8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
8. Patah hati.


__ADS_3

Tengah malam waktu Sudan.


Bang Satria mulai tersadar, ucap pertama kali dari bibirnya adalah nama Lintar dan Sherina. Hanya dua wanita itu mengisi relung hatinya. Terbersit senyum bahagia di bibir Lintar.


"Satria sudah baikan, ayo kita kembali ke barak..!!" Ajak Bang Panca.


"Tapi Bang, Bang Satria belum benar-benar sadar" Lintar seakan enggan meninggalkan Bang Satria.


"Apa kamu mau memberi perhatian pada pria lain? Abang calon suamimu..!!"


Lintar tak bisa berbicara apapun jika Bang Panca sudah menekannya seperti ini.


\=\=\=


Di temani beberapa rekannya, ini hari kedua setelah Bang Satria sadar.


"Apa Lintar tidak pernah kesini? Bagaimana keadaannya?" Tanya Bang Satria pada anggota nya.


"Ijin Kapten, beberapa hari saat Kapten belum sadar, Serda Gitarja selalu ada disini dan tak hentinya menangis." Jawab Pratu Priyo.


"Apa ada Kapten Panca?" Tanya Bang Satria lagi.


"Siap.. ada dan selalu menemani Serda Gitarja. Ijin Dan.. Kapten Panca juga yang mendonorkan darah untuk Kapten."


"Monitor Pri.. Terima kasih"


***

__ADS_1


Bang Panca datang menemui Bang Satria. Ada rasa bersalah dalam hatinya namun ia pun harus jujur dengan perasaannya.


"Sat, aku mau bicara..!!" Bang Panca memegang tangan sahabatnya yang sedang membereskan pakaian pagi hari itu.


"Apa?"


"Aku sudah memberanikan diri untuk.. melamar Lintar. Kamu tidak ada rasa lagi khan sama Lintar?" jawab Bang Panca.


deg...


Seketika Dada Bang Satria seperti terhantam kuat, denyut jantungnya berdetak cepat, nafasnya tersengal, luka operasi nya pun mendadak terasa luar biasa sakit.


"hhgghh.. Astagfirullah..!!" Bang Satria meremas dadanya yang terasa nyeri.


"Saaaat.. kamu nggak apa-apa?" Bang Panca ikut panik.


"I_ya.. aku nggak apa-apa. Ma_af.. memang luka ku masih sedikit nyeri" alasan Bang Satria padahal luka di dalam hatinya jauh lebih terasa nyeri.


Bang Satria hanya sekilas menyunggingkan senyum.


"Aku rasa kamu ada benarnya juga, aku harus percaya diri. Jika memang Lintar cinta sama aku, pasti dia bisa menerima keadaan ku"


Hanya anggukan kepala dari Bang Satria menjawab segalanya. Yang jelas ia berusaha keras untuk menyeimbangkan pikiran dan hatinya.


"Sat, apa tidak sebaiknya kamu mendapat perawatan lebih lama di rumah sakit? Sepertinya kondisimu belum pulih benar" jauh di dalam lubuk hatinya, Bang Panca masih punya rasa empati pada sahabatnya.


"Aku bosan disini. Pengen kembali di barak saja, setidaknya aku bisa bergerak dan tidak hanya tidur" jawab Bang Satria.

__ADS_1


-_-_-_-


Bang Satria duduk bersandar di ranjangnya. Ia meraba dadanya yang terasa sakit.


"Kenapa harus dua kali aku berhutang nyawa pada Panca??? Kenapaaa?????" Tangis Bang Satria yang sesak membuat luka di tubuhnya kian terasa seakan bersiap mencabut nafasnya secara perlahan. "Ya Tuhan.. Kenapa tidak kau ambil nyawaku saat itu juga jika untuk kedua kalinya kulihat Lintar berada dalam dekapan pria lain?"


Bang Satria meraba meja mencari obat pereda nyeri namun kemudian ia mengurungkan niatnya. 'Untuk apa semua obat ini?? Mau ku telan obat ini, sakit dalam hatiku tidak akan bisa hilang.'


Dalam kalutnya Bang Satria mencoba menenangkan hatinya. Situasinya memang tidak pernah menguntungkan. Jika dirinya kembali mengejar Lintar, maka ia tidak punya rasa terima kasih pada Panca yang telah menyelamatkan nyawa Sherina saat dirinya sedang ada dalam penugasan. Kini untuk kedua kalinya ia harus berhutang nyawa karena darah Panca yang telah menopang hidupnya.


Bang Satria kembali meremas dadanya. Bekas sayatan itu membuat lukanya semakin nyeri. "Lintaaarr..!!" dalam hitungan detik, Bang Satria ambruk dan kehilangan kesadaran.


:


Om Priyo berkali-kali mengetuk kamar Kapten Satria tapi tak kunjung ada jawaban.


"Ada apa Pri?" Tanya Bang Panca yang baru kembali dari lokasi yang sempat hancur karena kerusuhan tempo hari.


"Ijin Dan, saya mengantar camilan untuk Kapten Satria tapi tidak ada jawaban dari beliau." Jawab Om Priyo.


Bang Panca segera tanggap dan langsung membuka pintu kamar sahabatnya dan betapa terkejutnya Bang Panca saat melihat Bang Satria terkapar tak sadarkan diri di atas ranjang dan terlihat meremas dadanya. "Sat.. Ya Allah, kalau masih sakit kenapa nggak hubungi aku?? Sadar Sat..!!!!!!" Bang Panca membenahi posisi tidur Bang Satria.


Dengan sigap Om Priyo berlari keluar untuk memanggil petugas kesehatan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2