
"Dek.. anak kita tidak sehat, asupan gizinya sangat kurang. Kamu juga tidak bisa terlalu makan apapun."
"Kalau Abang tidak menginginkan dia sejak awal, seharusnya Abang katakan sejak awal. Kenapa sekarang ingin membuangnya saat dia sudah ada?" Teriak Lintar dengan amarahnya.
"Saya bisa beri waktu sampai besok pagi, tapi kalau Lintar tetap tidak mau makan terpaksa kami selaku tim medis akan mengambil tindakan..!!" Kata dokter.
"Jangan memaksa saya untuk mengambil anak ini. Saya ibunya..!!"
Bang Satria merasa begitu lemah menghadapi situasi ini. Rasa sesak di dada terasa memukul perasaannya, apapun alasannya dirinya juga ayah dari sang calon jabang bayi yang masih ada dalam kandungan Lintar.
"Lintar mau pulang ke rumah Papa. Lintar nggak mau jadi istri Abang lagi."
Ucap Lintar untuk kesekian kalinya sungguh melemahkan batin Bang Satria.
"Berjanjilah untuk berusaha makan makanan yang membangun tenaga. Kalau kamu tidak berusaha, kamu juga membunuh anak kita secara perlahan..!!" Pinta Bang Satria penuh permohonan. Matanya pun menyimpan berjuta kesedihan.
Lintar mengangguk, dari pandangan matanya pun menginginkan agar Bang Satria tidak menanda tangani surat tindakan tersebut.
"Bagaimana Sat?" Tanya Dokter.
"Di tunda dulu..!! Sejujurnya saya juga belum sepenuhnya siap." Jawab Bang Satria.
"Baiklah, saya akan terus memantau."
...
"Kenapa Lintar harus bayar Abang?" Tanya Lintar bingung.
"Sesuai perjanjian kita. Abang hanya punya satu permintaan. Jangan pernah meminta pisah atau denda yang harus kamu ucapkan berkali lipat setiap yang kamu ucapkan." Jawab Bang Satria.
"Apa ada perjanjian seperti itu?"
__ADS_1
"Kamu nggak baca permintaan Abang yang hanya sebiji sawi itu?"
Lintar menggeleng, ia sama sekali tidak memperhatikan hal tersebut.
"Ya berarti salahmu. Jadi dua kali kamu sebut kata setan itu totalnya seratus juta rupiah belum denda, kalau kamu menagihnya lagi berarti seratus lima puluh juta. Sebentar, Abang kirim nomer rekening khusus nasabah banyak gaya sepertimu." Bang Satria mengambil ponselnya dan bersikap seolah-olah mencari nomer rekeningnya.
"Nggak usah, nggak jadi..!!" Kata Lintar.
"Kenapa?? Nggak punya uang??" Jawab Bang Satria langsung pada pokok perkara dan kembali menyimpan ponselnya.
Tak ada kata terucap dari bibir Lintar. Kepalanya langsung pusing memikirkan cara agar Bang Satria tidak menagihnya. Rasa mualnya semakin bertambah parah.
"Ada cara agar kamu tidak bayar dendamu itu." Kata Bang Satria.
"Bagaimana caranya?" Tanya Lintar yang kini semakin gelisah.
"Makan buburnya pelan-pelan..!!"
"Abang akan membayarmu seratus ribu rupiah per suapan..!!" Janji Bang Satria sembari membujuk sang istri. Ia pun mengeluarkan segepok uang ratusan ribu dari sakunya lalu mengibaskan ke kanan dan ke kiri, sontak saja caranya itu membuat bola mata Lintar mengikuti arah uang kesana kemari. "Mau nggak? Obat mujarab segala penyakit 'kewanitaan'."
Bang Satria meletakan uang tersebut di atas nakas lalu mengambil sesendok bubur dan menyuapkan ke mulut Lintar. "Satu sendok ini seharga seratus ribu rupiah. Masa nggak mau?" Bujuk Bang Satria memanasi Lintar.
Perlahan Lintar membuka mulutnya dan menerima suapan pertama.
"Hhkkk.." Lintar mulai mual.
"Eeiiitss.. seratus ribu..!!" Bang Satria mengambil selembar uang dari gepokan tersebut lalu mengibaskannya sampai Lintar menelan bubur tersebut.
Glllkk..
'Alhamdulillah Ya Allah.'
__ADS_1
Batin Bang Satria bergumam bahagia. Meskipun harga bubur itu tak sebanding dengan apa yang harus ia gelontorkan tapi sungguh hatinya lega asalkan Lintar mau menelan bubur ayam tersebut. Ia meletakan selembar uang di tangan Lintar.
"Naahh.. itu bisa" kata Bang Satria.
"Pahit Bang." Rengek Lintar.
"Lihat Abang saja..!! Pasti nanti jadi manis." Bang Satria kembali menarik selembar uang dari gepokan dan mengibaskan lagi di depan mata Lintar lalu mengambil lagi sesendok bubur.
Untuk kedua kalinya Lintar mau melahap bubur itu, setelah Lintar menelannya.. Bang Satria pun menyerahkan selembar uang itu lagi.
"Aaaaaaa.. sudaah.. Lintar nggak bisa makan lagi..!!" Lintar kembali merengek.
Dan ketiga kalinya Bang Satria melakukan hal yang sama. "Kira-kira si dedek lagi apa ya di perut Mama?" Bang Satria mengalihkan perhatian Lintar.
"Ya belum apa-apa Bang. Masih kecil sekali."
"Masa sih? Sepertinya dedek protes sudah beberapa hari ini nggak main futsal sama Papa." Kata Bang Satria sembari menyuap bubur.
"Itu Papanya saja yang mau." Lintar pun bersungut kesal.
"Oohh.. Mamanya nggak mau nih??" sengaja Bang Satria menggoda Lintar dengan kenakalannya.
Lintar memalingkan wajahnya yang memerah.
Bang Satria pun menahan senyumnya, yang jelas perhatian Lintar sudah teralihkan. "Lagii Maaa..!! Papa naikan dana sponsor jadi dua ratus ribu rupiah. Semangat makan buburnya..!!!!" tak patah semangat Bang Satria membujuk Lintar.
.
.
.
__ADS_1
.