampai rumah kena gatal, ambeien, paru-paru basah." Jawab Bang Satria. "Mau di restoran mana?" Ucap Bang Satria menggambarkan kalau dirinya menyetujui permintaan Bang Khezin.
"Yeeeeyy.. lu pulang dari Sudan semakin ganteng aja." Puji Bang Khezin. "Di restoran dragon ya..!!"
"Lu minta di modalin apa ngerampok?????"
"Aahh lu perhitungan amat, besok pulang dari dinner gue bawakan gorengan" negosiasi masih terjadi di antara Bang Satria dan Bang Khezin.
Tak tau lagi bagaimana caranya 'mengusir hama wereng' satu ini, Bang Satria pun segera mengambil ponselnya. "Gue transfer ke rekening lu." Kata Bang Satria tanpa berdebat.
"Siap Boss. Terima kasih banyak" senyum licik Bang Khezin pun merekah.
Bukan tanpa alasan Bang Satria menuruti permintaan littingnya itu, sebab dirinya meminta Bang Khezin untuk menjaga baby Lahar selama dirinya dan Lintar di Sudan. Mulai mengawasi pengasuh yang membantu Mama Fia sampai detail kebutuhan baby Lahar semua dalam pantauan Bang Satria.
Papa Rakit bukannya tidak melarang tapi Bang Satria sendiri yang meminta agar tidak memikirkan apapun dari 'hadiah' yang di berikan juga tidak ada pamrih apapun karena semua ini hanya untuk Baby Lahar. 'Berjodoh atau tidak, Bang Satria tidak akan pernah mengurangi rasa sayang atau membuat dampak apapun bagi urusan pribadi dan dinas.'
"Sat, kemarin 'anakmu' minta mainan motor balap..!! Tagihannya seperti biasa masuk ke rekening mu..!!" Lapor Bang Khezin.
"Oke" hanya itu saja jawab Bang Satria, ringan seperti tanpa beban sembari menyulut rokoknya.
"Tapi anakmu belum bisa naik motornya, masih umur satu setengah tahun"
"Sebelum barangnya di lihat Lahar, masih bisa di pasang roda bantu..!!" Jawab Bang Satria. Ia pun kemudian memasukkan ponselnya. "Besok yang remaja, kalau tidak ada kegiatan di luar.. kita makan-makan ya di barak"
"Yeeeeaaayyyyy.. Terima kasih Dan" jawab para anggota bersorak girang.
"Sama-sama"
"Yaaa.. kenapa besok??? aku mau pacaran" kata Bang Khezin.
"Lu jadi makhluk jangan serakah..!!!!" jengah sekali Bang Satria mendengar rengekan si biang onar.
.
.
__ADS_1
.
.