
Bang Satria ambruk setelah mendapatkan tindakan dari para seniornya.
"Bang, Abang masih sadar??" Bang Bismo membantu Bang Satria untuk berdiri.
"Tinggalkan saya. Saya nggak kuat berdiri..!!" Perintah Bang Satria karena tidak ingin merepotkan orang lain.
"Bang Panca jelas salah, kenapa Abang masih melindungi?" Tanya Bang Bismo yang paham situasi yang telah terjadi tadi.
"Kau paham khan, litting ada saudara tanpa harus sedarah. Apa kau tega melihat saudaramu mendapat kesulitan?" Jawab Bang Satria.
"Tapi lihat dulu lah Bang makhluk apa yang pantas untuk di perjuangkan. Bukan begini prinsip jiwa korsa. Saya rasa Bang Panca tak hentinya menikung Lintar di belakang punggung Abang, kali ini pun Bang Panca membiarkan Abang menghadapi kesulitan sendirian. Apa pantas dia di sebut saudara." Ucap Bang Bismo kesal dan berapi-api.
"Huusstt.. kunci mulut ember mu. Saya sudah tau apa yang Panca lakukan. Jodoh, maut dan rejeki adalah kuasa Allah, saya bukannya tidak berjuang untuk hati saya.. tapi ketetapan Allah adalah nyata. Seberapa pun jauhnya kamu berlari, jodoh itu akan kembali.. menyesuaikan dengan dirimu" tenang Bang Satria menjawab tapi Bang Bismo bisa merasakan kesakitan hati yang dalam dari diri seniornya.
"Sabar ya Abang. Abang pasti kuat. Saya tau bagaimana sifat Abang"
Bang Satria meremas dadanya, rasanya sungguh tidak sanggup berdiri. Tubuhnya terasa remuk dan hancur.
"Baang..!!"
Bang Satria akhirnya tumbang juga menimpa Bang Bismo.
***
Bang Panca merawat sahabatnya di ruang kesehatan.
"Kenapa kamu korbankan dirimu? Aku bisa mengatasi masalahku sendiri" kata Bang Panca.
"Aku tidak mengorbankan diri. Aku hanya menebus segala sesuatu yang tidak sejalan dengan hatiku" jawab Bang Satria.
"Terkadang kita harus tegas dalam hidup ini Sat"
"Dan aku hidup sesuai dengan naluriku" Bang Satria memejamkan mata. Tubuhnya masih sangat lelah.
"Kamu laki-laki. Jangan main rasa"
"Laki-laki tetap manusia yang punya hati" jawab Bang Satria yang tidak ingin berdebat lebih jauh dengan sahabatnya.
\=\=\=
__ADS_1
Hari yang berlalu.
Bang Satria mendapatkan teguran keras karena misinya nyaris gagal sebab ada kesalahan teknis. Danyon pun 'melempar' Bang Satria menuju penugasan PAMRWN di Papua selama satu tahun dan Bang Panca berangkat tugas BKO di Ambon selama tiga bulan.
Tak ada keberadaan Lintar mengantarnya. Sejak kejadian itu.. Lintar menghindarinya. Nomer ponsel pun tidak aktif.
\=\=\=
( Lompat Part )
"Apaaaa?? Lintar menikah dengan Kapten Jenar????" Bang Satria sungguh kaget mendengar kabar tersebut. Lintar menikah dengan juniornya.
"Siap Bang"
Sekujur tubuh Bang Satria rasanya gemetar, kakinya lemas hingga terduduk kasar tak sanggup membayangkan Lintar berada dalam dekapan pria lain.
Flashback Bang Satria off..
Bang Satria menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. "Jika Allah sudah menghendaki.. aku pun tidak bisa mencegah takdirNya..!!"
\=\=\=
Lintar sudah sangat merindukan jagoan kecilnya yang entah saat ini sudah sepintar apa tanpa dirinya.
Pesawat mendarat mulus tanpa hambatan. Lintar sudah tidak sabar ingin berlari turun dari pesawat.
"Sabar, nanti ada waktunya bertemu anakmu" kata Bang Panca.
Bang Satria memilih diam karena tak ada hak baginya ikut campur dalam urusan sahabatnya dan Lintar.
...
Apel pelepasan telah usai. Keluarga sudah di ijinkan untuk menyambut kedatangan pasukan khusus yang baru saja tiba dari Sudan.
Langkah kecil menghampiri, bocah batita berlari menghampiri sosok Lintar yang berdiri tepat di antara Bang Panca dan Bang Satria.
"Mamaaaa..!!!!" Lahar memeluk mamanya.
Pecah tangis Lintar ikut menyentuh hati Bang Panca dan Bang Satria.
__ADS_1
Tapi saat itu pandangan mata Lahar langsung tertuju pada Bang Satria. Lintar pun sampai ternganga melihat tangan Lahar terbuka lebar meminta agar Bang Satria menggendongnya. Tanpa banyak basa-basi, Bang Satria menggendong pria kecil itu.
"Papaaaaa.." Lahar menangis dan mengeratkan pelukannya.
Bang Panca mencoba mengambil Lahar dari pelukan Bang Satria tapi Lahar tidak mau melepaskan pelukannya untuk Bang Satria. Lahar tak seperti dulu yang selalu menempel padanya.
"Ini Papanya Lahar" jawab ketus Lahar.
"Hhstt.. yang baik bicaranya nak..!!" Bang Satria mengusap punggung Lahar dan si kecil Lahar menyandarkan kepalanya di bahu Papa Satria.
"Lahar mau pulang sama Papa"
Mendengar ucap Lahar, Bang Panca pergi menjauh untuk memberi ruang pada Bang Satria.
Bang Satria melirik Pak Rakit dengan tidak enak karena Lahar terus menempel padanya.
"Sepertinya Lahar manja sekali sama kamu Sat..!!" Tegur Pak Rakit.
"Siap salah Dan..!!"
"Nggak ada yang salah. Ikut saja bersama kami dulu..!!" Ajak Pak Rakit.
"Mohon ijin Dan, dengan segala hormat kami masih ada tugas selanjutnya..!!" Tolak Bang Satria masih memikirkan perasaan Bang Panca padahal bisa saja jika dirinya ikut dengan keluarga Lintar.
"Ya sudah kalau begitu."
Papa Rakit mencoba mengambil alih Lahar dari gendongan Bang Satria tapi pria kecil itu menolaknya dan malah semakin merapatkan pelukannya.
"Lahar ikut Mama ya sayang..!!" Bujuk Lintar.
Lahar menggeleng dan menolak tangan Lintar. "Lahar ikut Papa" tolak Lahar sembari bersandar manja.
Seluruh anggota keluarga pun saling pandang.
.
.
.
__ADS_1
.