
Bang Bismo datang membonceng Lahar yang duduk tepat di depannya. Tanpa rasa bersalah Bang Bismo dan Lahar tertawa ceria padahal Bang Satria nyaris menghukum seluruh remaja karena putranya tiba-tiba raib.
"Ada apa ini?" Sapa Bang Bismo.
Bang Satria mulai kesal namun Bang Khezin menahannya.
Pandangan mata Bang Bismo tertuju pada sosok wanita yang berdiri di hadapan Bang Satria. "Mbak mau cari siapa?" Ia pun turun dari motor dan menggendong Lahar.
"Kapten Satria"
"Oohh.. saya kira Kapten Panca untuk di ajak ke hotel." Jawab Bang
Seketika seluruh mata tertuju pada Tantri dan Tantri sangat risih mendapat tatapan penuh penekanan.
"Sa_ya.. tidak pernah bertemu Kapten Panca. Baru hari ini saya bertemu Kapten Panca dan saya sekalian ikut. Saya kesini hanya untuk menemui Kapten Satria."
"Untuk apa kamu cari saya?" Tanya Bang Satria.
"Bisakah kita bicara berdua?" Pinta Tantri.
"Nggak bisa" tolak Bang Satria singkat padat dan jelas.
"Kenapa? Kamu takut dengan istrimu?" Ledek Tantri sengaja memancing keributan.
"Saya tidak pernah takut dengan apapun termasuk istri saya. Yang saya takuti hanya Tuhan. Saya tidak mau berurusan dengan kamu karena saya tidak butuh perempuan lain untuk mengerti diri saya" jawab Bang Satria.
//
Bang Panca sangat kesal karena Tantri tidak pandai bermain siasat. Matanya terus melirik Tantri dengan kesal.
"Tapi memang begitu sifat Satria. Dia memang sok jual mahal dengan sesuatu yang tidak dia sukai." Kata Tantri.
"Kau bisa pergunakan tubuhmu untuk memikat Satria. Tidak ada laki-laki di dunia ini yang tidak terpikat tubuh wanita, tak terkecuali Satria" Bang Panca terus saja menekan Bang Panca.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku ini.. aku tidak akan memaksa. Aku bisa membesarkan anak ku. Aku lebih tau bagaimana sifat satria dan aku tidak mau berurusan dengan dia"
"Tanpa aku kamu mau hidup dimana?? Di jalanan??? Tidak ada lagi perusahaan yang akan menerima wanita hamil untuk bekerja..!!!" Ancam Bang Panca.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Mungkin aku tidak pantas menyebut nama Tuhan dalam hidupku tapi aku yakin.. Jika Allah yang penyayang tidak akan membuatku tersia-sia dan jika takdirku harus mati.. semoga Allah sudah mengampuni dosaku" jawab Tantri kemudian pergi.
Sungguh saat ini hati Bang Panca sangat dilema. Ia menyadari kelakuannya mungkin sudah sangat keterlaluan, tapi bukan berarti dirinya tidak punya hati. "Tantri.. tunggu..!!"
"Saya bersumpah kalau ini anak kamu Panca. Tapi jika kamu mengingkarinya, saya tidak akan marah karena saya sadar.. saya yang menggoda kamu" perlahan Tantri melangkah pergi.
"Saya akan melupakan Lintar dan akan menikahi kamu.. saat ini juga..!!" Ucap tegas Bang Panca.
"Saya ingin tau, siapa orang yang memvonis kamu tidak bisa punya anak?" Tanya Tantri.
"Sosok dari masa kelamku"
//
Bang Satria menyisir seluruh tubuh Lahar. Ia sangat mencemaskan putranya itu.
"Abang nggak apa-apa" kata Lahar seakan tau sang Papa sangat mencemaskan dirinya.
Bang Satria tersenyum mendengarnya. "Abang sudah makan?" Tanya Bang Satria.
Lahar mengangguk.
"Ajaranmu itu menyusahkan saya"
"Saya hanya bercanda Bang, mana saya tau kalau ternyata Lahar menagih nya" jawab Bang Bismo.
"Sudahlah Sat, buatkan saja.. toh kalian berdua sudah sah sebagai suami istri. Jujur saja sama Lintar. Aku tau kamu tersiksa, bertahun-tahun kamu menahan perasaanmu. Mungkin memang sudah saatnya kamu bahagia." Imbuh Bang Khezin.
Bang Satria menatap wajah Bang Khezin penuh ribuan kata tak terungkap.
"Saya sungguh mencintai Sherina dan tidak akan menyakitinya" janji Bang Khezin. "Ayolah, daripada kamu uring-uringan nggak jelas."
Senyum Bang Satria akhirnya mengembang.
...
Lintar sibuk membereskan rumah, sudah lama bibi berada di kampung dan belum kembali lagi padahal tidak ada sanak saudara yang bibi miliki.
__ADS_1
"Kamu lanjut mandi dan istirahat dek. Nanti Abang lanjut bereskan..!!" Kata Bang Satria usai mandi.
Lintar mengangguk, ia pun segera mandi. Rumah nampak sepi karena Bang Khezin mengajak Sherina dan Lahar berjalan-jalan ke kota.
Terdengar suara guyuran air dari kamar mandi. Mata Bang Satria terpejam. "Astagfirullah hal adzim..!!" Gumamnya lirih menenangkan batin.
~
"Abaaaang..!!!!" Lintar berjongkok lalu menyambar handuk untuk menutup tubuhnya saat Bang Satria tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Refleks Bang Satria berbalik badan menghadap pintu. "Ma_af.. Abang nggak sengaja" degub jantungnya begitu kencang nyaris terlepas. Bukannya keluar, ia malah menutup dan mengunci pintu kamar dengan rapat.
"Baaaang.. keluaaarr..!!!!" Teriak Lintar.
'Laahh.. kenapa aku jadi bodoh begini. Lintar istriku, kenapa aku harus gugup??'
"Abang nggak baca surat perjanjian kita ya? Kalau Abang masuk kamar dan sampai mencuri kesempatan mengintip Lintar.. Abang harus bayar lima juta..!!" Ucap tegas Lintar.
"Aduuuhh.. mahal sekali dek. Abang nggak punya uang sebanyak itu" kata Bang Satria memasang wajah memelas. Ia hendak melirik Lintar tapi Lintar memarahinya.
"Jangan lihat kesini..!!!!!! Kecuali kalau Abang punya uang." Sengaja Lintar ucapkan karena tadi Bang Satria sudah mengucapkan tidak punya uang.
Bang Satria menahan tawanya.
"Kenapa wajah Abang usil begitu, kalau Abang punya uang sih terserah" ucap sesumbar Lintar penuh aura menantang.
Bang Satria kembali berbalik badan. Ia pun jalan mendekati Lintar. Dengan beraninya Lintar mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Bang Satria melupakan tubuhnya yang masih terlilit handuk.
"Apa kamu sedang menguji tingkat keimanan Abang?" Bang Satria membelai lembut pipi Lintar.
Jantung Lintar tiba-tiba berdesir hebat. Tubuhnya terpaku bingung sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.