
Lintar melirik gaya pakaian Bang Satria yang sangat mirip dengan baby Lahar. Ia hanya bisa membuang nafas panjang melihat Bang Satria dan Lahar berlari di pantai dan tertawa ria tanpa beban.
"Sini donk Ma.. takut air ya..!!" Ledek Bang Satria.
Lintar masih cemberut tak membalas ledekan Bang Satria.
"Permisi.. bisa saya minta tolong..!!" Kata seorang wanita menyapa Bang Satria.
"Iya Bu. Apa yang bisa saya bantu?" Masih dengan batas wajar dan sopan Bang Satria menanggapi wanita tersebut.
"Tolong foto saya ya..!!" Pinta wanita tersebut kemudian memasang pose cantik.
Lintar melihat dengan jengah namun ia memalingkan wajahnya.
Bang Satria terdiam sejenak karena menurutnya pose tersebut terlalu panas untuk di abadikan, bukan tidak pantas untuk wanita tersebut namun pemandangan itu tak sesuai dengan isi hatinya.
"Maaf ibu, kalau foto saya tidak bisa.. tangan saya tremor. Saya takut hasilnya tidak sesuai dengan keinginan ibu" tolak Bang Satria. "Tapi kalau ibu berkenan, istri saya pintar mengabadikan momen."
"Oohh.. baiklah..!!"
Wanita tersebut langsung mendekati Lintar. "Bu, saya minta tolong"
Senyum Lintar tulus membantu wanita tersebut.
:
Lintar tak paham. Sejak tadi kelakuan Bang Satria seakan terus menguji emosinya. Kali ini Bang Satria mengajak Lahar mendekati rombongan bule wanita.
"Waah Bang, ada 'onty' cantik. Kita kesana yuk..!!" Ajak Bang Satria sembari menggandeng tangan Lahar.
"Stop di situ atau Mama hajar kalian semua..!!" Ucap tegas Lintar penuh ancaman. "Duduk dan jangan bertingkah.. diam dan makan siang..!!!!"
"Iya Ma." Jawab Bang Satria dengan wajah nakal.
"Iya Mama" Lahar duduk karena wajah sang Mama sudah terlipat kesal.
__ADS_1
Masih dengan ekspresi wajah datar, Lintar mengambilkan makan siang untuk Bang Satria lalu untuk Baby Lahar.
"Terima kasih Mama" Bang Satria tersenyum menerima piring bekal makan siang dari Lintar. Nasi, ayam goreng, cah sawi putih, sambal, telur balado dan bakwan sayur.
Lintar tak menjawabnya. Ia fokus dengan Lahar dan menyuapi putranya.
"Mamaaa.. Abang mau punya adik..!!" Pinta Lahar kecil.
Seketika tenggorokan Bang Satria terasa tersendat, kerongkongannya pun penuh membuatnya tersedak. Nasi di mulutnya sampai tersembur keluar. Secepatnya Lintar memberikan air minum untuk Bang Satria. Bang Satria menerimanya dan segera meneguknya. Memang jiwanya usil, tapi untuk hal satu ini sesungguhnya dirinya sangat berhati-hati.
"Maaa.. Abang mau adik..!!" Lahar mengulang lagi permintaan nya.
"Abang belum besar. Nanti kalau Abang sudah besar baru Abang bisa punya adik" jawab Lintar setenang mungkin.
"Tapi kata Om Bimo.. Abang sudah besar. Boleh minta ke Papa sama Mama..!!" Dengan polosnya Lahar mengungkapkan tanpa beban.
Kini mata Lahar beralih pandangan Bang Satria menuntut jawaban dari 'Papanya'. "Boleh nggak Pa?"
Lintar dan Bang Satria saling bertemu mata dan akhirnya Bang Satria menghabiskan makan siangnya sambil memunggungi Lintar dan Lahar.
"Jangan ganggu Papa Bang, Papa masih makan" tegur Lintar yang sebenarnya juga kebingungan memposisikan diri.
"Abang pengen punya adik" entah sudah keberapa kalinya lahar menyebutnya kalimat tersebut.
:
"Di tantangin anak tuh. Berani nggak?" Ejek Bang Satria menghembuskan asap rokok serampangan menepis rasa gundah dalam hati.
Lintar memasang wajah meremehkan, bukan tanpa alasan. Sesuai perjanjian.. jika Bang Satria melanggar perjanjian dalam poin satu tersebut maka Bang Satria harus membayar satu juta rupiah per satu kali sentuhan dan berlalu kelipatan. Dalam pikirannya jelas ia akan menjadi cepat kaya apalagi sejak kemarin Bang Satria sudah sesumbar bahwa pria tersebut sudah menjadi suami Lintar karena menggantikan posisi Bang Panca.
"Berani saja, asal Abang kuat bayarnya..!! Sekali colek satu juta Bang..!!" Nada suara Lintar mengisyaratkan bahwa dirinya adalah seorang pemeras ulung.
Bang Satria pun tak kalah menyimpan senyum penuh kelicikan. "Waaahh.. kalau Abang nggak sengaja pegang sepuluh bagian tubuh.. berarti Abang harus bayar sepuluh juta??? Mahal sekali... Abang bisa jatuh miskin."
Seringai senyum kemenangan mengulas wajah cantik Lintar.
__ADS_1
"Ternyata benar kata pepatah. Laki-laki semakin kaya maka dompetnya akan semakin tipis, tapi perempuan semakin nakal.. maka dompetnya akan semakin tebal" kata Bang Satria.
"Ini bukan nakal Bang, tapi pintar..!!" Jawab Lintar.
"Pintarmu hanya di ujung jidat ndhuk..!!" Bang Satria terkikik melihat gaya sombong Lintar. "Siapa makhluk lancang yang membuatmu masuk jadi anggota Intel??" Gumam Bang Satria.
"Tak di ragukan lagi lah Bang, prestasi Lintar sangat membanggakan"
Bang Satria kembali menunduk semakin terkikik dan itu sukses membuat Lintar semakin jengkel.
-_-_-_-_-_-
Sejak tadi Lintar dan Bang Satria mengikuti langkah pria kecil berusia satu setengah tahun itu. Seakan tak ada lelah Lahar terus berjalan menyusuri lorong demi lorong supermarket.
"Abang Ahar mau cari apa?" Tanya Lintar.
"Ayo Papa gendong..!!" Bang Satria hendak menggendong tapi Lahar menolaknya.
"Abang mau cari adik" Jawab Lahar.
Untuk kesekian kalinya Bang Satria dan Lintar ternganga mendengar permintaan Lahar. Tapi Bang Satria tidak bisa menahan tawanya karena Lahar rela memutari satu swalayan hanya demi mencari 'adik'.
"Ooohh ternyata Abang beneran mau adik?" Tanya Bang Satria sengaja memperjelas nada suaranya. Ia pun menggendong Lahar dan tidak ada lagi penolakan.
Lahar mengangguk polos memuluskan rencana 'busuk' sang Papa.
"Kalau Abang mau adik.. Kita harus pulang, Abang tidur dulu. Kalau langit sudah gelap.. baru Papa bisa berdo'a biar Abang cepat punya adik." Bang Satria memberi kalimat yang ringan agar mudah di mengerti oleh putra kecilnya.
Mata Lahar menatap mata Bang Satria. Bang Satria paham Lahar belum memahami kata-kata nya namun dirinya menegaskan arti kata sayang bahwa sedetik pun sayang untuk pria kecil itu tak akan pernah berubah apapun yang akan terjadi. Bang Satria menyandarkan Lahar di bahunya. Ia berbisik di telinga Lahar. "Abang harus sabar.. Seperti Papa belajar sabar menunggu Mama. Nanti kalau sudah waktunya.. Papa pasti kasih adik buat Abang"
.
.
.
__ADS_1
.