
Pagi ini Bang Satria dan Lintar sudah mengangkat ranselnya untuk berangkat bertugas. Si kecil Lahar sama sekali tidak menangis dalam gendongan Om Khezin karena selama ini Lahar selalu bersamanya hingga kebersamaan mereka sudah seperti ayah dan anak.
"Mama jangan nangis. Pergi saja sama Papa." Ucap si kecil Lahar.
"Tapi nanti Mama kangen sama Abang. Mama baru saja pulang dari jauuhh dan lama sekali baru bertemu Abang.. sekarang Mama harus pergi lagi." Kata Lintar masih enggan berpisah dari sang putra.
"Hanya sebentar" lahar kecil sangat pandai bicara membuat Lintar semakin tidak tega untuk berpisah.
Bang Satria memegang pundak Lintar. Hatinya juga terasa sangat berat meninggalkan putranya. "Kita harus segera berangkat..!! Pesawat sudah menunggu."
Mau tidak mau Lintar segera bangkit dan meninggalkan lahar. "Apa karena Lahar bukan anak Abang, jadi Abang ingin memisahkan Lintar dari lahar?"
Sungguh ucap Lintar sangat menyakitkan perasaan Bang Satria tapi ada salah ucap dari kebenaran tersebut. "Mungkin benar tak ada benih dan darah Abang yang mengalir, tapi apakah Abang harus menarik perhatianmu melalui Lahar? Abang menyadari.. menginginkanmu seperti dulu memang tidak mungkin, tapi Abang tidak menyesali sebuah pilihan. Apapun yang berhubungan dengan Reradihan Inggil Gitarja.. Abang selalu menyukainya.. termasuk Lahar Raksa Rawisrengga.. putra almarhum suamimu." Jawab Bang Satria tak kalah menusuk.
Bang Satria memeluk kemudian mencium wajah sang putra.
"Papa jangan marah..!!" Pinta Lahar.
Bang Satria berbisik di telinga Lahar. "Papa nggak marah. Tapi seorang pria harus mendidik wanitanya.. semua karena rasa sayang. Suatu saat Abang akan mengerti."
Lahar mengangguk tak pasti. Bang Satria pun berjalan menyimpan rasa perihnya sendiri.
"Papaaaa.." teriak Lahar.
Bang Satria menoleh sejenak.
"Abang mau adik"
Bang Satria menarik nafas karena tau ucapan itu adalah ajaran sesat Om Angkes.
"Iya Bang. Insya Allah" jawab Bang Satria tetap meng 'Aamiin'i ucap sang putra meskipun mungkin semua hanya candaan semata.
Lintar pun segera mencium Bang Lahar lalu menyusul langkah Bang Satria.
__ADS_1
-_-_-_-_-
Sore tiba di tempat titik penugasan. Akhirnya ada tiga wanita tentara dalam team mereka.. Sertu Gitarja, Sertu Aminarti dan Sertu Teresia.
"Perhatikan betul briefing dari saya dan jangan melenceng dari jalur. Jangan pernah gunakan perasaan kalian untuk berpikir.. kita main taktik, bukan main perasaan..!!" Bang Satria mengingatkan para anggota wanita selaku Dantim. "Dan para pria aktif mengcover para anggota wanita..!!"
"Siap Kapten..!!" Jawab ketiga wanita.
"Siaap Kapten..!!" Jawab team yang lain.
"Sekarang kita persiapkan camp untuk tidur dan memasak makan malam. Hari sudah gelap, besok kita lanjut lagi..!!" Arahan Bang Satria.
"Ijin Kapten.. Lintar tidur dengan kami atau dengan Kapten." Suara Ami membuat semua anggota langsung terdiam tapi tidak dengan wajah Bang Satria yang tiba-tiba merah padam.
"Kamu tanya atau sengaja mempermalukan saya?? Kita sedang tugas.. bukan bulan madu. Lintar tidur satu tenda dengan kamu dan Tere..!!" Jawab tegas Bang Satria.
"Siap Kapten."
Bang Bismo yang menggantikan rekannya langsung mencolek bahu seniornya. "Yakin sudah kuat Bang?" Bisik Bang Bismo.
"Hahaha.. benar juga ya Bang. Tapi bagaimana kalau tiba-tiba Abang 'naik'?" Selidik Bang Bismo sengaja menggoda pengantin baru.
"Ccckk kau ini. Kita kerja sudah lelah setengah mati. Nggak mungkin kepikiran yang satu itu. Lagipula mau tawur sama siapa? Monyet?????"
...
Makanan sudah hampir matang karena para pria sudah menangani tapi tidak para wanita yang malah merumpi tentang discount pakaian di mall.
Bang Satria hanya menggeleng kepala mendengar ocehan ketiga wanita di dalam tenda. Tak ada satupun anggota yang berani menegur karena salah satunya adalah istri Dantim.
"Kalian mau masak apa mau dapat pancinya saja??? Kalau mau makan usaha..!!!" Tegur keras Bang Satria pada ketiga wanita demi keadilan pada semua anggota.
"Siap..!!"
__ADS_1
:
Lagi-lagi Bang Satria menggeleng karena dunia perghibahan di antara tiga wanita belum juga mencapai babak final dan kini malah menceritakan tentang artis yang terlibat perselingkuhan dan KDRT.
"Ya Allah Ya Rabb.. bisakah kalian berhenti ghibah hal tidak penting???" Bang Satria kembali menegur istri dan rekapannya.
Lintar dan temannya pun terdiam dan melirik Bang Satria namun hanya pandangan Lintar yang tidak melepaskan Bang Satria kemudian kembali berbaur dengan rekannya dan sibuk memasak makanan.
"Kau tau.. laki-laki yang kemarin melaksanakan pengawalan bersama kita. Bodynya bagus sekali.. aku sukaaa" kata Ami.
"Iya lhoo.. aku juga suka" imbuh Tere.
"Apa tidak ada pembahasan lain yang lebih bermakna selain discount, mengurusi urusan rumah tangga artis atau anatomi tubuh pria?" Bang Satria sampai berkacak pinggang mendengar ocehan tiga wanita. "Sepertinya anggota personel salah kasih plot, kenapa wanita satu frekuensi seperti ini harus di satukan?"
"Kalau Kapten mau ikut kumpul sama kami ya silakan. Kenapa harus ribut." Lintar mulai gemas dengan wajah 'gelap' Bang Satria.
"Abang ini ajari kamu hal baik, suami nggak akan biarkan kamu terjerumus ke neraka. Opo kowe pengen ilatmu di tarik malaikat???"
Lintar terdiam sejenak setiap mendengar kata 'suami-istri' di antara mereka. "Kenapa Abang do'akan Lintar yang jelek?"
"Siapa yang do'akan jelek??? Abang hanya ingatkan. Bibir itu jangan di biarkan terus bergosip nggak jelas. Apalagi bicarakan jantannya si A, si B"
"Ya ampun Bang, mau bilang cemburu saja pakai panjang kali lebar" Bang Bismo pun akhirnya paham pokok keributan di antara mereka. Selain cemburu pastinya Pak Kapten sedang rindu.
"Siapa yang cemburu. Saya mah pria fleksibel dan nggak cemburuan" jawab Bang Satria.
"Alhamdulillah.." ucap lirih Bang Bismo. "Oya Lintar, kemarin yang pelukan sama kamu siapa ya??" Tanya Bang Bismo.
Wajah Bang Satria kemudian secara drastis berubah kesal.
.
.
__ADS_1
.
.