
"Nggak boleh donk Bang, masa mama bobok sama Papa Satia"
"Abang mau bobok sama Papa Satia..!!!!" Rengek Lahar.
"Iyaaa.. besok ya..!! Sekarang Papa Satia nya lagi kerja, Abang nggak boleh nakal biar Papa mau main sama Papa Satia" bujuk Lintar.
Tak lama akhirnya Lahar tertidur juga dalam dekapan Lintar.
"Kenapa Abang lebih sayang sama Papa Satria? Papa Panca juga baik khan Bang? Papa Panca selalu video call dan perhatikan kamu" Lintar membelai rambut Lahar tak tega melihat putra kecilnya tak mendapat kasih sayang seorang Papa karena Papanya telah tiada saat Mama Lintar tengah hamil muda.
Pernikahan seumur jagung tak memberi banyak bekas dalam diri Lintar namun ia sudah sangat merasakan betapa besar cinta almarhum Bang Jenar untuknya.
***
Berkas pengajuan nikah Bang Panca dan Lintar sudah beres. Bang Panca bahagia sekali karena akan segera mempersunting janda muda yang begitu menarik perhatian nya.
Bang Panca memeluk Lintar dari belakang dan Lintar melepaskan pelukan Bang Panca.
"Kenapa? Ada yang salah? Kamu mau jadi istri Abang" kata Bang Panca.
"Mau jadi Bang, tapi belum jadi" jawab Lintar.
Bang Panca membalik tubuh Lintar agar menghadap ke arahnya. "Abang mau menikahi kamu, berarti Abang tidak lari dari tanggung jawab..!!!" Dengan cepat Bang Panca menyambar bibir Lintar dan Lintar mendorong dada Bang Panca untuk menolaknya.
"Lintar nggak mau Bang...!!!"
"Kalau semua wanita menolak prianya seperti ini, maka jangan salahkan suami mu kalau sampai jajan di luar..!!!!" Bentak Bang Panca.
"Kalau kita sudah menikah, Lintar nggak akan pernah lalai dengan tugas sebagai seorang istri dan saat ini masalahnya Abang malah mengucapkan hal itu di saat kita belum menikah."
Bang Panca menatap tajam wajah Lintar. "Tapi Abang akan jadi suamimu..!!"
Lintar tak ingin lagi mendengar segala ucap Bang Panca, ia pun memilih keluar dari ruangan Bang Panca dan menghindari pria yang tengah panas itu.
Saat Lintar membuka pintu, tak sengaja ada Bang Satria yang sedang membawa berkas untuk di tanda tangani Bang Panca yang beberapa hari ini tidak mengontrol pekerjaan nya.
"Lintar?? Kamu kenapa?" Tanya Bang Satria.
"Nggak apa Bang" Lintar pun berlari menghindar.
~
"Lintar kenapa pot?"
"Biasa, janda sok berharga diri tinggi. Jual mahal sekali dia, padahal bulan depan aku mau menikahi dia" jawab Bang Panca kesal.
Kening Bang Satria berkerut, belum pernah ia melihat sahabatnya seemosional ini. "Kamu apakan dia?" Selidik Bang Satria.
"Kamu ini seperti bukan laki-laki saja. Sok suci lu, jelas 'minta jatah' lah" tanpa sungkan sedikit pun Bang Panca mengatakan inginnya.
__ADS_1
"Mabuk lu ya, jangan ngelantur. Sholat pot, jangan macam-macam sebelum Lintar jadi istrimu..!!" Kata Bang Satria mengingatkan.
Bang Panca tertawa menyeringai melihat tingkah Bang Satria, padahal ia tau sahabatnya itu selalu di kelilingi oleh banyak wanita cantik, tak mungkin jika para wanita tersebut tidak tersentuh oleh seorang Satria.
"Aku mau keluar makan siang, perutku lapar"
Bang Satria memejamkan matanya sejenak, batinnya terasa begitu sakit mendengar jawaban Bang Panca, namun apa yang bisa ia lakukan. Bang Panca memang akan menikahi Lintar tapi tak ada hak nya untuk ikut campur dalam ranah 'rumah tangga' orang lain.
...
Lintar menangis di mejanya tapi kemudian Sertu Ami datang menghampiri.
"Lintaaarr.. kenapa nangis??"
"Amii.. apakah keputusanku menikah dengan Bang Panca adalah keputusan yang benar?" Tanya Lintar.
"Memangnya ada apa?"
"Tadi Bang Panca mengajakku berbuat tidak baik." Jawab Lintar.
"Haaahh.. serius??? Terus kamu mau???" Selidik Sertu Ami.
"Nggak lah, aku memang janda.. tapi aku punya harga diri."
"Bagus Lintar.. Pertahankan..!!! Kenapa hatiku tidak enak dan jadi tidak respect dengan calon suamimu ya, padahal dulu Kapten Panca tidak begitu" kata Ami. "Sudahlah jangan di pikirkan lagi.. sekarang fokuslah sama tugas kita..!!"
\=\=\=
"Bu, apa tidak sebaiknya kita bawa saja den lahar ke rumah sakit?" Saran bibi.
"Ayo Bi..!!"
***
"Kalian mau kemana?" Bang Satria menegur Lintar dan Bibi yang akan keluar membawa lahar di tengah malam.
"Lahar sakit dan hari ini keadaannya semakin parah." Kata Lintar.
"Kenapa tidak menghubungi Panca?" Tanya Bang Satria.
"Bang Panca nggak bisa di hubungi." Jawab Lintar.
"Ya sudah, Abang antar saja..!! Abang juga sudah lepas tugas cek anggota..!!"
...
"Ini demam berdarah, harus segera di rawat."
Lintar sangat takut sampai syok mendengarnya.
__ADS_1
"Ya sudah di rawat saja Bang..!!" Kata Bang Satria.
"Lintar nggak tega Bang, Lahar pasti kesakitan..!!"
"Ini semua demi Lahar. Kalau kamu tidak kuat, keluarlah.. biar Abang yang jaga Lahar..!!"
Lintar tak bergeming. Air matanya berderai membasahi pipi.
"Lahar jangan sakit..!! Mama sedih..!!" Isak tangis Lintar memegang tangan Lahar.
"Kalau menangis saja Lahar nggak akan sembuh Ma, lahar harus segera di tangani..!!"
Akhirnya Lintar memilih keluar dari ruangan dan Bang Satria segera menggendong Lahar agar bisa mendekapnya erat.
//
"Nggak.. kamu nggak mungkin hamil." Bang Panca syok mendengar kabar 'buruk' dari Tantri.
"Kamu nggak percaya aku hamil anakmu??" Bentak Tantri.
Bang Panca menatap tajam mata Tantri. "Aku tidak bisa punya anak.. jadi katakan dengan jujur. Anak siapa itu????"
Plaaakk..
"Kamu kira aku wanita murahan??? Aku hanya melakukan sama kamu Panca." Ucap Tantri sampai menangis.
"Aku mau menikah" kata Bang Panca.
"Kamu nggak boleh nikah, ini anak kamu. Kamu bisa cek lab kalau kamu nggak percaya ini anak kamu."
Ucap Tantri membuat Bang panca semakin bingung.
"Kalau kamu nggak mau nikahi aku.. aku mau bunuh diri..!!!!" Ancam Tantri.
"Jangan.. oke Tantri.. aku nikahi kamu..!!"
//
Lintar melihat Lahar sangat tenang dalam gendongan Bang Satria.
"Kamu tidur saja daripada terus berdiri seperti itu" tegur Bang Satria yang melihat Lintar masih terpaku. "Naiklah ke atas ranjang..!! Abang temani kalian disini..!!" Perlahan Bang Satria menidurkan Lahar di ranjang.
Tak menunggu lama, karena waktu juga sudah menjelang pagi. Lintar pun menurut.
Bang Satria mengunci ranjang pada sisi kanan dan kiri. Tangan Bang Satria mengusap pipi Lahar. 'Tidurlah yang nyenyak, Jangan cemaskan apapun.. Papa akan jaga kalian..!!"
.
.
__ADS_1
.
.