8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
46. Hati ini tetap milikmu.


__ADS_3

"Nggak apa-apa Sat, kamu berjaga-jaga saja karena takutnya paru-paru anakmu belum matang sempurna." Kata dokter.


"Ya sudah, lakukan yang terbaik..!!"


...


"Hhmmmmmppbbb.." Lintar mengejan sekuatnya tapi rasanya tenaga itu masih saja kurang maksimal. Ia hampir menyerah dalam tangisnya. Tiba-tiba dalam bayangnya seakan melihat sosok yang pernah hadir dalam hidupnya.


Dengan sabar Bang Satria mengusap kening Lintar. Rasa tidak tega jelas menyelimuti hati Bang Satria namun ia tidak bisa melakukan apapun dan itu membuatnya tertekan dan merasa sangat bersalah.


"Abaaang, Lintar seperti melihat wajah Bang Jenar." Ucap Lintar.


'Astagfirullah, ada apa ini. Perasaanku nyeri namun juga sangat takut mendengarnya.'


"Itu hanya bayanganmu saja dek. Setelah kamu sehat, kita ajak Abang Lahar ke makam papanya ya..!!" Bujuk Bang Satria mengesampingkan segala rasa pedih di hatinya.


Lintar lebih banyak diam. Matanya tertuju pada sudut ruangan. "Bang Jenar." Ucapnya begitu lirih nyaris tak terdengar.


'Maafkan aku Mas Jenar. Aku mengambil gadis yang paling kau cintai, tapi akupun mencintai dia. Kumohon.. ijinkan aku menjaganya, menjaga buah hatimu. Aku akan selalu menyayanginya selayaknya hela nafasku seperti dirimu yang teramat mencintainya.'


"Bang, Lintar ingin ikut Bang Jenar." Rintih lirih Lintar sungguh menyayat hatinya, ribuan rasa sakit menghujam ulu hati namun ia sadari alam bawah sadar Lintar tidaklah sepenuhnya sempurna.


Bang Satria berusaha sekuat hati menahan tangisnya. "Sayang, hanya Allah yang bisa menjawabnya, Abang hanya manusia yang tidak punya kuasa. Jika amalku sebagai suamimu tidak cukup membawamu ke surga. Abang ikhlaskan Allah yang memberi semua kebahagiaan untukmu."


Mata Lintar tertutup perlahan, Bang Satria yang luar biasa panik segera mengguncangnya. Dokter pun sampai ikut panik.


"Nggak.. buka matamu Lintar..!!!! Kenapa kamu tidak adil???? Kamu bisa mencintai Jenar, aku ikhlaskan jika tidak ada aku di hatimu. Jika kamu membencimu, aku pun akan menerimanya tapi tolong anakku.. tolong diaaa..!!!!!" Jerit Bang Satria.

__ADS_1


Secepatnya dokter membantu menyadarkan Lintar dan menangani kandungannya. Segala daya upaya dilakukan hingga akhirnya Lintar terbangun dan tersadar.


"Sakiiiit..!!" Rintihnya.


"Bu Lintar, bayinya akan segera keluar. Tolong berusaha sedikit lagi. Bayinya sudah tepat di jalannya.


Lintar membuka matanya, ia melihat Bang Satria menangisinya. Pria itu tetap menggenggam tangannya dengan sabar meskipun dirinya tadi sudah pasti 'menyakiti hatinya'.


"Maafkan Lintar ya Bang..!!" Ucap lirih Lintar.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, kamu tidak salah."


Selang beberapa waktu kemudian Lintar mengejan kuat dan sekuat-kuatnya. Bang Satria mengecup kening Lintar untuk menguatkan tak lupa meninggalkan tanda sayang di bibir manisnya. "Abang akan selalu mencintaimu seberapa pun besarnya kamu menorehkan gores di hatiku, Abang sanggup menunggumu bertahun-tahun.. tak masalah Abang rasakan asalkan bisa terus menjagamu dan bersamamu."


Sekali lagi Lintar berusaha. Bang Satria melihat makhluk kecil melewati jalannya secara perlahan. "Lailaha Illallah.. Allahu Akbar..!!" Bang Satria memejamkan matanya tak sanggup melihat kesakitan Lintar atas kelahiran bayinya. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya mengalir deras, Bang Satria tak sanggup lagi menahan air matanya.


"Alhamdulillah.. menara yang menjulang gagah." Kata dokter.


"Alhamdulillah Ya Allah..!!" Bang Satria memeluk Lintar. "Matur suwun dek, kamu sudah memberikan kebahagiaan ini. Abang bersyukur punya kamu dek."


Lintar pun membalas peluk Bang Satria meskipun tubuhnya terasa masih begitu lemah. Dirinya kehabisan kata, rasanya tak sanggup lagi berhadapan dengan pria sebaik Bang Satria.


...


Lintar masih termenung dengan pikirannya sendiri, ia sudah di pindahkan ke kamar pemulihan, suasana kamar masih hening karena hanya ada Lintar saja.


"Dek, kenapa nggak istirahat?" Tegur Bang Satria kemudian meninggalkan kecup manis seperti biasa.

__ADS_1


"Soal tadi, Lintar benar-benar tidak sengaja Bang." Ucap Lintar, ia sudah menyadari kesalahannya.


"Kamu tidak salah dan Abang akan selalu memaafkan kesalahanmu." Jawab Bang Satria kemudian membelai rambut Lintar dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Lintar.


"Lintar sungguh mencintai Abang." Kata Lintar.


Bang Satria menyunggingkan senyumnya. "Abang tau, Abang juga merasakannya. Tidak masalah jika masih ada rasa tersisa untuk Papanya Lahar bahkan jika rasa itu ada untuk selamanya, Abang juga tidak akan kecewa. Abang menyadari beliau yang lebih dulu memberimu rasa bahagia dan menghadirkan Lahar ke dunia, semua itu pasti sangat membekas. Abang sanggup menahan segala sakit, hanya tidak sanggup kehilanganmu lagi. Maaf jika cintaku menyakitimu."


Lintar sungguh merasa sangat berdosa, ia menangis meraung mendengarnya. "Abaaang.. ampuunn, Lintar minta maaf.. Lintar bukan istri yang baik." Ia menarik tangan Bang Satria dan menciumnya penuh rasa bakti. Ia sungguh takut dan tidak berani melawan atau menyanggah ucapan Bang Satria.


Bang Satria mengusap rambut Lintar dengan sayangnya. "Abang mengampunimu dengan syarat..!!"


"Apaaaa Bang?" Tanya Lintar sembari terisak.


"Makan yang banyak, cepatlah sehat. Abang kangen sekali ribut sama kamu. Rasanya nggak kuat kalau sehari saja nggak ribut." Pinta Bang Satria.


Lintar mengangguk manis dan menurut bak anak kucing.


"Maa, mungkin Papanya Lahar tidak pernah bisa tergantikan. Tapi di hatiku, kamu tak akan tergantikan Ma."


Tangis Lintar yang sudah nyaris berhenti akhirnya harus terurai kembali. "Entah bagaimana caramu di besarkan, tidak mungkin aku tidak jatuh cinta padamu Pa."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2