8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
33. Adek lagi yang salah.


__ADS_3

"Tere.. kamu rawat Lintar.. saya cover kalian berdua..!!" Bang Satria segera mengambil posisi dan Tere berkonsentrasi memeriksa keadaan Lintar.


Tere sangat cemas dan secepatnya berusaha menyadarkan Lintar.


"Ada apa Tere??"


"Lintar belum sadar Dan" jawab Tere.


"Serbu saja.. intai nya gerak..!!" Perintah Bang Satria.


"Tapi Dan....."


"Berondong saja. Habisi semua.. ratakan..!!!!!" Ucapnya tegas.


"Awas Bang..!!"


doooooorr..


"Lailaha Illallah.." Bang Satria menggigit bibirnya merasakan lengannya terserempet timah panas.


"Abaaang..!!" Bang Bismo sampai panik melihatnya.


"Ratakan sekarang..!!"


...


Menjelang tengah malam akhirnya perang mampu di atasi dan musuh berlari tunggang langgang. Lintar pun terduduk lemas usai ikut dalam pertempuran sengit tersebut.


"Abang sudah bilang kamu jangan ikut menyerang..!!"


Lintar tak bicara apapun dan entah untuk keberapa kalinya istri kapten Satria kembali harus tak sadarkan diri.


"Astagfirullah.. stress sekali Abang lihat kamu dek?" Bang Satria tak peduli dengan luka peluru di tangannya dan segera merebahkan Lintar. "Kapan helikopter nya datang???"


"Sebentar lagi Bang."


:


Tak ada yang bisa mengatasi kepanikan Bang Satria.


"Abang juga harus istirahat..!!" Kata Bang Bismo.


"Mau istirahat bagaimana kalau istri sampai seperti ini." Jawab Bang Satria.

__ADS_1


***


Di hari menjelang pagi Bang Satria langsung melarikan Lintar ke rumah sakit dan saat itu Danyon ikut mendampingi Bang Satria.


"Kenapa Lintar sampai drop?" Tanya Danyon.


"Cuaca sangat buruk Bang. Logistik sudah benar-benar habis untuk bertahan hidup dan kami mencari penunjang seadanya.. di setiap harinya Lintar sanggup mengintai dan melaksanakan tugas untuk memancing musuh namun tiga hari terakhir kondisinya mendadak menurun." Jawab Bang Satria.


"Ada apa ya Sat. Apa Tere juga tidak bisa meringankan sakitnya Lintar? Masalahnya aneh sekali..!!"


Dokter keluar dari ruang tindakan berhadapan dengan Bang Satria. "Ceroboh sekali kamu Sat..!!"


"Maksud Abang??"


"Lintar pendarahan karena hamil muda" jawab dokter.


Tubuh Bang Satria rasanya mengambang. Sungguh kaget mengetahui sang istri sedang berbadan dua.


"Kamu tidak tau?" Tanya dokter karena melihat ekspresi syok dari Bang Satria.


"Tere.. kamu tau Lintar hamil??" Arah mata Bang Satria menatap tajam wajah Sertu Tere.


Sertu Tere menunduk takut.


"Kamu tau Lintar adalah istri saya dan saya bertanggung jawab atas keadaan nya. Kenapa kamu tidak menyampaikan pada saya kalau Lintar sedang hamil??????" Bentak Bang Satria penuh penyesalan.


"Apa perbuatan yang keliru kamu agungkan seperti ini???? Dimana akal pikirmu Tere?????" Suara Bang Satria semakin meninggi.


"Satriaaa.. anakmu masih bisa di pertahankan" kata dokter mencoba menenangkan Bang Satria.


Baru sesaat kemudian Bang Satria terduduk dan bersandar mengatur jalan nafas dan perasaannya. "Alhamdulilah Ya Allah" ucapnya masih penuh rasa syukur.


...


"Lampunya jangan terlalu terang Bang, Lintar mual"


Bang Satria segera meredupkan lampu kamar rawat Lintar. "Seperti kalong kamu ya, nggak bisa lihat matahari." Ledek Bang Satria. "Kenapa hamil laporan sama Tere? Bukanya sama Abang. Memangnya yang kerja keras tanam bibit siapa??"


"Kita masih dalam tugas Bang, nggak mungkin Lintar memecah pikiran Abang gara-gara Lintar hamil"


"Dengan kamu tidak bilang malah kamu membuat panik semua orang. Mereka mengira kamu sakit atau hipotermia." Kata Bang Satria.


"Maaf"

__ADS_1


Bang Satria menggeleng gemas. "Kalau tidak ikhlas tidak perlu minta maaf. Abang paham wanita paling sulit mengucap kata keramat itu" jawab Bang Satria kemudian mendapatkan lirikan tajam dari sang istri.


"Aaaaaaahh.." sesaat kemudian Lintar meringis kesakitan. "Anak Abang minta di pijat"


Tanpa basa basi Bang Satria yang panik segera memiringkan tubuh Lintar dan memijat nya. Ia takut terjadi sesuatu pada Lintar dan calon bayinya.


"Bang, lama sekali anak Abang ini nggak dapat gizi karena kita terlalu lama di hutan." Kata Lintar. "Lintar mau Abang carikan uang yang nomer serinya berakhiran lima"


"Gizi khan makanan dek, bukan uang" Bang Satria bingung mendengar permintaan Lintar.


"Yang minta anak Abang nih. Mau anaknya ngileran?"


Bang Satria mengambil ponselnya tak jadi memijat punggung Lintar.


"Tolong kumpulkan uang yang nomer serinya berakhiran lima..!!" Perintahnya.


"Aaaaaaahh..!!"


"Ya ampun.. apalagi dek?"


"Lintar pengen nasi tempong pakai lauk ikan nila"


"Ini adek yang minta??" Tanya Bang Satria polos seakan ketegasannya sebagai seorang pimpinan seakan lenyap sudah.


"He'emb.. adek kelaparan Bang"


"Iyaa.. iyaaa.. sabar ya..!!" Bang Satria kembali sibuk dengan ponselnya. "Tolong beli nasi tempong ya. Lauk ikan nila ya..!!" Pintanya pada seorang anggota di seberang sana.


"Waktu goreng hadap kiri ya Bang..!!"


"Astagaaaa.. ada-ada saja lah pintamu ini dek. Mau hadap kanan atau kiri bukannya sama saja?" Gerutu Bang Satria.


"Adek yang minta."


"Astagfirullah.. adek lagi.. adek lagi. Terus mamanya si adek minta apa?" Tanya Bang Satria.


"Minta di belai manja sama Papa Satria" jawab Lintar membuat Bang Satria tersipu.


"Pasti lah kalau itu"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2