
Lintar mengintip dokter dari matanya yang terpejam dan dokter pun sempat melirik ulah aneh istri Kapten Satria tersebut sembari menahan senyumnya.
"Tapi keadaan calon anak kami nggak apa-apa khan Bang?"
"Amaan... Alhamdulillah aman."
Bang Satria pun mengantar dokter hingga keluar kamar rawat Lintar.
"Sat.. berilah perhatian lebih pada istrimu..!!" Bisik Bang Satria setelah menutup pintu kamar.
"Insya Allah selalu Bang"
"Bagus lah, teruslah begitu daripada kamu pusing sendiri" kata Dokter.
"Siap Bang"
:
"Aaahh.. Lintar pusing ingat wajah perempuan itu?" Lintar merengek manja memegangi perutnya sampai membuat Bang Satria semakin panik.
"Perempuan yang mana dek?" Tanya Bang Satria ikut mengusap perut Lintar.
"Yang jalan sama Bang Panca" jawab Lintar.
"Tantri???"
"Jangan sebut namanya. Lintar nggak suka" kata Lintar.
"Iyaa.. nggak akan. Abang nggak akan menyebut namanya." Janji Bang Satria. Panik sekali rasanya jika sang istri sampai kambuh lagi. Jantungnya berdebar kencang mengetahui Lintar sampai sakit.
"Bang.."
"Iya sayang."
"Lintar sudah hitung buah duku nya. Ada seratus dua puluh lima biji. Kalau berkurang sebiji saja berarti Abang yang ambil" mata Lintar memicing penuh ancaman.
"Laahh.. katanya tadi nggak mau, bawaannya si Panca." Ucap Bang Satria.
__ADS_1
Lagi-lagi Lintar memercing merasakan sakit pada bagian perutnya dan otomatis Bang Satria kembali menjadi panik.
"Habiskan semua. Abang nggak suka duku." Jawab Bang Satria tidak ingin mencari keributan dengan bumil.
"Lalu apa yang Abang suka??" Lirik Lintar kesal.
"Kamu" jawab Bang Satria singkat namun mampu membuat Lintar memalingkan wajah dan tersipu malu. "Sehat selalu sayang. Jangan sakit lagi"
...
"Lintar, apa saya tetap harus bilang sama suamimu kalau kamu pendarahan? Ini melanggar kode etik saya.. ini tidak pantas" kata Dokter.
"Ya sudah kalau begitu, dokter katakan saja kalau saya sudah baikan."
"Benar ya, kamu jangan minta yang aneh-aneh lagi. Suamimu benar-benar sangat panik tau kamu sakit" jawab dokter.
"Iyaaaa"
Dokter menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan istri Kapten Satria yang kini bahkan seakan tanpa rasa takut dengan hal sebesar apapun.
\=\=\=
"Apa sampai sebegitu nya tidak bisa lihat matahari?" Tegur Ami.
Lintar mengangguk. "Kalau masalah matahari, aku memang nggak kuat. Rasanya aku mau pingsan setiap melihat panas terik." Kata Lintar sembari membetulkan posisi kacamata dari pangkal hidungnya.
"Ya ampun.. aku baru tau ada hal seperti ini"
Dentang lonceng apel berbunyi, Lintar pun ikut berdiri.
"Kamu mau kemana? Masa kamu mau ikut apel pagi?" Tanya Ami.
Saat itu Bang Satria masuk ke ruangan Lintar dan kawan-kawannya.
"Kamu nggak usah apel. Nanti Abang yang handle."
"Tapi nggak enak sama yang lain Bang" jawab Lintar kemudian mengambil baret di lacinya.
__ADS_1
"Kamu ini bisa dengarkan suami atau tidak? Kalau kamu pingsan, Abang juga yang panik..!!!" Tidak habis pikir Bang Satria dengan sikap Lintar. Baru beberapa hari saja perjuangan Bang Satria menghadapi bumil tapi di setiap hari itu juga dirinya harus siap di pusingkan sang istri.
"Kalau duduk saja di samping gedung?? Lintar pengen menghirup udara pagi"
"Ya sudah.. pakai kacamata..!! Mau bawa helm atau tidak?" Tanya Bang Satria.
"Nggak lah, gengsi" jawab Lintar kemudian berjalan menuju samping gedung.
:
Paparan sinar matahari mulai jelas terlihat menerpa pagi. Baru beberapa langkah berjalan, Lintar sudah mual.
"Apa Abang bilang. Masuk lagi sama..!!" Bang Satria yang bersiap mengambil apel jadi kebingungan sendiri.
"Kenapa bro?" Tanya Bang Panca yang saat itu juga bersiap apel pagi.
"Biasaaa.. mual. Nggak bisa lihat matahari"
"Jangan-jangan Lintar ada keturunan vampir Bang. Sela Bang Bismo yang akan berangkat apel juga.
Belum sampai mulut Bang Satria menjawab, tangan dan kaki Lintar sudah beradu menghajar Bang Bismo.
"Abaaang.. tolooong..!!!" Pekik Bang Bismo.
"Hajar dek.. istri Kapten Satria nggak boleh lemah. Sampai bonyok Abang ijinkan"
Mendengar perintah Kapten Satria.. Lintar semakin bersemangat adu jotos dengan Bang Bismo yang tidak mungkin membalas segala tingkah bumil.
"Ya Tuhaaaann.. pendekar tenan iki" gerutu Bang Bismo hanya bisa sedikit menghindari pukulan. "Aawwhh.. sakit Lintaaarr..!!"
Meskipun terkesan membiarkan sang istri namun mata Bang Satria tetap siaga dan awas menjaga bumil. Ia tau kekuatan bumil tidak ada apa-apa nya.
.
.
.
__ADS_1
.