
Terdengar suara letusan senjata api. Bang Satria berjingkat dari tidurnya, di saat yang sama Bang Panca pun terbangun mendengar suara tersebut.
"Darimana asal suara itu Sat?" Tanya Bang Panca dalam keadaan setengah sadar.
"Barak putri." Jawab Bang Satria kemudian mengambil rompi dan memakainya, secepatnya ia pun mengambil senjata dari lemari pakaiannya dan Bang Panca juga melakukan hal yang sama.
~
"Ada apa?" Tanya Bang Panca pada Serda Ami.
"Ijin Kapten, saya tidak tau bagaimana awalnya.. tiba-tiba sekelompok pemuda menyerang barak kami..!!" Jawab Serda Ami.
"Aneh, tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Apa ada masalah sebelumnya?" Selidik Bang Satria mengintrogasi seluruh anggota team nya.
"Siap.. tidak..!!"
Bang Satria dan Bang Panca saling pandang.
"Mereka bilang tidak ada" bisik Bang Panca.
"Kamu jangan bodoh, pasti ada sebabnya" sebagai seorang Kapten yang memahami tak tik perang tempur sudah barang tentu insting tajam Bang Satria tidak bisa di bohongi.
"Tapi Sat.........."
"Kalian mengaku saja atau barak kita rata dengan tanah..!!!!" Ancam Bang Satria tak main-main.
"Ijin Kapten.. pasukan negara lain berburu masuk ke dalam hutan dan menembak kijang yang dilindungi" jawab Lintar membuka suara.
"Astagaaaa.. negara mana???"
"Ijin.. negara........."
~
Terjadi negosiasi yang alot antar perwakilan pihak negara. Namun pada akhirnya Bang Satria mampu menjelaskan dan mengambil hati penduduk sekitar. Disaat Bang Satria sedang menjelaskan duduk perkaranya, kembali terdengar suara dentuman memekakan telinga.
dbbmmmm...
Refleks Bang Satria berdiri.
"Anda mengatakan tidak akan melepaskan mortir dan tembakan.. kenapa anda ingkar??" Protes Bang Satria kemudian berjalan keluar ruangan diskusi.
__ADS_1
"Kapten Satria, sungguh ini semua di luar arahan dan jangkauan kami. Mungkin ada miskomunikasi antara pihak kami dan penduduk sekitar." Kata komandan militer.
Bang Satria tak lagi mendengar ucap komandan tersebut, pikirannya hanya tertuju pada Lintar seorang.
"Sat.. pakai rompimu..!!!!!" Bang Panca mengingatkan sahabatnya tapi Bang Satria seakan tak lagi mendengar ucapnya.
"Astagfirullah.. Satriaaaa..!!!! Bahaya..!!!!!" Bang Panca berlari mengikuti langkah Bang Satria sembari membawakan rompi anti peluru milik sahabatnya.
~
"Lintaaarr..!!!!" Bang Satria mengokang senjata nya melihat ada seorang warga yang membidik senjata tepat ke arah Lintar.
doooorr...
Bang Satria begitu kalut dan panik ada seseorang yang ingin mencelakai Lintar, ia pun berlari memasang badan tak peduli dengan keselamatannya sendiri.
"Berlindung di belakang Abang..!!" Perintah Bang Satria.
Lintar yang masih syok, cukup lama dirinya tidak bergerak hingga Bang Satria menariknya ke belakang punggung.
doooooorr..
doooooorr..
"Saattt..!!!!!!!" Pekik Bang Panca kemudian membalas tembakan dari musuh.
"Abaaaaaanngg..!!!!!" Lintar tak peduli lagi dengan anggota sekitar, ia sendiri yang memegangi Bang Satria hingga pria itu tumbang menimpanya.
"Ka_mu nggak terkena peluru khan?" Bang Satria masih sempat menanyai Lintar.
Lintar menggeleng dalam tangisnya. Bang Satria tersenyum. "Alhamdulillah.." mata Bang Satria menatap lekat mata Lintar.
"Kenapa Bang?? Kenapa Abang melindungi Lintar?????" Tanya Lintar dalam tangisnya.
"Karena ada janji yang belum Abang tepati"
"Satriaa.. kenapa kamu bodoh dan tidak memperhitungkan segala resikonya???" Tegur Bang Panca, ia berlari bersama beberapa para anggota kesehatan lapangan.
Banyak Panca menekan luka Bang Satria hingga pria tersebut menggelinjang kesakitan. Banyak kata yang ingin di ucapkan namun rasa sakit mengalahkan semua.
"Baaang..!!" Lintar sampai ikut menekan luka Bang Satria.
__ADS_1
Tangan Bang Satria hendak menyentuh pipi halus Lintar namun tak sampai tangan itu menyentuh nya, kesadaran Bang Satria pun menghilang.
"Satriaaaaa..!!!!!!!!!" Bang Panca sangat syok melihat sahabatnya sudah kehilangan kesadaran. "Kalian cepat bantu Kapten Satria..!!!!" Perintah Bang Panca pada petugas kesehatan lapangan.
...
Lintar tak hentinya menangisi Bang Satria di luar ruang operasi. Saat itu Bang Panca menyadari cinta Lintar untuk sahabatnya belumlah pudar.
"Kamu masih ada rasa sama Satria?" Tanya Bang Panca.
"Ijin.. tidak berani Kapten.." jawab Lintar.
Perasaannya masih sangat terluka karena Bang Satria pernah mengkhianati cintanya hingga ia memutuskan menikah dengan almarhum Bang Jenar.
"Lintar, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi.. saya ingin melamar kamu" kata Bang Panca.
Tangis Lintar seketika terhenti. Sungguh dirinya tak menyangka masih ada pria yang mau dengan janda anak satu seperti dirinya.
"Mau ya?" Tanya Bang Panca menegaskan ingin nya.
Entah apa yang ada dalam pikiran Lintar, ia malah mengiyakan tawaran Bang Panca tanpa berpikir padahal di dalam sana ada Bang Satria yang tengah berjuang hidup dan mati karena menyelamatkan nyawanya.
"Alhamdulillah.." Bang Panca langsung memeluk Lintar dengan erat. "Saya akan mencintai kamu dan Lahar sepenuh hati saya. Kalian belahan hati saya"
Tak lama lampu ruang operasi telah padam tanda tindakan telah usai.
"Bagaimana kondisi Kapten Satria?" Tanya Bang Panca memberondong dokter yang baru keluar ruang operasi.
"Kami pihak dokter sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Kapten Satria tapi Kapten Satria masih dalam keadaan kritis" jawab Dokter.
"Tolong bagaimana pun caranya, selamatkan Kapten Satria. Saya berhutang nyawa untuk... Calon istri saya" kata Bang Panca.
Tak ada suara dari Lintar. Bibirnya terkunci dalam kebimbangan.
.
.
.
.
__ADS_1