
Bang Satria menghindari Lintar saat ada sebuah nama kontak menghubungi kekasih Lintar itu. Nama kontak SHERINA KESAYANGAN.
"Ada apa dek?" Sapa Bang Satria menjawab panggilan tersebut.
"Nanti Abang transfer uangnya, sabar ya..!!" Jawab Bang Satria lagi.
~
"Siapa Bang. Kenapa dia sering sekali hubungi Abang?" Tanya Lintar penasaran.
"Adik. Sudah.. jangan kamu pikirkan..!!" Jawab Bang Satria.
Lintar tak percaya begitu saja, ia melirik ponsel Bang Satria namun untuk kesekian kalinya Bang Satria seperti menutup identitas wanita tersebut.
"Jangan mikir yang tidak penting..!!" Kata Bang Satria. "Cepat lanjut makan lagi, ini sudah malam.. nanti seniormu tanya"
Lintar mengangguk saja dengan seribu tanya dalam kepala.
***
"Sherina?" Kening Bang Panca berkerut. Dengan kata lain Lintar belum mengenal siapa Sherina.
"Iya, Sherina. Kapten kenal?" Tanya Lintar.
Ekspresi wajah Bang Panca menyiratkan berbagai jawaban.
"Apa... Bang Satria selingkuh?" Tanya Lintar lagi.
"Lebih baik kamu tanya sendiri sama Satria. Saya takut salah jawab"
"Bang Satria sudah jawab. Kata Abang, Sherina itu adik" jawab Lintar.
Bang Panca mengangguk. "Kalau memang Satria sudah bilang adik ya sudah, berarti memang Sherina itu adiknya Satria"
Jawaban mengambang Bang Panca membuat Lintar semakin ragu.
:
"Abang belum bisa pulang sayang.. kamu sabar ya. Abang juga kangen sama kamu." Terdengar Bang Satria menghubungi seseorang di ruang kerjanya.
Perasaan Lintar seketika terhantam kuat. Bagaimana bisa pria yang begitu ia cintai menduakannya. Lintar merasa terkhianati. Tak tahan dengan semua ini.. Lintar kembali bertanya pada Bang Satria.
"Bang..!!"
Bang Satria menoleh mendengar sapaan dari Lintar, menganggap tak ada apapun yang terjadi, ia pun berjalan dan mengecup kening Lintar.
__ADS_1
"Sudah istirahat siang? Mau makan siang dimana?" Tanya Bang Satria.
"Siapa perempuan bernama Sherina itu??"
"Apa sebegitu pentingnya dia untuk kamu tanyakan? Harus berapa kali Abang ulang?" Jawab Bang Satria.
"Kalau memang tidak ada apa-apa kenapa Abang harus menutupi identitas nya?? Kenapa harus menyembunyikan rahasia dari Lintar????" Suara Lintar semakin meninggi.
"Rahasia apa sih dek? Abang nggak pernah merahasiakan apapun dari kamu. Sherina itu adiknya Abang" jawab jujur Bang Satria.
"Adik yang Abang temukan saat kalian sudah sama-sama dewasa?? Sebegitu rindukah Abang sama adik sampai mengungkapkan rasa rindu itu? Sama Lintar Abang amat sangat jarang mengucapkan rasa sayang bahkan rasa rindu."
"Kita belum sah menjadi suami istri. Rindu ya rindu.. Abang punya kekasih tapi belum pantas Abang ucapkan. Kalau Abang ungkapkan rasa rindunya Abang.. kamu akan rugi. Laki-laki kalau sudah bilang rindu bukan pada istri sahnya.. itu semua kata-kata b******n. Kamu jangan buat perjuangan Abang untuk menjagamu jadi sia-sia dek..!!!!" Ucap tegas Bang Satria.
"Bohong.. kalau niat Abang memang untuk menikahi Lintar, apapun yang akan terjadi sama Lintar.. Abang pasti akan tanggung jawab..!!!" Kata Lintar terbawa emosi.
"Begitu kah?? Apa gadis seusiamu sudah bisa menyenangkan saya????" Bang Satria menyeringai gemas. Sengaja dirinya sedikit kasar dengan Lintar agar gadisnya itu bahayanya 'menantang' seorang pria.
"Bisa" jawab Lintar dengan polosnya tapi terasa sekali tubuhnya gemetar ketakutan. Lintar berjinjit. "Lintar tidak mau Abang melirik perempuan lain..!!" Lintar menyambar bibir Bang Satria.
Lintar sudah berusaha keras namun Bang Satria datar saja. Tak ada balasan apapun dari kekasihnya itu padahal tubuh Bang Satria sudah bereaksi. Merasa mendapat penolakan, Lintar pun sangat sedih dan menarik diri.
"Kita sudahi saja semuanya Bang. Bahagia lah bersama Sherina." Ucap Lintar kemudian berlalu.
~
Bang Satria bersandar kasar pada kursinya. Tubuhnya terasa kaku namun lemas ia rasakan. Pikirannya buntu.
'Dek.. bisakah kamu menerima kekurangan Abang? Abang tidak memiliki orang tua, Abang hanya punya Sherina yang Abang hidupi. Ikhlaskah kamu jika hati Abang juga menyayangi Sherina? Terimakah kamu jika rejeki yang Abang miliki bukan hanya milikmu seorang karena sampai kapanpun beban memiliki saudara perempuan adalah tanggungan Abang sebagai laki-laki.'
Teringat akan perlakuan Tantri yang menghina Sherina, hingga saat ini hatinya masih sangat sakit. Tantri menganggap Sherina adalah benalu bagi hubungan nya apalagi Tantri merupakan putri dari seseorang berkedudukan tinggi begitu juga dengan Lintar. Dua kali gagal di masa lalu membuat Bang Satria sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.
"Hhhuuuuuffftt.." Bang Satria menghembuskan asap rokok sembari mengatur nafas dan menormalkan denyut jantung mengingat perlakuan nakal Lintar. 'Jangan katakan Abang tidak rindu, tidak tegas dalam hubungan kita, jika saja kita telah bersama.. jelas kamu segalanya. Abang juga terlahir dari seorang ibu dan Abang tidak akan menyiakan ibu dari anak-anak Abang.'
//
"Abang...... Tidak begitu kenal Sherina." Jawab Bang Panca.
"Apa ini artinya Bang Satria memang ada hubungan dengan Sherina???" Tanya Lintar.
"I_ya. Sepertinya begitu"
Tangis Lintar pecah, Bang Satria tidak sungguh mencintainya. Bang Panca adalah sahabat Bang Satria sejak dulu, sudah barang tentu Bang Panca paham betul kelakuan Bang Satria di luar kepala.
"Lintar.. sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan sama Bang Satria." Kata Lintar.
__ADS_1
Bang Panca mengangguk datar tanpa kata.
...
"Duuuhh pot, bisa nggak sih kamu mabuk di luar mess. Jangan buat ulah di lingkungan Batalyon..!!!" Tegur Bang Satria sembari menarik kerah pakaian Bang Panca menuju kamar mandi.
Secepatnya Bang Satria mengguyur tubuh sahabatnya agar segera sadar.
~
"G****k tenan kowe pot..!!" Gerutu Bang Satria dengan telaten merawat sahabatnya hingga sadar.
Tak lama Bang Bismo menerobos masuk ke kamar Bang Panca. "Abaaang... Ada sidak. Bang Wira yang ambil pendadakan..!!"
"Astagaaaa.." Bang Satria menggoyang tubuh Bang Panca yang baru saja mandi. Tak ada bekas dan jejak apapun di tubuhnya. "Sadaaar Pan..!!!!!!"
Tak ada waktu lagi, Bang Satria menenggak sisa minuman milik Bang Panca.
~
Plaaaakk..
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bang Satria. Apalagi aroma minuman sangat kental tercium di tubuh Bang Satria. "Kamu tau aturan atau tidak??? Bujangan di larang macam-macam di area Batalyon..!!" Tegur keras Bang Gesang Wira.
"Siap salah"
"Apalagi ini?? Siapa yang pakai barang-barang ini???"
Sejenak Bang Satria memejamkan mata. Ia setengah melirik Bang Panca.
"Kalian ini masih bujangan, masih di awasi dinas. Jangan buat ulah di luar sana. Siapa yang suka main perempuan?????" Bentak Bang Gesang.
Cukup lama Bang Panca terdiam. Para perwira bujangan pastinya sudah saling lirik dengan gelisah. Jika tidak ada yang mengaku pasti semua akan kena getahnya.
"Siap salah Bang, Saya" jawab Bang Satria dengan tegas."
"Sembrono kamu Sat. Mabuk-mabukan, main perempuan. Mau jadi apa kamu..!!!!!!!" Suara Bang Gesang menggelegar memekakkan telinga.
.
.
.
.
__ADS_1